Thursday, February 22, 2007

Mengapa Para Calon Ayah Sebaiknya tidak Bisa Berbicara Lewat Perut

Karena kami akan merusak semua momen penting.

Tadi siang, saya menemani Donna memeriksakan kehamilannya. Asisten dokter menempelkan ultrasound scanner ke perut Donna untuk mencari detak jantung bayi. Terdengarlah suara statik keresek keresek seperti sound system panggung. Dalam hati, saya langsung berharap saya adalah seorang ventriloquist, hingga bisa menirukan suara orang berbicara di mik, "Tes. Tes satu, dua, tiga. Tes." Dan terdengar seakan-akan keluar dari speaker-nya langsung.

Kalau itu gagal membuat asistennya melotot, lain kali saya akan mencoba menirukan:
a) Suara Bugs Bunny, "Ehhh... what's up, doc?"
b) Nyanyian Sound of Music, "...La--a note to follow So!"
c) Suara panggilan radio dari astronot, "Houston, we have a problem."

Bagaimana saat proses kelahiran? Tidak ada yang lebih mengharukan daripada saat kita menyaksikan dokter/bidan mengangkat bayi yang masih merah, lantas membuat sang bayi seakan-akan berteriak seperti Mel Gibson pada adegan klimaks Braveheart, "Freeeeedooooooooom!"

Saya tidak heran kalau besok-besoknya ada foto saya tertempel di seluruh rumah sakit bersalin Bandung, dengan tulisan "Enyah!"

2 comments:

snydez said...

dan juga sebaiknya tidak punya kemampuan hacking
soalnya nanti di USG screen nya bisa disusupi gambar gambar kartun :D

isman said...

Udah gitu, diukur pula ama dokternya, snydez. "Anak Ibu kira-kira 51 cm--kalau tidak menghitung telinga. Beratnya entah, soalnya dua dimensi."