Friday, January 05, 2007

[Penulisan Kreatif] Apakah Lebih Sedikit Berarti Lebih Banyak?

Pascal, sang filsuf Perancis, pernah menulis: Saya haturkan maaf karena surat ini begitu panjang; [seandainya] saya memiliki waktu lebih lama, [surat ini] akan lebih pendek.

Itu juga yang disampaikan Stephen King dalam "On Writing". Ia memberi kisaran umum bahwa setelah proses penyuntingan, naskah kita seharusnya berkurang sekitar 10%. Ia malah mengimplikasikan bahwa jika tidak, berarti penyuntingan kita buruk.

Benarkah begitu? Setidaknya dunia penerbitan Indonesia belum mengadopsi paham ini. Penyuntingan masih diarahkan kepada konsistensi karakterisasi, situasi, semantik, dan sintaks. Asalkan sesuai, silakan saja mengumbar kata.

Dunia periklanan Indonesia malah terbalik. Slogan yang sering dikumandangkan adalah "Less is more! (More chances to play the ad three times, that is. And to hell with grammars)."

Dunia sinetron? Jawabannya bisa saya rangkum dalam dua kata: Sinetron Hidayah. Kalau memang bagi mereka less is more, sinetron hidayah akan berdurasi hanya sekitar tiga detik. Mereka cukup menayangkan judul, misalnya, "Istri Doyan Chatting Kena Azab." Dan sudah, tamat. Karena semua inti cerita terangkum di situ.

Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Apakah kita lebih suka mendengar orang yang berbicara panjang lebar sebelum ke inti masalah? Atau orang yang langsung ke inti masalah?

Jawabannya: tergantung bagaimana ia berbicara. Kalau menarik, kita mau-mau saja. Kalau tidak? Selagi seseorang semangat berbicara, bisa jadi yang kita pikirkan adalah, "Lubang hidungnya gede juga, ya?"

Penulisan kreatif pun sama, khususnya masalah penyuntingan. Karena itu, menurut saya, pedoman dari Stephen King perlu dilengkapi:

  1. Bikinlah tulisan menjadi lebih singkat, atau
  2. Bikin jadi lebih menarik
Misalkan, kita ingin menyampaikan dialog superpanjang antara dua tokoh. Tanyakan tiga hal berikut:
  • Kalau dipotong, pengaruh ke cerita nggak?
  • Kalau tidak dipotong, menarik bagi pembaca nggak?
  • Selain dari "sayang kalau dipotong", apakah ada alasan lain kenapa bagian ini harus dipertahankan?
Kalau jawaban untuk ketiganya adalah "tidak", potonglah. Hargai pembaca kita.

Namun itu pendapat saya. Silakan saja berbeda.

Thursday, January 04, 2007

Solusi Buat Pemerintah Kita

Humas terpusat.

Ya, bayangkanlah sebagai satu orang, yang akan kita sebut sebagai Sang Humas. Orang ini seperti desainer fesyen, minus hiperaktivitas, kegemulaian, dan bahasa gaul. Dan satu-satunya yang ia betulkan adalah ucapan para pejabat kita sebelum mereka bicara ke media.

"Alhamdulillah, hanya dua yang meninggal," ujar Menteri Agama.

"Emmm, lebih baik ubah kata-katanya deh, Pak," tukas Sang Humas.

"Puji syukur hanya dua yang meninggal?" tanya Maftuh.

Sang Humas menggeleng tegas. "Lebih baik hilangkan sekaligus satu kalimat itu."

"Kenapa saya bilang Alhamdulillah? Sebab tadi saya pikir hal ini akan menyebabkan banyak korban," jelas Maftuh.

"Pak," Sang Humas menghela napas. "Gimana kalau diam aja? Pura-pura sakit tenggorok atau--nggak, nggak, jangan pake bahasa isyarat. Iya, percaya deh, jari tengah itu bukan isyarat berduka yang baik."

"Kalau 'Korbannya siapa? Siapa yang dirugikan'?" tanya Kabid Penum Mabes Polri Kombes Pol Bambang Kuncoko.

"Gimana dengan '...karena faktor letih dan banyaknya informasi yang diterima, jadi suka salah ngomong'?" tanya Menteri Perhubungan, Hatta Rajasa.

"Terserah, lah," tunduk Sang Humas. "Saya nyerah."

Wednesday, January 03, 2007

Saat Nyamuk Sakau dan Berencana Menguasai Dunia

Setelah bosan menjadi donor darah bagi PNI (Persatuan Nyamuk Indonesia), pagi ini saya memasang obat nyamuk listrik. Dalam waktu sepuluh detik, wanginya mulai menyengat.

Tadinya saya dikelilingi dua nyamuk yang terus-menerus berdengung. (Dalam bahasa nyamuk, mereka sebenarnya berkata, "Pak kasihan, Pak. Belum ngisep darah, Pak. Pak kasihan, Pak...") Namun begitu wangi antinyamuk sudah beraksi, jumlah ini langsung berubah drastis!

Jadi lima.

Dan kelakuan mereka malah mengganas. Terbang akrobatik di depan wajah saya. Hinggap di layar laptop. Dan puncaknya, empat di antara mereka mulai kawin. Apa obat nyamuk ini nggak berefek? Atau malah saking berefeknya, mereka jadi sakau dan menggila?

Bisa jadi memang nyamuk di kantor saya yang sudah berevolusi. Kadang saya merasa mereka lebih pintar dari yang terlihat. Sebagian besar dari mereka sudah bisa melayang tanpa dengung sekarang. Sehingga bisa saja ada rekan kantor yang makan siang di taman. Begitu balik, tiba-tiba dahinya memiliki dua jendol. (Dan ini bukan karena jidatnya nongnong.)

Mereka juga sudah memiliki taktik gerilya. Dua nyamuk akan terbang penuh dengung di dekat kuping kiri. Saat saya akhirnya sebal dan menghujani mereka dengan tepukan--tentunya meleset semua--tahu-tahu, pipi kanan saya gatal dan bentol.

Yang lebih mengerikan: mereka tahu tempat mana yang aman dari serangan. Mereka sudah belajar manuver terbang tipis di monitor. Sehingga kita tidak bisa menampar mereka. Seekor nyamuk bahkan pernah hinggap, dengan cueknya, di atas tombol power laptop. Saya terpecah oleh dua keinginan: membuat si tengil itu penyet atau mengabadikannya dengan kamera?

Jangan-jangan, suatu hari mereka pun akan mulai belajar membenturkan diri ke tuts keyboard secara terorganisir. Dan kita akan bisa menyaksikan blog nyamuk pertama di dun--HAHAHA! KAMI AKAN MENGUASAI DUNIA.

Wednesday, December 20, 2006

Tip Disiplin Anak #11

Sulit mengendalikan kelakuan anak Anda? Belikanlah kostum ini.


Dan katakan--dengan penuh kasih sayang--bahwa jika tidak menurut, ia akan mengenakan kostum ini ke pesta ulang tahun temannya.

Wednesday, December 13, 2006

Resensi Film Tahun Ini: Brokeback Cubicle

Brokeback Cubicle bercerita tentang dua boneka yang bekerja sebagai penghibur pegawai kantoran. Mereka harus rela disentuh, dipasang, dilempar, bahkan difoto dalam keadaan apa pun. Kira-kira seperti ME kepada YZ. Tapi legal dan diterima secara sosial. Ini adalah pekerjaan yang setingkat lebih baik daripada pembersih kandang kebun binatang. Perbedaannya hanya satu: penghuni kebun binatang lebih sering mandi daripada pegawai kantoran.

Penuh adegan mengharukan (seperti terlihat di samping), BC menyampaikan sudut pandang yang tak lazim. Kelinci Pink (dimainkan oleh Aming) dan Kucing Senyum (Agus Ringo) adalah dua rekan kerja yang lambat laun (sekitar tiga puluh menit waktu film) menjalin hubungan emosi yang terdalam.

Mereka memiliki kenangan khusus di sebuah cubicle bernama Brokeback. Suatu tempat yang merupakan simbolisme dari kasih sayang yang terlarang (minimal oleh para orangtua). Karena mereka tahu, jika para boneka di satu tempat mulai berkelakuan seperti ini, orangtua akan menyalahkan tayangan Smackdown dan majalah Playboy.

Seperti yang disampaikan oleh tokoh Layar Komputer Datar (Rizki Hanggono), "Orangtua tak pernah salah. Jika anak-anak marah-marah karena nggak bisa menonton tayangan penuh kekerasan, salahkanlah televisi. Jika anak-anak begadang untuk nonton adu pukul atau adu cium, salahkanlah pemerintah. Masa mengandalkan orangtua untuk mendidik anak? Memangnya itu tugas orangtua?"