Monday, December 15, 2008

Menyebar Kabar Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil

Buku Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda! Perlu ditekankan: "Seru". Pake "e". Kalau judulnya Parodi Film Saru sih, minggu ini masuk toko buku, minggu depannya jadi korban pembakaran oleh massa.

Terima kasih juga pada para pemesan seratus buku pertama! Bagi yang belum melengkapi informasi alamat kirim, segera kontak writerstavern AT gmail DOT com. Bagi yang sudah menerima bukunya, silakan pajang bukti foto penerimaan buku dengan sehat wal afiat, gemah ripah loh jinawi, di blog atau aplikasi jejaring sosial (seperti Facebook) Anda. Berikut contoh dari Deddy Setyawan.


Demi kemaslahatan bersama, pose ini tidak perlu ditiru.


Sekaligus, saya kembali mohon dukungan Anda semua. Belajar dari pengalaman menerbitkan Bertanya atau Mati! (BaM), kabar tentang buku tersebut kurang tersebar. Alhasil, banyak yang terlambat tahu keberadaannya. Akibat terlambat tahu, orang-orang pun telat mencarinya. Karena di minggu-minggu awal jarang dicari, buku itu pun sering ditaruh toko buku secara sembarangan.

Kejadian nyata: buku BaM yang jelas-jelas ditulisi "Humor" di kaver belakang, sempat ditaruh di rak Psikologi Populer. Itu masih mending. Sempat juga ditaruh di Sastra. Terus di Politik (tepat di sebelah buku Geliat Irak Pasca Saddam).

Yang paling pol: buku ini sempat ditaruh di rak Agama. Tahu gitu, saya sekalian saja bikinkan posternya, seperti ini.



Karena itu juga, saya lebih proaktif menyebar-nyebarkan kabar Parodi Film Seru dibandingkan sebelumnya. Saya juga minta tolong untuk menyebarkan kabarnya pada orang lain. Nggak usah promosi, kabarnya saja. Agar kalau nanti mampir ke toko buku, calon pembaca sudah ingat apa yang mereka cari. Lantas biarkan pembaca yang menilai sendiri.

Contoh menyelipkan kabar Parodi Film Seru dalam pembicaraan sehari-hari secara alamiah:
  1. Selagi nunggu angkot/bus di halte, ke sesama penunggu:
    "Panas, ya? Paling enak ngadem nih di ruangan AC sambil baca buku Isman yang terbaru: Parodi Film Seru."

  2. Di rumah makan, kepada pelayan:
    "Pak, ada jus mangga?"

    "Ada," angguk Pelayan.

    Anda tersenyum. "Kalau buku terbarunya Isman yang berjudul Parodi Film Seru?"

    "Nggak," geleng Pelayan.

    "Peh! Rumah makan macam apa ini?" Banting menu, lantas ngeloyor keluar.
    Catatan: cara ini juga efektif digunakan jika Anda sudah enak-enak duduk di restoran baru, membuka menu, dan hampir mati duduk saat melihat harganya.


  3. Kala ditilang petugas Polisi:
    "Selamat siang," sapa Petugas. "Anda tadi lewat dengan kecepatan 100 km/jam di jalan dalam kota. Mau ke mana, ya?"

    Tinggal jawab dengan sigap, "Saya mau beli buku terbaru Isman."

    "Oh! Yang Parodi Film Seru itu?"

    "Betul, Pak."

    "Apa perlu saya kawal?"


Sebelumnya, terima kasih atas dukungan rekan dan kawan semua! Jangan lupa menyertakan trackback pada halaman ini, agar bisa saya sertakan dalam daftar Kabar Mengenai Parodi Film Seru berikut.




Kabar Mengenai Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil

  1. Iklan Parodi Film Seru di YouTube: Aksi, Drama, Suspens!--semuanya tidak ada dalam iklan ini

  2. Resensi Agung "Mbot" Nugroho: "...kalo buku ini memplesetkan cerita film, gimana dengan film yang belum ditonton? Ternyata nggak masalah tuh. Malah dari 15 film yang ditampilkan di buku ini, gue baru nonton 4. Malah ada 1 cerita yang bikin gue penasaran ingin nonton filmnya..."

  3. Detail Parodi Film Seru di Gramedia.com

  4. Ayo tambahkan resensi Parodi Film Seru di Goodreads!

  5. Bukan selayaknya review yang baik dan benar oleh Ibu Ranger

  6. Primbon film versi dodol oleh Sigit Mbonk

  7. Saran dari Lina: siap-siap spray untuk gigi.

  8. Resensi Leila: "Kekurangannya barangkali: kurang banyak! Moga ada seri berikutnya, mencakup Twilight barangkali?"

  9. Komentar Mengki.



Penampakan Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil


Apakah Parodi Film Seru kembali mengulangi tragedi BaM dengan nampang di rak yang salah? Ayo berbagi di sini!
  1. Agung melaporkan dari TKP: Parodi Film Seru ditaruh di rak ketrampilan. (Ide poster baru: "Wahai umat-umat yang trampil, belilah buku-buku yang salah nyempil.")

  2. Lina melaporkan dari Gramedia Pangkalpinang: Parodi Film Seru ditaruh di habitat sesungguhnya: rak Buku Laris. Akhirnya, masa depan toko buku terlihat cerah, hehe.




Mendapatkan Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil


Parodi Film Seru
bisa Anda beli di:
  1. KutuKutuBuku.com: diskon 15%

  2. BukuKita.com: diskon 15%

  3. IniBuku.com: diskon 15%

  4. BukuDiskon.com: diskon 20%

  5. Direct Marketing Gramedia: kontak gpudm AT gramedia DOT com: diskon tergantung jumlah pembelian

  6. Penulisnya langsung (isman, kalau-kalau ada yang lupa)

Friday, December 12, 2008

Buatlah Lingkaran Kreatifmu

Buku-buku bisnis sering menganjurkan agar berhati-hati dalam memilih teman bisnis. Mereka yang senantiasa selalu berkeluh kesah dalam bisnis akan menjerat kita. Apalagi kalau kita sampai berteman dengan apa yang disebut Agung sebagai Dementor.

Dalam penulisan kreatif, hal serupa berlaku. Teman-teman Anda mayoritas orang yang selalu mengeluh? ("Aku buntu nih", "Yah, writer's block. Mau gimana lagi?", "Kok nggak beres-beres, ya?") Jangan heran jika mendadak Anda juga sering terhambat dalam berkarya. Solusinya mudah. Cobalah lebih sering berinteraksi dengan teman-teman Anda yang produktif.

Saya sendiri beruntung karena mengenal banyak orang yang semangat serta produktivitasnya menularkan inspirasi.

Kekuatan Niat
Mitra hidup saya, Primadonna Angela, menerbitkan tiba belas novel dan satu nonfiksi dalam waktu tiga tahun. Berarti rata-rata tiga-empat buku per tahun. Padahal dia ibu dari dua anak (satu masih menyusui) yang juga mengerjakan penerjemahan buku, copywriting, penyuntingan, serta menjalankan bisnis online di Rumah Pernik.

Banyak orang yang mengerutkan kening setiap kali Donna berkata dalam talkshow, bahwa resep produktivitas dirinya hanya satu: niat. "Hanya itu?" Mereka yang bertanya seperti itu belum mengetahui seperti apa kekuatan niat Donna.

Menjelang melahirkan anak kedua, Donna masih mengejar tenggat pekerjaan copywriting untuk sebuah agensi periklanan. Tenggat waktu seminggu lagi. Saat hampir selesai, tahu-tahunya sudah harus ke rumah sakit. Karena proses melahirkannya normal, hari ketiga sudah pulang. Lantas hari keempat menyelesaikan sisa tulisan dan mengirimkan hasilnya. Mitra kerja di agensi tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa Donna sudah melahirkan. Baru tahu saat revisi copywriting dah diterima, dan Donna memberi tahu via SMS. Saat ditanya kenapa baru ngasih tahu belakangan, dia menjawab sederhana saja, "Supaya nggak jadi alasan telat."


Kreativitas Tanpa Batas
Wajah Richoz paling bersinar setiap kali diajak bicara konsep kreatif. Konsep permainan tipografi dalam Parodi Film Seru pun berawal dari diskusi dengan Richoz. Ide-idenya mendebarkan jantung, dan bukan karena sering mengajak makanan berkolesterol tinggi.

Serial Suparman & iBab, sebagai contoh, lebih dari sekadar strip komik biasa karena membuat para pembacanya merasa terlibat. Ada cameo yang secara "kebetulan dan tanpa sengaja" mirip dengan sejumlah pembaca. Ada lomba pembuatan header situs yang mengutamakan keinginan berkontribusi dan bukan kemampuan Sotosop. Ada pula rekayasa ulang situasi yang ditulis dalam blog-blog orang. Bahkan ada perang antartokoh komik dengan blog komik tetangga.

Saat bertemu dalam Pesta Blogger Perjuangan pun Richoz mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengalahkan Coki si Pelukis Cepat (komik yang dulu dimuat dalam Majalah Hai).


Sketsa yang digambar justru saat kedua objeknya lagi melata ke mana-mana.[1]



Antusiasme yang Meledak-ledak
Agung Nugroho, alias Mbot, memiliki rumus sederhana bagi penulis, "Bikin tulisan itu kalau nggak yang bermanfaat, ya bikinlah yang lucu." Sulit untuk bicara dengan Agung tanpa ikutan merasa bersemangat.

Apalagi karena ia memiliki satu kemampuan penting sebagai penulis humor: mengubah situasi menyebalkan menjadi cerita yang lucu. Dalam bukunya, Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran, ia bercerita mengenai tes psikologi zaman perang dunia yang masih digunakan untuk menguji calon personil baru. Lebih gawat lagi, tes tersebut digunakan untuk menguji Mbot sendiri, seorang psikolog yang bahkan sudah hapal kunci jawabannya. Alih-alih merasa tersinggung dan marah-marah, ia mengubah situasi tersebut menjadi kenangan yang lucu.

Masih ingat tes psikologi yang minta kita gambar rumah? Sempat tergoda nggak untuk bikin rumah bentuk aneh-aneh? Nah, Mbot sih bertindak lebih jauh lagi. Dia gambarin rumahnya sedang diserang naga.


Poster ilustrasi eksklusif dari Mbot.[2]



Yang Penting Berkarya
Pernah baca Komik Karpet Biru (KoKaBi)? Saya merasa cocok dengan sejumlah personil KoKaBi karena prinsip mereka selaras: "Nggak usah ngeributin gaya visual, yang penting ngomik!"

Kemarin saya baru dapat sejumlah edisi lama KoKaBi dari Bapak Ranger dan Ibu Ranger. Itu saja sudah cukup membuat saya bersemangat untuk ngomik lagi. Atau minimal corat-coret di kertas nemenin Aza.

KoKaBi sendiri berencana akan menerbitkan edisi ke-12-nya awal tahun depan. Dan sebagai edisi spesial, akan diisi oleh banyak kontributor seperti Dyotami, Tita, hingga Hikmat Darmawan.


Pasti ada orang-orang seperti ini di lingkungan sosial Anda. Kalau merasa buntu, lebih sering lah berinteraksi dengan mereka. Buatlah lingkaran pergaulan sosial yang mendukung untuk berkarya!

___________________________

[1]: Ini adalah gambar yang dipaksa masuk dalam tulisan sekadar untuk nyombong: Anda nggak punya, kan? Haha!

[2]: Idem. Nggak punya kan? Haha!

Thursday, December 11, 2008

Berbagi Tawa Sebagai Kado Akhir Tahun

Pusing nyari hadiah akhir tahun? Ngasih baju udah sering. Makanan lebih sering lagi. Gadget? Mahal.

Bagaimana kalau tawa?

Agung Nugroho, penulis Ocehan Si Mbot, menulis bagaimana teman-temannya justru membuat ia sadar, bahwa buku humor bisa menjadi kado yang cocok. Menilik pengalaman teman-temannya, selain berbagi keceriaan, ada juga rasa senang melihat wajah orang tersayang yang biasanya superserius menjadi berseri-seri menahan tawa.

Tertarik mendapatkan buku Mbot gratis? Bisa kok. Caranya tertulis dalam Parodi Film Seru, halaman 130. Tersedia lima buku Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran, yang ditandatangani langsung oleh penulisnya.

Nggak usah pake bukti bon pembelian buku segala. Cukup temukan aja buku Parodi Film Seru. Bisa beli atau berimprovisasi saat lihat ada orang yang baca ("Mbak terlihat cakep deh kalau lagi baca buku Parodi Film Seru ini pas di halaman 130.")

Lantas ikuti petunjuk halaman 130. Gampang kan?

Lebih afdol lagi kalau buku Parodi Film Serunya milik sendiri. Pesan saja langsung ke penulisnya.


Selama persediaan masih ada, bisa mendapatkan pin eksklusif rancangan Wahyudi Pratama. Hanya dicetak 100 biji.

Tunggu apa lagi? Berbagilah tawa dan kebahagiaan akhir tahun ini. Beli buku Ocehan Si Mbot atau coba dapatkan gratis dengan membeli Parodi Film Seru. Berikan keduanya sebagai hadiah kombo tawa spesial tanpa teror!

Iklan Parodi Film Seru

Ada iklannya? Serius?

Oh, ya. Lihat saja sendiri. Ini iklan yang sangat serius. Kecuali dalam satu hal: pembuatannya.



Tonton saja videonya di YouTube.

Atau di MP-nya Mbot, sang sutradara dadakan.

Terharu karena keseriusan iklan ini? Langsung saja dapatkan bukunya: Parodi Film Seru.

Saturday, December 06, 2008

Nggak Biasa Menawar Kambing?

Serahkan saja pada kambi--maksud saya, ahlinya. Anak-anak Bandung Blog Village dan Cafelounge siap membantu Anda!



Tinggal hubungi panitia di (022) 2030124 atau email ke: event@bbv.or.id. Mereka akan membantu mencarikan hewan kurban yang mirip And--maksud saya, sesuai dengan permintaan Anda!

Acaranya sendiri bekerja sama dengan DKM Masjid Raya Cipaganti. Mengapa? Karena sudah beberapa tahun terakhir, permintaan daging kurban jauh lebih banyak daripada kuantitas daging hasil kurbannya sendiri.

Jadi, kalau Anda merasa pembagian daging kurban di daerah Anda kok masih sampainya ke para tetangga sekitar juga yang tidak terlalu membutuhkan, segera kontak (022) 2030124 atau email ke: event@bbv.or.id.

Insya Allah lebih melegakan hati karena dibagikan kepada yang lebih membutuhkan.

Sekalian, silakan kunjungi acaranya juga di Masjid Raya Cipaganti. Mulai dari jam 6:00 pagi. Kalau mau ikutan sapu-sapu dari jam 5:00, silakan saja. Kalau memang sudah niat ibadah, mana mungkin kami melarang.

Berikut kutipan harga hewan kurban yang tersedia per ekor (dan ini kutipan asli yang saya dapat dari panitia, tidak saya ubah-ubah):


Domba: Rp900.000 - Rp1.700.000
Sapi: Rp7.000.000 - tak terhingga

Hebat, kan? Kapan lagi Anda bisa menyumbang kurban senilai tak terhingga? Saya nggak kebayang kalau ketemu sapi seperti itu mau nawarnya gimana.

"Kalau sapi yang ini harganya berapa?"

"Yang itu harganya tak terhingga, Kang."

"Bisa turun lima ribu? Biar ada kembalian buat angkot pulang."

Saya juga nggak bisa membayangkan masukkin kartu ke ATM kemudian muncul informasi saldo: "Tak terhingga". Lebih hebat lagi kalau sebagai mas kawin. "Dengan ini, saya terima nikahnya anak Bapak dengan mas kawin senilai tak terhingga dibayar DENGAN CINTA!"

Kembali serius, maksudnya "tak terhingga" itu adalah: silakan menambahkan serelanya dari harga sapi yang sudah disepakati nanti. Tidak kami batasi. Kalau memang mau dan mampu beramal, masa kami larang? Tentunya, kelebihan dari harga sapi tersebut akan dihitung sebagai zakat.

Ketua panitia, Ihwanul Iman, menjamin, bahwa kondisi hewan kurban yang ditawarkan sehat wal'afiat, tidak kurang suatu apa pun... Minimal sampai tanggal 8 Desember jam 8 pagi. Di atas jam itu, yang selamat pun bisa jadi trauma.

Akhir kata, mari beramal sesuai tujuannya. Di Masjid Raya Cipaganti, masih banyak yang membutuhkan kurban. Jika Anda belum menitipkan hewan kurban, silakan kontak (022) 2030124 atau email ke: event@bbv.or.id.

Semoga amal ibadah kita senantiasa bermanfaat.

Wednesday, December 03, 2008

Preorder Buku Humor Terbaru Isman H. Suryaman: Parodi Film Seru

Status Terakhir:

Sudah lengkap 100 pemesan pertama! Tinggal 9lagi.

Belum dapat? Tenang saja: Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko buku, baik daring (online) maupun luring (offline).

Kalau menginginkan yang bertanda tangan, masih bisa kok pesan ke saya. Kirim saja email pemesanan ke writerstavern AT gmail DOT com.

Mohon pengertiannya: Anda akan mendapatkan harga sesuai toko: Rp30.000, karena sudah tidak termasuk 100 pemesanan pertama.

Bonus pin pun hanya akan diberikan kalau masih tersedia. Sekarang sisa sekitar 20-an, karena sejumlah pemesan pertama tersebut memilih aksesoris dari Rumah Pernik.




Masih ingat seri Movies in Five Minutes di blog The Fool Has Landed? Empat parodi film di blog itu telah menghilang semenjak beberapa bulan terakhir. Diculik tanpa uang tebusan.

Karena kini, ditambah sebelas parodi film baru, jadilah buku humor saya yang teranyar, Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil.

Seratus pemesan pertama akan mendapatkan buku dengan stiker autographed copy (tentunya ditandatangani dong, agar stikernya senantiasa jujur, baik hati, dan suka membantu menemani nenek menonton film horor). Bonus: pin eksklusif atau aksesoris Rumah Pernik. Silakan pilih.

Khusus bagi kawan-kawan yang sudah preorder sebelum pengumuman ini, dua-duanya dapat. Tidak harus memilih. Terima kasih atas dukungan kalian!

Harga buku: Rp30.000 Rp27.000 untuk 100 pemesan pertama.

Mau pesan? Langsung saja kirim email ke writerstavern AT gmail DOT com.



"Buku ini mengajak elo menertawakan film de­ngan cara yang belum pernah elo alami se­belum­nya."
–-Agung Nugroho, penulis Ocehan Si Mbot



Parodi Film Seru menghadirkan 15 Skenario Gokil yang bakal bikin harimu ce­rah. Dari kesulitan Selene membangkitkan tetua vampir dalam film Underworld...

SELENE
(MEMBACA PANDUAN) “Teteskan darah secukupnya. Biarkan mengembang se­la­ma lima menit”.


...hingga kebingungan Shanaz mengemas barang untuk mendaki Gunung Merapi dalam Mengejar Mas Mas.

SHANAZ
Barang yang perlu gue bawa... celana pendek. Celana pendek. Dan... hmm, oke, celana pendek. Beres.

Dari genre horor (Resident Evil), aksi (Transformers), hingga megalomania (Rocky Balboa dan Rantai Bumi).



"Salah satu parodi paling bebas dan lucu yang pernah saya baca. Dan isman selalu menemukan angle paling unik untuk menemukan dari mana senyum berasal... Atau memang otaknya selalu jahil."
--Wahyu HS, penulis skenario Para Pencari Tuhan

"Gak pernah kebayang film favorit Resident Evil bisa begitu ancur­nya di buku ini. Lucu dan nyambung banget. Tapi ri­sikonya, kita gak akan pernah bisa lagi nonton film-film yang sudah ada di bu­ku ini secara serius."
-–David Poernomo, sutradara dan produser film




Tunggu apa lagi? Pesan sekarang juga!

Kirim email ke writerstavern AT gmail DOT com. Tawaran ini hanya berlaku untuk 100 pemesan pertama. (Mendadak merasa seperti iklan TV.)

Tuesday, December 02, 2008

Panduan Menikmati Pesta Blogger

Hah? Menikmati saja perlu panduan? Nggak salah tuh?

Sama sekali nggak. Pesta Blogger sudah lewat sepuluh hari. Ingar-bingarnya sudah meredup. Efeknya sudah mereda. Walaupun memabukkan, hangover pasti berakhir juga. Pasti ada saja di antara kita yang berpikir, "Tahu gitu, gua bakalan [isi sesuatu yang luput Anda lakukan--foto di antara Maylaffayza dan Nila Tanzil, misalnya]."

Nah, agar tahun depan tidak terjadi kesalahan yang serupa, mari sama-sama menyusun panduan menikmati Pesta Blogger.


  1. Jadi peserta saja

  2. Pada Pesta Blogger 2008, saya hanya jadi mitra kerja panitia. Itu saja keringatan melulu.

    Pertama, saya perlu membawa dua puluh kaos, lima belas tas kain sebagai goodie bag, sepuluh jaket, dua puluh tiga tali ponsel, seratus cutting sticker, dan delapan flash disk.

    Barang-barang ini menuh-menuhin satu tas yang bahkan bisa memuat mitra hidup saya, Donna (plus anak saya Chika sebagai bonus). Semuanya harus saya dan Donna bawa ke Jakarta naik-turun CitiTrans dan TransJakarta (terutama tangga haltenya yang tidak ramah terhadap para penggiring tas). Akhirnya, kami pisahkan isi tas ini ke dalam tiga tas yang lebih kecil. Tetap saja banjir keringat.

    Itu baru mitra kerja panitia. Jangan lupa: panitianya sendiri harus menyiapkan goodie bag untuk lebih dari 1.000 peserta.

    Saat acara berlangsung pun kesibukan juga tetap ada. Sebagai contoh, kami mencari narasumber untuk breakout session saja mesti menyisiri lantai 3 BPPT seperti anjing pelacak narkoba yang mendadak pilek. Sementara panitia harus mengurusi kebutuhan semua acara sekaligus. Dalam kondisi kurang tidur.

    Jadi peserta saja, lah. Serius.


  3. Jangan kurang tidur hanya karena mikirin dress code

  4. Hanya pakai kaos dan sandal? Silakan. Jaket biru dengan topeng paruh penguin? Kenapa nggak?


  5. Kalau memang mau bertemu seseorang, hubungi sebelum Hari-H

  6. Salah satu jenis komentar yang sering bermunculan di blog pasca-Pesta Blogger adalah: "Yah, kemaren kok nggak ketemu?"

    Ada lebih dari seribu orang berkumpul di satu lantai. Kalau nggak punya telepati, ya jangan berharap ketemu. Lebih baik hubungi orang bersangkutan via japri sebelumnya. Bertukar nomor ponsel. Kalau susah ketemu, tinggal telepon.


  7. Pastikan ada teman/kenalan di Pesta Blogger

  8. Mengikuti Pesta Blogger untuk yang pertama kali? Belum pernah aktif di komunitas blogger mana pun? Jangan datang sendirian. Akan sangat tidak menyenangkan memasuki suatu ruangan yang penuh dengan orang tapi malah merasa kesepian. Pesta Blogger baru benar-benar terasa sebagai pesta saat kita bertemu banyak kenalan. Lama maupun baru. Berbaur.


    Percayalah: tidak semua wajah di foto akan Anda ingat namanya

    Karena itu, panduan berikut sangat penting.


  9. Bawa kamera digital!

  10. Jangan menyesal belakangan seperti blogger dengan inisial Y.A.H.Y.A. K.U.R.N.I.A.W.A.N, yang tidak mau disebut namanya. Kembali serius, kita akan kesulitan mengingat begitu banyak nama baru. Akan lebih mudah mengambil foto dulu, ingat-ingat kemudian.


    "Pelajaran Hari ini: Teknik Fotografi Ekstrem oleh Eko dan Valen."



  11. Siapkan kartu nama superbanyak

  12. Terlalu banyak orang yang harus diajak ngobrol, terlalu singkat waktu yang tersedia. Dalam kondisi seperti ini, kartu nama penting supaya pertemuan singkat tetap meninggalkan jejak. Minimal, Anda memberikan dia cara untuk kontak pascaacara ke blog Anda.


  13. Cetak dan bawa jadwal acara

  14. Selama dua tahun Pesta Blogger, selalu ada orang-orang yang berkeliling dengan wajah kebingungan. Apalagi menjelang breakout session. Prioritaskan dari awal breakout session yang Anda minati. Cari tahu ruangannya di mana saja. Dengan begitu, jika ingin pindah di tengah-tengah sesi, Anda tidak perlu membuang waktu untuk mencari-cari lagi.


  15. Bikin tradisi Anda sendiri!

  16. Sebagai contoh, saya membuat tradisi pose natural di depan papan foto Pesta Blogger.

    Pose natural pada Pesta Blogger 2007.


    Pada Pesta Blogger 2008, jauh lebih natural.



  17. Yang terpenting: perluas semangat pesta!

  18. Kalau belum puas, lanjutkan dengan berkumpul di luar acara. Nikmati hari itu!


    Pesta Blogger Perjuangan Tukang Lenong

Sunday, November 23, 2008

Masih Sekadar Pesta: Tak Apa-apa

Pesta Blogger 2008 berhasil dalam satu hal: tetap menjadi sekadar pesta. Dan itu bagus.

Mengapa? Karena pertama: jujur. Acara ini tidak harus memberat-beratkan diri dengan berbagai misi, muatan moral, dan hal lainnya. Tidak perlu.

Lah, Man, kan temanya aja Blogging for Society? Bukannya tendensius tuh? Nggak ada misi apaan?

Memang tergantung penafsiran Anda. Kalau Anda orang idealis ngotot, Anda bisa saja mendefinisikan bahwa apa pun yang menggunakan istilah "untuk masyarakat" harus sesuatu bombastis yang mengubah kondisi masyarakat secara besar-besaran menjadi lebih baik. Silakan. Pesan saya: mohon Anda konsisten juga dalam melaksanakannya.

Saya sih praktis. Meluaskan kesadaran untuk nge-blog saja sudah merupakan roda kecil penggerak manfaat untuk masyarakat. Orang-orang yang tadinya merasa menulis merupakan hal yang menakutkan, jadi mau menulis. Mereka yang tadinya menyimpan berbagai hal berguna tapi hanya tersimpan untuk diri: kini bisa berbagi. Mereka yang tadinya merasa tak bisa bersuara, jadi bisa menyampaikan pendapat. Dan sebaliknya: kita juga bisa memverifikasi suatu isu atau opini melalui komunitas blog yang kita percayai.

Yang terpenting: acara satu hari tidak akan bisa melakukan perubahan besar. (Kecuali merupakan kulminasi dari rangkaian kegiatan.) Yang jauh lebih berpengaruh adalah kiprah sehari-hari para komunitas blogging. Dan kita sendiri, sebagai blogger.

Jadi, biarkan Pesta Blogger tetap menjadi pesta. Perhelatan akbar berbagai komunitas blogging se-Indonesia. Wadah kopi darat dan bersenang-senang. Ajang para tokoh dunia nyata menyadari bahwa ketenaran dan kepakaran di dunia maya bisa jauh lebih berpengaruh. Tempat tumpang tindihnya promosi dan ingar-bingar yang mirip pasar malam.

Pesta saja bisa menunjukkan pada dunia: bahwa komunitas blogging Indonesia itu nyata. Dan jumlah tidak bisa berbohong.

Biarkan suara negatif melanda. Biarkan sejumlah pihak berusaha mempolitisir (keberhasilan) acara ini menjadi agenda-agenda mereka. Yang penting: tetap berpesta. Tetap sejati.

Karena kita, para blogger, memiliki kebebasan untuk itu. Yang tidak setuju pun memiliki kebebasan untuk tidak hadir. Atau membuat acara lain.

Namun, itu pendapat saya. Bisa saja berbeda. Suarakanlah pendapat Anda mengenai Pesta Blogger 2008 kemarin. Di blog Anda masing-masing.



Kalau perlu, berteriaklah! Asalkan jangan lupa: buat orang lain berminat (atau bersyukur telah) mendengarkan.

_______________

Cerita lain seputar Pesta Blogger bisa dilihat di situs resminya.

Friday, November 21, 2008

Tip Kesehatan Bulan Ini Berdasarkan DetikHot

  1. Hindari perceraian.

  2. Perbanyak ejakulasi.

Berhubung tip ini bisa disalahgunakan orang sebagai alasan untuk poligami, "Demi kesehatan!" Jangan salah: poligami juga memiliki efek samping. Sebagai contoh, bisa menyebabkan amnesia.

______________

Terima kasih pada David, yang sangat memerhatikan kesehatan.

Sunday, November 16, 2008

Anak Saya Mendapat "C" Untuk "Menjiplak"


Sampai sekarang, saya masih bingung: itu bagus atau buruk, ya?

Friday, November 14, 2008

Kejutan Saat Kembali ke Kampus ITB

Sabtu lalu (8 November 2008), saya dan Donna diundang jadi pembicara di Campus Center ITB, untuk berbicara mengenai buku kami dan buka klinik konsultasi naskah. Begitu masuk pelataran kampus, kami langsung disambut oleh patung maskot gajah tersenyum.

Awalnya kami kira begitu. Setelah melihat lebih saksama, kami menyadari bahwa patung itu tidak tersenyum. Ia meringis. Mengapa? Rupanya karena sering jatuh, patung ini dipasangkan tongkat penyangga. Ide yang logis. Sayangnya, letak tongkat penyangga ini tidak manusiawi maupun gajahwi.


Saya pun menunjukkan simpati dengan ekspresi khusyuk.


Saya terakhir kali saya menginjakkan kaki di kampus almamater ini sekitar dua tahun lalu. Takjub juga melihat banyak perubahan, terutama pada gedung Campus Center. Di sisi lain, senang juga melihat bahwa beberapa hal tidak berubah.

Misalnya: perhatian pada semantik


Senang juga mengetahui bahwa minat beli buku mahasiswa sekarang jauh meningkat. Dulu, pekan diskon buku di kampus malah sepi. Sekarang, laris manis. Pengunjung membludak. Banyak buku yang habis stok. Termasuk 7 Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint. Sampai harus minta tambahan dari Jakarta. Itu pun pas hari Sabtu itu kembali habis, jadinya tidak bisa kami jadikan hadiah bagi penanya.

Atau minimal ganjal bagi selangkangan sang maskot gajah.

Wednesday, November 12, 2008

Aksi, Drama, Suspens... Tidak ada di Sini



Apa iya? Siap mendobrak pintu toko buku, Desember ini.

Saturday, November 08, 2008

Wow!

Saya diberitahu Donna bahwa ada tujuh belas orang yang pre-order buku humor saya berikutnya.

Jumlah yang tampak sedikit, memang. Namun, perlu diingat bahwa Donna hanya membuat pengumuman ini terbatas di multiply dan plurk. Lebih hebat lagi, mereka belum tahu:

  1. Ini buku apa?

  2. Kapan terbitnya?

  3. Harganya berapa?

Dengan kata lain, mereka rela beli kucing dalam karung hanya karena saya yang menulis (atau Donna yang menawarkan, haha.)

Saya terima ini sebagai apresiasi. Terima kasih!

Dan juga tanggung jawab. Saya akan berusaha membuat buku ini melebihi harapan kalian.

Saturday, November 01, 2008

Payudara Demi Perdamaian Dunia

Blogosfer sedang ramai towel-menowel. Salah satu yang terkini adalah menulis tentang payudara demi perdamaian dunia. Saya sendiri baru sadar setelah ditowel Sonny. Menurut saya, siapa pun yang pertama kali punya gagasan menyandingkan kata "payudara" dan "perdamaian dunia" dalam kalimat yang sama patut mendapat penghargaaan Nobel.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (Daring), pa·yu·da·ra: n, buah dada; susu; tetek.

Bahkan Pusat Bahasa pun merasa tak perlu menjelaskan payudara. Mereka hanya memberikan padanan istilah. Payudara termasuk kata yang pasti ada dalam bahasa mana pun. Dan tidak perlu penjelasan.

Saya sendiri tidak tahu istilah payudara berasal dari mana. Namun, jika kata ini berasal dari tataran Sunda, kita bisa merinci bahwa payudara = payu (laris) + dara (gadis). Benda yang membuat gadis menjadi laris. Saya rasa tidak ada penjelasan lain yang lebih tepat.

Mungkin karena itulah bintang film porno Lolo Ferrari (alm) sampai nekat mengoperasi dadanya 22 kali hingga sebesar 180 sentimeter! Berdasarkan artikel Wikipedia, kedua payudaranya itu berisi sekitar 3 liter plasma darah suntikan. Entah bagaimana cara dia berjalan agar tetap seimbang.

Namun, ternyata itu masih belum ada apa-apanya. Model dan penari bugil Chelsea Charms mengaku bahwa masing-masing payudaranya memiliki berat 11,8 kilo. Total keduanya 23,6 kilogram. Aza, anak saya yang berusia empat tahun bahkan lebih ringan daripada payudaranya. Padahal saya hanya bisa tahan memangku Aza selama tiga puluh menit. Sementara Charms harus melakukannya seumur hidup.

Mari kembali pada pembicaraan yang lebih serius. Menimbang betapa hebatnya kekuatan payudara untuk menarik perhatian, mengapa kita tidak memanfaatkannya untuk kepentingan ilmu pengetahuan? Sebagai contoh, sebuah riset yang konon diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menyimpulkan bahwa menatap dada wanita selama sepuluh menit sehari dapat meningkatkan kesehatan seorang pria. Bahkan bisa menambah kemampuan hidupnya antara empat hingga lima tahun! Dr. Karyn Weatherby menulis bahwa menatap dada wanita dengan hasrat seksual akan memicu kerja jantung seorang pria dan meningkatkan sirkulasi darah. Ini setara dengan olahraga aerobik selama 30 menit, mengurangi risiko stroke dan serangan jantung hingga 50%!

Jelas bahwa UU Pornografi kita perlu direvisi. Selain atas nama seni, budaya, dan prosesi ritual, sebaiknya menatap payudara juga dilegalkan demi alasan kesehatan.

Sekalian saja: bisa diresepkan oleh dokter.

"Bapak kurang olahraga. Sempatkan olahraga aerobik tiga puluh menit sehari," ujar seorang dokter.

"Wah, saya sudah uzur, Dok," ujar sang pasien sambil gemetar. "Nggak bisa lagi olahraga."

"Ya sudah," sang dokter menulis resep. "Ini saya resepkan foto payudaranya Miyabi." Ia menyerahkan kertas resep. "Silakan beli di apotek terdekat. Tatap selama 10 menit sehari."

"Sebelum atau sesudah makan, Dok?" tanya sang pasien.

"Terserah. Yang penting sampai nafsu, ya, Pak. Semoga lekas sembuh."

Dukanya Jadi Panitia Pelatihan

Saat pelatihan untuk UKM pariwisata baru berakhir, panitia menemukan sebuah ponsel Nokia yang tertinggal di meja.

"Ini punya siapa, ya?" tanya seorang panitia.

Seorang lagi mengenali ponsel itu, "Oh, itu milik Pak B. Orangnya di mana?"

"Oh, udah pergi," ujar yang lain.

"Ya sudah," ujar yang menemukan. "Telepon aja HP-nya. Kasih tahu kalau, euh..." Dia langsung berhenti sendiri.

"Kasih tahu apa?" goda yang lain. "Bahwa HP-nya ketinggalan?"

Begitulah pelatihan. Peserta berpotensi semakin cerdas. Kalau panitia? Sebaliknya.

Tuesday, October 28, 2008

Password Terhebat Dalam Sejarah

Mulai Senin kemarin (27 Oktober 2008), Divusi membantu DepBudPar melaksanakan pelatihan untuk UKM pariwisata di Hotel Santika, Jogjakarta. Pada Selasa sore, sesinya adalah pelatihan menulis dan mengelola blog dengan mesin Wordpress, dipandu oleh teman-teman dari CahAndong: Yahya Kurniawan, Tika, dan Eko.

Peserta membuat akun blog, lantas memilih username dan password. Dalam mesin Wordpress, saat kita memilih password, program akan memberi masukan apakah password tersebut bagus (strong) atau buruk (bad), dinilai dari kemungkinan dibobol.

Berhubung mayoritas peserta masih belum pernah nge-blog, mereka awalnya memasukkan password yang terdiri dari nama sendiri, tanggal lahir, dan lain-lain. Sampai-sampai ada yang mengeluh, "Kok password saya bad terus, sih?"

Salah seorang pria yang dipandu Tika malah sebaliknya. Password yang ia ketikkan dinilai "Strong".

Strongest Password in the Universe

Ia mengekeh bangga. "Password-ku strong-e!" ujarnya bangga dengan logat yang kental. Namun kemudian, dia tertegun. "Mbak, ini kotak kosong di bawahnya apa, ya?"

"Oh, itu untuk konfirmasi, Pak," jawab Tika. Ketikkan aja password-nya sekali lagi di situ."

Bapak itu mengangguk. Lantas bersiap mengetik, dan kembali terdiam. "Eh, [password-nya] apa, ya?" tanyanya bingung.

Betul-betul password yang hebat.

Tuesday, October 21, 2008

Pesan Moral Facebook Hari Ini


Memiliki terlalu banyak teman adalah suatu kesalahan.


Bertobatlah! Bertobatlah!

Tip jika Anda terlalu banyak teman:
- Telepon teman-teman terdekat Anda pada malam hari (jam 1 pagi itu cukup ideal) dengan nada mendesak dan bilang bahwa Anda harus membicarakan hal yang sangat penting. Lantas setelah ketemu, ajaklah dia untuk bergabung dalam MLM.
- Jadi calon presiden.

Saturday, September 06, 2008

Pertanyaan Bagus

Sore tadi, saya menemani Aza ke taman komplek perumahan. Taman ini dulunya hanya lapangan rumput. Lantas lima tahun lalu, warga sekitar menambahkan empat permainan anak-anak: serodotan, ayunan, jungkat-jungkit, dan gantung-gantungan.[1]

Setelah dua tahun terakhir menghindari gantung-gantungan, akhirnya Aza mau juga mencoba alat ini. Awalnya sekadar memanjat ke atas. Masih saya pegangi. Itu pun dia selalu mengomel, setiap dua detik, "Waaah, aku takut jatuh." Lalu turun. Di sini ada kemajuan: frekwensi omelannya jadi tiap satu detik. "Waaah, aku takut jatuh."

Dua kali coba, ia langsung lupa diri. Naik, turun, naik, turun. Sesekali ia bilang, "Waaaah, aku takut jatuh." Tapi kelakuannya yang nungging-nungging saat menaiki anak tangga justru menunjukkan kebalikannya.

Di saat itu, seorang anak perempuan yang tampak lebih muda ikut bergabung. Saya berkata, "Za, itu adek ikutan. Kenalan dulu, dong." Sebenarnya, saya tidak terlalu berharap Aza mau. Dia tipe yang malu berkenalan dengan anak lain.

Eh, tahunya, Aza langsung menyambut, "Nama kamu siapa?" Ia memamerkan senyumnya yang lebar, "Namaku Azad Zen."

Dengan sedikit heran, aku balik memerhatikan anak perempuan tadi. Sang anak menjawab dengan lembut, "Namaku Wahmi." Sialan. Ternyata cukup manis. Pantas Aza mendadak semangat.

Seorang anak perempuan lain yang lebih besar mendekat, "Adek mainnya hati-hati, ya?"

"Ada kakaknya tuh, Za," ujar saya. Kali ini saya langsung memerhatikan. Ternyata kakaknya tidak semanis adiknya. "Kenalan juga dong."

"Kenalan?" jawab Aza dengan kening berkerut. "Nggak." Ia pun kembali memanjat dengan cuek.

Saya langsung memijat kening. Anak usia empat tahun kok sudah belajar diskriminasi fisik, sih?

Sebelum saya protes, Aza sudah melanjutkan percakapan pada Wahmi. "Rumah kamu di mana?" Dan Wahmi memberitahukan sebuah nama jalan di dekat lapangan.

Buset! Saya takjub. Gerak Aza cepat amat. Dan berhasil, pula!

Namun, ketakjuban saya langsung menguap begitu Aza bertanya pada Wahmi, "Papih kamu, laki-laki atau perempuan?" Jelas-jelas bukan pertanyaan yang bakalan muncul di daftar Top 10 Kalimat Pembuka untuk Pedekate.

"Memangnya Papih Aza sendiri laki-laki atau perempuan?" potong saya, penasaran.

"Laki-laki," jawab Aza tenang.

"Alhamdulillah," ujar saya.

Kemudian Aza mengerutkan kening dan menengadah, "Tapi kenapa Mamih perempuan, ya?"

"Pertanyaan bagus, Za." Saya hampir tersedak oleh tawa. "Sepulang nanti kita tanya deh, ke Mamih."

________________

[1]: Aslinya sih tidak seseram sebutannya. Bentuknya seperti dua tangga panjat vertikal, yang atapnya berupa tangga juga. Anak-anak memanjati tangga vertikal, lantas bergantung ke anak-anak tangga di atas. Mereka bisa menyeberang dari satu sisi tangga vertikal ke sisi lain, atau sekadar bergantungan aja. Makanya disebut gantung-gantungan.

Wednesday, July 16, 2008

Pentingnya Editor atau Proofreader

Bisa dilihat di sini. (Update: Sudah diperbaiki oleh penyuntingnya per tanggal 30 Juli 2008, sekitar 4 minggu kemudian. Lama juga.)

Sebuah artikel di detikHot berjudul "Kerjaan Menumpuk? Santai Saja!" menyampaikan sejumlah tip. Perhatikan tip nomor lima (Update: di tangkapan layar).

Jika tidak ada yang aneh, mungkin sudah diperbaiki. Coba bandingkan dengan hasil tangkapan layarnya di bawah ini.



Klik gambar di atas untuk melihat ukuran aslinya.


Bonus: simak tagline detikHOT yang berbunyi, "hiburan digital anda". Khusus untuk artikel ini, maknanya menjadi lebih dalam.

Thursday, July 10, 2008

Semakin Fokus, Semakin Buta

Cobalah penggelitik otak sederhana berikut. Mampir ke situs ini, lantas tontonlah videonya.

Silakan. Saya tunggu.

Akan ada dua tim basket; hitam lawan putih. Kita akan diminta menghitung berapa jumlah operan yang dilakukan tim putih.



Cobalah.

Kalau sudah, tinggal turun ke tulisan di bawah.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Bagi yang belum, lebih baik coba dulu tonton videonya.
Akan jauh lebih mencerahkan. Percayalah.)
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Oke. Berapa jumlah operannya? Antara 10-15?

Tapi, bagi yang benar-benar menghitung, apakah Anda memerhatikan ada orang berkostum beruang yang menari mundur?

Oh, ada kok. Di klipnya sendiri jelas terlihat. Dan jika Anda benar-benar menghitung operan tim putih, bisa jadi Anda tidak akan melihatnya.



Fenomena ini disebut kebutaan akibat tidak memerhatikan (inattentional blindness). Video iklan itu sendiri mengadopsi video penelitian yang digunakan Daniel Simmons dan Christopher Chabris. Bedanya, mereka menggunakan orang berkostum gorila. Profesor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire menunjukkan video tersebut kepada 400 orang. Hasilnya? Hanya sepuluh persen yang melihat gorila itu lewat.

Singkatnya, kalau perhatian kita terfokus pada satu hal, kita bisa terbutakan terhadap hal-hal lain.

Menurut saya, kebutaan ini bisa berlaku lebih umum. Jika kita terlalu fokus dalam mencari uang, misalnya, kita bisa buta terhadap hal-hal lain dalam kehidupan. Jika kita fokus pada kegagalan, kita bisa buta terhadap perbaikan diri dan pembelajaran yang kita dapatkan.

Padahal bisa jadi kunci kebahagiaan yang kita cari terletak pada beruang menari yang tidak kita lihat. Beruang ini bisa mencolok, bisa tidak; bisa juga berupa hal-hal kecil yang perlu kita lebih syukuri atau rayakan.

Jika kita terjebak dalam suatu rutinitas atau lingkaran yang membuat kita merasa terpuruk, cobalah gelitik pikiran sendiri. Berhentilah. Dan coba buka belenggu fokus kita.

Carilah beruang yang menari.

Monday, June 09, 2008

Mulutmu... Penyembelihan Kambingmu

Sabtu lalu, saya, Donna, dan Aza mengunjungi kekahan tetangga. Bagi yang tinggal di luar Pulau Jawa, kekahan adalah acara di mana keluarga manusia (muslim) bersuka ria menyambut kelahiran anggota baru, sementara keluarga kambing (apa pun agamanya) bermuram durja kehilangan anggota lama (di luar Idul Adha).

Aza, yang hampir berusia empat tahun, tampak bersemangat melihat sang bayi. Berapa kali ia bolak-balik meminta untuk melihat "adek bayi".

"Lucu, ya, kayak Aza ama adek Chika waktu dulu," ujar Donna.

Aza cengengesan, lantas berkomentar, "Yang lucu itu adek Chika."

"Ya, ya." Saya dan Donna hanya tersenyum mengangguk.

Namun kemudian Aza menambahkan, "Yang nggak lucu itu..."

Saya langsung membekap mulutnya sambil tertawa (memaksa).

Bagaimana pun, kami ingin pulang selamat.

Tuesday, May 13, 2008

Mengenal Blog Kita dengan Jendela Johari

Pernah dengar istilah Jendela Johari? Ini adalah sebuah model sederhana untuk memetakan kepribadian kita. Anggaplah ada empat jendela, seperti di bawah ini.

Jendela Johari

Dari model tersebut, kita bisa mengenal dan membandingkan persepsi kita dan orang lain mengenai diri kita. Caranya mudah. Buatlah sekumpulan daftar sifat dan pilihlah yang kita pikir mewakili diri kita. Lantas minta teman atau kenalan kita untuk memilihkan sifat-sifat yang menurut mereka mewakili kita.

Bandingkanlah. Hasilnya bisa mengejutkan kita, terutama di Jendela II dan III.

Lantas renungkan: apa yang menyebabkan perbedaan persepsi tersebut?

Istilah Johari sendiri muncul dari kombinasi nama penciptanya, Joseph Luft dan Harrington Ingham. Walaupun diciptakan pada tahun 1950-an, model ini cukup bisa menjadi alat efektif untuk mengenal diri lebih jauh.

Bukan itu saja, model ini pun bisa menjadi alat pengukur citra sederhana bagi figur publik atau bahkan merek iklan.

Nah, bagaimana kalau kita menggunakannya untuk blog kita? Apa sih tujuan kita menulis blog? Menurut kita, tulisan-tulisan blog kita menyiratkan citra apa? Cerdas? Lucu? Dangkal?

Pertanyaan terpenting: apakah para pembaca menangkap kesan yang sama?

Cobalah gunakan dua alat bantu buatan Kevan ini:

  1. Membandingkan karakteristik positif

  2. Membandingkan karakteristik negatif

Dan bagi para pengunjung blog Bertanya atau Mati, tolong isikan Jendela Johari untuk blog ini, ya?

  1. Karakteristik positif blog Bertanya atau Mati!

  2. Karakteristik negatif blog Bertanya atau Mati!

______________________

Terima kasih untuk Eko.

Wednesday, April 16, 2008

Solusi untuk DPR Ngantuk

Rob Taverner, seorang peternak sapi berkebangsaan Inggris menemukan cara baru untuk meningkatkan produksi susu.

Tai chi.



Seperti bisa dilihat pada foto dari artikel berita aslinya, Rob melakukan gerakan tai chi di depan 100 ekor sapinya, setiap pagi. Menurut pria berusia 44 tahun ini, ia melakukan ritual tersebut agar sapi-sapinya berada dalam suasana hati yang cocok untuk produktif.

Bagaimana kalau kita terapkan ini di sidang DPR/MPR? Daripada harus ada kasus ditegur Presiden lagi--yang memang menjadi terapi kejut tapi sayang hanya berefek sementara.

Bayangkan saja adegan sidang DPR yang sering ditayangkan televisi. Diskusi terus-menerus berkutat pada hal-hal yang bersifat kusir-kusiran. Beberapa orang memegang buku Teka Teki Silang. Di sana sini tampak wajah yang matanya terpejam lebih lama dari seharusnya. Dan sebagian besar sudah malas menyimak.

Saat inilah, Rob Taverner langsung maju ke depan podium dan melakukan tai chi. Kalau ini masih gagal membuat para wakil kita melek, kita masukkan juga 100 sapinya.

Monday, April 14, 2008

Seputar Pilkada Jawa Barat

  • Masih terkait angka, salah satu juru kampanye (jurkam) Danny Setiawan - Iwan Sulandjana sempat keseleo lidah. Saat kampanye di Soreang (3 April 2008), ia berteriak lantang, "Ada Danny di dadaku, Iwan kebanggaanku. Nomor dua pilihanku!"

    Padahal seharusnya nomor satu. Kesalahan yang manusiawi, namun jadi menarik karena diucapkan jurkam yang bernama unik.

    Nama jurkamnya? Bool. (Slang untuk "lubang pantat".)

    Salah satu pengunjung berkomentar, "Ngaranna oge Bool, nya nu kaluarna ..." ("Namanya aja Bool, ya yang keluar...")


  • Setelah pasangan Hermawan - Dede Yusuf diproyeksikan menang, tiga orang bersepeda motor melempari kantor DPD PKS Bandung dengan molotov.

    Atas kejadian ini, Kapolres Bandung AKBP Ahmad Dofiri malah berkomentar,  "Itu bukan molotov, hanya bensin dalam botol lalu dilempar ke halaman kemudian dia melempar lagi karung terigu yang dibakar."

    Kalau gitu bisa jadi itu juga bukan usaha peledakan. Tapi kebetulan buang sampah botol berisi bensin. Terus karena khawatir kotor, jadi dibakar. Betapa senangnya saat polisi kita begitu perhatian pada semantik.

    Ketua Tim Operasi Pemenangan PKS Kabupaten Bandung Arifin Sobari juga turut berkomentar, "terlihat sekali pelaku adalah profesional..."

    Namun, dalam artikel lain, diberitakan bahwa salah satu pelakunya tertangkap karena "vespa yang dikendarainya mogok".

    Kalau ini profesional, aku malah kasihan memikirkan yang amatir.

    Sang pelaku yang tertangkap bernama Didin Tajudin Bin Marwan. Ia berada, dan saya kutip, "dalam kondisi syok".

    Secara profesional, tentunya.

Memilih Angka, Bukan Visi

Menilik pilkada(l) Jawa Barat kemarin (13 April 2008), ada satu hal yang mengganjal. Mengapa kita masih menggunakan angka? Jumlah pilihan hanya tiga. Untuk apa dinomori satu, dua, tiga? Bukankah sudah ada nama dan foto wajah?

Apakah agar orang-orang yang tidak bisa membaca dan tidak tahu wajah kandidat bisa memilih? Kalau begitu, mengapa tidak menyediakan mesin slot alih-alih kertas coblosan. Itu akan lebih akurat. Dan menarik.

Jadi apa solusinya? Hilangkan angka yang tidak perlu? Sayangnya, mengandalkan foto wajah pun ternyata belum cukup. Walaupun sejumlah pemilih mengatakan bahwa pasangan Hermawan - Dede Yusuf menang karena menjanjikan harapan, ada juga yang mengatakan karena wajah Dede lebih dikenal. Plus ganteng.

Dan ini tidak terbatas Indonesia saja. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pun menunjukkan bahwa saat diberikan sejumlah pilihan, para pemilih yang tidak terlalu mengetahui visi  atau program kandidat akan cenderung memilih orang yang jangkung dan tampan.

Anda memilih karena apa? Apa pun itu, kalau tidak ada yang sesuai, selalu ada pilihan di luar yang tersedia. Karena tidak ada gunanya memilih jika tidak mendukung. Terutama bagi mereka yang seminggu terakhir ini jadi sering meneriakkan satu bait Electable-nya Jimmy Eat World.


"Not in my name, you don't speak for me
I am my voice, and I want to scream
You want my air, you want my life
I act as one, but I'm not alone...

Monday, March 17, 2008

Top 10 Lirik Alternatif "Ingat Kamu"-nya Maia & Friends

10. "Aku s'dang selingkuh, kuingat kamu..."
9. "Aku kena flu burung, kuingat kamu..."
8. "Aku nunggak sewa, kuingat kamu..."
7. "Aku belum makan, kuingat kamu..."
6. "Aku jerawatan, kuingat kamu..."
5. "Aku lihat beruk, kuingat kamu..."
4. "Aku butuh duit, kuingat kamu..."
3. "Aku pengin boker, kuingat kamu..."
2. "Aku lupa cebok, kuingat kamu..."
1. "Aku seorang kapiten, kuingat kamu..."

Kue Sus Penantian

Orangtua saya (dari sisi Donna) hampir pasrah menanti kedua adik kami, Satria dan Dimas, menikah. Namun, kadang mereka sendiri yang menjadi sebab.

Minggu lalu, Mama baru bangun dari tidur siang. Ia melewati Dimas yang sedang asyik berbicara di telepon. Lalu ia membuka lemari es. Matanya langsung berbinar melihat sejumlah kue sus terbaring menggoda.

"Eh, kue sus siapa nih?" tanyanya dengan suara pelan. Tak mendapatkan jawaban, ia pun langsung menggigit sebuah. Baru mengunyah sebentar, ia langsung mengerutkan kening. "KUE SUSNYA NGGAK ENAAAAAAAAK!" protesnya.

Tak berapa lama, Dimas lewat dengan wajah kesal. "Selera orang kan beda-beda," ujarnya ketus. Ia pun kemudian menghilang di balik kamar.

Satria, sang bungsu, mendekati Mama sambil tersenyum lebar. "Susnya pemberian teman Dimas lho. Cewek," tambahnya.

Mama belum mengerti. "Oh, ya?"

"Dan kayaknya dia yang lagi ditelepon Dimas," ujar Satria terkekeh.

Tampaknya orangtua saya perlu kembali menanti.

Saturday, March 15, 2008

Kuis Singkat: Apakah Anda Seorang Penulis?

1. Apakah Anda bisa baca-tulis?
a. Ya.
b. Tidak, walaupun dengan mengaku begitu, berarti saya berbohong.


2. Apakah Anda senang menulis?
a. Ya.
b. Jawabannya bisa diucapkan aja, nggak? Saya males ngetik.


3. Apakah teks yang sesuai untuk gambar di bawah?


a. Where a writer's heart is
b. Lah, kan saya nggak bisa baca-tulis, gimana sih?


Kunci jawaban

  • Semua a: Ya.

  • Ada satu atau dua b: Mungkin.

  • Semua b: Kemungkinan besar penulis humor.


Lho? Gitu aja?

Memangnya apa lagi? Harus menerbitkan buku? Harus hapal Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Thursday, February 28, 2008

Ngobrol Soal Identitas Kepenulisan

(Dialog berikut saya kutip dari diskusi dalam milis Writer's Tavern, antara saya, Wicak, dan donna.)




Wicak:
Hmm... Isman, saya tertarik dengan urut-urutan itu. Mau nggak menjelaskan lebih lanjut soal 'identitas diri yang kuat' sebelum 'berkarya secara konsisten'. Apa yang dimaksud dengan identitas diri dan kapan seseorang tahu dia sudah memiliki identitas diri yang kuat?


donna:
Soal identitas diri, mungkin more or less begini ya. Seorang penulis itu idealnya punya idealisme atau setidaknya sesuatu yang ingin ia sampaikan via tulisannya. (setidaknya ini menurutku) Dia juga sebaiknya tahu, tujuannya menulis untuk apa, apa dia berencana mengembangkan kemampuan menulisnya atau tidak, apa dia hanya menjadikan menulis sebagai hobi atau memang berniat menulis pro, dll.


isman:

Kira-kira begitu. Dia tahu dan sadar bahwa dia menulis itu karena apa dan untuk apa. Jadi rutinitas berkaryanya konsisten dengan identitas ini. Kalau berkarya secara rutin tapi tidak ada identitas, jadinya sekadar hasil. Karena mau konsisten dengan apa?

Dan identitas ini tidak harus ideal. Saya kenal dengan seorang penulis yang terbuka menyatakan bahwa ia menulis untuk uang. Dan saya cukup menghormati dia karena ia konsisten dengan itu. Tidak mengumbar idealisme. Dan tetap rutin berkarya. Praktis saja. Toh banyak juga arsitek dan seniman yang berkarya untuk uang. Apa bedanya dengan penulis?

Nah, ia menyadari dan merangkul identitas kepenulisannya. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bisa jadi ketidakbahagiaan; karena ingin membuat karya yang laku, tapi takut dicap sekadar "mencari uang". Padahal persepsi orang lain itu kalah penting dibandingkan persepsi diri sendiri.


Wicak:
Apakah identitas diri yang kuat sama dengan seseorang telah mencapai tingkat selebritas tertentu atau kepakaran atau bagaimana?


isman:
Tingkat selebritas atau kepakaran itu lebih ke arah citra diri, Cak. Konteks "identitas"-nya bermain di ranah persepsi publik. Orang lain.

Sementara identitas yang kumaksud di sini berlaku dalam ranah persepsi diri. Kalau identitas diri secara umum mungkin bisa dicari dengan pertanyaan: "Untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?"

Sementara identitas kepenulisan bisa dijelajahi dengan pertanyaan: "Kenapa kita menulis?" Jawabannya, tentu saja, perlu lebih dalam dari sekadar "Suka aja." Satu pertanyaan itu akan menghasilkan cabang-cabang seperti:
  • Apakah pesan yang ingin kau sampaikan? Kalau tidak ada, kenapa? Kalau ya, apa dan kenapa?

  • Apa yang membuatmu tetap menulis? Apa yang bisa membuatmu berhenti menulis?

  • Apa yang kau anggap sebagai keberhasilan dalam menulis? Apa yang kau anggap sebagai kegagalan dalam menulis?

Dan masih banyak lagi. Kita memiliki identitas yang kuat saat bisa menjawab pertanyaan apa pun yang muncul berkaitan itu.

Dari deskripsi milis ini juga bisa dilihat: perbedaan penulis pribadi dan profesional dibedakan dari karakteristik identitas. Bukan dari kompetensi. Karakteristik penulis pribadi yang utama, ya hanya menulis untuk diri sendiri. Yang ekstrem, orang lain tidak boleh baca. Kalaupun ada yang baca, komentar apa pun tidak pengaruh baginya.

Penulis profesional menulis untuk orang lain. Karena itu, label "profesional"--selain dari bagian dari identitas--menjadi tuntutan. Kalau sekadar ingin membuat semau kita tanpa memedulikan pembaca, itu belum sepenuhnya profesional. Masih menuju, lah. Asalkan memang dalam proses belajar.

Kekaburan antara karakteristik identitas ini bisa menghasilkan konflik. Contoh yang jamak: Mau menulis untuk orang lain, tapi takut untuk mencoba. Atau menulis untuk pribadi, tapi memendam keinginan untuk diakui (atau dipuji) oleh orang lain.

Konflik ini bisa hilang dengan mengemban identitas yang jelas.


donna:
Seorang penulis yang menurutku identitas dirinya kuat, tahu di mana dia sebaiknya "bermain". Misalnya dia bagusnya nulis fantasy, tapi karena suka banget ama genre romance atau comedy maksain nulis, hasilnya belum tentu optimal.


isman:
Itu juga salah satu karakteristik identitas. Tapi jangan salah mengartikan identitas sebagai pembatasan. Bebas saja mengeksplorasi genre lain yang bukan kompetensi utama kita. Asalkan ingat kembali tuntutan "profesional". Kalau memang mau beralih genre, kita harus memastikan bahwa itu adalah karya yang dihasilkan dengan upaya terbaik kita--dengan memerhatikan pembaca.


donna:
Sebaiknya juga, dia tahu kelebihan dan kekurangannya apa, dan berusaha banget memoles kemampuannya terus-menerus supaya tidak stagnan.


isman:
Iya. Kalau sesuai identitasnya. Siapa tahu memang ia bahagia sebagai penulis yang stagnan. (Bisa saja terjadi. Walau belum pernah ketemu orangnya sih.)


Wicak:
Thanks atas pencerahannya.


isman:

Wehehe, semoga nggak malah jadi makin gelap. Ini cuman pendapat saya, lho. Bisa aja beda.

Intinya, aku rewel berkaitan identitas kepenulisan ini karena menyangkut kebahagiaan. Jujur saja, kehidupan seorang penulis akan sering sekali diancam ketidakbahagiaan. Yang utama adalah ancaman mental maupun sosial.

Tapi, asalkan identitas kepenulisan kita jelas dan kuat, kita akan bisa menghadapi ancaman apa pun (menyangkut kepenulisan, ya. Ditodong garong sih beda masalah.) Jangan salah, bahkan keberhasilan (contohnya kelarisan suatu buku) pun adalah suatu ancaman; apakah ia tetap bahagia jika buku berikutnya tidak laku? Apakah ia jadi tidak bahagia karena merasa "disetir" untuk menghasilkan karya yang memuaskan pembaca setianya? Pergelutan akan terus terjadi.

Bisa saja seorang penulis tidak sadar bahwa identitas kepenulisannya kuat. Yang ia tahu hanyalah: ia bahagia dengan menulis (baik saat melakukannya maupun tidak).

Itu sudah lebih dari cukup.

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa penulis yang baik adalah penulis yang tidak bahagia. Saya menentang pendapat itu. Bagaimana dengan teman-teman?

Penulis Sebagai Pemasar: Hati-hati

Akhir-akhir ini, sering bergaung pendapat bahwa penulis perlu jadi pemasar yang baik. Ini adalah anjuran yang baik. Sayangnya, kurang lengkap.

Ada urutan yang perlu para penulis ketahui sebelum mulai memasarkan karya (ataupun diri). Seorang penulis sebaiknya:

  1. Memiliki identitas diri yang kuat

  2. Berkarya secara konsisten

  3. Baru bisa memahami dan mempraktikkan pemasaran dengan baik

Kalau urutannya terbalik bisa kacau. Nomor tiga sebelum dua: tidak efektif karena karyanya terbatas. Jujur saja, saya adalah penulis buku tipe nomor tiga sebelum dua. Kini saja sudah banyak orang yang lupa bahwa pernah ada buku yang berjudul Bertanya atau Mati! Lebih banyak orang yang tahu bahwa itu adalah nama blog.

Tentu saja, karya di sini bermakna luas. Tulisan blog pun bisa disebut karya. Serupa dengan contoh di atas, percuma kita promosi blog ke mana-mana kalau tulisan kita saja munculnya hanya sebulan sekali. Sementara blog seperti blogombal justru tanpa promosi bisa dikenal luas. Karena tulisannya muncul secara rutin. Dan konsisten dengan gaya Paman Tyo yang khas.

Nomor tiga atau dua sebelum satu: celaka. Ini sempat saya sampaikan di satu forum lain: akan gawat saat seorang penulis mulai menerbitkan karya bukan karena ingin menyampaikan sesuatu, melainkan karena sekadar ingin menghasilkan sesuatu. Bisa jadi karyalah yang akan lebih berkuasa dibandingkan penulisnya.

Sudah dua kali saya menyinggung identitas diri dalam kepenulisan. Seperti apakah itu? Bagaimana kita mengetahui identitas kepenulisan kita? Itu akan saya bahas di tulisan berikut.

Wednesday, February 27, 2008

Menulis Adalah Kung Fu

Dalam serial komik Kenji karya Ryuchi Matsuda & Yoshihide Fujiwara (di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo), sang tokoh utama mempelajari kungfu Delapan Mata Angin. Namun, dalam perjuangannya dalam mendalami ilmu ini, ia mempelajari kungfu gaya lain, dari Tai Chi hingga Kungfu Enam Kehendak.

Saat mengetahui kelemahannya dalam tinju, misalnya, ia mengikuti sasana tinju dan mempelajari kungfu yang berfokus pada pukulan. Namun, ia tidaklah berganti aliran. Ia menggunakan pengetahuan dan teknik baru yang bisa menguatkan kungfu Delapan Mata Anginnya. Sementara yang tidak, ia sisihkan.

Hal ini serupa dengan menulis. Pada satu saat, seorang penulis akan mendapatkan "aliran" menulisnya yang akan ia dalami. Namun, dalam proses pembelajaran, kita perlu mencoba dan mempraktikkan "gaya-gaya" menulis lainnya untuk mendapatkan suatu pencerahan, menambal kekurangan yang kita miliki.

Pada akhirnya, suatu gaya khas penulis akan muncul dari pengalaman seseorang bereksperimen dan berpraktik.

Mari berlatih menulis ala kung fu!

a. Ingin mempelajari cara membuat judul yang menarik?
Bisa dengan berlatih menjadi copywriter atau caption-writer. Ambillah foto secara acak, lantas berikan teks singkat yang membuat situasi fotonya menjadi jelas. Atau beri balon dialog sehingga menjadi lucu. Ini latihan berpikir multisituasi. Satu foto bisa menjadi bermacam-macam konteks adegan dengan pemberian teks yang berbeda. Dengan begitu, kita dapat mempelajari pencarian berjuta jalan menuju terbentuknya satu kalimat.

b. Ingin membuat kalimat yang efektif?
Bisa dengan berlatih menulis flash fiction atau berlatih menjadi editor. Kuasai pola pikir memanfaatkan suatu batasan ketat menjadi keunggulan dalam bercerita. Dan jalani disiplin untuk menyisihkan kata-kata yang berlebihan.



Editor siap memotong kata (atau menyabet mereka yang masih menulis "disamping" atau "di denda")


c. Ingin membuat dialog yang efektif dan menarik?
Cobalah membuat atau mempelajari skrip komedi situasi. Carilah pencerahan menuju dialog yang dapat menuntun pembaca/pendengar menyelami karakter yang berbeda. Temukan juga cara untuk membuat dialog menjadi sesuatu yang menarik dan penting bagi cerita, bukan sekadar penambah jumlah halaman.

d. Apakah tulisan anda terlalu "telling"?
Cobalah menulis skenario film aksi atau membuat (skrip) komik. Pelajari kunci bercerita secara visual, sehingga dapat menangkap inti dari pakem "Show, don't tell".

e. Bagaimana melatih kedisiplinan menulis?
Cobalah membuat blog (boleh untuk pribadi saja, tidak disebar ke umum) yang di keterangannya ditegaskan: "…akan diisi setiap hari". Atau cobalah membuat skrip/storyboard komik strip harian. Biasakan diri agar dapat secara alamiah menemukan waktu menulis setiap hari.

Ini hanyalah sebagian contoh. Temukan cara-cara kita sendiri untuk menguatkan kemampuan diri.

Jangan percaya dubbing film kungfu lawas. "Your kung fu is verrrry good. Teach me Master!"
adalah pola pikir yang salah.

Inti kung fu adalah pengenalan diri. Dan batas diri. Kemudian melampauinya.

Tidak ada yang bisa mengajarkan itu.

Jalanilah sendiri. Sama seperti naik sepeda. Kalau belum pernah naik ke sadel dan mengayuh, berhentilah mencari tahu teknik. Coba terus. Kalau sudah bersepeda ke mana-mana, baru ngobrollah dengan pengendara sepeda lain.

Sebelum itu, diam. Dan berkeringatlah.


Mengapa ini penting?
Jika hanya berkutat pada tempurung kita, bukannya itu kontradiksi dengan istilah "penulisan kreatif"? Dengan mencoba berbagai hal baru, kita memperluas zona kenyamanan kita. Secara ajaib, dengan banyak mempelajari hal baru dengan sungguh-sungguh, keahlian dasar kita malah makin kuat, bukannya makin kabur.


Perkecualian
Jika Anda belum mengetahui tipe penulis seperti apakah Anda, atau apa tujuan Anda dalam menulis, lebih baik jangan dulu lakukan ini. Karena bisa jadi Anda malah terjebak sekadar melakukannya karena iseng. Alih-alih mendapatkan pembelajaran, nanti malah jadi bingung.

Wednesday, February 06, 2008

Kiat Produktif Menulis Humor

Berdasarkan pengalaman spesifik menulis tiga puluh sketsa komedi per dua hari (karena sisa hari lain digunakan untuk revisi, pertemuan, dan rehat), saya dan donna juga belajar sejumlah kiat menulis produktif. Dan kiat-kiat ini bisa diterapkan untuk penulisan kreatif mana pun yang berfokus pada menangkap ide.


  1. Komputer adalah musuh inspirasi

  2. Jalan-jalan, bawa notes dan alat tulis. Lalu, begitu ada ide yang mampir, langsung tulis. Jangan buang waktu sama sekali.


  3. Tunda menulis ide = penyesalan tak berujung

  4. Sudah lebih dari sepuluh ide yang hinggap dan hilang karena tidak sempat ditulis.

    Bawa catatan dan alat tulis ke mana-mana. Siapkan di sebelah tempat tidur. Sebelum tidur, saat baru bangun, dan saat sedang boker adalah waktu-waktu di mana ide justru senang mampir.


  5. Hindari menulis skrip sebelum memiliki minimal dua puluh ide.

  6. Karena begitu kita mulai menulis skrip, ide baru yang muncul tidak akan lebih banyak dari lima. Dan umumnya merupakan pengembangan dari ide yang ada.

    Pikiran kita itu seperti mesin. Bisa di-tune up untuk prioritas pada kecepatan/kekuatan atau efisiensi. Namun, tidak bisa untuk dua-duanya sekaligus. Kalau cepat, berarti boros. Kalau efisien, berarti mengorbankan kecepatan.

    Dalam menulis juga begitu. Untuk mencari ide, kita mengejar efisiensi. Sebanyak mungkin menjaring ide yang mampir. Hindari komputer. Karena komputer membawa gangguan (distraction), dan bisa menggoda kita untuk berpindah modus. (Ini sekaligus penjelasan tambahan untuk poin 1.)

    Saat menulis skrip, kita fokus pada kecepatan atau kekuatan. Mesin kita begitu sibuk untuk menulis, sehingga kita tidak efisien lagi menjaring ide. Bisa jadi saat menulis ide-ide itu mampir, namun kita terlalu sibuk untuk sadar. Kita hanya sadar saat ide yang mampir mirip dengan yang sedang kita tulis.

    Lebih parah lagi kalau kita sedang menulis, sekaligus browsing internet atau chatting. Lupakan menangkap ide.

    Mari jujur saja: ide itu selalu mampir. Tapi kalau pikiran kita terlalu sibuk, kita tidak bisa menyadari bahwa ada ide yang mampir. Boro-boro mau menjaringnya.

    Jadi: kumpulkan ide sebanyak-banyaknya. Hindari komputer. Dan baru mulai menulis skrip setelah terkumpul banyak ide.

    Karena kami mencari tiga puluh sketsa, biasanya aku baru mulai menulis skrip saat sudah terkumpul tiga puluh ide. Sebelum itu, aku tetap fokus ke menangkap ide. Setelah lewat tiga puluh, baru... mulai menulis. Ubah setting pikiran menjadi kecepatan/kekuatan.

Selamat menulis. Break a pen!


____________________

Lebih lanjut mengenai mengubah pola pikir penulisan: Enam Topi Berpikir untuk Penulisan Kreatif.

Berbagi Pengalaman Penulisan Skenario Humor

Bagi sebagian yang belum tahu, saya dan donna sempat terlibat dalam penulisan skenario "Sketsa", acara komedi terbaru di TransTV. Walau pada akhirnya kami mengundurkan diri karena perbedaan prinsip, dari kerja sama ini kami mendapatkan banyak pembelajaran dan pengalaman.

Salah satunya karena kami sempat--dalam waktu dua hari--mengerjakan seratus sketsa komedi. Dalam segi banyaknya halaman, ini ekuivalen dengan empat episode untuk slot waktu 60 menit (termasuk iklan).

Pelajaran pertama: jangan lakukan itu lagi. Kecuali kalau memang sudah terbiasa.

Sayangnya, kami belum. Kecepatan rata-rata kami adalah 30 sketsa per dua hari. Jadi, itu seperti sprint gila-gilaan pada lima kilometer pertama maraton. Sisa perjalanan berikutnya, kami terpaksa terengah-engah dulu di tepi jalan.

Pelajaran berikutnya: jadwalkan penulisan.

Ini tampak aneh, karena penulisan kreatif adalah sesuatu yang tampak berlawanan dengan jadwal. Namun, percayalah, penjadwalan ini penting karena pada akhirnya, kita harus menepati tenggat waktu yang rutin. Salah satu dari poin penjadwalan adalah kapan kita tidak boleh "menulis", dalam arti duduk di depan komputer dan menulis skenario (corat-coret di kertas sih boleh.)

Dan kapan saat kita "rehat", dalam arti tidak berusaha keras menangkap ide. Namun, menjalani hari dengan santai sambil berbekalkan kertas dan pensil/pena. Kalau memang ada ide mampir, ya tangkap saja. Tapi kita tidak berkeliaran sambil jelalatan dan membawa jaring.

Dan terakhir: bersenang-senanglah. Karena itulah inti penulisan humor yang efektif.

Thursday, January 31, 2008

Madu Krisis Identitas


Madu kejantanan anak & balita?


Oh, masih ada lagi.


Anak, balita, DAN wanita.


Saya sudah bisa membayangkan rapat strategi pemasaran produk ini. Presdir perusahaan membuka dengan pertanyaan, "Semua produk kini menggunakan 'kejantanan' sebagai nilai jual. Saya rasa kita juga perlu melakukan hal serupa!"

"Pak," manajer produksi mengangkat tangan, "kita menjual madu."

"Diam," potong manajer pemasaran. "Itu ide bagus! Madu kejantanan! Pasti laris!"

"Iya, kan?" mata presdir berkilat-kilat dengan semangat. "Masalahnya adalah pasar pria mungkin sudah jenuh--"

Manajer produksi menyambung, "Dengan minyak jenggot, viagra, susu rendah lemak, pusat kebugaran, hingga tayangan olahraga dan film yang menawarkan kejantanan." Ia mengangguk. "Ya, tentu saja mereka jenuh."

"Gampang," dengus manajer pemasaran. "Kita alihkan saja ke pasar baru yang masih segar."

Manajer produksi mengangkat sebelah alis, "Dan itu adalah..."

Manajer pemasaran menyeringai puas, "Anak-anak dan balita."

"Sudah kuduga," manajer produksi mengela napas.

"Keren!" sambut Presdir.

"Oh, dan bukan itu saja," tambah manajer pemasaran.

"Oh, tolong," gerutu manajer produksi.

Manajer pemasaran membentangkan kedua tangannya, "Kita juga akan memasarkannya pada wanita!"

"Kau jenius!" tunjuk Presdir.



Setelah itu pun mereka masih tidak yakin


"Jadi madu kita 100% impor?" tanya presdir.

"Tergantung dari definisi Bapak untuk '100%'," jawab manajer pemasaran.

"Seluruhnya."

"Kalau gitu, ya."

"Bagus," angguk presdir sambil menjauh.

"Minimal, botolnya," lanjut manajer pemasaran.

Presdir membalikkan badan mendadak, "Maaf, apa?"

"Yah, Bapak pernah ke Arab, kan? Daerah dikitari padang pasir dan rumput sintetik lapangan golf bukan lingkungan yang tepat untuk lebah."

"Oke, apakah ada madu yang benar-benar datang dari Arab?"

"Ya," angguk manajer pemasaran dengan mantap.

"Ya sudah. Berarti impor," presdir kembali melangkah menjauh.

"Walau kadang bisa satu dari seratus, lah," tambah manajer pemasaran.

Presdir menatap kesal, "Nggak bisa bilang 100% impor dong."

"Gimana kalau kita sebut saja impor DAN semi impor?"

Presdir mengangkat alis takjub. Lantas menunjuk sambil tersenyum lega, "Kau memang penyelamat jiwa!"


________________

Lokasi:

Toko roti unyil Cianjur.

Tuesday, January 29, 2008

Begitu Menyenangkan, Namun Begitu Singkat

Begitulah gambaran kerja sama penulisan humor saya dan donna dengan TransTV. Bulan Desember 2007 lalu, saya dan donna mendapatkan kesempatan menulis skrip untuk acara komedi terbaru TransTV berjudul Sketsa.

Sketsa mengambil bentuk dan gaya humor seperti The Fast Show atau The Sketch Show; dengan latar yang realistis (bukan panggung) dan pengambilan kamera yang sederhana, tanpa efek khusus. Lelucon dalam tiap sketsa berdiri sendiri (one-shot). Dengan perkecualian sejumlah sketsa yang leluconnya saling menyambung (running gag).

Bagi saya dan donna, kesempatan ini sendiri sangat berharga. Karena seperti saya sampaikan dalam pemberitahuan di multiply, kami bisa menulis humor--sesuatu yang kami gemari--sekaligus bertindak nyata bagi industri TV Indonesia: menyajikan alternatif tontonan di luar sinetron yang meremehkan intelijensi penonton.

Kami pun mengalami kecocokan dengan tim kreatif TransTV sendiri. Sehingga akhirnya kami membentuk tim bernama Team ID (dibaca seperti "Idea" dengan pengucapan Inggris) untuk kerja sama penulisan skrip jangka panjang. Tim tersebut sudah beranggotakan empat orang, plus dua lagi yang masih dalam tahap inisiasi.

Sayangnya, kerja sama itu berakhir lebih cepat dari yang kami duga. Kami mengundurkan diri. Lho, kenapa?

Tanpa perlu menyebut nama, salah satu bos besar TransTV menginstruksikan agar produser Sketsa mengadaptasi Kelsey Grammar Presents: The Sketch Show. Pihak TransTV pun konon sedang memproses lisensi untuk adaptasi tersebut.

Lalu masalahnya apa? Terhitung hari ini, sketsa-sketsa adaptasi itu sudah selesai disyut.

Bagi banyak orang, hal ini bisa jadi tidak merupakan masalah. "Toh lisensinya sedang diurus, kan?" Namun, bagi kami berbeda. HaKI adalah hal yang penting. Dan langkah yang benar adalah beres mengurus lisensi dulu, baru mulai adaptasi. Kasus terburuk: bagaimana kalau ternyata tidak ada kesepakatan dalam mengurus lisensi tersebut, padahal sketsa "adaptasi"-nya sudah ditayangkan? Bukankah itu jadi plagiarisme?

Mungkin ada yang mau berkomentar, "Ya, gampang, Man. Tinggal jangan tayangkan saja sketsa adaptasinya sampai beres. Gitu aja kok repot?"

Gampang kalau memang semua kendali pada apa yang tayang dan apa yang tidak itu ada pada tangan saya atau donna, misalnya. Tentu saja kenyataannya tidak. Bahkan iklan acara Sketsa sendiri masih menayangkan potongan adegan tenis meja dan lomba renang dari episode pilot, yang seharusnya hanya untuk kebutuhan internal. Jadi bisa saja kru TransTV (sengaja ataupun tidak) memilah dan menayangkan sketsa adaptasi yang belum mendapatkan lisensi.

Di sisi lain, saya dan donna pribadi memegang prinsip yang sangat jelas: menulis dan mengembangkan acara baru berdasarkan acara lain itu oke. Karena kita tetap menulis materi baru. Justru itulah yang memajukan dunia komedi. Format sitkom, sebagai contoh, lahir karena tiap acara baru mengadaptasi konsep format tersebut. Hukum Tiga (Rule of Three) lahir karena pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun para penulis humor maupun komedian.

Sketsa komedi juga sama. Dari Monty Python's Flying Circus hingga Saturday Night Live, semua tidak muncul begitu saja. Melainkan karena membangun suatu acara baru berdasarkan pengalaman orang lain. Dan itu yang kami temukan di Sketsa, selama ini.

Namun, kalau diminta mengadaptasi tanpa lisensi resmi, kami menolak. Berhubung pihak TransTV tetap melakukan hal tersebut, bahkan lanjut sampai syuting, kami berniat mengundurkan diri baik sebagai pribadi maupun tim. Karena jika tidak, itu sama saja seperti melakukannya (accomplice).

Sekali lagi, ini adalah keputusan berdasarkan prinsip. Tiap orang bisa saja memiliki prinsip yang berbeda. Tidak ada yang mutlak benar maupun salah.

Terima kasih atas dukungan teman-teman sebelum ini. Dan terima kasih bagi teman-teman TransTV atas kesempatannya. Bagi kami, pengalaman ini tetap menyenangkan. Memang sayang hanya singkat. Namun mungkin memang itulah yang terbaik bagi kedua pihak.

___________________________

NB: Karya kami jadinya hanya muncul di beberapa episode pertama. Dan entah yang mana saja. Penulisan skenario di sini berbasiskan sketsa, alih-alih episode. Misalnya, dari 100 sketsa yang kami buat, bisa jadi 10 dimasukkan ke episode dua, 30 di episode tiga, dan seterusnya.

UPDATE: Sketsa sendiri mulai tayang di TransTV Jumat ini (1 Februari 2008), jam 19:30 WIB.