Monday, July 30, 2012

Berlindung Di Balik Insya Allah

Banyak orang Indonesia yang terdidik untuk susah nolak. Gak enak hati, takut nyinggung. Tapi jadinya ngasih jawaban menggantung: nolak nggak, mengiyakan juga nggak. Ini bukan cuman soal jadian, ya? Berlaku umum, terutama kalau diajak datang ke acara orang.

Saking susah nolaknya, ada aja yang kalau diajak, ”Nanti dateng, kan?” Jawabnya,  ”Insya Allah.” Padahal sebenarnya gak mau. Itu kan ngaco.

Insya Allah itu maknanya ”atas seizin Allah.” Berarti kita harus berusaha sekuat tenaga untuk datang. Kalau tetap nggak bisa--misalnya karena kerjaan belum beres, mobil mogok, atau mendadak amnesia--itu baru nggak apa-apa. Kita udah berusaha sayangnya belum diizinkan. Tapi bukan karena kitanya nggak mau. Itu sih kitanya nggak berani menolak malah berlindung dengan menggunakan nama Allah.

Itu kayak kita minta izin ke orangtua, ”Malam ini boleh ke GBK nonton konser, gak?”

”Boleh.”

Terus kita malah tidur semalaman. Besoknya saat ditanya, ”Kok lu gak dateng, men?”

”Iya nih. Padahal gue udah minta izin. Berarti ortu gak ngebolehin.” Emang nggak niat datang itu sih. Saya curiga kalau orang-orang seperti ini merancang Facebook, di tiap Invitation pasti jawabannya berubah. Untuk pertanyaan: "Will you attend?" pilihannya jadi "Yes", "No", dan "Insya Allah".

Yang bikin saya heran, kenapa kalau status nggak jelas disebutnya "ngegantung", ya? Orang kalau dihukum gantung, misalnya, itu statusnya udah jelas banget deh. Gak ada hakim yang bingung, ”Aduh, ini orang bersalah apa nggak, ya? Ya udah, kita gantung aja dulu, gimana? Kalau masih hidup, berarti bukan dia pembunuhnya.”

Intinya, lain kali ada temen yang ngajak, ”Malem ini nongkrong di Sevel, yuk?” dan kita males, ya jawab yang tegas, ”Gue gak ada rencana lain sama sekali, tapi daripada cuman duduk bareng ngedengerin lu curhat mengenai gagal ngegebet cewek yang itu-itu juga, padahal lu sama sekali gak ngegebet, cuman ngecengin dari jauh, nyapa hai aja boro-boro, mendingan gue nyante di kamar, dengerin musik atau baca buku.”

Dia paling bakal menatap kita kayak Puss in Boots, ”Jadi lu mau dateng nggak?”

Dan kita pun menjawab, ”Insya Allah.”

Horor 2.0

Sendirian dalam rumah, seorang gadis membaca linimasa Twitternya. Twit otomatis dari Foursquare ada di sana, menyampaikan bahwa dia baru saja check-in "...with 1 other".



_______

Alih bahasa dari twit saya yang aslinya dalam bahasa Inggris di sini. (Iya, ada salah ketik satu: seharusnya "her", tapi tertulis "his".)

Friday, July 13, 2012

#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...

Dalam satu tahun, yang tadinya "Gak bisa!" bisa jadi "Oh, bukannya itu biasa?" 

Lihatlah para komika (stand-up comedian) sekarang. Kalau sebelum tanggal 13 Juli 2011 mereka ditanya, "Bisa gak, bikin pertunjukan stand-up comedy berbayar di Indonesia, semuanya diisi stand-up comedian Indonesia, dan dihadiri lebih dari 200 orang?"

Saya yakin semua bakal menjawab, "Gak bisa!"

Pada tanggal 24 Agustus 2011, @StandUpIndo mengadakan acara stand-up comedy berbayar pertama.  Bahkan saat itu, Raditya Dika masih mempertanyakan, apakah kita tidak bergerak terlalu cepat? Dia masih ragu ada yang mau bayar untuk menonton stand-up comedy

Tapi sekarang lihat saja, komunitas komedi tunggal di berbagai pelosok Indonesia mengadakan Stand-up Nite. Hampir semua berbayar. Rata-rata penontonnya ratusan. Rekor penonton Stand-up Nite berbayar terbanyak di Jakarta adalah 890 penonton. Di Bandung mencapai 730 orang. Di Pekanbaru bahkan melebihi 1.000!


Dalam satu tahun, hidup bisa berubah drastis. 

Sebelum 13 Juli 2011, kalau ada yang mengaku mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjalani profesi sebagai stand-up comedian, mayoritas pasti mempertanyakan kelogisan pilihan karier ini. Namun, itulah yang direncanakan (lantas dilakukan) Ernest Prakasa

Sekarang, tidak ada yang berani menertawakan pilihan hidupnya.

Saya juga kini telah mengundurkan diri dari manajemen kantor saya sebelumnya, dan fokus pada bidang komedi dan penulisan. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak rekan maupun sahabat di komunitas yang berbagi kesenangan maupun mimpi. Ini bukanlah kehidupan yang saya rencanakan sebelum 13 Juli 2011. Tapi ini adalah pilihan yang saya jalani dengan bahagia.


Dalam satu tahun, impian bisa terwujud... dan terwujud kembali 

Sebagian besar praktisi komedi tunggal adalah orang-orang yang memiliki mimpi bahwa suatu saat stand-up comedy akan tumbuh kuat di Indonesia. Perbedaannya adalah: ada yang mewujudkan mimpi itu. Dan ada yang menontonnya terjadi. 

Tidak masalah kita menjadi apa. Asalkan itu memang pilihan. Karena terwujudnya mimpi bukanlah suatu akhir. Selalu ada kelanjutan. Baik memelihara mimpi menjadi sesuatu yang membumi. Atau mengembangkannya lebih tinggi. 

Saya dan rekan-rekan di @StandUpIndo sendiri entah sudah berapa kali terkejut dengan terwujudnya berbagai impian dalam bentuk nyata: acara stand-up berbayar, gig rutin bagi para komika, acara TV khusus stand-up comedy, stand-up special, munculnya komika sebagai host acara bergengsi, komika sebagai bintang film, hingga tur antarkota. 

Daftar ini akan terus berlanjut. Kalau Anda praktisi juga, semoga mimpi Anda pun [akan] masuk di dalamnya. 


Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.


Viva la Komtung!

Saturday, February 11, 2012

Terbiasa Melamar Pekerjaan Sepertinya

Komunitas stand-up comedy Bandung (@standUpIndo_BDG) mengadakan open mike (panggung terbuka untuk para comic yang mau mencoba tampil) seminggu sekali, tiap hari Minggu jam 18.30 di Bober Cafe, Jalan Riau 123.


Dalam salah satu sesi, seorang guru bahasa Inggris menjajal panggung. Namun, sebelum selesai, ia tampak kehilangan kata dan turun sebelum waktunya.

Di sesi open mike berikutnya, ia muncul kembali dan tiba-tiba memberikan secarik kertas pada host saat itu, Dani Wardhana.

Tercetak pada kertas itu, "Maaf, saya turun karena gugup saat tampil terakhir. Mohon saya diberikan kesempatan sekali lagi." Resmi dengan nama dan tanda tangan. Padahal dalam open mike, siapa pun boleh mencoba lagi. Tanpa perlu penjelasan. Asalkan masih ada slot kosong.

Dani spontan bercanda, "Maaf, Pak. Ini kertasnya perlu ditandatangani Pak RT dulu. Lalu distempel oleh Kelurahan."