Monday, March 05, 2007

Mulailah dari Hal Kecil

Dalam seminarnya pada hari Sabtu, 17 Februari 2007 di Grand Aquilla Bandung, Rhenald Kasali mengajak para peserta untuk melakukan satu hal: berubah!

Perubahan ini tidak perlu fenomenal. Justru mulailah dari hal kecil. Rhenald menyitir contoh dari buku Tipping Point-nya Malcolm Gladwell. Dalam buku itu, diceritakan bagaimana William J. Bratton, kepala Polisi Transit New York, mengurangi tingkat kejahatan kota metropolis ini dengan satu hal kecil: menindak orang-orang yang naik kereta tanpa bayar.

Tidak tanggung-tanggung, penindakannya sangat tegas: pelanggar diborgol di pintu masuk sampai sore. Tadinya, penerobosan gerbang tanpa bayar adalah hal yang dianggap keren. Dengan kebijakan baru ini, pelanggar jadi dipermalukan di depan umum.

Dan ternyata, sebagian besar pelanggar adalah pelaku kejahatan yang lebih besar. Beberapa pelanggar adalah perampok kelas kakap. Sebagian lain membawa senjata tajam dan api. Sebagian lain adalah pemerkosa atau pelaku kejahatan lain yang sedang melarikan diri. Ketika Bratton diangkat menjadi kepala polisi kota New York pada tahun 1994, ia juga tetap berfokus kepada penindakan hal kecil: mabuk-mabukan di tempat umum, membuang sampah di jalan, maupun buang air kecil sembarangan.

Hasilnya: tingkat kejahatan di negara bagian New York menurun drastis. Selama tahun 80-an, rata-rata tindakan kriminal di kota New York per tahun melebihi dua ribu pembunuhan dan 600 ribu tindak kekerasan serius. Namun, di tahun 1996, jumlah kejahatan menurun drastis menjadi sepertiganya. Kekerasan di kereta bawah tanah bahkan turun sebanyak tujuh puluh lima persen.[1]

Bratton melakukan ini berdasarkan apa yang disebut Teori Jendela Pecah (The Broken Windows Theory). Para penggagas teori ini, James Q. Wilson dan George Kelling, menawarkan analogi sebuah lingkungan rumah yang aman dan asri. Cobalah kita pecahkan satu kaca rumah dengan batu. Lambat laun, suasana yang tadinya aman dan bebas dari kejahatan menjadi tempat yang "membolehkan" terjadinya pengrusakan. Akan ada satu atau dua jendela lagi yang pecah. Dan jika itu pun dibiarkan, lingkungan yang tadinya
aman akan menjadi sarang pelanggar.

Kalau di Indonesia, mungkin analogi dan nama yang lebih tepat adalah Teori Puntung Rokok. Dalam satu kantor yang bersih, cobalah jatuhkan puntung rokok di karpet ruang tamu. Diam-diam, instruksikan penjaga kantor agar tidak membersihkan sampah apa pun yang ada di ruang itu. Besoknya, puntung akan ada teman. Bisa jadi robekan kertas. Bungkus makanan. Lama-lama ruang tamu menjadi sarang sampah.

Setelah itu, cobalah kita instruksikan agar penjaga membersihkan ruang tamu lagi. Besok pagi, sudah akan ada sampah lagi. Karena lingkungannya sudah membolehkan terjadinya pelanggaran. Sehingga pelanggaran ini menjadi kebiasaan.

Rhenald menyampaikan bahwa inilah kenapa KPK kesulitan menindak korupsi di Indonesia. Karena yang diarah adalah kasus. Padahal kasus ini muncul karena kebiasaan. Kebiasaan yang diperbolehkan oleh lingkungan. Yang harus diubah adalah lingkungannya.

Dan ini dimulai dari hal-hal kecil: pegawai pemerintah yang korupsi waktu, makan gaji buta, atau menilep alat-alat tulis kantor. Semua ini dianggap wajar, sehingga berakar menuju hal-hal yang lebih besar.

Selain dari pelanggaran yang dibolehkan, bisa juga dari tidak adanya penghargaan bagi kelakuan yang "benar". Sebagai contoh, cobalah tempatkan seseorang yang kreatif dan vokal di instansi pemerintah standar yang menekankan kepada senioritas dan "sopan-santun". Dia akan banyak berkontribusi pada rapat-rapat awal, tapi malah dibenci rekan-rekannya karena memperpanjang masa rapat. Mungkin juga dimusuhi atasan karena sering membantah. Solusi-solusinya yang melintas pakem (out of the box) dijegal karena dianggap "tidak sopan" atau "melangkahi senior".

Lama-lama, dia juga akan seragam dengan rekan-rekan kerjanya: malas berpikir.

Kunci:

  1. Temukan kebiasaan-kebiasaan kecil apa saja yang berlaku di organisasi atau lingkungan kita

  2. Tanyakan pada diri: apakah kita telah menjadi korban dari kebiasaan? Kalau tidak, apakah ada hal lain yang jadi korban?

  3. Ingatlah bahwa tidak ada solusi atau kebiasaan yang sempurna. Yang ada hanyalah solusi atau kebiasaan yang lebih baik.

  4. Temukanlah dan terapkan kebiasaan kecil yang lebih baik tersebut



[1]: Ada berbagai kritik terhadap teori ini. Salah satu yang populer adalah kritik Steven D. Levitt dalam bukunya, Freakonomics. Malcolm Gladwell sendiri menjawab melalui satu artikel blognya, "Thoughts on Freakonomics". Menurutnya, Teori Jendela Pecah dan buku Freakonomics tidak bertentangan. Malah saling melengkapi.

3 comments:

wikan said...

wah, mas isman ...
kalau di indonesia, meriksa penumpang yang gak punya tiket malah beresiko kehilangan nyawa.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/07/metro/3221850.htm

Donny said...

Selama ini kita, terutama saya, memang terlalu sibuk 'memikirkan' hal-hal yang besar, sementara untuk mengurusi hal-hal kecil rasanya malas. Namun, ternyata yang kecil itulah yang paling potensial 'menjatuhkan' kita.

Saya, misalnya, sekarang lebih fokus untuk memperbaiki dan mengurusi hal-hal yang kecil itu, tapi ternyata dibutuhkan lebih banyak kesabaran dan kegigihan. :))

isman said...

Begitulah risiko orang baik di sistem buruk, Wikan, hehe. Di New York zaman itu juga, kalau sembarangan ngelarang pelanggar bisa mati. Tapi karena ini didukung sistem baru, ya nggak berjuang sendirian lah. Mau menahan satu pelanggar bisa disiapkan tiga petugas sendiri, bersenjata lengkap.

Memikirkan sih oke, donny. Tapi kalau jadi mengabaikan hal-hal kecil ya salah kaprah. Sama seperti yang disampaikan Dale Carnegie (dari doa kedamaian), yang penting adalah: Keberanian untuk mengubah yang bisa kita ubah, ketulusan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Dan kebijakan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya.

Seringkali kita bisanya mengubah hal-hal kecil, bukan hal-hal besar.