Wednesday, December 19, 2007

Teori Relativitas 32,5%

Dalam rangka mengincar kursi kepresidenan, Wiranto menayangkan kampanye TV yang menayangkan statistika World Bank: 49% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

SBY menyanggah, mengatakan bahwa berdasarkan BPS, persentasenya hanya 16,5%.

Ke mana perginya 32,5% ini?

Terlepas dari acuan dasar yang digunakan berbeda, mari tinjau kemungkinan lain:

  1. Persentase kemiskinan berbanding terbalik dengan lama jabatan kepresidenan
  2. Semakin lama seseorang menjadi presiden, entah mengapa, ia semakin percaya bahwa persentase kemiskinan mengecil. Sebaliknya, semakin lama seseorang gagal jadi presiden, ia semakin percaya bahwa persentase kemiskinan membesar. (Dan--tentunya--hanya dia yang tahu solusinya.)


  3. Pemerintah bingung 32,5% itu miskin apa nggak?
  4. Bisa jadi karena pilihan metoda survei. Misalnya jika form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:

    1. Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)
    a. Tidak.
    b. Tidak sama sekali.
    c. Sangat tidak sama sekali.
    d. Miskin itu apa?
    e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
    f. Maaf, saya tidak bisa baca.

    Kalau iya, bisa dimengerti. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"

    "Lho, bisa saja diet," tentang penguji lain.


  5. Bisa jadi malah 32,5% itu yang justru bingung: saya miskin apa nggak sih?
  6. Mari kita uji dengan sampel acak, yakni contoh yang saya ambil dari siapa pun yang berhasil saya ingat dalam waktu semenit ke depan. Ah, dapat satu. Ada satu-dua kenalan saya di kampus yang dulu sering mengajukan beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu. Dan sering kali dapat. Begitu dapat, apa yang ia lakukan? Menggunakannya untuk beli ponsel dan pulsa. Menurut mitra hidup saya, ia juga mengetahui sejumlah orang di kampusnya yang seperti itu.

    Di sisi lain, ada juga kenalan yang senang belanja gadget dan beraktivitas dugem. Begitu keluarganya mengalami kesulitan keuangan (perusahaan ibunya pailit), ia jadi sering meminjam uang. Untuk apa? Melunasi tagihan kartu kredit. Sisa tagihan dulu? Oh, bukan. Pengeluaran dan barang baru lagi. Status boleh kesulitan uang. Tapi berkat kartu kredit (dan teman-teman yang baik hati namun malah menjerumuskan), gaya hidup tetap sama.

    Jadi ada yang mampu tapi merasa tidak. Dan sebaliknya, ada yang tidak mampu tapi tetap merasa bisa. Berarti, bisa jadi 32,5% itu memang krisis identitas.

Apakah ada kemungkinan lain yang saya lewatkan? Silakan ajukan.

Persamaan Antara Penerjemahan dan Penulisan Humor

Keduanya terlalu sering diremehkan, "Apa sih susahnya?"

Dan setiap kali yang bertanya begitu mencoba, mereka kemudian berkomentar, "Ternyata susah juga, ya?" Belum pernah--dan saya tekankan sekali lagi--belum pernah saya meminta seseorang menulis humor, lantas ia berkata, "Ternyata memang mudah!"

Bahkan penulis berpengalaman seperti Melvi Yendra juga berpendapat bahwa menulis humor itu sulit setengah mati.

Sementara untuk penerjemahan, Mbak Poppy pernah menantang seseorang untuk melakukan hal serupa. Cobalah terjemahkan satu paragraf. Sama saja.

Christopher Merril, Direktur International Writing Program di The University of Iowa, juga pernah menceritakan betapa peliknya penerjemahan karya. Terutama berkaitan konteks. Dalam sebuah sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2007, ia menganalogikannya dalam cerita tentang seorang pemandu wisata suatu rombongan turis asing.

Sebelum ekspedisi ke hutan, sang pemandu berkata pada rombongannya, "Kenakanlah sepatu yang paling nyaman." Seorang penerjemah resmi lantas mengalihbahasakan kata-katanya pada di hadapan grup. Semua kepala mengangguk-angguk.

Keesokan harinya, ia bersiap-siap memandu rombongannya merambah pedalaman bersemak belukar dan tanah berlumpur. Ternyata seluruh wanita datang mengenakan sepatu pesta mengilap berhak stiletto. Maksud sang pemandu hilang dalam terjemahan.

Baik penerjemahan, penulisan humor, maupun tipe penulisan kreatif lainnya tidak hanya bermain kata. Melainkan juga konteks. Setiap terjemahan yang kita lahap dengan mudah adalah hasil dari jerih payah penerjemah yang membuatnya tampak mudah. Setiap tawa yang kita mudah lontarkan saat membaca karya humor adalah hasil dari penulisan dan pewaktuan yang rumit.

Kritiklah karya. Karena setiap penulis atau penerjemah justru membutuhkan itu. Namun, jangan remehkan.

Monday, December 17, 2007

Resolusi 2008 (Kena Toel)

Setelah kena to(w)el oleh Vanya dan Wiwin, saya sempat menengok sejumlah besar blogger yang mengikuti meme ini. Dari sebagian yang saya amati, ada yang:

a) Melakukannya sambil mengeluh
b) Menulis daftar secara syarat, yang penting ngerjain "PR"
c) Membuat resolusi setinggi langit
d) Sasaran keberhasilan rendah atau tidak ada--karena sudah terbiasa jarang tercapai

Menurut saya, daripada kita mengerjakan sesuatu setengah hati (baik karena aturan yang tidak kita mengerti maupun kurang minat) lebih baik ubah saja. Bikinlah jadi sesuatu yang mau kita kerjakan sepenuh hati.

Karena itu, saya mengubah aturan meme ini semena-mena.

  • Yang dikasih PR harus mengetahui dan memahami peraturannya
Pertama-tama, ini bukan PR (Pekerjaan Rumah). Mau bikin apa nggak, terserah. Tapi kalau mau bikin, lakukanlah karena kita mau. Bukan karena terpaksa. Dan setiap orang yang menulis resolusi ini berhak mengubah aturan sesuai kemauannya. Yang penting senang.
  • Tulis 8 kebiasaan yang akan di-resolusi di tahun 2008
Jumlahnya bebas. Ngapain ngarang-ngarang resolusi demi mengejar kuota? Atau membatasi resolusi padahal masih pengin lebih banyak. Yang penting: resolusi itu benar-benar ingin kita capai. Bukan sekadar ngimpi. Ngawang-ngawang.

"Bagus juga kalau aku lebih kurus, ya?" pikir kita sambil mengemil sepuluh bungkus keripik kentang Lay's di sofa, nonton VCD bajakan Gray's Anatomy secara maraton. Terus nulis, "Menurunkan berat badan". Lantas melupakannya begitu saja. Tahun depan kopas tulisan ini untuk Resolusi 2009. Lantas Rewind dan Playback untuk tahun-tahun berikutnya.

Kalau emang gitu, mendingan untuk poin pertama tulis saja: "Gagal mencapai resolusi apa pun yang akan saya tulis setelah poin ini". Dengan itu, kita akan selalu berhasil mencapai minimal satu resolusi.

Lho, Man, bukannya lebih baik gantungkan cita-cita kita setinggi langit? Ya. Tapi sadar dikit dong: manusia mencapai bulan pun tidak dalam setahun. Misalkan tujuan hidup kita sedikit tinggi, seperti menguasai dunia. Ya tujuan jangka panjang itu dipecah-pecahlah menjadi sasaran per tahun. Tahun pertama, menggalang dukungan RT dulu. Tahun pertama, menggalang dukungan kelurahan. Bertahap.

Bahkan dalam dunia kreatif pun begitu. Bikinlah tahapan. Jangan langsung bikin resolusi, "Gua mau bikin film layar lebar sendiri" saat kita bahkan belum tahu skenario itu formatnya seperti apa. (Kecuali kalau kita punya jaringan toko buku besar yang siap bangkrut untuk mendanai film tersebut.)

Saat Quentin Tarantino bukan siapa-siapa, bayangkan saja ia tiba-tiba ngomong ke calon produser, "Gua mau bikin film tentang Uma Thurman pake jumpsuit kuning yang nyabet-nyabet orang pake katana."

Produsernya paling ngomong, "Gua ngerti. Gua juga dulu suka ngegele."

  • Yang dikasih PR harus menyelesaikan PR dan harus diposting di blog masing-masing
Nggak usah. Lebih baik gunakan to(w)elan ini untuk merenung: apakah kita ingin benar-benar mencapai sesuatu dan bukan hanya ngimpi? Lantas apakah kita punya kriteria spesifik untuk mengetahui apakah kita sudah benar-benar mencapainya?

Jujur saja. Kalau kita menuliskan, "Menjadi orang yang lebih baik", lebih baik langsung coret sekarang karena itu akan gagal. Lah, tahu dari mana kita bakal berhasil?

"Oh, tahun lalu waktu Adi pinjam uang, aku tolak. Tahun ini, aku kasih. Berarti aku lebih baik, ya?"

Lebih naif sih, mungkin.

Tambahkan sasaran jelas untuk resolusi, jadi kita tahu apakah kita berhasil atau gagal mencapainya. Daripada "Menjadi orang yang lebih sukses", misalnya, lebih baik tetapkan apa yang ingin kita capai: "Menggolkan dua proyek dengan klien baru buat perusahaan" atau "Membuka bisnis butik online dengan minimal rata-rata transaksi lima per bulan".

  • Di akhir pengerjaan PR ini tulis 8 orang kontak MP yang kamu pilih untuk menyelesaikan PR berikutnya
Setelah kita selesai menulis resolusi yang ingin kita capai, sampaikanlah pada sejumlah teman (bebas mau berapa pun) untuk mengingatkan kita. Dan ini berlaku dua arah. Kita juga bisa mengingatkan mereka. Karena dalam perjalanan, kita sering melupakan tujuan. Untuk inilah adanya teman. (Berbagi tujuan diri, selain kesenangan maupun kesedihan.)

  • Jangan lupa untuk meninggalkan pesan di private message, guestbook dan reply blog atau kalau perlu bikin message alert untuk mengingatkan mereka supaya menyelesaikan PR-nya masing-masing
Jangan lupa mengingatkan mereka untuk memanfaatkan ini demi kepentingan mereka. Mereka bisa menggunakannya sekadar senang-senang. Atau serius untuk merenung dan menentukan sasaran dalam hidup. Terserah. Yang penting, jangan setengah-setengah.

Dan jangan mengeluh. Neil Armstrong tidak menjadi astronot pertama yang menginjakkan kaki di bulan karena mengeluh, "Kenapa mereka nggak pilih monyet aja, sih? Terus, kenapa bulan? Emang ada apa di sana? Gersang gitu..."

Almarhum Steve Irwin juga tidak meraih sukses sebagai Crocodile Hunter karena senantiasa mengeluh, "Buaya lagi, buaya lagi... Sekali-kali aku disuruh menjinakkan cewek, kek."

Tulislah resolusi ini karena memang mau. Atau menyenangkan.

__________________

Berikut ini, adalah resolusi saya untuk tahun 2008 (1 Januari 2008 hingga 28 Desember 2008).

  1. Mengajukan satu naskah novel ke penerbit dan diterima untuk diterbitkan (walau penerbitannya bisa jadi baru tahun 2009).

  2. Menjadi pembicara tiga kali. Bentuk acara bebas, asalkan secara formal diminta oleh instansi berkait, bukan informal seperti tiba-tiba berdiri di tengah-tengah kantin dan berorasi tentang pentingnya membersihkan WC (walaupun ide ini sangat menggoda).

    Update: Tercapai, terhitung April 2008.

  3. Membiasakan beraktivitas olahraga minimal sekali dalam seminggu. Bentuknya bebas. Yang penting debar jantung sempat naik hingga 10 detak per menit, dibandingkan saat kondisi normal. (Ya, itu--yang sedang kamu pikirkan--juga termasuk olahraga.)

    Update: Per 9 Juni 2008, masih tercapai. Tujuh bulan dua minggu lagi.

  4. Menyelesaikan satu skrip (minimal second draft), yang tidak akan saya jelaskan detailnya. Cukup sudah atau belum.

  5. Merealisasikan satu proyek penulisan bersama mitra hidup saya, yang detailnya baru akan saya bagi kalau berhasil--kalau gagal ya tidak.

    Update: Tercapai pada awal bulan Januari 2008. Keluar karena perbedaan idealisme pada awal bulan Februari 2008.

  6. Menyelesaikan draf awal satu buku humor, bisa fiksi atau nonfiksi. Dan bisa disatukan dengan poin resolusi (1).

  7. Mengantar Aza pada hari pertama ke sekolah (kalau emang akhirnya dia sekolah). Dan kalau tidak bisa, menggantikannya dengan menemani pada lima hari sekolah kapan pun pada tahun itu. Kalau Aza belum sekolah juga, ganti dengan menghabiskan lima hari bebas untuk melakukan aktivitas bersama nonelektronis. Dihitung satu hari saat lebih dari tiga jam intensif, pada tanggal yang sama.

    Update: tercapai pada tanggal 14 Juli 2008. Catatan: seragam TK Aza tampak seperti seragam pelaut mini. Untunglah modelnya tidak mengacu Donal Bebek, sehingga paling tidak Aza masih memakai celana.

  8. Menghasilkan satu gol yang sah dalam permainan futsal dengan menggunakan tendangan atau sentuhan akhir kaki kiri. Agar lebih bisa tercapai, gol ini tidak harus ke gawang lawan. (Ya, kendali kaki kiri saya seburuk itu.)

    Update: tercapai pada bulan Maret 2008. Masih ke gawang sendiri.


Teman-teman yang saya percaya untuk mengingatkan saya dalam mewujudkan resolusi ini  (selain yang sudah menoel) adalah Richoz, Haris, Umar, Donna (mitra hidup juga teman, lah), Mbak Poppy, Sonny, Paman Tyo, Qiqi, Om Roel, Pak Ranger, Bu Ranger, dan Sandy.

Seandainya mereka membuat resolusi yang memang serius ingin mereka capai, saya pun akan balik menolong mereka. Baik dalam mengingatkan atau bantu melakukan, saat resolusinya cukup menarik. Misalnya: menghancurkan CPU pribadi dengan palu godam--langsung undang saya!

Anggaplah ini to(w)elan halus. Kasar juga boleh.

Friday, November 30, 2007

Komunikasi Ayah-Anak: Prioritas

Seperti yang terlihat dalam cerita Donna, Aza mulai terbiasa menyambut kepulangan kami dengan todongan, "Oleh-olehnya mana?"

Kami tidak mau ini jadi kebiasaan. Karena itu, suatu saat setelah pulang dari kantor, saya menggendong Aza dan berkata, "Aza, Papih mau cerita tentang sesuatu yang namanya 'prioritas'."

Matanya membulat, "Apa itu ponitas?"

"Begini, kalau Papih atau Mamih pergi, Aza kangen nggak?"

"Kangen," senyumnya.

"Kalau gitu, waktu Papih sama Mamih pulang, Aza senang?"

Ia menyeringai hingga memperlihatkan kedua gigi serinya yang mirip taring. "Senang kok."

"Kalau senang, tunjukkin aja. Waktu Papih ama Mamih pulang, peluk dulu. Bilang kangen kalau emang kangen."

"Iyah!"

"Kalau udah kangen-kangenan, dan kebetulan ada oleh-oleh, baru nanti kita buka bersama, ya?"

Ia memeluk bahu saya, "He eh!"

Besoknya, kami kembali pulang malam. Begitu turun dari mobil, Aza langsung menghambur dan merangkul kaki saya.

"Aku kangen Papih--oleh-olehnya mana?"

Saya menggendong Aza dan berkata, "Aza, sekarang Papih mau cerita tentang sesuatu yang namanya 'jeda'."

Thursday, November 29, 2007

Hanya di Indonesia...

...seorang neurolog merasa harus menjelaskan bahwa ketika suatu gejala penyakit muncul pada anak, "Ditempeleng tidak menyelesaikan masalah."

Saya belum pernah mendengar tentang seorang ayah yang berkonsultasi pada dokter, "Anak saya demam, Dok. Sudah dikompres semalaman belum turun juga."

Sang dokter menulis suatu catatan sambil mengangguk-angguk, "Matanya berkedip-kedip nggak?"

Sang ayah mengingat-ingat, "Hanya setiap tiga detik sekali."

"Sudah coba ditempeleng?" aju sang dokter.

Sang ayah pun menepuk tangannya, "Oh, iya! Bener juga. Makasih, Dok. Saya pulang dulu buat coba. Anda memang penyelamat jiwa!" Ia menyalami sang dokter.

Sang dokter balas menyalami dengan sopan, sebelum berkata, "Biayanya seratus ribu." Ia buru-buru menambahkan. "Dan menempeleng (saya) juga nggak akan menyelesaikan masalah."

Kabar baik bagi pria dewasa: menurut sang neurolog anak RSCM yang dikutip detik.com, dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K), penyakit Tic ini hanya menyerang anak-anak.

Kabar buruknya: kita tidak bisa menggunakan penyakit ini sebagai alasan untuk mengedipi wanita lewat. Padahal, menurut Hardiono, "Penyakit ini muncul jika terpaku pada suatu hal dan bengong."

Pas sekali.

Jika kita terpergok seorang wanita sedang menatapnya sambil bengong, kita tinggal menyapa "Hai!" sambil berkedip-kedip. "Anda membuat saya terkena penyakit Tic. Dan nggak boleh ditempeleng!"

Sang wanita akan mendekat, tersenyum, dan berkata, "Saya juga baca artikel di detik.com," sebelum menempeleng kita.

Thursday, November 22, 2007

Wednesday, November 21, 2007

Salah Satu Ujian Terberat Seorang Ayah...

...muncul ketika anaknya yang berusia tiga tahun memeluk dengan erat dan berkata, "Jangan pergi. Aku kangen."

Dan ia melepaskan pelukan itu dengan paksa, sebelum mengendarai mobil menuju tempat kerja, sambil tak bisa melupakan raut muka yang merasa terkhianati.

"Untuk apa kamu bekerja?" tanyanya pada rekan kerja.

"Agar nanti bisa hidup santai bersama keluarga," jawab sang rekan kerja mantap.

"Mengapa tidak melakukannya sekarang?" tanyanya lagi.

"Karena... belum bisa," jawabnya, tidak lagi mantap.

Sang ayah mengangguk. "Aku izin pulang," ujarnya. Ia beranjak kembali ke mobil.

"Lho? Kenapa?" sang rekan kerja panik. "Nanti kan meeting ama klien?"

"Karena hari ini aku memilih untuk bisa!" ujarnya tegas. Ia membuka dan membuang kemejanya. Terlihatlah kostum Superman. Dan ia terbang ke rumah. Ke pelukan anaknya yang menyambut dengan girang.

Dan sang ayah dalam dunia nyata pun sampai ke kantor. Ekspresi kecewa anaknya masih terbayang-bayang.

_________________________


NB: Makasih topi Mickey Mouse-nya, Gin. Lucu sekali. (Sayang tidak muat di kepalaku.)

Sunday, November 18, 2007

Di Mana? Di Denda

Mengubah kebiasaan bertahun-tahun memang sulit. Dalam penyuntingan naskah, sebagian besar kesalahan penulisan yang saya temui berasal dari kebiasaan semenjak sekolah. Sebagai contoh adalah pembedaan "di-" sebagai awalan dan "di" sebagai kata depan.

Padahal aturannya sederhana.

  1. Sebagai awalan, penulisan "di" menyatu dengan kata kerja. Contoh: dikerjakan, ditulis, disayangi.

  2. Sebagai kata depan, penulisan "di" terpisah dengan keterangan tempat. Contoh: di sana, di rumah, di mana-mana.
Dengan kata lain: kalau terpisah, menunjukkan lokasi. Kalau tersambung, menunjukkan kata kerja pasif.

Sayangnya, kebiasaan lama memang sulit diubah. Perhatikan saja gerbang tol Padalarang menuju Bandung. Kedua contoh di atas malah terbalik.


Tiket harus "disini(kan)" untuk ditukar?

Berdasarkan papan ini: di gerbang exit Denda (di mana pun itu) tidak usah tukar tiket


Mengubah kebiasaan penulisan salah sama seperti mengubah kebiasaan buruk lain. Merokok, misalnya. Pertama-tama, munculkan dulu kesadaran bahwa ini salah. Kalau tidak, percuma saja. Kedua, memercayai manfaat atas kebiasaan yang benar. Kalau kita berprinsip, "Alah, nggak ngaruh lah. Orang lain juga ngerti (atau orang lain juga ngerokok--dalam kasus merokok)," dalam beberapa hari, gaya penulisan kita akan kembali ke yang salah.

Carilah manfaat bagi diri masing-masing. Dan ubahlah kebiasaan (penulisan) yang buruk.

____________________

NB: Banyak sekali kebiasaan buruk yang menyangkut penulisan tanda baca berkaitan dialog. Termasuk tanda seru dan tanya berlebihan.

Friday, November 16, 2007

Pilih Sendiri Petuahmu

Asumsikan Anda seorang pria muslim dan salat Jumat di Masjid Salman Bandung. Di sini, banyak anak menjajakan lembaran koran bekas untuk alas salat. Bahkan saat khatib (pendakwah) sudah mulai berbicara, mereka masih hilir mudik, menawarkan koran, dan bercanda dengan teman.

Anda hanya diam. Karena sebenarnya dilarang berbicara saat kotbah Jumat.

Seorang anak berkaos merah tampak bercanda dengan seorang teman yang lebih tinggi, berkaos bola warna biru. Anda memperkirakan usia si kecil sekitar tujuh tahun. Sementara yang lebih besar sudah lebih dari sepuluh tahun. Di sela bercanda, sang anak berkaos merah tiba-tiba berlari, mengincar seorang calon pembeli. Sekeping uang logam seratus rupiah jatuh dari sakunya tanpa berbunyi.

Tidak ada yang melihat ini, kecuali Anda. Oh, tidak juga. Teman sang anak melihatnya. Dia mendekati uang itu. Namun, alih-alih mengambil, ia malah menginjaknya. Ia lantas berdiri tenang. Menunggu. Setelah si kaos merah agak jauh, ia melihat sekeliling, mengambil uang tersebut dan mengantunginya.

Anda terkesiap. Apalagi setelah itu, si kaos bola warna biru kembali bercanda dengan si kaos merah. Seakan tidak ada apa-apa.

Memang tidak ada apa-apa. Kalau saja Anda tidak memergokinya. Apakah yang akan Anda lakukan?

(a) Langsung bangkit dan memarahi si kaos biru. Karena perbuatannya melanggar perintah agama. Tentu saja, dengan berbuat begitu, Anda juga sama bersalahnya. Karena tidak boleh berbicara selama kotbah. Tapi toh, yang penting Anda sudah menegakkan tiang agama. Caranya nggak masalah dong! Yang penting Anda merasa benar. Dan orang-orang melihat bahwa Anda memiliki posisi yang benar. Kalau nggak, Anda bisa menjelaskannya ke semua orang. Tentu saja! Pendapat orang lain juga penting. Yang salah kan dia. Berarti Anda tidak salah.

(b) Menunggu salat Jumat selesai baru memarahi anak tersebut. Tidak masalah waktunya sudah nggak pas. Toh anak itu nggak akan bisa berkelit. Siapa yang lebih kredibel? Seorang anak penjaja koran atau Anda? Jelas Anda! Masyarakat menilai dari usia dan kepintaran berbicara. Lihat saja sinetron. Oke, ini contoh yang salah. Tapi Anda tahu orang-orang lain pasti mengerti maksud Anda.

c) Menunggu salat Jumat selesai lantas mengajak anak itu untuk berbicara empat mata. Dengan penuh semangat, Anda menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, persahabatan akan jauh lebih penting daripada uang--apalagi hanya seratus rupiah. Tentu saja, dia akan menjawab, "Saya perlu makannya hari ini, Pak. Bukan bertahun-tahun lagi." Anda kembali menyampaikan bahwa kaos bola yang bersih dan sandal gunung yang ia pakai sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia kurang makan. Anda pun melangkah pergi dengan berbangga hati. Anda telah membuat seorang anak mendapatkan ajaran penting. Oke, mungkin dia pergi sambil menggerutu dan memaki-maki. Tapi dalam hati, pasti dia tahu Anda benar! Kenapa nggak? Benar, kan? Kan?

(d) Anda pura-pura tidak melihat saja. Bukan urusan Anda. Dengan begitu, Anda telah mengajarkan pada sang anak panduan kehidupan penting: dia bisa melakukan pelanggaran, asalkan tidak ketahuan. Ini panduan yang penting. Semua orang melakukannya kok. Iya, kan? Oh, nggak, Anda tidak menuduh siapa-siapa kok. Anda hanya maklum. Maklum adalah ciri kebijaksanaan. Atau ketidakpedulian. Tapi kebijaksanaan terdengar lebih enak. Ya, betul, merasa bijak itu menyenangkan. Bijaksana saja lah kalau begitu.

(e) Anda melihat semua pilihan yang ada dan jadi bingung sendiri. Waktu semakin berlalu. Dan semakin tidak relevanlah kalau anda menegur anak itu sekarang. Anda berhenti, menoleh pada si anak. Lalu jalan lagi. Berhenti. Jalan. Berhenti. Sudah terlalu jauh. Sudahlah. Mendingan menulis saja di blog. Dengan begitu, Anda akan berbagi kebingungan dengan orang lain. Dan dengan begitu, Anda jadi tidak merasa begitu kesepian. Ada teman. Walau itu tidak mengubah fakta bahwa Anda jadinya tidak melakukan apa pun, dan sama saja dengan pilihan (d). Anda hanya lebih pretensius dan konformis.

(f) Suatu tindakan yang begitu bagus sehingga Anda tidak tahan untuk tidak menuliskannya di bagian komentar untuk menunjukkan, "Kok gini aja nggak kepikiran sih?" Tentu saja Anda tahu bahwa pada kenyataannya, hal yang Anda tulis bisa jadi tidak akan sempat Anda pikirkan karena kondisi nyata berbeda dengan kondisi santai membaca di komputer tanpa merasa terlibat. Tapi toh, apa bedanya? Yang penting Anda bisa menulis apa yang Anda mau lakukan. Dan itu membuat Anda merasa benar. Dan merasa benar itu begituuuuu enak. Aaaaaah.

Monday, November 12, 2007

Apa Pun...

Dari Iwok, saya mendapat kabar tentang kompetisi blogging Telkom. Namun, ada satu kalimat yang tampak aneh. Untuk memastikannya, saya mengunjungi blog Telkom.TV. Di situ, tercantum ketentuan kompetisi ini. Dan ternyata kalimat itu memang ada.


Tertulis: "Peserta boleh dari latar belakang suku, agama, usia, profesi, apa pun."


Perhatikan tanda koma setelah "profesi". Ini berarti peserta boleh dari latar belakang apa pun. Walaupun saya makhluk luar angkasa dari Planet Jupiter yang suka datang ke bumi untuk memangsa otak manusia[1], saya boleh ikutan kompetisi ini.

Lho? Tapi ternyata peserta harus "bermukim (memiliki KTP/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar) di daerah operasi Telkom Divisi Regional III: Pandeglang, Rangkasbitung, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Subang, Indramayu, Majelengka, Kuningan, atau Cirebon."

Oke. Jadi yang penting punya KTP di daerah situ. Mangsa otak atau nggak sih bebas. Kalau gitu, mari kita coba daftar... Lah! Ternyata ada batasan juga.


Tahun kelahiran paling rendah hanya 1980.


Sekarang saya mengerti kenapa pake koma. Karena maksud mereka bukan "dari latar belakang usia apa pun." Tapi "dari latar belakang usia, latar belakang agama,... latar belakang apa pun."

Ngomong ngomong, "Apa pun" boleh juga tuh jadi tagline Telkom yang baru. Berdasarkan teori komunikasi pemasaran, tagline sebaiknya menyiratkan jiwa perusahaan atau produk. "Committed 2 U" jelas bukan. Google saja dengan kata kunci "telkom committed 2 u". Hasilnya kira-kira seperti ini.

Apa pun akan lebih cocok.
Telkom--Apa pun!

Tagline ini dengan hebat akan mencakup semua lahan bisnis.
Kritikus: "Flexy combo ini bukannya cuman cari-cari celah buat masuk lahan wireless CDMA?"

Telkom: "Apa pun!"

Atau menjadi standar jawaban semua layanan pelanggan.
Pelanggan: "Halo, kok Speedy saya mati terus, ya?"

Telkom: "Apa pun!"

Termasuk dalam komunikasi kerja.
Pegawai: "Pak, untuk situs web, apa nggak sebaiknya kita menyewa copywriter profesional agar tulisannya minimal konsisten dan tidak memberi kesan yang buruk?

Atasan
: "Apa pun!"

______________________

[1]: Nggak pernah dengar tentang makhluk seperti ini? Santai saja. Dia nggak akan mampir di tempat yang intelejensinya rendah. Jadi kita aman. Gitu gitu, dia juga punya selera.

Saturday, November 10, 2007

Arte of Defense: Anak Kecil Juga Bisa?


Sammy adalah teman saya dan Donna yang menarik dan murah hati. Ia ahli memainkan pedang jenis anggar. Ia juga mengoleksi sejumlah pedang asli. Sebagian kecil ia gunakan untuk berlatih.

Buku Arte of Defense ini juga pemberian darinya. Memuat dasar-dasar keahlian rapier, buku ini tadinya belum begitu bermanfaat karena satu-satunya yang menyerupai pedang di rumah hanya sapu ijuk. Setiap kali diayun, debu-debu pun beterbangan. Berhubung tidak ada bagian buku yang membahas, "Bagaimana Menusuk Orang Selagi Bersin", kami memutuskan untuk mencari alternatif lain.

Dan akhirnya, kami berhasil!


Tada! Oke, jelas ini bukan rapier, melainkan cutlass. Dan sebenarnya balon plastik. Tapi ahli pedang sejati tidak akan mengeluhkan hal-hal remeh.

Berikutnya, saya membutuhkan lawan. Tentu saja yang diperlukan adalah seseorang dengan kemampuan yang sepadan. Seseorang yang bisa menjadi mitra berlatih yang baik. Seseorang dengan energi meluap-luap tanpa batas.

Tentu saja Aza, anak saya yang berusia tiga tahun. Siapa lagi?

Tantangan pertama: beberapa teknik dalam buku ini ternyata menuntut keseimbangan tinggi, kelenturan badan, dan kekuatan untuk menahan diri agar tidak tertawa.



Teknik di gambar atas ini, misalnya, sekilas lebih pantas dijuduli sebagai, "Menusuk Sambil Mengacaukan Konsentasi dengan Menggunakan Bau Badan". Padahal ini sebenarnya adalah teknik serius.

Ini ditunjukkan dengan ilustrasi lain yang menggambarkan orang yang berdarah-darah dengan tubuh melengkung dan tangan di jidat. Seakan-akan mereka sedang berpikir, "Tahu gini, aku pake pistol aja."

"Gaya" adalah kata kunci dalam buku ini. Seluruh ilustrasi seakan menyiratkan bahwa yang penting adalah gaya. Mulai dari berpakaian, memegang pedang, hingga saat terbunuh. Tidak ada pemain rapier yang mati memalukan. Mereka selalu berdarah-darah dalam keadaan gaya. (Atau berpikir.)

Saya akan mempraktikkan dua gerakan utama untuk menjiwai semangat buku ini.

Pertama: gaya.


Kedua, saya akan memutar pedang dan mengincar pergelangan tangan lawan untuk melepaskan pedangnya.


Oke, sedikit berbeda dengan rencana. Tapi yang penting ada pedang yang berhasil terlepas dari pegangan.


Kembali serius, buku ini membuka mata tentang salah kaprah mengenai permainan pedang, terutama yang menggunakan anggar, baik rapier maupun foil. Pertarungan rapier berfokus pada efektivitas gerakan dan jangkauan. Lengah sedikit saja, pedang lawan langsung menembus tubuh kita. Jauh sekali dari gambaran di film yang ctang-ctang-ctang-ctang dan sempat ngobrol pula.

Ahli Pedang #1: Sebentar lagi aku akan menusukmu seperti sate!

CTANG-CTANG!

Ahli Pedang #2
: Dengan bumbu kacang?

CTAAAANG!

Ahli Pedang #1
: Ya, tambah lontong dan kecap manis. Sedikit acar mentimun juga oke.

CTANGCTANGTANG!

Ahli Pedang #2
: Sate Ayam Blora?

CTIINNNNGGG!

Ahli Pedang #1
: Lho, iya! Kau juga suka?

TANG!

Ahli Pedang #2
: Yang di Pasir Kaliki Bandung? Jelas dong.

Ahli Pedang #1: Kalau gitu kenapa kita berkelahi? Mendingan kita makan-makan!

Ahli Pedang #2: Hayuk! Walau menurutku lebih enak sate kambing Pak Haji di Karang Tengah, Jakarta.

...

Ahli Pedang #1: Matilah kau!

CTANGCTANGTANG!

Sayangnya, kalau hanya berdasarkan buku ini, terlihat sejumlah kelemahan rapier. Pertama, fokus pertarungan rapier adalah satu lawan satu. Kedua, terlalu menekankan pada tusukan. Padahal dalam pertarungan nyata melawan banyak orang, kita akan mati konyol saat menusuk seseorang dan tidak dapat menarik belatinya keluar.

Tentu saja, buku ini hanya memuat dasar dari permainan anggar. Bisa jadi kelemahan tersebut justru menjadi kekuatan dengan penggunaan dasar teknik yang kuat. Saya tidak akan tahu tanpa melihat langsung ahlinya bertarung melawan pemegang senjata lain (pedang cina, golok silat, tombak, katana, dan lain-lain).

Penekanannya di kata "melihat". Jadi, jika Anda anggota Kelompok Pencinta Rapier, jangan hubungi saya untuk menjadi lawan tanding. Cukup penonton saja. Saya adalah orang yang akan senang jika kemampuan berpedang ditentukan dari siapa yang lebih jago mengejek (seperti digambarkan di game lawas, Monkey Island.)

Atau mengendalikan gamepad PS2.

Friday, November 09, 2007

Horor Masa Kecil

Banyak hal menyangkut masa kecil yang setelah kita ingat-ingat ternyata aneh. Tak jarang, kita malah bertanya-tanya: kok bisa?

Horor masa kecil, misalnya. Didit, tetangga saya dulu, takut sekali dengan ular. Dan jadinya melebar ke mana-mana. Apa pun yang panjang dan melingkar seperti ular bisa membuatnya terperanjat. Ia bahkan menjauhi obat nyamuk bakar.

Rama, teman masa SD, takut pada kegelapan. Ia selalu berbekal korek api atau senter. Tapi, tidak pernah ia gunakan. Karena kalau gelap, keburu kabur duluan.

Namun, kedua contoh di atas itu masih relatif wajar. Ular memang berpotensi bahaya jika merasa terganggu. Dan kegelapan bisa membuat kita merasa tak berdaya karena kita tidak tahu apa yang tersembunyi di baliknya.

Setidaknya lebih wajar dibandingkan ketakutan saya masa kecil. Dari zaman TK hingga kelas lima SD, saya selalu gemetaran jika harus ke kamar mandi malam-malam. Bukan. Bukan karena gelap. Tapi karena saya merasa ngeri kalau-kalau bertemu Drakula sedang buang air besar.

Ya. Saya takut saat membuka pintu, saya akan memergoki seorang vampir berjas tuxedo dan berjubah di dalam kamar mandi. Duduk di atas toilet. Sambil mengejan. (Atau baca koran Transylvania Post).

Saya tidak mengada-ada. Memang ini terdengar sangat aneh. Bahkan Donna pun tertawa saat saya ceritakan hal ini. Tapi itulah yang saya rasakan dulu. Saya sendiri tidak mengerti kenapa itu dulu menjadi horor. Saat itu, saya hanya merasa takut.

Bagaimana kalau itu terjadi sekarang? Entahlah. Bisa jadi malah ngobrol.

Saya: ... Halo. Akhirnya kita bertemu juga.

Drakula
: (Sambil membaca koran.) Permisi, kek. Nyelonong masuk aja.

Saya
: Tapi ini kan kamar mandi di rumahku?

Drakula
: (Masih tidak menoleh dari koran.) Jelas aja di rumah elo. Pas gue boker di kamar mandi orang lain, mereka sama sekali nggak takut. Malah gue yang dimarah-marahin.

Saya
: ... Aku juga bisa marah-marah!

Drakula
: (Menengadah) ...

Saya: ... sedikit.

Drakula
: Sudah gue duga (kembali membaca koran.)
...
(hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Apa?

Saya: Boleh kufoto nggak?

Drakula: Elo mau gue foto nggak, pas nggak pake celana?

Saya: Nggak, sih.
...
(kembali hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Ya?

Saya: Kamu kok nggak seserem yang kubayangkan, ya?

Drakula: (Melipat koran). Bukan salah gue kalau ada anak kecil yang imajinasinya aneh sendiri.

Saya: Euh.

Drakula: Anak lain ngerasa serem bakal didatangi zombie; tubuh mereka dicincang, otak mereka dikunyah, dan diri mereka berubah menjadi zombie juga. Gue iri sama zombie-zombie itu. Lah, gue? Hanya bisa duduk dan ngejen.

Saya: Ya maaf. Rasa takut kan bukan sesuatu yang bisa kurancang dalam bentuk proposal.

Drakula: Ya, ya, ya. Alasan standar.
...
(lagi-lagi hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Apa lagi! Apa vampir nggak bisa boker dengan tenang? Elo nggak puas, ya nyiksa gue seperti ini? Bertahun-tahun gue ngejen terus bisa turun bero, tahu?

Saya: Siapa tahu kamu sebenarnya menyembunyikan makna penting.

Drakula: Hah?

Saya: Gini, kalau kamu bukan imajinasi yang umum. Mungkin rasa takutku terhadap kamu sebenarnya menyimpan simbolisme penting. Lihatlah pakaianmu--tuxedo. Busana resmi. Bisa jadi menyimbolkan kekuasaan. Bisa jadi aku takut pada figur berkuasa.

Drakula: Yang sedang boker?

Saya: Itu juga. Kapankah seseorang tampak paling rentan?

Drakula: Saat boker, emang.

Saya: Betul! Ini kontradiksi, kan? Seseorang yang berkuasa dalam posisi lemah.

Drakula: Mungkin elo takut kekuasaan elo runtuh?

Saya: Tapi ini kan khayalan masa kecil. Saat itu, aku sama sekali nggak berkuasa.

Drakula: Ya gampang. Berarti seseorang di dekat elo yang berkuasa.

Saya: Lah, aku kan sebal diperintah-perintah. Kalau ada orang berkuasa di sekitarku dan melemah, seharusnya senang-senang aja dong.

Drakula: Tapi gimana kalau elo sayang ama orang itu?

Saya: ... Orangtua?

Drakula: Ternyata elo nggak seblo'on keliatannya.

Saya: Setidaknya aku masih pake celana. Oke, apa maksudmu? Apakah aku takut melihat orangtuaku dalam keadaan lemah? Kenapa begitu? Apa mereka terancam sesuatu? Atau ini bukan tentang mereka? Apa ini tentang aku?

Drakula: Kenapa nanya gue? Gue bukan psikolog. Cuman bagian dari pikiran elo. (Siram toilet.) Sisanya pikirin sendiri.
... (Tubuhnya mulai menghilang)...
Tugas gue dah beres. Selamat tinggal, Man.

Saya: Terima kasih... Drakula Boker.

Drakula: Sialan! Nama gue bukan Bo--


Apakah ketakutan masa kecil Anda? Wow. Itu terdengar lebih keren daripada Drakula Boker. Tapi yang lebih penting: apakah Anda sudah mengajaknya bicara? Siapa tahu ada pesan tersembunyi yang selama ini ia simpan.

Friday, November 02, 2007

Slogan Gelagapan

Saya telat mengikuti berita. Dari blog Bizri, saya baru tahu, Agustus 2007 lalu, NASA sempat mengganti slogan mereka. Slogan yang baru adalah: “NASA explores for answers that power our future.”

Milyaran dolar untuk teknologi. Lima dolar untuk kampanye komunikasi pemasaran.

Wajar saja jika Loretta Hidalgo menantang para pembaca blog Wired: masa sih kita nggak bisa membuat slogan yang lebih bagus? Dalam artikel itu, kita bisa menyumbangkan ide atau menilai slogan yang ada (pilihanannya hanya dua: jempol ke atas atau ke bawah).

Ratusan orang menanggapi tantangan ini. Sebagian serius. Sebagian menumpang untuk mengkritik NASA. Sisanya ngasal. Dan justru dua terakhir yang menghibur.

Ada yang terkesan membela:

  • NASA: Because one does not simply walk into space.
  • NASA: Because the United Federation of Planets has to start *somewhere*
  • NASA: In 100 years, you'll wish you'd given us more funding.

Ada yang malah menertawakan:
  • Our space-toilet cost a million but crapping in it is priceless.
  • NASA: Because strapping men to tons of high explosive sends the right message.
  • NASA: Helping nerds have sex since 1958

Termasuk menertawakan hal lain:
  • NASA: Our Janitor Is Smarter Than The President
  • NASA: More leg room than any airline!
  • Because in space no one can hear Britney sing

Menertawakan diri:
  • NASA: Because Intelligent life is so hard to find these days.
  • The answer is up there in the galaxies. the question is where did I leave my beer?
  • NASA: Actually this *is* rocket science.
  • NASA: When I was your age, Pluto was a planet

Atau mengacu humor lain:
  • NASA: Tonight, We Dine, IN SPACE
  • NASA: Because millions of trekkies can't be wrong.
  • All your space are belong to U.S.
  • NASA: Billions Of Dollars Spent and Still No Death Star
  • NASA: Are we there yet?

Ada yang mau menambahkan? Atau lebih baik kita beralih pada slogan instansi pemerintah kita? Apalagi yang tidak sesuai kenyataan.

Tuesday, October 30, 2007

Pembalap F1, Toilet, dan Kaleng Coca-Cola

X-Trans. Itu adalah perhentian pertama saya dan Yudi pada hari Sabtu, 27 Oktober 2007, jam enam pagi, sebelum menuju Pesta Blogger 2007. Kami memutuskan naik shuttle service karena jika kami mengemudi mobil sendiri, kemungkinan besar kami akan datang terlambat satu jam... di Ciamis. Bukan salah Yudi, tentunya. Sebagai navigator, dia cukup tahu jalur mana yang harus diambil. Walau kadang-kadang terlambat.

"Itu harusnya belok kiri, Man," tunjuk Yudi ke belakang.

"Terima kasih banyak, Yud," jawab saya. "Lain kali, tolong setengah menit lebih cepat, ya?"

Namun, seperti yang saya bilang, itu bukan salah dia. Kalaupun tepat waktu, saya yakin tidak akan beres juga. Karena saya sering kesulitan menentukan mana kanan dan kiri. Konon ini salah satu kutukan orang Sunda. Entah juga. Tapi yang jelas, saat saya kuliah, pernah kami berangkat dalam mobil seorang teman bernama Dindin. Navigatornya adalah Wiro. Dindin orang Sunda asli. Sementara Wiro sudah cukup lama di Bandung sampai tidak bisa dibedakan lagi aslinya apa.

Kami sedang mencari jalan Badak Singa. Pada satu perempatan, Wiro memberi isyarat, "Di sini belok kiri, Din."

Dindin pun belok ke kanan. Dan benar saja, di situ terpampang, "Jalan Badak Singa".

Saya tidak yakin Yudi dan saya punya hubungan batin sekuat itu. Jadi kami memutuskan menggunakan jasa X-Trans saja.

Mengapa X-Trans? Jelas bukan karena kenyamanan. Kursi mobil Preggio mereka sudah dirancang ulang oleh makhluk luar angkasa, yang sepertinya memiliki tinggi badan satu meter, berat tiga puluh kilogram, dan leher sepanjang setengah meter. Saya curiga lama-lama X-Trans akan bekerja sama dengan panti pijat.

Tidak. Kami memilihnya karena titik keberangkatannya dekat (di Cihampelas). Dan tujuannya juga dekat Grand Indonesia (di Blora).

Acara Pesta Blogger sendiri direncanakan akan mulai jam setengah sebelas. Dengan berangkat jam enam pagi, kami berharap tiba pukul setengah sepuluh. Cukuplah untuk santai terlebih dahulu.

Ternyata kami salah. Mobil mencapai ruas jalan Thamrin pada jam 7:37. Satu setengah jam! Jangan-jangan menyupir shuttle service ini hanya pekerjaan sampingan. Bisa jadi sang supir sebenarnya pembalap F1.

Akhirnya, saya dan Yudi memecahkan dua rekor pribadi sekaligus hari itu. Perjalanan tercepat, Bandung-Blora (140-an kilometer): 1,5 jam. Dan perjalanan terlambat, Blora-Grand Indonesia (1 kilometer): 1,2 jam. Kami pun tiba di Grand Indonesia sekitar jam 10 kurang dua puluh menit.

Dengan lega, kami langsung menuju tujuan kami: toilet. Yang ternyata tak bisa dibuka. "Toiletnya baru buka jam sepuluh, Mas," ujar seorang petugas kebersihan.

"Jadi, Mas sebelum ini buang air di mana?" tanya saya.

Dia hanya tersenyum, sambil menunduk ke arah ember berisi air yang ia pakai untuk mengepel.

Oke, lebih baik jangan tanya. Ya sudah, saya dan Yudi pun memutuskan naik ke tingkat delapan, dengan menaiki lift--yang tidak bisa dibuka juga.

Seorang petugas kebersihan berkata, "Liftnya--"

"Baru buka jam sepuluh?" potong saya.

Alisnya mengangkat, "Lho, kok tahu?"

"Mas juga..." saya melirik ke arah embernya.

Dia hanya tersenyum.

Kami pun naik escalator. Sambil menghindari bagian lantai yang basah. Akhirnya, kami sampai ke lokasi. Dan bertemu Ira Lathief yang dengan tenang berkata, "Iya, tadi aku naik lift."

"Lho, tadi belum jalan."

"Udah kok."

Saya hanya berpandangan sebal dengan Yudi. Untunglah toilet di Blitz Megaplex sudah buka, sehingga kami tidak perlu menghadap ke meja pendaftaran sambil menari-nari di tempat. Dan kami pun jadinya sempat berfoto-foto selagi sepi.



Pos Kota: Frustrasi tidak menemukan toilet, seorang blogger melompat dari tingkat 8 Grand Indonesia, dan menabrak papan dalam Blitz Megaplex. (Foto:Yudi)


Teringat bahwa tempat mungkin terbatas, kami pun mendaftar.

"Sudah ada entry code?" tanya panitia pendaftaran.

"Sudah," angguk saya dan Yudi, bersiap-siap mengetikkan kode tersebut... namun, kok nggak ada komputer, ya?

Lantas sang panitia hanya membuka lembaran kertas, "Namanya siapa?" Ia mencari-cari. "Isman?" Masih mencari-cari, "Oh, ini." Ia lantas menggarisnya dengan stabillo. "Oke, sudah terdaftar."

"Itu saja?" tanya saya takjub. "Nggak harus memasukkan kode seperti yang ditulis di email?"

"Nggak," gelengnya.

Masih takjub, kami bertemu Enda yang langsung tersenyum. "Oh, yang di email? Itu hanya gertakan," candanya.

Tahu begitu, sebenarnya siapa pun bisa masuk. Tinggal mengaku ada entry code. Lantas saat ditanya, "Namanya siapa?" jawablah dengan bergumam, "vldfdlldfbbbldf".

"Siapa?" tanya sang panitia sambil menelusuri daftar.

"Nah, itu dia," tunjuk Anda ke satu nama yang belum digaris.

"Sang panitia mungkin akan menatap curiga, "Vina?"

Dan jika Anda seorang laki-laki, di sinilah kemampuan Anda diuji. Tetaplah tenang. "Ada masalah? Enda juga laki, kan?"

"Ya," ujar sang panitia, "tapi blog Enda tidak bernama 'rahasiawanita.blogspot.com'."

Oke, mungkin ini bukan cara yang bagus juga. Terutama jika kita tipe yang bermaksud berkenalan dengan para blogger maupun komunitas lain. Saya sendiri memang datang ke acara ini dengan tujuan itu. Saking seringnya ngobrol dan salaman, saya malah tidak sempat banyak memfoto. Padahal sudah berat-berat bawa kamera. Bahkan foto bareng Bang Wimar saja sebenarnya diambilkan oleh Rizka.


Wimar: "Apakah semua penulis humor seceria kamu?"
Isman: "Hanya jika mereka harus berfoto saat menduduki kaleng Coca Cola." (Foto: Rizka)



Saya senang menghadiri acara tersebut. Banyak bertemu orang-orang yang tadinya hanya saya bayangkan melalui ceritanya. Dan bisa jadi untung juga bagi mereka, karena bayangan saya ternyata selalu lebih cacat dari aslinya. Setelah bertemu, ternyata kelakuannya normal-normal saja. Jangan-jangan malah saya yang dianggap lebih cacat aslinya daripada bayangannya. Padahal jelas-jelas tidak; pendiam, tenang, dan serius.

Saking seriusnya, saat kamera menyorot saya dan menampilkan citra di layar lebar bioskop, saya dengan serius menanggapinya... dengan memainkan sandiwara tangan. Judulnya, "Seekor Anjing yang Tidak Bisa Nge-Blog Karena Tidak Bisa Mengetik".

(Catatan pribadi: acara tahun depan bawa boneka tangan.)

Saya sempat bertemu seorang teman yang mewakili blog-nya karena mendapatkan nominasi. Namun, ada satu hal: seharusnya ketiga kontributor blog itu anonim. "Lah, kalau muncul di sini, mau anonim gimana, dong?"

Dia hanya tertawa. "Ya mau gimana, ya, Man?"

Ironisnya, blog dia dan teman-temannya pun menang. Jadi entah masih anonim atau tidak. Selamat ya, F--euh, TemankuYangEntahMasihAnonimAtauTidak!

Tentang apa yang terjadi di acara sih sudah banyak yang meliput. Jadi saya tidak perlu membahasnya. Cukup cari saja tulisan dengan tag pb2007. Bejibun.

Selamat untuk para panitia penyelenggara! Untuk sebagian wakil pemerintah yang menunjukkan bahwa kita masih memiliki sesuatu yang bisa kita banggakan--dan tidak bisa dihakpatenkan negara lain. Dan untuk para blogger yang menunjukkan bahwa satu tetes air mungkin kecil, namun bersama kita bisa jadi air minum botolan yang dijual lebih mahal daripada BB--bukan, maksud saya, menjadi kekuatan yang bukan hanya sekadar menggagas ide, melainkan juga bertindak nyata.

Ajuan tindakan nyata pertama: dobrak pintu toilet!

Monday, October 29, 2007

Celoteh Anak (Yang Gawat Karena Suaranya Tidak Bisa Dikecilkan Dengan Remote)

Peringatan: tulisan di bawah meliputi penggunaan kata yang bisa mensukseskan diet rendah kalori Anda. Jika bukan itu yang Anda inginkan, silakan mundur dari layar komputer, dan tontonlah Wisata Kuliner.


__________________________


Pagi tadi saya bolak-balik WC karena diare. Begitu saya keluar, Aza langsung mengendus-endus. "Papih kok bau, sih?"

Sebagai penulis humor, kadang saya terbiasa menyeletuk sebelum selesai mikir, "Kalau kamu bisa propot harum, kasih tahu Papih, ya?" Propot adalah istilah kami untuk menyebut buang air besar. Satu hal yang saya pelajari dengan menjadi orangtua: bendahara kosa kata kami bertambah dengan istilah yang diciptakan berdasarkan efek suara.

Berhubung, serangan kembali datang, saya kembali masuk ke WC. Dan saat menutup pintu, saya baru mulai sadar. "Uh oh," pikir saya. Aza, sebagaimana halnya anak berusia tiga tahun lainnya, masih menanggapi semua sarkasme secara harfiah.

Dari balik pintu terdengar suara Aza bertanya kepada asisten kami, "Bi, Papih kok bau, sih?"

Sialan.

"Aza, mandi yuk?" terdengar suara Bi Nina, sang asisten, mengajak.

"Iya. Tapi kok Papih bau?" suara Aza malah makin mengeras. Jika Aza adalah TV, volumenya hanya bisa diset dalam dua modus: "Sunyi" dan "Vokalis Rock".

Saya hanya bisa membenamkan wajah dalam telapak tangan, berharap tidak ada tamu. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

"Pagi, Aza," sapa seorang tetangga dari celah pintu. "Papahnya ada?"

"Papih ada, tapi lagi bau!"

Atau

"Pos," seru sang pengantar PT Pos.

"Papih nggak bisa keluar," teriak Aza dari balik jendela. "Lagi bau!"

Jangan-jangan yang menelepon rumah saya pun sudah mengetahui kode itu. "Halo," sapa sang penelepon. "Masih bau?"

"Masih!" teriak Aza.

Saya memutuskan untuk mandi sekalian. Dan untunglah tidak ada tamu. Jadi saya bisa melenggang keluar tanpa perlu menyamar jadi tumpukan cucian.

Saat itulah, Aza menyambut saya. "Papih masih bau?" Rambutnya tampak kelimis. Bajunya sudah berganti, dari kostum Spiderman menjadi Superman (walaupun Superman yang ini menggunakan celana panjang longgar dan popok--yang untungnya--di dalam).

"Nggak dong," senyum saya. "Papih udah mandi."

"Aza juga," ia medekat sambil menandak-nandak. "Tadi propot."

Uh oh.

Ia kemudian naik ke sofa, lantas menungging. "Coba Papih cium bokong Aza, harum nggak?"


____________

Tulisan Serupa:

Monday, October 22, 2007

Delapan Hal Tentang Isman...

...yang sebenarnya ingin ia tulis semenarik Tujuh Keajaiban Dunia, dengan kisah penuh darah, perjuangan, dan cinta kasih. Namun, tidak bisa karena:

  1. Isinya bakal berisi kebohongan semata, dan
  2. Bahkan orangtuanya pun tidak akan percaya
Kembali ke pembicaraan yang lebih serius, saya berbagi delapan hal berikut karena ditoel oleh Gina, seorang ilustrator yang sama-sama gemar animasi Totoro. Dan (di masa depan) oleh Rangga, seorang penulis yang cukup kredibel untuk jadi Superman (tidak takut ketinggian)--asalkan tidak sakit gigi.

Seorang teman saya pernah berkata, "Siapa pun yang gemar Totoro pasti orang baik." Mari kita lupakan sejenak bahwa ia sendiri adalah penggemar Totoro (dan ia mengatakan itu dalam rangka pedekate); apa yang ia katakan benar juga. Saya tidak pernah melihat tajuk berita yang berbunyi, "Penggemar Totoro menembaki teman-teman sekolahnya." Jadi Gina adalah orang baik... sampai ada tajuk berita yang menunjukkan sebaliknya.

Awalnya, saya berniat menunggu dulu hingga ada Delapan Hal yang Sungguh Sangat Menarik untuk Dibagi. Misalnya, saat ada pembajakan pesawat terbang dan saya menggagalkannya. Termasuk keberhasilan saya mendaratkan pesawat tersebut ketika pilotnya pingsan, walaupun:
  • Kemampuan saya mengemudi pesawat terbang setara dengan kompetensi seekor cicak mengendarai mobil.
  • Bahkan cicak itu masih memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi.


  • Arahan dari menara pengendali malah membingungkan.

  • "Man," ujar menara pengendali, "kamu bakalan nabrak menara kalau nggak membelokkan pesawat ke kanan--"

    "Kanan?" tanyaku. "Kanan saya atau kanan kamu?"

    "Haduh. Ya sudah, putar saja sejauh tujuh puluh derajat."

    "Tujuh puluh derajat ke kanan atau ke kiri?"

    "Ampuuuun!" seru operator menara pengendali panik. "Gerakkan ke arah jam dua! JAM DUA! CEPAAAAAT!"

    "Yah," keluh saya, "saya pakenya jam digital nih."

    BLEDAAAARRRRRR!!!


  • Saya sulit bergerak; semua pramugari cantik dan seksi di sekitar akan berpegangan pada saya untuk mencari ketenangan.
  • Saya sendiri malah tidak akan tenang. Karena saya sadar--jika ini terjadi di dunia nyata--kalaupun saya selamat, mitra hidup sayalah yang akan membunuh saya.

Terus terang, kemungkinan itu terjadi sama besarnya seperti mengharapkan kilat menyambar seorang politikus tepat saat ia berkata, "Kalau saya bohong, biar kesambar gledek." Hanya akan ada di film yang kita bikin sendiri. Dan yang nonton hanyalah mereka yang kita janjikan tiket dan makan-makan gratis.

Karena itu, lebih baik saya bagi saja delapan hal yang ada:
  1. Jari saya masih bengkok

  2. Berdasarkan statistika asal yang saya pungut di internet, rata-rata lama cedera saya per pertandingan sudah melebihi rata-rata satu klub liga Inggris. Tapi kok ya nggak jera-jera main futsal? Sepertinya ada bagian otak primitif manusia yang selalu meremehkan bahaya. Saya yakin ini bagian otak yang sama yang membisiki manusia gua berjuta-juta tahun lalu, "Hajar aja! Dia gede badan doang. Namanya aja lucu, T-rex. Pasti aslinya cuman dinosaurus dongo pemakan tumbuha--" HAAP! KRAUK! GLUG!


  3. Saya menjadi semi-masochist dalam berhubungan dengan luka, akibat nonton Rambo

  4. Dalam Rambo II, ada adegan di mana ia mencongkel peluru dari dadanya, membubuhkan mesiu, dan dengan gagah membakar lukanya. (Setelah itu, dengan tak kalah gagahnya, ia pingsan.) Tayangan ini begitu membekas sehingga semasa kecil, saya dengan gagah berani membekap luka dengan alkohol, meneteskan Betadine, memberi salep, dan membalutnya seakan-akan di medan perang. (Untunglah saat itu saya gagal menemukan alasan yang cukup gagah untuk pura-pura pingsan.) Meskipun memudar seiring usia, jejaknya masih ada. Sehingga walaupun shin se yang mengurus cedera saya sangatlah efektif menjadi penyiksa tawanan perang, saya tetap datang ke tempatnya untuk mengurut cedera. Dia sendiri takjub, karena saya adalah pasien pertama yang datang dengan membawa handuk sendiri. Dan bukan untuk mengelap keringat. Melainkan untuk membekap mulut supaya tidak berteriak.


  5. Walaupun banyak melahap buku-buku teknik ingatan karangan Harry Lorayne maupun Tony Buzan, saya tetap pelupa

  6. Saya bahkan pernah ingat membawa pesanan makanan untuk seorang teman. Tapi lupa membawa sang teman.


  7. Saya adalah Pemburu Ketidakacuhan Semantik


  8. Dan Anggota Perkumpulan Pembaca dalam Toilet--termasuk sebagai ketua, sekretaris, dan koordinator pelaksana harian

  9. Buku-buku seperti Bartimaeus Trilogy, Anansi Boys, atau Kartun Genetika kutamatkan dalam toilet. Tip: sebisa mungkin, pilihlah cerita yang cukup menegangkan sehingga membantu kita mengejan tanpa sadar. Tip untuk membaca tip yang tadi: jangan baca dan bayangkan tip tersebut saat lagi makan.


  10. Dalam penulisan kreatif, saya cenderung menggunakan metode ilmiah yang terukur untuk menimbulkan inspirasi

  11. Sebagai contoh, saat bekerja sama dengan kantor Gina terdahulu, saya pernah datang dengan mengenakan pakaian kantor biasa; kemeja dan celana panjang. Hanya plus kaos kaki sepakbola merah dan sarung. Saking ilmiahnya, petugas satpam gedung sering bereaksi dengan cara yang dalam istilah teknis ilmiah disebut "menahan tawa".


  12. Saya sendiri adalah pribadi yang tenang, serius, dan pendiam.


  13. Tapi entah kenapa, ada saja yang tidak percaya pada poin tujuh.

Agar meme ini tidak menular ke mana-mana saya potong di sini. Mari berharap bulan depan tidak muncul meme baru yang berjudul "Sepuluh Hal Tentang Kita". Karena berdasarkan tren kemunculan, bisa jadi sepuluh tahun mendatang, kita harus mengisi "200 Hal Tentang Kita".

Mari jujur saja. Tulisan blog yang memuat dua ratus hal tentang apa pun, tidak akan menarik. Bukan masalah materi. Ini masalah rentang konsentrasi. Dan minat. Belum lagi waktu yang terpakai untuk mengisinya. Mari cukupkan pada delapan saja, dan habiskan waktu sisa kita untuk jalan-jalan keluar. Atau berolahraga.

Asal jangan bengkokkan kelingking Anda.

Tuesday, October 16, 2007

Poetry Slam!: Adu Berpuisi

Poetry slam atau adu puisi adalah sebutan untuk kompetisi pembacaan puisi. Siapa pun bebas mendaftar dan tampil di panggung untuk membacakan karya mereka. Penampilan tiap peserta kemudian akan dinilai. Umumnya peserta harus membaca karya sendiri. Namun ada juga yang tidak.

Adu puisi sangat populer di Amerika. Pertama kali dikenalkan oleh Marc Smith pada tahun 1984 di Chicago, kini bahkan ada kompetisi National Poetry Slam yang diikuti hingga 75 tim dan diselenggarakan berhari-hari. Populernya kontes berpuisi ini juga yang memicu kemunculan pementas syair (performance poet), para penyair yang memunculkan kekuatan kata melalui dengan mementaskannya. Termasuk di antaranya penyair hip-hop. Penyelenggaraan poetry slam sudah meluas hingga negara-negara Eropa. Di Asia-Pasifik, Singapura dan Australia termasuk yang sudah sering menyelenggarakan ajang serupa.

Di Indonesia, adu puisi masih jarang kita temui. Karena itu, "Better Read than Dead" Poetry Slam di Bebek Bengil adalah satu acara yang saya tunggu-tunggu.


Suasana Apresiatif
Hal Judge menjadi MC acara dan membawakannya sesantai DJ stasiun radio. Untuk mencairkan suasana penonton yang beragam (warga asing dan Indonesia), misalnya, ia menceritakan berbagai kecelakaan berbahasa yang ia catat selama di Indonesia. Sebagai contoh, di Ubud ia pernah disapa seorang warga lokal, "Hai, Haley. Mau ke mana?"

Berhubung Hal baru mempelajari idiom baru, ia lantas menggunakannya, "Makan angin." Sayang sekali, ia masih mengucapkannya dengan lidah bahasa ibunya, sehingga terdengar menjadi, "Makan anjin'."

Ia juga menyampaikan format dan aturan adu berpuisi malam itu:


  1. Puisi yang dibacakan harus karya sendiri

  2. Tim juri terdiri dari tiga orang yang ia tunjuk sebelumnya

  3. Tiga hal yang dinilai adalah: isi, penyampaian, dan penjalinan emosi dengan hadirin--yang akan dilihat dari riuhnya tepuk tangan.


Selagi menunggu peserta bertambah, ia mempersilakan dua orang penyair tamu untuk mulai.


Yang pertama adalah Miriam Barr dari Auckland. Seorang pementas syair berpengalaman, ia telah menjuarai berbagai ajang adu berpuisi, termasuk Poetry Idol. Pada penampilannya di Bebek Bengil, ia menunjukkan kekuatan visualnya dalam syair.


Berikutnya adalah Miles Merrill, yang disebut media massa sebagai "seorang pementas kata yang menakjubkan". Dan ia membuktikannya hanya dalam beberapa detik setelah memegang mikrofon. Melalui sketsa pembuka "I care for people", ia menunjukkan kisar dan bentuk vokal yang bervariasi. Plus humor yang menggelitik. Sebagai seorang kelahiran Chicago yang telah menjadi warga Australia semenjak sepuluh tahun lalu, ia mengajak hadirin menertawakan stereotipe dialek Australia yang sulit dimengerti.

Barulah kemudian ia masuk ke puisi sebenarnya. Ia membawakan dua karya. Salah satunya adalah puisi yang ia tulis ketika sedang berkemah di Australia. Angin topan meniup dan menggulingkan tenda, beserta dirinya yang masih di dalam. Miles mementaskan puisi tersebut seperti sebuah dongeng, menyeret hadirin ke dalam dunianya. Kadang ia menjadi angin. Menjadi tenda. Menjadi daun. Atau dirinya yang berteriak, "Stop pounding at my weak shelteeeeer!"

Tanpa sadar, kita menjadi telinga, hidung, dan mata Miles. Saat semuanya beralih sunyi. Dan ia menengadah, menyaksikan, "Half the sky is stars. Half the sky is stars."

Atap saung Bebek Bengil seperti mau roboh oleh tepukan tangan. Hal kemudian mengundang peserta pertama untuk maju. Dan inilah yang menakjubkan. Walaupun kesan penampilan Miles sangat dalam, ini tidak memengaruhi standar hadirin. Penonton tetap mengapresiasi dengan tulus pementasan tiap peserta.

Bahkan penampilan hancur seperti seorang peserta dari Rembang, yang mengaku bernama Gato Loco, tetap diberi applause. Seberapa hancur? Ia datang dengan menggunakan kacamuka hitam. Menyetel suara latar belakang ala militer. Merokok dengan sembarangan (karena sebenarnya dilarang). Lantas membaca puisi dengan gaya mabuk. Di tengah pembacaan, ia membuka kaos hingga memperlihatkan diri yang mengenakan kemben. Lantas setelah pentas berakhir, ia membagikan kertas berisi syair puisinya. Masih sambil merokok.


Bahkan Hagar Peeters yang tampil serampangan dengan gaya mabuk juga tetap diapresiasi. (Mungkin gaya mabuk sedang tren.)


Menikmati Beragam Suara
Yang menarik dalam sebuah slam adalah variasi "suara" para penyair. Ada yang membacakan puisi dalam nyanyian. Ada yang menampilkan emosi, cerita, atau karakter. Bisa berdasarkan pengalaman nyata maupun sama sekali rekaan.


Seorang peserta dari Malaysia yang membawakan puisi dengan nyanyian.


Abe Soares dari Timor Leste bahkan menggunakan gitar sebagai alat bantu.


Bisa tampil sendirian atau barengan. Debra Yatim, sebagai contoh membawakan puisi tentang Aceh yang dimuat dalam Asian Literary Review. Nelden dan Zulaika mendukung sebagai penyanyi latar. Saya dan Mas Wiratmadinata juga dimintai turut serta di sini sekadar untuk melafalkan dzikir.


Penilaian Tetap Tegas
Walaupun suasananya sangat apresiatif, ini tetaplah kompetisi. Sehingga juri tetap tegas. Kadek Krishna, sebagai jubir memberikan beberapa komentar tajam. Bukan hanya peserta, komentar ini juga menyangkut penyair tamu.

Penampilan Mas Wiratmadinata dan Angelo Suarez, misalnya. Keduanya memiliki kemiripan dalam pementasan pertama: sama-sama melibatkan penonton. Angelo mementaskan "puisi tererotik sedunia dalam satu menit" dengan cara meminta para hadirin menghitung dari satu hingga enam puluh keras-keras. Selama itu, ia berlarian sekeliling saung sambil terus-menerus berteriak, "This is an erotic poem for sixty seconds if I say so!"


Angelo berteriak, memekik, dan melengking di atas meja pada pembacaan puisi keduanya.


Sementara itu, Mas Wira membagi hadirin menjadi tiga bagian. Sisi kanannya diminta meneriakkan, "Ada anjing!" Sisi kirinya, "Ada serigala!" Sementara bagian tengah, "Dalam kepalaku!" Lantas ia memberi aba-aba bagian mana yang harus berteriak. Hingga makin lama makin cepat. Mas Wira sendiri ikut berteriak semakin keras, sehingga--hebatnya--mengalahkan suara hadirin. Rangkaian ini diakhiri dengan Mas Wira meneriakkan kalimat akhir, "Mencari kata-kata."

Walaupun sambutan untuk kedua penampilan ini luar biasa, Kadek Krishna berkomentar dengan nada bercanda, "Kalian semua sudah dimanipulasi. Sehingga standar kalian jadi rendah."

Ada peserta yang mengurungkan niat membaca puisi dan akhirnya malah bercerita pengalaman diri. Ada dua peserta yang membaca puisi dari SMS. Untuk kedua hal ini, jubir juri hanya menggeleng-geleng, "Not good."

Selanjutnya, juri pun mengumumkan para pemenangnya.


Daniella, pemenang pertama, yang membawakan puisi ala rap. Muncul menjelang akhir acara, sambutan penonton pada penampilannya bahkan mengalahkan riuh tepuk tangan untuk Miles.


Pemenang lainnya meliputi Kerry Pendergrast, penyanyi dan pementas teater yang sudah enam belas tahun tinggal di Bali, saat itu membawakan puisi berwawasan dalam dan humoris mengenai Ubud, Sekala-Niskala. Dan seorang peserta dari Jakarta yang melantunkan puisi dengan gaya vokal mirip Beyonce. Nilai kedua peserta ini seri, sehingga mereka harus mengulang kembali penampilan. Hasil akhir ditentukan dari tepuk tangan hadirin.

Dan acara ini pun berakhir. Ironisnya, Hal Judge, sang pengumpul insiden berbahasa, justru kecelakaan saat menutup acara. Ketika berterima kasih pada pihak restoran Bebek Bengil, ia mengucapkannya sebagai "Bebek Bangle". Setidaknya ia jadi punya bahan untuk adu puisi tahun depan.


Mempopulerkan Adu Puisi Di Indonesia
Berat rasanya meninggalkan acara tersebut. Suasana kreatif dan apresiatif di dalamnya begitu memabukkan. Hanya dengan menghadiri acara tersebut, saya jadi ingin menguntai kata dan mementaskan cerita. Padahal saya bukan penyair. Seperti yang saya tulis dalam prakata Bertanya atau Mati, usaha saya membuat puisi bisa membuat seekor tikus yang terjebak perangkap terdengar seperti Shakespeare.

Namun itulah intinya: acara ini membuat orang-orang jadi berani dan bersemangat untuk menulis maupun menikmati puisi. Dan ini jauh lebih penting daripada mendiskusikan teori-teori kesusasteraan.

Bayangkan acara-acara seperti ini marak dalam kegiatan sekolah seperti pensi, misalnya. Atau menjadi alternatif kegiatan di kampus, alih-alih pentas musik ingar-bingar yang selalu menyetel 40 lagu terpopuler saat itu.
Bayangkan puisi menjadi bagian dari kehidupan normal, sehingga seseorang dapat berkata kepada temannya, "Eh, pernah dengar puisi ini nggak?" Dan temannya benar-benar mendengarkan. Bukan malah menertawakan.

Mengapa tidak?

Terima Kasih: Author of the Week

Terima kasih atas apresiasi teman dan rekan semua dalam satu setengah bulan terakhir. Karena saya yakin berkat dukungan kalian semua jugalah saya jadi menerima tiga kabar baik terakhir:


  1. Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint masuk daftar Bestseller di BukaBuku.com

  2. Profil saya menjadi Author of the Week di Gramedia.com

  3. (Tampaknya definisi "Week" bagi mereka adalah "berminggu-minggu". Kalaupun iya, saya jelas tidak akan mengeluh.)

  4. Satu karya flash fiction saya berjudul "Do not disturb: Suicide in progress" juga masuk dalam The Asia Literary Review jilid 5, edisi musim gugur 2007.

  5. Bagi yang belum tahu flash fiction atau fiksi kilat itu apa, bentuk penceritaan ini juga dikenal sebagai cerpen pendek atau cermin (cerita mini). Lebih singkat daripada cerita pendek, sehingga dalam dasawarsa terakhir populer sebagai karya online--di mana orang memiliki ambang kenyamanan membaca yang lebih kecil dibandingkan buku fisik. Namun, kekuatan fiksi kilat sendiri dalam mengejutkan pembaca atau menampilkan bayangan visual menjadikan bentuk ini populer juga di dunia nyata. Terutama bagi para pembaca yang sibuk (selagi bertapa di kamar kecil, bisa menghabiskan hingga sepuluh cerita). Atau bagi penulis yang memiliki banyak gagasan untuk diwujudkan.

    Versi Indonesia "Do not disturb: Suicide in progress" sendiri dimuat dalam antologi Jangan Berkedip, yang ditulis saya bersama mitra hidup saya, Primadonna Angela.

Sekalian dalam masa pasca Lebaran, saya mengucapkan terima kasih lahir dan batin! Mari terus berkarya dalam bidang yang kita tekuni. Dan berikhtiar dalam apa yang kita bisa lakukan.

Friday, October 05, 2007

JL CPT BU UTK FSTVL?

Berkat Harper's Bazaar yang menulis Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2006 sebagai "satu dari enam festival sastra internasional terbaik", festival tahun ini berhasil menarik banyak sekali sponsor. Kalau sponsornya lebih banyak lagi, bisa jadi ketika panitia selesai mengucapkan terima kasih kepada para sponsor di acara pembukaan festival, acaranya sudah keburu selesai.

Namun, setelah berbincang-bincang dengan sejumlah relawan, saya mendapat kabar bahwa Festival Director, Janet De Neefe masih tetap menanggung kerugian. Karena fasilitas untuk para peserta semakin meningkat tiap tahun: transportasi, penginapan, hingga penyediaan sejumlah acara dan makanan/minuman gratis. Dan hal ini sudah menjadi rahasia umum di antara sebagian peserta.

Karena itu, kami tidak tahan untuk menahan geli setiap kali lewat di pertendaan sebelah Left Bank, melihat dua pengumuman yang bersanding secara kebetulan.



Yang kurang tinggal tulisan "JL CPT BU, UTK FESTIVAL"

Thursday, October 04, 2007

Ujicoba Aplikasi Dengan Naga dan Bola

Di kantor saya, pengujian aplikasi adalah masa yang menyenangkan.

Ada satu dalil dalam pengujian perangkat lunak: kejutkanlah para pemrogram! Ini juga sebabnya mengapa pemrogram sebaiknya tidak menguji aplikasinya sendiri. Karena tanpa sadar ia akan menguji sebatas hal yang ia ketahui. Padahal setelah pemasangan di lokasi, para pengguna akan mengoperasikan aplikasi tersebut semau mereka.

Dengan kata lain, pengujian juga perlu mencoba hal-hal yang tidak diperkirakan oleh para pemrogram. Dan itu adalah spesialisasi penguji seperti saya.

Sebagai contoh, sore ini kami menguji coba aplikasi konferensi multimedia. Dua penguji duduk di depan komputer yang memasang webcam, dan saling membacakan kalimat dari sebuah dokumen teknis. Pembacaan ini sudah cukup jelas. Walau kadang putus. Sayangnya, metode ini tidak mewakili kebutuhan calon pengguna: berkomunikasi dua arah, bukan hanya mendengar. Lebih parah lagi, metode ini membosankan.

Jadi, saat saya ikut menguji, pertama saya mengarang cerita. Apakah cerita ini bisa diterima dengan utuh? Dan untuk memastikan penguji di sisi lain memerhatikan, cerita ini saya sadur dari gaya Harlequin, "Ia melempar Joyce ke ranjang. Tubuh ringkih wanita tersebut terpental dan berguling di atas kasur. Jeritannya malah mengundang senyum..."

Lantas tiba-tiba berganti cerita. "...kemudian ia menendang bola jauh ke sayap depan, yang langsung mengoper pada Ramli. Digocek saaaajaaaa beknyaaa, dan kini ia berhadapan! Satu lawan satu! Dengan penjaga gawang! Apakah akan goooooOOOOOOOOOLLLL!!? Oh, sayang sekali, ternyata itu kiper sendiri..."

Kalau perubahan nuansa ini bisa ditangkap, berarti komunikasi verbal dengan perubahan intonasi sudah bisa sampai. Sehabis itu mulailah berbagai eksperimen. Ilmiah semua, tentunya.



Misalnya, pengujian berbicara dengan boneka tangan (peraga: JF).


Kalau sisi seberang bisa mengerti, aplikasi ini sudah bisa berguna minimal untuk percakapan.

Berikutnya, ujian yang lebih ilmiah dan menantang, seperti bola berubah warna! (efek suara Doraemon.)


Dari warna asal yang dominan merah muda.


Kita lempar...


...dan tangkap!


Berubah menjadi dominan biru muda.


Kalau perubahan yang halus ini berhasil dilihat dengan baik oleh penguji di sisi lain, aplikasi sudah--dalam bahasa teknisnya--jagoan neon!

Intinya, pengembangan aplikasi adalah aktivitas yang sangat teknis. Karena itu, manfaatkanlah pengujian sebagai kegiatan yang nonteknis dan menyenangkan. Walau tentu saja ada batasnya. Sebagai contoh, saya ingin menguji aplikasi ini dengan menyanyi. Namun, ada alasan kenapa orang-orang Jepang menciptakan karaoke: karena tidak ada hukum yang bisa melarang sejumlah orang bernyanyi--walaupun itu membahayakan kesehatan mental orang-orang di sekitarnya.

Sayangnya, di kantor saya, ada juga pendapat bahwa tidak ada hukum yang melarang orang-orang untuk merajam penyanyi lupa diri. (Dan bola berubah bentuk itu ternyata cukup menyakitkan kalau kena kepala.)

Tuesday, October 02, 2007

Prinsip Mengepak Barang Nomor Satu (bagi Pria Beristri)

Jangan menentang saran istri Anda.

Walaupun tidak setuju, jangan--dan saya ulangi--JANGAN sekali-kali menentangnya. Iyakan saja. Karena kita sendiri yang akan kena batunya.

Terakhir kali ke Bali, saya dibekali jel untuk memijat kaki yang pegal. Satu tube besar. Dan saya sama sekali tidak pernah memakainya. Saat itu hanya jalan kaki sedikit. Dan sama sekali tidak ada bahaya pegal. Karena itu, waktu mengemas keperluan untuk ke Ubud, saya menolak membawanya lagi. "Sudah, lah. Enggak akan kepake, kok. Yakin!"

Ternyata, saya harus beberapa kali berjalan ke tempat yang menurut warga setempat "dekat". Padahal sebenarnya rute biathlon. Belum termasuk kala saya tersesat dalam mencari penginapan. Dan seakan-akan itu belum cukup, saya juga meremehkan jarak bersepeda.

Ya, akhirnya saya menyewa sepeda. Lantas, mencobanya sekali untuk pergi ke restoran Bebek Bengil dari penginapan (sekitar satu kilometer menanjak dan menurun). Enteng.

Keesokan paginya, saya mengendarai sepeda itu untuk menghadiri konferensi di Indus. Berdasarkan gambar peta di buku panduan, jaraknya kira-kira sama. Ternyata, peta itu digambar oleh keturunan dari orang yang bilang pada Christopher Columbus bahwa India itu "dekat" dengan Eropa.

Waktu jalan menurun sih saya senang-senang saja. Tiba-tiba mulai menanjak. Dan saat kaki sudah mulai kesemutan, ujung jalan bahkan belum terlihat. Saya masih bertahan berkat mengingat kata-kata seorang teman, "Jangan khawatir, radius jalan-jalan di sekitar Ubud sih nggak nyampe tiga kilometer kok." Tiba-tiba di tengah tanjakan saya melihat papan lalu lintas bertuliskan: Ubud coret.

Saya langsung turun, ambil napas, dan menenteng sepeda sepanjang sisa jalan. Begitu sampai di Indus, kemeja saya basah kuyup oleh keringat. Saya terpaksa mengaso dulu di Media Room. Mbak Tina, ketua pelaksana harian, langsung menertawai saya dan meminjamkan kipas angin listrik. Ini sebenarnya masih tidak apa-apa, sampai saya ingat, bahwa saya harus mengendarai sepeda itu kembali ke penginapan.

Jelas, kaki saya pegal-pegal saat kembali ke penginapan. Dan tidak ada jel kaki.

Jadi, walaupun istri Anda menyarankan untuk membawa gajah sekali pun, menurut sajalah. Kalau Anda menolak atau bahkan menertawakan ide itu, bersiap-siap untuk menelan tawa sendiri. Jangan-jangan lokasi Anda mendadak diserbu macan. Dan saat orang-orang di sekitar Anda berseru panik, "Aaah! Coba ada gajah! Kita akan selamat!" jangan menelepon istri Anda untuk minta tolong.

Dia akan bilang, "Oh, nggak bawa gajah, ya? Kok bisa? Istri kamu nggak ngingetin?"

Melihat Karena Percaya

Gambar penari di sebelah ini menyebar luas di Internet dengan subjek: Apakah Anda dominan otak kiri atau kanan?

Gambar seutuhnya sendiri dapat dilihat di sini. (Silakan klik untuk melihat animasinya. Dan terima kasih kepada Santa untuk menyediakan tempat.) Konon, jika kita melihat penarinya berputar searah jarum jam, berarti otak kiri kita yang dominan. Dan sebaliknya, otak kanan yang dominan jika berputar berlawanan jarum jam.

Apa benar begitu?

Sepertinya tidak. Menurut rekan kerja saya, Wahyudi Pratama, seorang desainer grafis berpengalaman, gambar ini hanya menggunakan trik untuk menipu mata kita. Animasi gif ini sebenarnya terdiri dari dua bagian, bagian dengan sang penari mengangkat kaki kiri. Dan bagian yang mengangkat kaki kanan. Dengan kata lain, ini sebenarnya gambar yang dibalikkan dengan efek cermin (mirror). Lantas dianimasikan dengan gaya pendulum. Sehingga terasa seakan-akan berputar penuh.

Ini kuncinya: saat otak kita sudah memutuskan bahwa sang penari berputar berlawanan arah jarum jam seterusnya kita akan melihatnya begitu. Sebaliknya juga berlaku. Ini bukanlah masalah bagian otak yang dominan. Ini lebih ke arah ilusi mata.

Bagaimana cara melihat putaran sebaliknya? Cobalah lihat ke atas layar komputer. Tapi pertahankan gambar tetap terlihat di ujung bawah mata kita. Lantas, paksa otak kita untuk melihat agar gambar tersebut berputar ke arah sebaliknya. Saat berhasil, pelan-pelan turunkan pandangan kita hingga menatap langsung ke gambar. Begitu saja.

Jelas, ini bukan berarti bahwa dominasi otak kita berubah hanya dengan mengangkat pandangan. Ini hanya menunjukkan bahwa ilusi ini bisa kita lawan dengan trik penangkalnya.

Satu kunci lagi: jika kita menyangkal bahwa animasi ini bisa kita lihat berputar ke dua arah berbeda, kita tidak akan bisa melihatnya. Dalam kasus ini, kita tidak percaya dengan melihat. Seeing is not believing. Justru malah kita melihat karena percaya. Believing is seeing.

Dalam perbedaan pendapat, sering kali inilah yang terjadi. Kita dari awal sudah menyangkal kata-kata orang lain. Karena itu, kita otomatis menolak untuk mendengarkan. Kita tidak akan melihat bahwa ada sudut pandang lain.

Padahal, kita bisa melihat gambaran secara utuh saat kita mengerti minimal kedua sisi yang bertolak belakang. Seperti pada contoh penari ini. Kita bisa tahu ini adalah ilusi mata, hanya setelah kita bisa menerima persepsi bahwa putarannya bisa searah jarum jam, atau berlawanan arah. Tergantung cara kita memandang.

Saat ada pendapat yang sama sekali bertentangan dengan kita, cobalah telusuri dahulu. Jangan serta-merta menolaknya. Jangan-jangan ada gambaran utuh yang kita lewatkan, hanya karena kita menolak untuk melihatnya.

Sunday, September 30, 2007

Laporan UWRF: Berbincang dengan Kiran Desai

Setelah menghilang beberapa tahun, Kiran Desai muncul kembali dengan novel keduanya, Inheritance of Loss, yang langsung memenangkan Man Booker Prize. Kiran menjadi wanita termuda yang memenangkan salah satu penghargaan sastra yang paling bergengsi di dunia ini.

Setelah memperkenalkan Kiran, sang moderator, Nury Vitacchi langsung menodong, "Ayo mengaku saja, ibumu (Anita Desai) yang menulisnya, kan?"

Setelah tawanya mereda, Kiran menjelaskan bahwa ia pun baru menyadari setelah besar bahwa saat di New Delhi, ia tinggal di dekat dua penulis India legendaris. Salah satu di antara mereka bahkan merupakan teman masa kecil ibunya.

"Apakah itu yang mendorong kamu bercita-cita jadi penulis dari kecil?" tanya Nury.

"Tidak. Saya ingin jadi ilmuwan," jawab Kiran. Tapi kemudian ia menyadari bahwa bukan itu yang ia inginkan. Apalagi setelah mempelajari hal-hal seperti kanibalisme jangkrik, walaupun itu adalah salah satu hal yang akhirnya ia gunakan dalam novelnya. Ia mulai menulis setelah mengikuti sebuah lokakarya penulisan. Naskah pertamanya berjudul Twilight and the Office Manuals. Nury langsung berkomentar bahwa pemilihan judulnya sudah jauh lebih membaik sekarang.

Dalam Inheritance of Loss, ada deskripsi memikat mengenai sebuah rumah di tengah hutan. "Bagaimana cara kamu menulis adegan itu?" tanya Nury. "Apakah kamu harus pergi ke satu tempat khusus untuk menulisnya?"

Kiran menggeleng dan berkata bahwa dia menulis di mana saja. "Tapi tidak (termasuk) New York," tambahnya sambil tersenyum. Menurutnya memang ironis bahwa dia harus meninggalkan kota tempat tinggalnya demi menulis.

Nury menanyakan keadaan finansial Kiran. "Apakah kamu ada mata pencaharian lain (di luar menulis)?"

"Tidak," ujar Kiran. Sumber dananya hanya dari royalti novel pertamanya, Hullabaloo in the Guava Orchard, yang sempat memenangkan penghargaan sastra. Dan itu pun terbatas. Sehingga walaupun ia masih bisa makan, ia mengalami kesulitan untuk membayar berbagai tagihan. Kiran bergurau bahwa ia sampai sempat merenungkan nasihat (orang-orang tua India) untuk menikahi seorang pria pebisnis kaya. Namun, ia menyadari bahwa ia sudah melewatkan kesempatan itu pada usianya sekarang (36 tahun pada tanggal 3 September lalu).

"Apakah itu sebabnya kamu menghilang setelah novel pertamamu pada tahun 1998?" tanya Nury. Kiran baru muncul kembali pada tahun 2006 dengan novel keduanya ini.

Kiran mulai menjelaskan, bahwa pertama-tama, draf pertama naskahnya mencapai 1500 halaman. Pada akhirnya, ia berhasil menyunting naskah tersebut menjadi 500 halaman. Tapi bahkan setelah itu selesai, semua penerbit di Inggris menolak menerbitkannya. Semua editor yang ia temui takut menyentuh naskah tersebut. "Jadi siapa lagi yang bisa menyuntingnya?" ujar Kiran. Ia kemudian terpaksa mencari editor lepas. Bahkan editor itu pun menyuarakan pendapat serupa, "[Cerita] ini tidak akan laku." Seorang editor dari The New Yorker bahkan berkata, "Ini adalah buku terburuk yang pernah kubaca."

Setelah memenangkan penghargaan Man Booker Prize, Kiran sempat bertemu dengan editor itu lagi. Dan sang editor berkomentar bahwa, "yang sekarang jauh berbeda dari yang kubaca dulu."

"Sama sekali tidak," ujar Kiran kepada para hadirin. "Ini buku yang sama."

Ayah Kiran juga memberikan komentar, walau hanya menyangkut judul, "Kenapa judulnya begitu? Kenapa kamu tidak menamainya The Loss of Inheritance saja?" Di tengah tawa, Kiran menambahkan, "Dan ia mengira bahwa semua orang akan lebih mudah menangkap [judul itu]."

Kiran mengamati bahwa sebagian besar cerita fiksi sekarang terlihat begitu sempurna. Tertulis sempurna dan terbaca sempurna. Dia mencontohkan cerita-cerita di The New Yorker yang begitu sempurna sehingga "terasa seperti periklanan." Cerita-cerita tersebut bagaikan ditulis untuk orang-orang yang sempurna. "Padahal, kita sama sekali bukan."

Pada sesi tanya jawab, seseorang bertanya bagaimana Kiran menulis novelnya. Apakah ia membuat kerangka terlebih dahulu?

Kiran menggeleng, "Saya tidak memiliki disiplin sama sekali dalam menulis." Ia menjelaskan bahwa ia hanya menuliskan semuanya. Dan kemudian meng-"cut and paste" bagian-bagian hingga terasa benar. Ia menstrukturkan tulisannya berdasarkan emosi yang ingin ia curahkan.

"Apakah Anda menulis novel dengan mengira-ngira seperti apa emosi seseorang ketika membacanya?" tanya seorang lagi. "Tidak," jawab Kiran. "Saya tidak bisa mengukur apa yang akan seseorang rasakan saat membaca karya saya." Menurutnya, dua orang bisa saja mengalami perasaan yang berbeda ketika membaca novel yang sama.

Ketika ditanya apakah kesuksesan dramatis buku keduanya, setelah ditolak oleh begitu banyak penerbit, membuatnya menjadi lebih percaya diri dalam menulis, Kiran menjawab, "Penulisan [kreatif] timbul dari keraguan."

Kiran juga berkomentar bagaimana ia menikmati sambutan Indonesia yang jauh lebih ramah daripada negara-negara Eropa yang pernah ia kunjungi. Imigrasi di benua Eropa cenderung memandangnya dengan penuh curiga. Nury mengakhiri dengan cerita tentang seorang penulis India pernah dipersulit di bagian imigrasi sebuah negara Eropa.

Alasannya? Karena pihak imigrasi mengira penulis tersebut ingin menyelundup masuk untuk menjadi pencuci piring di restoran kari India.