Tuesday, January 16, 2007

Aktivitas Bersama Keluarga #1

Jika Anda adalah bagian dari sebuah keluarga besar, liburan sering kali menjadi perangkap kebosanan. Karena Anda harus mengikuti acara bersama. Dan dengan "bersama" berarti satu ruangan dengan keponakan yang hiperaktif/imajinatif, sepupu penggemar film perang/fantasi, maupun ipar yang maniak permen.

Dave, dalam blog Miss(ed) Manners, memiliki solusinya: menyusun diorama pengepungan Helm's Deep dalam Lord of The Rings: Two Towers, dengan menggunakan permen.


Dengan begitu, Anda dapat menyatukan semua minat tersebut dalam satu aktivitas. Dan bersama-sama menciptakan medan pertempuran yang enak dilihat. (Atau bahkan dimakan.)

Bonus aktivitas: setelah selesai menyusun dan mengambil foto, lakukan hom pim pa. Yang menang berhak menjadi Godzilla dan menyerbu ke kancah peperangan. Ganyang para Uruk-Hai! Dan kunyah Legolas!

Tidak Termasuk Pendidikan Mengeja

Thursday, January 11, 2007

Saat Iklan Mulai Berhipnosis

Sebuah iklan di Kompas tanggal 7 Januari menuliskan berikut ini:

Jika Anda tenaga pengajar yang kami cari, Anda tentunya bersemangat, antusias, senang mengajar dan ingin penghasilan yang stabil dan karir ke depan... Anda akan mengajar siswa dari sekolah favorit dan memberikan unjuk kerja terbaik secara pribadi dan tim. Anda siap untuk menerima tantangan jangka panjang bagi kesuksesan diri Anda sendiri...
Saya sampai harus memeriksa ulang bahwa saya sedang membaca rubrik iklan baris. Bukan artikel pemberdayaan diri (self-help). Penulis iklan ini sepertinya baru membaca buku tentang tulisan yang berdaya hipnosis. Untunglah masih berfokus kepada semangat, yang memang dibutuhkan dalam bidang ajar-mengajar.

Bayangkan saja, bagaimana jika kita menggunakannya untuk iklan jual motor bekas, misalnya?
Jika Anda pembeli yang kami cari, Anda tentunya bersemangat, antusias, memiliki tujuh juta rupiah, dan ingin membeli motor yamaha bekas tahun gak jelas dari seseorang yang butuh uang... Anda akan melihat foto motor di bawah ini dan tidak akan memperhatikan bodinya yang ringsek, rodanya yang kurang satu, dan setangnya yang terpasang terbalik. Anda siap untuk menerima semua itu sebagai tantangan jangka panjang bagi kesuksesan diri Anda sendiri... Kini Anda akan segera pergi ke ATM terdekat dan mentransfernya ke nomor di bawah foto. Setelah itu Anda akan merasa mengantuk... mata Anda terasa berat ... dan saat nanti terbangun, Anda tidak akan ingat akan iklan ini.
Tapi tentu saja hal ini tidak mungkin. Teks tidak akan semudah itu menghipnosis pembacanya, kecuali--lho! Ini motor siapa? Kok ada di kamar saya? Rodanya cuman satu, lagi.

Wednesday, January 10, 2007

[Penulisan Kreatif] Pewaktuan

Salah satu kunci untuk mempelajari penulisan berbagai genre adalah pewaktuan (timing). Genre misteri, misalnya, akan berantakan jika belum juga ketegangan berjalin, pelakunya sudah ketahuan. Bisa jadi malah salah genre.

"Nyonya Tini tewas?" seru Farhan panik. Matanya membelalak. “Siapa yang membunuhnya?”

Menghadapi reaksi temannya, Budi hanya menggaruk-garuk kepala, "Bukannya kamu?"

Farhan tertegun. "Oh, iya, ya," ujarnya sambil menepukkan kepalan ke telapak tangan.
Drama komedi juga sangat mengandalkan kepada pewaktuan. Dalam buku skenario "Arisan", Nia diNATA menjelaskan bahwa ia selalu menaruh adegan menggelitik di saat emosi memuncak. Karena ia tidak ingin adegan menjadi terlalu larut pada kesedihan, yang justru malah kental digunakan dalam sinetron.

Alasan lainnya adalah faktor pewaktuan yang tepat. Di saat emosi sedang memuncak, penonton butuh penyaluran ketegangan (tension relief). Dan dengan menaruh adegan komedi, penonton memiliki cara untuk melepaskan sebagian ketegangan itu, yakni melalui tawa. Ini yang disebut dengan comedy relief.

Sebagai contoh, pada adegan di galeri seni, tokoh Meimei ditemani dua orang kenalan yang sok suci, mengejek kelakuan orang-orang yang menurut mereka "hedon". Ternyata salah satu orang yang diejek tersebut adalah Andien, sahabat lama Meimei. Meimei bertengkar dengan Andien dan kemudian menyeretnya ke dalam WC wanita. Di dalam, pertengkaran semakin menghebat hingga Meimei sangat terpukul oleh kata-kata pedas sahabatnya. Begitu Andien meninggalkan Meimei, ternyata kedua tokoh sok suci tersebut kepergok meninggalkan salah satu ruang toilet sambil membereskan baju.(1)

Jika Anda belum pernah menonton Arisan, bisa jadi bingung: lucunya di mana? Namun saya menyaksikan sendiri bagaimana para penonton bioskop tertawa lepas di adegan ini.

Adegan ini tidak akan mengundang tawa seandainya ditaruh sembarangan. Ditaruh di awal, misalnya, mereka kepergok dulu. Lantas selanjutnya berkomentar mengenai orang-orang hedon. Jadinya bukan komedi, hanya sekadar sinis. Keberhasilan adegan ini mengundang tawa sebagian besar karena faktor tadi: pewaktuan. Saat penonton butuh tertawa untuk melepaskan ketegangan, berilah adegan yang bisa mereka manfaatkan untuk tertawa.

Intinya: pewaktuan adalah pegangan kita untuk mengeksplorasi suatu genre fiksi yang belum kita kuasai. Sebelum kita coba menulis dalam genre tersebut, bacalah karya-karya sealiran. Setelah kita menemukan pewaktuan yang alamiah, barulah coba menulis. Kalau tidak begitu, reaksi yang umumnya muncul adalah, "Ternyata susah ya, nulis cerita komedi/drama/horor/aksi/lainnya."

Bisa jadi itu pertanda kita menganggap remeh genre tersebut.

_______

(1): Sebenarnya sedikit aneh bagaimana dua orang ini bisa masuk ke toilet duluan sebelum Meimei dan temannya. Namun, ini nggak dibahas karena topiknya bukan realitas dalam fiksi (believability).

Saturday, January 06, 2007

Kata Terjahat dalam Dunia Kreativitas...

...adalah "garing". Variasinya antara lain: jayus, basi, kuno, kampungan, pasaran.

"Garing" adalah kata yang digunakan seseorang, saat malas berpikir, untuk merendahkan gagasan (lelucon, puisi, maupun cerita pun gagasan) orang lain dan meninggikan diri sendiri (karena dengan menghujat "garing", sekaligus mengklaim bahwa sang penghujat tidak garing). Alih-alih menjelaskan kenapa suatu ide tidak bekerja/lucu/autentik, kita menggunakan "garing".

Salah dua penyebab garing menjadi pilihan populer adalah waktu dan kebiasaan. Banyak orang Indonesia yang tidak siap jika diminta opini dadakan. Alhasil, yang keluar adalah opini satu kata. "Gimana acaranya?" "Keren!" "Si A gimana orangnya?" "Asik!"

Wajar saja kalau ada yang berusaha melucu dan gagal, komentar orang-orang seperti ini adalah, "Garing!" Biasa satu kata. Seperti kata pepatah, "Alah bisa[nya cuman gitu] karena biasa."

Waktu juga masalah pelik. Saat seseorang berusaha mengejek pria kurus, misalnya, dengan lelucon yang sudah diceritakan beribu-ribu kali, "Badan lu kok kayak papan cucian, sih?" Jawaban harus disampaikan sebelum lima detik. Kalau tidak, percuma. Berhubung tidak biasa, balik lagi ke "Basi!" atau "Garing ah, kreatif dikit kalau ngejek, dong."

Karena itu, sebaiknya kita membuat perjanjian baru. Dalam situasi seperti di atas, daripada menggunakan garing dan kawan-kawan, lebih baik kita bit dulu dan bertukaran nomor telepon. Nanti, saat kita sudah siap, tinggal hubungi nomor tersebut.

"Halo, bisa bicara dengan Johan?"

"Saya sendiri."

"Oke, sebentar." Terdengar suara lipatan kertas dibuka. "Kalau kau pergi ke hutan dan menebang pohon--bukan, bukan ini." Suara tangan menyibak kertas. "Nyonya, Anda terlihat cantik, tapi saya sedang mabuk--halah, bukan juga."

"Mau ngapain sih?"

"Lu kemaren menghina rambut gua?"

"Bukan. Tubuh lu yang kurus."

"Oh, salah kotret kalau gitu. Bisa gua telepon lagi nanti?"

"Silakan."

Kembali pada pembicaraan yang serius, penggunaan kata garing bertanggung jawab atas:
a) Menghalangi kita untuk berpikir dan menemukan jawaban yang lebih cerdas
Orang dalam budaya berbahasa Inggris, secara umum lebih lancar dalam menyusun dan mengucapkan opini. Ambillah contoh seperti para penyanyi rap dan atlet basketball. Mereka sering digeneralisir maupun direndahkan kemampuan intelijensinya. Namun, saat diwawancara, ucapan mereka terunut logis dan jelas. Dari ngalor ngidul sampai saling cerca (thrash talk) lancar.

Menurut saya, ini disebabkan bahasa Inggris tidak mengenal satu kata seperti "garing" yang menjadi guilotin sakti bagi lawan bicara. Kalau ucapan orang lain ngaco, kita perlu mendebat balik. Mengejek balik juga oke asalkan poin dan logikanya jelas. Dengan kata lain, semua orang dituntut untuk berpikir. Sementara dalam budaya berbahasa Indonesia, tidak usah. Cukup katakan, "Garing lu!" Beres.


b) Menghentikan proses diskusi lebih lanjut yang bisa mematangkan ide
Pernahkah Anda menyampaikan satu ide dengan berapi-api? Anda merasa yakin bahwa jika ide ini dilaksanakan seperti bayangan Anda, hasilnya pasti sukses besar. Namun, rekan Anda hanya mengerutkan kening dan berkomentar, "Garing ah. Jangan deh."

Apakah tiba-tiba Anda jadi mendapatkan pencerahan? "Oh astaga! Benar juga. Untung kamu ngomong gitu. Jadi saya tiba-tiba mendapat inspirasi baru. Kita sebaiknya melakukannya begini." Anda pun mengotret ide baru tersebut.

"Nah! Itu baru keren!" sambutnya. Dan kalian pun berjingkrak-jingkrak gembira.

Dalam dongeng saja tidak pernah terjadi.

Kenyataannya, begitu seseorang dalam kelompok memvonis garing, matilah semua energi positif. Keran-keran ide mampet. Tiap orang jadi makin takut untuk mengeluarkan pendapat. "Nanti dibilang garing lagi di depan umum. Malu dong."

Kalau Anda ingin membuat tim kreatif dalam perusahaan, coret kata garing dalam kamus bersama. Bikin SOP kalau perlu: jika ingin mengkritik ide (termasuk lelucon), harus ada alasan dan umpan balik. Kenapa ide itu buruk? Bagaimana agar bisa lebih baik? Dan barangsiapa yang mengucapkan garing harus mentraktir makan siang seluruh anggota tim. Dalam satu sesi saja, bisa jadi jatah sebulan makan siang gratis sudah tersedia.

Kunci utama: lawanlah efek sosial garing. Jika ada orang digaringi di depan publik, jangan diam saja. Dan jika Anda yang digaringi, lawan! Minta kejelasan. Minta contoh nyata kalau si penggaring (orang yang berteriak garing) itu bukan maling teriak maling. Kalau mereka masih ngotot juga, ya sudahlah.

Mereka garing sih. (Lho?)