Tuesday, April 05, 2005

Ingin Sauna Murah Mahal Meriah? Uruslah Paspor Anda Sendiri

Saya baru saja mengurus paspor sendiri (tidak menggunakan calo ataupun perantara) di Kantor Imigrasi Bandung. Pengalaman ini bisa saya rangkum dalam satu kalimat: "Untung hanya lima tahun sekali!"

Jika Anda ingin mengurus paspor sendiri di Bandung, lebih baik kenali urutannya. Karena petugas di sana jarang memberi instruksi kecuali ditanya. Plus, kerumunan "pemohon" (istilah resmi dari Kantor Imigrasi) yang sama teraturnya dengan rombongan domba lepas, juga tidak mendukung kita untuk tenang menebak-nebak. Suhu yang panas juga terbukti memengaruhi para pemohon hingga intelejensinya melonjak jadi setingkat burung Dodo. Bisa dilihat dari contoh percakapan seperti, "Mas, saya dapat lembaran yang bertuliskan Loket I, jadi saya harus ke mana sekarang?" atau "Kalau saya maju ke depan, bakal ada yang duduk di kursi saya, nggak?"

Karena itulah, saya ingin berbagi langkah yang saya jalani saat mengurus paspor. Ingat, belajar itu paling enak dari kesalahan orang lain.

Oke, hal pertama yang harus diingat adalah: berpakaian rapi. Karena lelaki yang berkaos, jika ketahuan, bahkan tidak boleh masuk. Minimal baju yang berkerah. Sementara untuk wanita, tidak apa-apa tak berkerah, asalkan bukan kaos oblong. Yang penting terlihat rapi.

Berikutnya, beli formulir permohonan (Rp. 10.000). Biasanya dikasih dengan mapnya. Terserah Anda, mau isi formulir di tempat atau tidak. Saya menyarankan untuk isi di tempat yang santai. Jadi kalaupun rumah Anda terlalu jauh, mampir dulu ke rumah teman atau rumah makan yang sepi. Isi formulir (semoga sukses, karena panjang), tempel foto 4x6 berwarna, tempel materai Rp. 6000, tanda tangan. Kemudian...

Kunjungan Pertama

  1. Kumpulkan formulir di Loket I beserta syarat-syarat lain, yaitu:
    • KTP asli (dan satu fotokopi).
    • Akte kelahiran asli (dan satu fotokopi).
    • Kartu keluarga asli (dan satu fotokopi).
    • Akte kelahiran anak (kalau anak diikutkan dalam paspor) asli (aktenya. Anaknya sih, mau asli maupun palsu, nggak perlu dibawa). Seperti biasa, bawa juga satu lembar fotokopinya.
    • Surat nikah asli (dan satu fotokopi).
    • Khusus pegawai swasta: surat keterangan dari perusahaan, bahwa pimpinan perusahaan menyetujui permohonan ini. Tak perlu difotokopi.
    • Khusus pegawai negeri: serupa, tapi dari instansi terkait.
    • Khusus TNI: serupa, tapi disesuaikan dengan instansi terkait.
    • Khusus TKI: surat izin dari Depnaker
    Tips: Bawa satu map cadangan. Alasan ada di langkah berikut.


  2. Di Loket I, syarat-syarat akan diverifikasi oleh petugas. Lalu semua syarat asli dikembalikan (kecuali surat izin/keterangan dari perusahaan).

    Inilah kenapa perlu bawa satu map cadangan. Jadi tinggal masukkan map. Nggak harus tenteng-tenteng dengan risiko jatuh.


  3. Di sini, petugas yang baik akan menyuruh tunggu. Sementara petugas yang cuek akan terus aja mengurus dokumen, tidak memperhatikan sang pemohon yang berdiri bengong beberapa lama sampai merasa bodoh dan bertanya, "Sekarang ngapain, Pak?"

    Dan saat mendengar jawaban, "Oh, tunggu aja," sang pemohon akan merasa lebih bodoh lagi.

    Tunggulah di sekitar loket. Karena petugas akan meneriakkan nama pemohon yang dokumennya sudah selesai diperiksa. Dan peneriakan nama ini dilakukan secara MANUAL. Tanpa mike, tanpa megafon. Hanya teriakan biasa. Kadang malah gumaman (tapi ini hanya kalau Anda beruntung), seperti, "Hrmrmdfmisman sdfsdhidayat dflsdkjfsuryaman!" Akibatnya, semua pemohon (yang tidak pake calo dan tidak punya pendengaran super) tidak bisa meninggalkan ruangan.

    Oh, ya, proses seperti ini akan banyak berulang nanti. Jadi sekali-kali dalam langkah ke depan akan saya acu.


  4. Setelah nama Anda dipanggil (atau digumamkan), Anda akan menerima tanda terima dan tanggal (bisa besok, bisa minggu depan, tergantung amal) untuk janjian kencan kembali dengan petugas loket yang sama. Lambaikan tangan dengan mesra, dan tinggalkan kantor imigrasi.

Kunjungan Kedua

  1. Datangi Loket I kembali, serahkan tanda terima.


  2. Tunggu nama dipanggil, tidak perlu disuruh. Ingat Hari Pertama poin (3).


  3. Setelah dipanggil, Anda menerima tanda terima Anda yang tadi. Kadang tanggalnya dilingkari, kadang tidak. Tidak pengaruh. Yang penting adalah setelah itu, Anda segera ke...


  4. Ruang Wawancara.
    Terobos kerumunan orang yang bikin macet, dan tunjukkan tanda terima Anda ke petugas di meja. Dia akan memberikan nomor antrian.

    Jika Anda mendapatkan nomor cantik, seperti "123", jangan senang dulu. Pasang kuping sampai ada orang yang meneriakkan nomor, misalnya, "LIMA PULUH LIMA!" (atau "hdfdmflima sdfsdpuluh sdflima!")

    Nah, itu adalah nomor urutan orang yang sedang dipanggil. Tiba-tiba, nomor cantik tersebut menjadi terasa sangat buruk.


  5. Setelah akhirnya nomor Anda dipanggil, masuk ke ruangan wawancara, dan duduk di kursi kosong depan salah seorang petugas (ada dua).

    Saat Anda duduk, sang petugas umumnya akan bertanya, "Nama Anda siapa?" Padahal fotokopi Kartu Tanda Penduduk Anda ada di hadapannya. Ini adalah pertanda jelas, bahwa jika nama Anda "Isman Hidayat Suryaman", Anda lebih baik tidak mencari masalah dengan menjawab, misalnya, "Bambang." Atau "Tuti."

    Saya tidak tahu pertanyaan apa saja yang mungkin dilontarkan dalam wawancara. Tapi, dalam kasus saya, hanya pertanyaan tadi itu yang penting.

    Sisanya tinggal tanda tangan di dokumen yang diminta. Dan petugas akan menyerahkan satu kwitansi.


  6. Bawa kwitansi tersebut ke kasir, dan bayar. Jangan kaget kalau Anda tiba-tiba merasa kemampuan membaca Anda menurun. Di kwitansi tertulis "Dua ratus ribu rupiah." Tapi kasir akan meminta "Dua ratus lima ribu rupiah."

    Jangan kaget, lima ribu rupiah ini bukan uang "administrasi" (atau lebih sering disebut sebagai ya-udah-terserah-asal-cepat-selesai-deh). Lima ribu rupiah ini adalah biaya pengambilan sidik jari. Bisa terlihat dari bukti pembayaran yang Anda terima.

  7. Dari situ, bergeraklah ke kasir foto, yang setelah Anda amati, ternyata di satu tempat yang sama, hanya jendelanya beda.

    Di poin ini Anda mungkin berminat bertanya, "Kenapa nggak bayarnya disatuin aja? Toh kalian duduknya berdampingan?"

    Tapi saat melihat antrian di belakang, Anda mungkin jadi tak tega.

    Biaya foto adalah "Lima puluh lima ribu rupiah." Sayangnya di tahap ini Anda kembali hanya harus percaya dulu. Karena bukti pembayaran dengan detil biaya baru akan diberikan setelahnya.

    Kumpulkan semua bukti pembayaran tadi, dan bergeraklah ke...


  8. Loket I. Serahkan semua bukti pembayaran ke petugas. Dia akan mengembalikan/menyerahkan satu bukti pembayaran yang berkaitan dengan loket sidik jari.


  9. Tanpa disuruh, bergeraklah ke Loket Sidik Jari. Dan tanpa disuruh, tunggulah. Ingat Hari Pertama poin (3).


  10. Saat nama Anda dipanggil, Anda akan ditunjukkan berkas Anda. Mungkin di sini diminta tanda tangan (mungkin juga nggak, ingatan saya sedikit kabur).

    Lalu seorang petugas akan membimbing Anda dengan mesra ke meja pengambilan sidik jari. Bagi yang bikin paspor baru, yang diambil capnya, semua jari tangan. Bagi yang memperpanjang, cukup jempol kanan.

    Anda akan kembali diberi --kejutan!-- bukti pembayaran yang baru, memuat foto dan sidik jari. Simpan baik-baik, karena ini yang nanti Anda gunakan mengambil paspor jadi.

    Tips: bawa tissue sendiri untuk melap tinta bekas sidik jari, karena kalau tissue yang disediakan petugas habis... lebih baik cari sesuatu untuk menyapunya: kertas kosong, celana jeans, kemeja seorang teman lama, yang ketemu tak sengaja dan Anda ingat bahwa dulu ia pernah menempelkan permen karet di celana Anda (waktunya balas dendam).

    Ini penting karena setelah dari sini, Anda langsung ke...


  11. Tempat Pengambilan Foto
    Kembali mengantri dan tunggu nama dipanggil. Ingat Hari Pertama poin (3). Saat menunggu, mungkin Anda baru menyadari betapa panasnya udara. Dahi serta pipi Anda berkeringat. Anda pun menyekanya dengan tangan.

    Lantas, saat Anda diambil foto dan semua orang tersenyum, Anda akan paham, betapa pentingnya MEMBERSIHKAN TINTA DARI TANGAN ANDA.

    Tips: Bagi yang berkacamata, tanggalkan kacamata Anda jauh sebelum giliran Anda. Karena jika Anda baru melepaskan kacamata saat mau difoto, ekspresi muka yang terekam mungkin akan memuat mata Anda yang belum fokus, bekas gagang ke arah telinga, dan hidung yang seperti baru dipencet jepitan jemuran.

    Setelah foto, tanda tangani calon paspor Anda. Dan Anda akan diminta datang lagi pada hari tertentu (umumnya dua hari).

Kunjungan Ketiga

  1. Ambil paspor Anda dengan bukti pembayaran terakhir.
    (Langkah ini belum saya lakukan. Jadi, kalau ternyata ada tahapan ekstra, nanti akan saya informasikan).


  2. Saat melangkah keluar imigrasi dengan paspor baru Anda, ikuti kata-kata berikut: "Un-tung ha-nya li-ma ta-hun se-ka-li!"

DISCLAIMER
  1. Langkah ini hanya berlaku di Kantor Imigrasi Bandung, Jl. Surapati.

  2. Kalaupun sudah di Imigrasi Bandung dan ternyata ada detil yang berbeda, jangan salahkan pengarang. Karena pengarang tinggal berdalih, "Lho, saya kan cuman ngarang."

  3. Kalau mau main aman, tanya saja petugas setiap kali beres, "Habis ini ke mana, Pak?"

  4. Penting: Jangan tanya pemohon lain. Kemungkinan besar, mereka juga sama bingungnya dengan Anda.

  5. UPDATE: Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: M.08-IZ.03.10 Tahun 2006, kini kita bisa mengurus paspor di kantor imigrasi mana pun. Sebagai contoh, dengan KTP Jakarta pun bisa mengurus paspor di Bandung. (Makasih untuk Raiza atas infonya.)

14 comments:

the fool said...

Hanya tes, karena ada yang memberitahu kalau komennya error.

isman said...

Tes komen sebagai other.

Anonymous said...

Tes komen sebagai anonymous.

avianto said...

Bulan lalu baru perpanjangan paspor disini (Jerman).

Datang, isi formulir, nunggu (2 jam, biasanya "katanya" cuma 30 menit - 1 jam, tapi berhubung yang tanda tangan lagi "hilang" alias jalan-jalan, jadilah nunggu 2 jam), selesai, dikasih blanko setoran pembayaran (35 €).

2 jam perpanjang paspor. Beda banget ya?

the fool said...

Begitulah. Beda pola pikir "kalau bisa dipermudah, kenapa nggak?" dengan "kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?"

Alia said...

Gue sih selalu ngurus paspor sendiri.
Pas yang pertama acara kampus gitu... cepet banget, cuma sehari langsung jadi.
Mungkin karena urusannya ama mahasiswa.

Pas kedua, perpanjang ama keluarga.
Pas pertama dateng, dikasih cap disuruh dateng seminggu lagi (ada tanggalnya).
Pas kita datang minggu depannya,
kita disuruh nunggu ampe sore.
Bokap gue ampe marah2... soalnya banyak yang pake calo terus nerobos antrian.
Gara-gara bokap gue marah2, baru diladenin.

Konyol deh.
Padahal pas pertama masuk kantor imigrasi ada papan gede...
DILARANG BERHUBUNGAN DENGAN CALO.

Tapi tuh calo dengan cuek bertebaran dimana2.

DODOL!

Yuni said...

Baru hari Senin kemaren gw ngurus paspor. Kantor imigrasi bener2 tempat dimana kita bisa melatih kesabaran and korupsi dah merupakan rahasia umum di sana.

hericz said...

Hahaha..
ngakak pol baca blognya,

It's sad but true...

dahlia said...

Wkwkwkaaa jd inget pas jmana jd mhsiswa dulu,ngurusin KRS d UPI(maaf but its true!) samaaaa! tp gw jd da byangan ni,thanks yo!siap2 de bw tisu ma kipas angin mini gw!haha

ktut said...

jadi total jendral biayanya berapa mas (termasuk nyang tanpa kuitansi) ???
nuhun
ktut s

isman said...

Soalnya yang dilarang itu "berhubungan", Alia. Kalau bertebaran boleh aja, hehe.

Lebih melatih kesabaran lagi: bea cukai, yuni.

Ah, iya, dahlia. Memang sistem pendaftaran seperti itu membuat kita bingung, "Mau bayar duit aja susah. Apalagi ngambil."

Lho, ktut nggak ada kalkulator, ya? Dulu sih 321 ribu rupiah total. Entah sekarang.

aku said...

Thx for info nya ya..

Kira2 klo skarang ngurus paspor, masih kayak gini apa udah lebih baik ya pelayanannya?

isman said...

Kemungkinan sudah ada perubahan. Soalnya sistem SAMSAT aja tiap tahun berubah. Padahal ini udah lima tahun lebih.

Kalau masalah lebih baik atau nggak, itu beda pertanyaan, hehehe. Tergantung merasa diuntungkan atau nggak oleh perubahan itu.

Anonymous said...

ah emang itu ciri negara Indonesia banget, apa yang bisa dibikin gampang malah disusah2in. kyany budaya gitu udah mengakar kali ya...
kalo ky gini trus kpn bs maju nya dong...