Friday, November 09, 2007

Horor Masa Kecil

Banyak hal menyangkut masa kecil yang setelah kita ingat-ingat ternyata aneh. Tak jarang, kita malah bertanya-tanya: kok bisa?

Horor masa kecil, misalnya. Didit, tetangga saya dulu, takut sekali dengan ular. Dan jadinya melebar ke mana-mana. Apa pun yang panjang dan melingkar seperti ular bisa membuatnya terperanjat. Ia bahkan menjauhi obat nyamuk bakar.

Rama, teman masa SD, takut pada kegelapan. Ia selalu berbekal korek api atau senter. Tapi, tidak pernah ia gunakan. Karena kalau gelap, keburu kabur duluan.

Namun, kedua contoh di atas itu masih relatif wajar. Ular memang berpotensi bahaya jika merasa terganggu. Dan kegelapan bisa membuat kita merasa tak berdaya karena kita tidak tahu apa yang tersembunyi di baliknya.

Setidaknya lebih wajar dibandingkan ketakutan saya masa kecil. Dari zaman TK hingga kelas lima SD, saya selalu gemetaran jika harus ke kamar mandi malam-malam. Bukan. Bukan karena gelap. Tapi karena saya merasa ngeri kalau-kalau bertemu Drakula sedang buang air besar.

Ya. Saya takut saat membuka pintu, saya akan memergoki seorang vampir berjas tuxedo dan berjubah di dalam kamar mandi. Duduk di atas toilet. Sambil mengejan. (Atau baca koran Transylvania Post).

Saya tidak mengada-ada. Memang ini terdengar sangat aneh. Bahkan Donna pun tertawa saat saya ceritakan hal ini. Tapi itulah yang saya rasakan dulu. Saya sendiri tidak mengerti kenapa itu dulu menjadi horor. Saat itu, saya hanya merasa takut.

Bagaimana kalau itu terjadi sekarang? Entahlah. Bisa jadi malah ngobrol.

Saya: ... Halo. Akhirnya kita bertemu juga.

Drakula
: (Sambil membaca koran.) Permisi, kek. Nyelonong masuk aja.

Saya
: Tapi ini kan kamar mandi di rumahku?

Drakula
: (Masih tidak menoleh dari koran.) Jelas aja di rumah elo. Pas gue boker di kamar mandi orang lain, mereka sama sekali nggak takut. Malah gue yang dimarah-marahin.

Saya
: ... Aku juga bisa marah-marah!

Drakula
: (Menengadah) ...

Saya: ... sedikit.

Drakula
: Sudah gue duga (kembali membaca koran.)
...
(hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Apa?

Saya: Boleh kufoto nggak?

Drakula: Elo mau gue foto nggak, pas nggak pake celana?

Saya: Nggak, sih.
...
(kembali hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Ya?

Saya: Kamu kok nggak seserem yang kubayangkan, ya?

Drakula: (Melipat koran). Bukan salah gue kalau ada anak kecil yang imajinasinya aneh sendiri.

Saya: Euh.

Drakula: Anak lain ngerasa serem bakal didatangi zombie; tubuh mereka dicincang, otak mereka dikunyah, dan diri mereka berubah menjadi zombie juga. Gue iri sama zombie-zombie itu. Lah, gue? Hanya bisa duduk dan ngejen.

Saya: Ya maaf. Rasa takut kan bukan sesuatu yang bisa kurancang dalam bentuk proposal.

Drakula: Ya, ya, ya. Alasan standar.
...
(lagi-lagi hening.)
...
Saya: Hei.

Drakula: Apa lagi! Apa vampir nggak bisa boker dengan tenang? Elo nggak puas, ya nyiksa gue seperti ini? Bertahun-tahun gue ngejen terus bisa turun bero, tahu?

Saya: Siapa tahu kamu sebenarnya menyembunyikan makna penting.

Drakula: Hah?

Saya: Gini, kalau kamu bukan imajinasi yang umum. Mungkin rasa takutku terhadap kamu sebenarnya menyimpan simbolisme penting. Lihatlah pakaianmu--tuxedo. Busana resmi. Bisa jadi menyimbolkan kekuasaan. Bisa jadi aku takut pada figur berkuasa.

Drakula: Yang sedang boker?

Saya: Itu juga. Kapankah seseorang tampak paling rentan?

Drakula: Saat boker, emang.

Saya: Betul! Ini kontradiksi, kan? Seseorang yang berkuasa dalam posisi lemah.

Drakula: Mungkin elo takut kekuasaan elo runtuh?

Saya: Tapi ini kan khayalan masa kecil. Saat itu, aku sama sekali nggak berkuasa.

Drakula: Ya gampang. Berarti seseorang di dekat elo yang berkuasa.

Saya: Lah, aku kan sebal diperintah-perintah. Kalau ada orang berkuasa di sekitarku dan melemah, seharusnya senang-senang aja dong.

Drakula: Tapi gimana kalau elo sayang ama orang itu?

Saya: ... Orangtua?

Drakula: Ternyata elo nggak seblo'on keliatannya.

Saya: Setidaknya aku masih pake celana. Oke, apa maksudmu? Apakah aku takut melihat orangtuaku dalam keadaan lemah? Kenapa begitu? Apa mereka terancam sesuatu? Atau ini bukan tentang mereka? Apa ini tentang aku?

Drakula: Kenapa nanya gue? Gue bukan psikolog. Cuman bagian dari pikiran elo. (Siram toilet.) Sisanya pikirin sendiri.
... (Tubuhnya mulai menghilang)...
Tugas gue dah beres. Selamat tinggal, Man.

Saya: Terima kasih... Drakula Boker.

Drakula: Sialan! Nama gue bukan Bo--


Apakah ketakutan masa kecil Anda? Wow. Itu terdengar lebih keren daripada Drakula Boker. Tapi yang lebih penting: apakah Anda sudah mengajaknya bicara? Siapa tahu ada pesan tersembunyi yang selama ini ia simpan.

8 comments:

Sandy Eggi said...

gaul amat drakulanya pake elo gue :D

kesannya kok malah curhat ya sama mas drak nya...

isman said...

Drakula Gaul kayaknya bagus buat judul film Indonesia. Sekuelnya nanti Drakula Curhat.

Intinya kan itu, San. Berbicaralah dengan rasa takut kita. Siapa tahu ada pesan tersembunyi yang ia simpan selama ini.

ikram said...

Dialog-dialog di blog ini.
Gila-gilaan.

isman said...

*angguk-angguk* Memang dialog yang mengharukan.

Sandy Eggi said...

tapi kalo jadi ngga takut lagi kan ngga seru .. mending terus takut :D

isman said...

Halah. Masokis mental ya, San? Wehehe.

Wicak said...

man.. rasa takut gw sejak kecil adalah air.. gimana cara ngajak ngomongnya?

Obat Maag Tradisional said...

wah... ada-ada saja nih... hehehe