Friday, February 02, 2007

Pojok Tanya Jawab: Bagaimana Menjadi Desainer Freelance Cover Buku

Tanya (T): Kalau desainer cover buku itu pegawai tetap penerbit atau tenaga lepas?
Jawab (J): Tergantung penerbitnya. Ada yang mempekerjakan desainer khusus untuk seluruh perwajahan muka. Ada yang menggunakan jasa desainer freelance. Ada yang mengombinasikan keduanya.

T: Wah, kalau gitu aku tertarik untuk jadi desainer freelance untuk buku. Gimana caranya ya merintis ke arah situ?
J: Sama seperti pekerjaan kreatif pada umumnya. Pertama, bikin portofolio. Kedua, sampaikan surat penawaran kerja sama ke penerbit yang kamu tuju.

T: Surat penawaran kerja sama? Maksudnya surat lamaran?
J: Surat lamaran kerja itu kalau kamu ingin jadi pegawai tetap di satu perusahaan. Tapi kan kamu maunya freelance. Jadi kamu hanya menawarkan kerja sama dalam pengerjaan desain grafis berkaitan buku.

T: Apakah saya perlu menuliskan fee saya untuk tiap proyek desain?
J: Terserah pendekatan kamu. Kalau kamu memang sudah memiliki standar sendiri, ya silakan saja cantumkan. Misalnya untuk satu desain cover, waktu pengerjaannya berapa dan biayanya berapa. Untuk ilustrasi buku anak, berapa. Dan seterusnya. Tapi ingat: penerbit besar biasanya sudah memiliki anggaran sendiri untuk pengerjaan cover. Jika ajuan biaya kamu terlalu besar dari anggaran mereka, kemungkinan besar mereka tidak akan tertarik. Dan kalau ajuan biaya kamu jauh lebih rendah dari anggaran, kamu juga yang rugi tentunya. Jika ingin mencantumkan biaya, ingatlah untuk menuliskan keterangan bahwa standar tersebut masih terbuka untuk negosiasi.

T: Portofolio seperti apa yang perlu aku susun?
J: Kalau kamu ingin bekerja sama dalam hal desain cover buku, susunlah portofolio yang menjual kemampuan dalam segi itu. Kalau ilustrasi, sesuaikan juga portofolionya.

T: Lah, aku kan baru mau terjun ke industrinya. Belum ada portofolio yang nyambung. Gimana dong?
J: Salah satu pendekatan yang bisa menarik perhatian adalah dengan mendesain ulang cover beberapa buku penerbit bersangkutan. Kalau ingin menawarkan ke Mizan, desain ulang buku-buku mereka. Ke Gramedia Pustaka Utama (GPU), ya cari judul-judul buku mereka. Lihat saja blog Kementerian Desain Republik Indonesia. Pemilik blognya, Wahyu Aditya, menarik perhatian banyak pengunjung dengan berani mendesain ulang berbagai logo.

Syarat yang seharusnya sudah jelas: desain alternatif kamu harus lebih menjual dari yang sudah ada. Untuk tiap desain, lampirkan juga satu halaman penjelasan kenapa kamu membuat desain seperti itu. Tunjukkan bahwa kamu kompeten dan mengerti industri perbukuan.


T: Oke, berarti kalau misalnya aku ingin kerja sama dengan GPU, aku coba ajukan desain alternatif buku Life Begins at Fatty?
J: Whoa, hati-hati. Life Begins at Fatty itu terbitan Grasindo. GPU, Grasindo, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), dan Bhuana Ilmu Populer (BIP) adalah penerbit yang berbeda. Walaupun berada di bawah satu payung, tetap saja manajemennya berbeda. Lihat baik-baik nama penerbitnya di ujung kiri bawah sampul belakang buku.

T: Oke, oke, kalau gitu untuk GPU, aku pilih novel grafis V for Vendetta, gimana?
J: V for Vendetta? Kalau kamu begitu percaya diri untuk merancang ulang cover buatan Alan Moore, silakan saja. Saranku sih cari judul lokal saja. Kalaupun mau mendesain ulang cover buku terjemahan, cari tahu seperti apa cover aslinya dengan Google Image. Kalau memang itu cover aslinya dari penerbit asli, jangan. Kalau berbeda, baru desain ulang.

T: Berapa banyak desain yang perlu kutampilkan dalam portofolioku?
J: Yang penting bukan totalnya. Tapi ragamnya. Penerbit perlu melihat ruang lingkup kompetensi kamu seperti apa. Dan mereka perlu yakin apakah desain kamu sesuai dengan lini buku mereka. Jadi, untuk penerbit yang ragam bukunya luas seperti GPU, ambil beberapa jenis buku berbeda: bisa satu buku anak, satu judul teenlit, satu judul chicklit (atau metropop kalau menawarkannya ke GPU), satu novel sastra atau kumpulan puisi, dan dua buku nonfiksi. Di sisi lain, untuk penerbit seperti Tiga Serangkai, cukup ambil beberapa judul buku Islam, buku populer, dan buku pendidikan.

3 comments:

Anonymous said...

wah makasi bgt infonya..bru2 ini saya dimintain bikin cover untuk 2 novel.krn hitungannya masih debut bwt saya,sjk awal saya tdk membicarakan tntg upah kerja sy..tp bkn brarti kerja gratis.
tp kenyataanya,wlau sy udah dihubungi klo salah satu desain sy positif dipake..sy belum dpt kbr soal honor.heheheh..sy jd binun,ini sy yg salah ya?
tp skrg sy jd lbh ngerti gimana2nya untuk jd freelance designer..

makasi bgt ya.
nice blog

Anonymous said...

Kalau sudah lewat sih tidak usah cari-cari mana yang salah, macan. Lebih baik fokus ke lain kalinya lebih baik gimana.

Menurutku sih, dari awal kerja sama lebih baik ada kejelasan aja. Kalau bisa bentuk kontrak tertulis akan lebih baik. Nggak masalah kerja sama dengan timbal balik uang atau bentuk lain (bisa saja dalam bentuk promosi), yang penting ada kesepakatan di awal. Dan jelas aturan mainnya.

Sukses.

Anonymous said...

misi, maaf numpang tanya.... saat ini sy sdh menjalin kerjsm dg 1 penerbit, tp sy ingin ke depannya juga bisa bekerjasama dg penerbit lain. Yg menjadi pertanyaan sy, portfolio yg sy kirimkan blh tidak ya kalau memberikan karya yg sdh pernah diterbitkan mskpun buku itu bkn mrp buku terbitan penerbit yg akan sy lamar? terimakasih :)