Friday, February 25, 2011

Apa Yang Kita Sampaikan Dari Perbuatan Kita?

Menjelang malam Minggu lalu saya mengantar pulang teman yang sedang sakit kepala. Sepanjang perjalanan sesekali mengaduh karena campur migren. Tapi di suatu belokan, ia mendadak minta berhenti.

"Ada apa?" tanya saya cemas, "Mau muntah?"

"Nggak," gelengnya lemah. "Lihat ada lumpia goreng jadi tergoda."

"Halah!" ujar saya. "Dasar perut Melayu. Udah sakit kepala tingkat dewa aja, perutnya masih ada pikiran sendiri."

Kami pun turun. Gerobak lumpia goreng itu terletak di kelokan. Di sekelilingnya, warung makanan mulai buka mempersiapkan jualan. Anehnya, gerobak itu tampak kosong, tak terjaga.

Lihat kanan-kiri. Tidak ada orang yang peduli kami berdiri di samping gerobak itu. "Misi, Mas," sapa saya pada seseorang yang sedang mendirikan tenda berjualan gudeg. "Yang jaga lumpia ke mana, ya?"

"Oh," dia juga menengok kanan dan kiri. "Kayaknya salat, Mas. Tunggu aja."

Saya melirik teman saya yang memegangi keningnya. "Nanti lagi, deh. Gua anterin pulang dulu, ya?"

"Nggak apa-apa, gue di sini aja," ucapnya. Ia lalu menyandar ke pagar.

"Lu pulang aja, Man."

"Hah? Ketahuan gue ninggalin lu di sini lagi kepayahan gitu? Dibunuh bini lu ntar."

Dia hanya menjulurkan lidah.

"Eh serius," lanjut saya. "Gue anterin. Nanti gue ke sini lagi deh, beliin kalau segitu maunya."

Dia hanya menggeleng sambil memejamkan mata. Kalau sudah begini, saya menyerah. Mau Indonesia ikutan perang dunia juga, dia paling hanya cari tempat perlindungan dan nunggu. Jangan-jangan malah update Twitter, "Kalau ada yang ketemu tukang lumpia goreng, tolong kasih tahu ya, gue lagi nunggu."

Akhirnya saya temani. Tanpa bersuara. Langit semakin menggelap. Hingga sekitar 20 menit, sang penjual lumpia pun datang. Ia lantas membeli dua puluh, minta dipisah dalam dua kantung berisi sepuluh.

Kembali dalam mobil, saya berkomentar dalam perjalanan, "Buat siapa sepuluh lagi?"

Dia terkekeh sambil memejamkan mata, "Udah ngiler, pake nanya."

"Makasih kalau gitu," kata saya. "Tapi ngapain ngotot banget sih nungguin? Kan udah gua bilang, gue bisa balik lagi."

"Tapi jadinya ngasih pesan yang keliru, Man," jawabnya, masih memejamkan mata.

"Pesan apaan? 'Aku cinta lumpia'?"

Ia mengekeh lagi, "Nanti bikin tukangnya ngira hilang rezeki karena salat."

DEG! Jantung saya serasa ditabuh. Mobil saya tetap mengarungi jalan menuju komplek perumahannya. Namun pikiran saya melayang ke kilas balik peristiwa tadi. Saya sama sekali tidak terpikir sampai ke sana. Sang penjual meninggalkan dagangannya untuk beribadah, dengan penuh kepercayaan bahwa rekan-rekannya akan saling menjaga. Dan juga rezeki tidak akan hilang.

Namun, jika ratusan orang berbuat seperti saya, yang datang saat dia tidak ada lalu meninggalkannya karena tidak sabar, itu bisa jadi malah membuat dia goyah. Atau menunjukkan ke rekan-rekan penjual lain: tidak ada gunanya beribadah--hanya mengusir pelanggan. Apakah itu yang mau saya sampaikan pada orang lain?

Berapa banyak di antara kita yang pernah menyela antrean? Jika kita berhasil melakukannya, senangkah? Bisa jadi. Namun, pesan yang muncul bagi orang yang ngantre dengan tertib adalah: "Tertib tidak ada gunanya. Malah rugi." Ke depannya, bisa jadi orang yang tertib jadi tidak karena itu.

Keterlambatan juga sama. Ada orang yang datang dari sejam lalu. Tapi acara ditunda setengah jam karena menunggu orang yang terlambat. Jika ini dibiarkan, pesan apa yang muncul? "Tepat waktu tidak ada gunanya. Rugi." Dan itu baru dua contoh.

Masih dipenuhi rasa bersalah, saya menoleh padanya. Teman saya masih berbaring di jok dengan mata terpejam. "Padahal lu..." Saya berhenti.

Dia membuka mata, "Gue kenapa?"

"Nggak apa-apa," ralat saya. "Cuman jelek. Tapi itu emang gak ketolong dari dulu."

"Gue hadir di dunia biar lu gak sendirian dalam kejelekan lu, Man," balasnya tanpa membuka mata.

Yang sebenarnya saya ingin katakan adalah, "Padahal lu bukan muslim." Tapi bertahun-tahun bersahabat dengannya, saya sudah sering melihatnya menentang keras penggunaan agama atau kepercayaan sebagai label. Beberapa kata tidak perlu diucapkan.

Dan beberapa pesan justru lebih jelas dan lantang disampaikan melalui tindakan. Hari itu saya kembali diingatkan oleh sang teman, yang susah payah menahan sakit kepala dan bersabar menunggu demi menyampaikan satu pesan: "Apa yang kamu lakukan itu bagus. Teruskanlah!"

Dan juga pada saya: "Jangan hanya berbicara melalui ucapan. Namun juga dari tindakan."