Monday, October 22, 2007

Delapan Hal Tentang Isman...

...yang sebenarnya ingin ia tulis semenarik Tujuh Keajaiban Dunia, dengan kisah penuh darah, perjuangan, dan cinta kasih. Namun, tidak bisa karena:

  1. Isinya bakal berisi kebohongan semata, dan
  2. Bahkan orangtuanya pun tidak akan percaya
Kembali ke pembicaraan yang lebih serius, saya berbagi delapan hal berikut karena ditoel oleh Gina, seorang ilustrator yang sama-sama gemar animasi Totoro. Dan (di masa depan) oleh Rangga, seorang penulis yang cukup kredibel untuk jadi Superman (tidak takut ketinggian)--asalkan tidak sakit gigi.

Seorang teman saya pernah berkata, "Siapa pun yang gemar Totoro pasti orang baik." Mari kita lupakan sejenak bahwa ia sendiri adalah penggemar Totoro (dan ia mengatakan itu dalam rangka pedekate); apa yang ia katakan benar juga. Saya tidak pernah melihat tajuk berita yang berbunyi, "Penggemar Totoro menembaki teman-teman sekolahnya." Jadi Gina adalah orang baik... sampai ada tajuk berita yang menunjukkan sebaliknya.

Awalnya, saya berniat menunggu dulu hingga ada Delapan Hal yang Sungguh Sangat Menarik untuk Dibagi. Misalnya, saat ada pembajakan pesawat terbang dan saya menggagalkannya. Termasuk keberhasilan saya mendaratkan pesawat tersebut ketika pilotnya pingsan, walaupun:
  • Kemampuan saya mengemudi pesawat terbang setara dengan kompetensi seekor cicak mengendarai mobil.
  • Bahkan cicak itu masih memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih tinggi.


  • Arahan dari menara pengendali malah membingungkan.

  • "Man," ujar menara pengendali, "kamu bakalan nabrak menara kalau nggak membelokkan pesawat ke kanan--"

    "Kanan?" tanyaku. "Kanan saya atau kanan kamu?"

    "Haduh. Ya sudah, putar saja sejauh tujuh puluh derajat."

    "Tujuh puluh derajat ke kanan atau ke kiri?"

    "Ampuuuun!" seru operator menara pengendali panik. "Gerakkan ke arah jam dua! JAM DUA! CEPAAAAAT!"

    "Yah," keluh saya, "saya pakenya jam digital nih."

    BLEDAAAARRRRRR!!!


  • Saya sulit bergerak; semua pramugari cantik dan seksi di sekitar akan berpegangan pada saya untuk mencari ketenangan.
  • Saya sendiri malah tidak akan tenang. Karena saya sadar--jika ini terjadi di dunia nyata--kalaupun saya selamat, mitra hidup sayalah yang akan membunuh saya.

Terus terang, kemungkinan itu terjadi sama besarnya seperti mengharapkan kilat menyambar seorang politikus tepat saat ia berkata, "Kalau saya bohong, biar kesambar gledek." Hanya akan ada di film yang kita bikin sendiri. Dan yang nonton hanyalah mereka yang kita janjikan tiket dan makan-makan gratis.

Karena itu, lebih baik saya bagi saja delapan hal yang ada:
  1. Jari saya masih bengkok

  2. Berdasarkan statistika asal yang saya pungut di internet, rata-rata lama cedera saya per pertandingan sudah melebihi rata-rata satu klub liga Inggris. Tapi kok ya nggak jera-jera main futsal? Sepertinya ada bagian otak primitif manusia yang selalu meremehkan bahaya. Saya yakin ini bagian otak yang sama yang membisiki manusia gua berjuta-juta tahun lalu, "Hajar aja! Dia gede badan doang. Namanya aja lucu, T-rex. Pasti aslinya cuman dinosaurus dongo pemakan tumbuha--" HAAP! KRAUK! GLUG!


  3. Saya menjadi semi-masochist dalam berhubungan dengan luka, akibat nonton Rambo

  4. Dalam Rambo II, ada adegan di mana ia mencongkel peluru dari dadanya, membubuhkan mesiu, dan dengan gagah membakar lukanya. (Setelah itu, dengan tak kalah gagahnya, ia pingsan.) Tayangan ini begitu membekas sehingga semasa kecil, saya dengan gagah berani membekap luka dengan alkohol, meneteskan Betadine, memberi salep, dan membalutnya seakan-akan di medan perang. (Untunglah saat itu saya gagal menemukan alasan yang cukup gagah untuk pura-pura pingsan.) Meskipun memudar seiring usia, jejaknya masih ada. Sehingga walaupun shin se yang mengurus cedera saya sangatlah efektif menjadi penyiksa tawanan perang, saya tetap datang ke tempatnya untuk mengurut cedera. Dia sendiri takjub, karena saya adalah pasien pertama yang datang dengan membawa handuk sendiri. Dan bukan untuk mengelap keringat. Melainkan untuk membekap mulut supaya tidak berteriak.


  5. Walaupun banyak melahap buku-buku teknik ingatan karangan Harry Lorayne maupun Tony Buzan, saya tetap pelupa

  6. Saya bahkan pernah ingat membawa pesanan makanan untuk seorang teman. Tapi lupa membawa sang teman.


  7. Saya adalah Pemburu Ketidakacuhan Semantik


  8. Dan Anggota Perkumpulan Pembaca dalam Toilet--termasuk sebagai ketua, sekretaris, dan koordinator pelaksana harian

  9. Buku-buku seperti Bartimaeus Trilogy, Anansi Boys, atau Kartun Genetika kutamatkan dalam toilet. Tip: sebisa mungkin, pilihlah cerita yang cukup menegangkan sehingga membantu kita mengejan tanpa sadar. Tip untuk membaca tip yang tadi: jangan baca dan bayangkan tip tersebut saat lagi makan.


  10. Dalam penulisan kreatif, saya cenderung menggunakan metode ilmiah yang terukur untuk menimbulkan inspirasi

  11. Sebagai contoh, saat bekerja sama dengan kantor Gina terdahulu, saya pernah datang dengan mengenakan pakaian kantor biasa; kemeja dan celana panjang. Hanya plus kaos kaki sepakbola merah dan sarung. Saking ilmiahnya, petugas satpam gedung sering bereaksi dengan cara yang dalam istilah teknis ilmiah disebut "menahan tawa".


  12. Saya sendiri adalah pribadi yang tenang, serius, dan pendiam.


  13. Tapi entah kenapa, ada saja yang tidak percaya pada poin tujuh.

Agar meme ini tidak menular ke mana-mana saya potong di sini. Mari berharap bulan depan tidak muncul meme baru yang berjudul "Sepuluh Hal Tentang Kita". Karena berdasarkan tren kemunculan, bisa jadi sepuluh tahun mendatang, kita harus mengisi "200 Hal Tentang Kita".

Mari jujur saja. Tulisan blog yang memuat dua ratus hal tentang apa pun, tidak akan menarik. Bukan masalah materi. Ini masalah rentang konsentrasi. Dan minat. Belum lagi waktu yang terpakai untuk mengisinya. Mari cukupkan pada delapan saja, dan habiskan waktu sisa kita untuk jalan-jalan keluar. Atau berolahraga.

Asal jangan bengkokkan kelingking Anda.

3 comments:

eugenia gina said...

kagak salah kan gue nge tag jelema satu ini! at least bisa bikin ketawa ketiwi sendirian hwehwehwe!

Sandy Eggi said...

masih bengkok mas jarinya ya? kalo saya dulu pernah maen bola dan kaki kanan saya bengkok juga. rasanya sakit selamat 3 bulan. tapi trus entah kenapa ilang juga bengkok nya. ato sebenernya saya udah terbiasa bengkok seperti itu.

isman said...

Nantian gantian kutoel kau, Gin.

Iya, ntah kenapa nih, San. Senin depan paling mau kurontgen. Minimal untuk yakin aja apa memang sekadar bengkak atau ada yang retak.

Kalau nunggu tiga bulan khawatir juga, hehe.