[Penulisan Kreatif] Kreatif Beraturan? Itu Bukannya Kontradiksi?
Aturan umumnya memiliki dua fungsi: sebagai pengekang maupun sebagai konvensi. Dalam banyak hal, kedua fungsi ini terkait persepsi. Tergantung seseorang menyikapinya. Jika menganggap aturan sebagai sekedar kekangan, maka akan terkekanglah ia. Memang, ada beberapa aturan yang mau berpikir sepositif apapun tetap saja mengekang.
Aturan Nazi, contohnya, (Jika kamu bukan ras Arya, maka kamu inferior).
Namun, ada aturan lain yang bersifat sebagai pedoman menuju sistematis. Dan ini bermaksud baik. Misalnya, EYD berkaitan tanda baca. Aturan ini bermaksud membuat konvensi, sesuatu yang digunakan agar interpretasi pembaca sesuai dengan maksud penulis.
Saat membaca karya pop akhir-akhir ini, saya melihat banyak penulis yang melalaikan aturan tanda baca. Terutama berkaitan dialog. Dan ini cukup membingungkan karena, sebagai contoh, saya tidak bisa membedakan seorang karakter yang berteriak, "Kemarikan guci itu!!!!!!!!" dengan karakter lain yang membalas "TIDAK!!!" Apalagi saat karakter pertama membalas, "KENAPA tidak??!!!?!!"
Saya bingung karena tiga alasan:
- Bagaimana membedakan teriakan dengan tiga tanda seru (apakah seperti lolongan serigala?) dengan delapan tanda seru (lolongan Celine Dion?)
- Mana yang lebih keras; tiga tanda seru dengan huruf BESAR atau delapan tanda seru dengan huruf kecil?
- Guci seperti apa yang bisa mendorong orang untuk memperebutkannya dengan gaya sinetron?
Lima Poin Penulisan Dialog
1) Koma, titik, tanda seru, atau tanda baca berada dalam kurungan tanda kutip ("), bukan di luarnya.
Contoh benar:
"Kira-kira seperti ini," ujar si Raru.Contoh salah:
"Bukan seperti ini toh.", si Siuk menggaruk-garuk kepala.
2) Jika sudah ada titik, koma, tanda seru, atau tanda baca dalam tanda kutip, jangan diberi tanda koma lagi.
Contoh benar:
"Seperti ini?" tanya si penyunting.Contoh salah:
"Ngaco, yang bener itu yang ini!", ujar si pencinta koma.
3) Penulisan dialog terpisah yang dua-duanya menggunakan tanda koma hanya boleh jika dialog tersebut adalah kalimat tunggal.
Contoh benar:
"Siapa," si Matupang menoleh, "itu?"Benar karena "Siapa itu?" adalah kalimat tunggal.
Catatan: dengan sendirinya, "itu" ditulis dengan huruf kecil, karena merupakan bagian kalimat.
Contoh salah:
"Siapa," lirik si Sikananjalan, "Bukan aku, kok!"Salah karena kalimat aslinya adalah "Siapa? Bukan aku, kok!"
4) Untuk penggunaan tanda kutip yang tidak menyangkut dialog, tanda baca diletakkan setelah tanda kutip.
Contoh:
Di halaman depan tertera "Makalah Tanpa Judul".
5) Tidak boleh ada dua karakter berbicara pada paragraf yang sama. Jika A sudah selesai bicara dan diganti dengan B, maka harus menggunakan alinea baru.
Ini adalah konvensi yang berfungsi untuk menjelaskan siapa yang bicara. Jadi dalam beberapa kasus, walaupun penulis tidak memberikan deskripsi, bisa ketahuan.
Contoh:
Toni melempar penghapus pada Felix. Dengan lentur, penghapus karet tersebut membal dari jidat temannya.
"Apaan, sih!" bentak Felix.
"Nggak apa-apa. Kita lagi perlu contoh dialog."
"Pake cara lebih sopan dikit, nape!"
Toni terdiam. Ia mengambil penghapus karet yang terpental balik ke dekat kakinya. "Permisi," ujarnya, sebelum melontarkan penghapus yang sama pada jidat Felix.
Pedoman penulisan EYD lain bisa disimak di blog Polisi EYD





Klik untuk bergabung dengan writerstavern
9 umpan balik:
Mas, terima kasih penjelasannya. Ini menarik dan bermanfaat sekali. Boleh request gak? Posting berikutnya ttg tanda koma dong (permintaan yg sama buat Polisi EYD). Btw, kl utk hal-hal yg tercetak, gue sih cenderung menyalahkan editornya daripada penulisnya, hehe..
informatif mas. btw, pasti dah baca supernova yg petir, kan? di situ tanda bacanya minim banget. kalo ga salah ga ada tanda kutip. takjub gw. komentar mas gimana?
menurut gw sah aja kan?
Informatif sekali, keep up the good work :)
Sama-sama this_girl. Request sih boleh, tapi dikabulkan belum tentu, hehe. Ngejelasin sih pengen. Tapi akhir-akhir ini kalau aku bikin waktu untuk post, yang lain akan terbengkalai. Berhubung kita nggak bisa nongkrong dan ngobrol, jadi asumsikan saja tidak ada, ya? Hehe.
Makasih duniainihaseum. Nice nick, btw. Menurutku juga sah dengan satu alasan: konvensi itu dibuat dengan tujuan tertentu. Tanda kutip dalam hal ini diciptakan sebagai konvensi agar pembaca dapat membedakan dengan mudah mana yang dialog dan mana yang bukan.
Nah, jadi keputusannya ada di tangan pembaca. Kalau tanpa tanda kutip ternyata masih bisa membedakan dengan mudah mana yang dialog dan mana yang bukan, berarti tujuannya sudah tercapai. Jadi tak apa lah melanggar konvensi.
Saya ulang, tak masalah melanggar konvensi (dalam kasus ini pedoman, aturan, atau panduan penulisan [non]fiksi) manapun, asalkan tujuan konvensi tersebut tetap tercapai, tanpa ada efek samping (malas baca, pusing, letih, lesu, dll).
Makasih atas apresiasinya, wira!
wah salah doung guue ya..
"Selama ini gue bikin koma setelah tanda petik", seperti ini
supaya ngebedain., mana dialog mana si pendialog nya ...
"Busyet!".. seruku dalam hati.
tiba-tiba aku tersadar.ternyata dengan menggunakan tanda baca yang benar pesan kita lebih mudah dimengerti oleh pembaca.
"Terima kasih"
"Dari sini pun bisa dibedakan kok, Son," ujar Isman. Ia pun mengangguk pada pengomentar lain, "Sama-sama Mas Edy."
Mau tanya, kalau memakai dua kalimat yang masing-masing ada dialog bertanda kutip dalam satu paragraf yang seperti ini, "Ini dialog pertama." Kemudian dilanjutkan, "Apa benar? Jawablah, jangan mati dulu!"
*)kata "Ini" setelah tanda kutip pertama benar kapital, kah?
"Benar, Psychotrogical," jawab isman. "Dengan asumsi," lanjutnya, "bahwa yang berbicara tetap orang yang sama."
Post a Comment