Wednesday, June 29, 2005

[Penulisan Kreatif] Kreatif Beraturan? Itu Bukannya Kontradiksi?

Aturan umumnya memiliki dua fungsi: sebagai pengekang maupun sebagai konvensi. Dalam banyak hal, kedua fungsi ini terkait persepsi. Tergantung seseorang menyikapinya. Jika menganggap aturan sebagai sekedar kekangan, terkekanglah ia. Tentu saja, ada beberapa aturan yang dipikirkan sepositif apa pun tetap saja mengekang.

Aturan Nazi, contohnya. (Jika bukan ras Arya, kamu inferior.)

Namun, ada aturan lain yang bersifat sebagai pedoman menuju sistematis. Dan ini bermaksud baik. Misalnya, EYD berkaitan tanda baca. Aturan ini bermaksud membuat konvensi, yang digunakan agar interpretasi pembaca sesuai dengan maksud penulis.

Saat membaca karya fiksi debut akhir-akhir ini, saya melihat banyak penulis yang melalaikan aturan tanda baca. Terutama berkaitan dialog. Dan ini cukup membingungkan karena, sebagai contoh, saya tidak bisa membedakan antara seorang karakter yang berteriak, "Kemarikan guci itu!!!!!!!!" dan karakter lain yang membalas "TIDAK!!!" Apalagi saat karakter pertama membalas, "KENAPA tidak??!!!?!!"

Saya bingung karena tiga alasan:

  1. Bagaimana membedakan teriakan dengan tiga tanda seru (apakah seperti lolongan serigala?) dengan delapan tanda seru (lolongan Celine Dion?)

  2. Mana yang lebih keras: tiga tanda seru dengan huruf BESAR atau delapan tanda seru dengan huruf kecil?

  3. Guci seperti apa yang bisa mendorong orang untuk memperebutkannya dengan gaya sinetron?
Dengan maksud berbagi dan berdiskusi (siapa tahu Anda ingin memberi masukan seperti "Menurutku lebih ke arah lolongan Celine Dion digigit serigala, Man"), saya menyampaikan beberapa poin penulisan dialog yang saya tahu di bawah ini.



Enam Poin Penulisan Dialog (Plus Satu Nondialog)

Sebelumnya, saya tekankan bahwa walau saya bilang "dialog", poin-poin ini berlaku juga untuk monolog. Saya hanya akan menulis "dialog" karena mencantumkan "dialog/monolog" sebanyak puluhan kali akan konyol.


1) Koma, titik, tanda seru, atau tanda baca berada dalam kurungan tanda kutip ("), bukan di luarnya.

Contoh salah:
"Sepertinya begini, deh", si Likon menggaruk-garuk kepala.
Contoh benar:
"Bukan, lah. Seperti ini dong," tegas si Doharjo.

2) Jika sudah ada titik, tanda seru, atau tanda baca lain dalam tanda kutip, tak perlu menambahkan tanda koma lagi.

Contoh salah:
"Seperti ini?", tanya si pencinta koma.
Contoh benar:
"Ngaco, yang bener itu yang ini!" ujar si penyunting.

3) Penulisan dialog terpisah yang dua-duanya menggunakan tanda koma hanya boleh jika dialog tersebut adalah kalimat tunggal.

Contoh salah:
"Siapa," lirik si Sikananjalan, "Bukan aku, kok!"
Salah karena kalimat aslinya adalah "Siapa? Bukan aku, kok!"

Contoh benar:
"Siapa," si Matupang menoleh, "itu?"
Benar karena "Siapa itu?" adalah kalimat tunggal.

Catatan: dengan sendirinya, "itu" ditulis dengan huruf kecil, karena merupakan bagian kalimat.


4) Tidak disarankan ada dua karakter berbicara pada paragraf yang sama.

Jika A sudah selesai bicara dan diganti dengan B, sebaiknya menggunakan alinea baru. Ini adalah konvensi yang berfungsi untuk menjelaskan siapa yang bicara. Jadi dalam beberapa kasus, walaupun penulis tidak memberikan deskripsi, bisa ketahuan.

Contoh:
Toni melempar penghapus pada Felix. Dengan lentur, penghapus karet tersebut memantul pada jidat temannya.

"Apaan, sih!" bentak Felix.

"Nggak apa-apa. Kita lagi perlu contoh dialog."

"Pake cara lebih sopan dikit, kenape!"

Toni terdiam. Ia mengambil penghapus karet yang terpental balik ke dekat kakinya. "Permisi," ujarnya, sebelum melontarkan penghapus yang sama pada jidat Felix.


5) Jika dialog seorang tokoh memakan ruang lebih dari satu paragraf, kalimat di akhir paragraf tersebut tidak diakhiri oleh tanda kutip.

Lantas, awal paragraf berikutnya kembali diawali dengan tanda kutip.

Contoh:
Si Alan berdeham dan mulai berbicara, "'Anda bukanlah pekerjaan Anda,' ujar seorang bijak yang tak pernah diketahui pekerjaannya apa. Bisa jadi pekerjaannya adalah menyusun pepatah.

"Secara naluriah, kita tahu pepatah itu benar. Namun, ada tiga suku kata yang membuat kita sering lupa: pres-ta-si. Atau al-ko-hol, jika Anda benar-benar benci pekerjaan itu."


6) Untuk penulisan dialog bersarang, gunakan tanda petik tunggal

Dialog bersarang adalah dialog dalam dialog. (Tantangan iseng: coba ucapkan kalimat tadi secara cepat sebanyak sepuluh kali!)

Kembali serius, lihat contoh di poin (5). Alan mengutip ucapan seorang anonim. Saat mengutip, biasanya kita menggunakan tanda kutip (petik ganda). Di sini, berubah jadi tanda petik tunggal.



7) Catatan khusus: untuk penggunaan tanda kutip yang tidak menyangkut dialog, tanda baca diletakkan setelah tanda kutip.

Contoh:
Di halaman depan tertera "Makalah Tanpa Judul".



Pedoman penulisan EYD lain bisa disimak di blog Polisi EYD

11 comments:

amel said...

Mas, terima kasih penjelasannya. Ini menarik dan bermanfaat sekali. Boleh request gak? Posting berikutnya ttg tanda koma dong (permintaan yg sama buat Polisi EYD). Btw, kl utk hal-hal yg tercetak, gue sih cenderung menyalahkan editornya daripada penulisnya, hehe..

ajag said...

informatif mas. btw, pasti dah baca supernova yg petir, kan? di situ tanda bacanya minim banget. kalo ga salah ga ada tanda kutip. takjub gw. komentar mas gimana?
menurut gw sah aja kan?

Wira said...

Informatif sekali, keep up the good work :)

the fool said...

Sama-sama this_girl. Request sih boleh, tapi dikabulkan belum tentu, hehe. Ngejelasin sih pengen. Tapi akhir-akhir ini kalau aku bikin waktu untuk post, yang lain akan terbengkalai. Berhubung kita nggak bisa nongkrong dan ngobrol, jadi asumsikan saja tidak ada, ya? Hehe.

Makasih duniainihaseum. Nice nick, btw. Menurutku juga sah dengan satu alasan: konvensi itu dibuat dengan tujuan tertentu. Tanda kutip dalam hal ini diciptakan sebagai konvensi agar pembaca dapat membedakan dengan mudah mana yang dialog dan mana yang bukan.

Nah, jadi keputusannya ada di tangan pembaca. Kalau tanpa tanda kutip ternyata masih bisa membedakan dengan mudah mana yang dialog dan mana yang bukan, berarti tujuannya sudah tercapai. Jadi tak apa lah melanggar konvensi.

Saya ulang, tak masalah melanggar konvensi (dalam kasus ini pedoman, aturan, atau panduan penulisan [non]fiksi) manapun, asalkan tujuan konvensi tersebut tetap tercapai, tanpa ada efek samping (malas baca, pusing, letih, lesu, dll).

Makasih atas apresiasinya, wira!

snydez said...

wah salah doung guue ya..
"Selama ini gue bikin koma setelah tanda petik", seperti ini

supaya ngebedain., mana dialog mana si pendialog nya ...

edy purwaka said...

"Busyet!".. seruku dalam hati.
tiba-tiba aku tersadar.ternyata dengan menggunakan tanda baca yang benar pesan kita lebih mudah dimengerti oleh pembaca.

"Terima kasih"

isman said...

"Dari sini pun bisa dibedakan kok, Son," ujar Isman. Ia pun mengangguk pada pengomentar lain, "Sama-sama Mas Edy."

Psychotrogical said...

Mau tanya, kalau memakai dua kalimat yang masing-masing ada dialog bertanda kutip dalam satu paragraf yang seperti ini, "Ini dialog pertama." Kemudian dilanjutkan, "Apa benar? Jawablah, jangan mati dulu!"

*)kata "Ini" setelah tanda kutip pertama benar kapital, kah?

isman said...

"Benar, Psychotrogical," jawab isman. "Dengan asumsi," lanjutnya, "bahwa yang berbicara tetap orang yang sama."

Anonymous said...

masih bingung dengan poin no.5. bisa diberi contoh lain lagi Isman-san. arigatou...^^

Anonymous said...

masih bingung dengan poin no.5. bisa diberi contoh lain lagi Isman-san. arigatou...^^