#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...
Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.
Viva la Komtung!
Bertanya atau Mati! (BaM!) adalah buku humor yang mengajak Anda tertawa dan berpikir. Mari temukan kembali kesenangan dalam menertawakan atau mempertanyakan hal-hal yang cenderung kita anggap remeh dalam blog ini. Bagi yang berminat, saya (isman) juga akan berbagi pengalaman dalam penulisan kreatif.
Pada jam
12:26 AM
7
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Berbagi, dunia komedi
Komunitas stand-up comedy Bandung (@standUpIndo_BDG) mengadakan open mike (panggung terbuka untuk para comic yang mau mencoba tampil) seminggu sekali, tiap hari Minggu jam 18.30 di Bober Cafe, Jalan Riau 123.
Pada jam
10:11 PM
5
umpan balik
Kategori: dunia komedi
Sering muncul pertanyaan: "Mengapa membedakan lawak dengan stand-up comedy? Apa karena gengsi?"
Karena memang berbeda dari kedalaman makna. Komedi tunggal (padanan untuk stand-up comedy, atau disingkat komtung) merupakan sebuah format pertunjukan lawak yang memiliki sejumlah konvensi atau pakem tersendiri. Pertanyaan di atas sama dengan, "Kenapa membedakan fiksi dengan novel?"
Novel memang karya fiksi, tapi tidak semua karya fiksi itu novel. Komtung memang pertunjukan lawak. Tapi tidak semua pertunjukan lawak itu komtung. Di Indonesia, sebagai contoh, ada format lawak Mataraman (atau Dagelan Mataram) yang dipopulerkan almarhum Basiyo (meninggal tahun 1984).
Pertanyaan berikut: "Lantas kenapa pelaku komtung disebut comic? Nggak mau disebut pelawak?"
Sekali lagi: comic dan pelawak itu istilah dengan kedalaman makna berbeda. Yang pertama khusus, yang kedua umum. Analoginya seperti novelis dan penulis. Sah saja menyebut seorang novelis sebagai penulis. Namun, tidak semua penulis adalah novelis. Ada juga cerpenis, kolomnis, dan sebagainya.
Jadi silakan menyebut seorang comic sebagai pelawak. Tapi tidak semua pelawak adalah seorang comic. Di sisi lain, istilah lawak sendiri sudah mengalami penyempitan makna karena terlalu sering dikaitkan dengan format yang populer di Indonesia. Jadi, penggunaan istilah pelawak untuk mengacu seorang comic bisa jadi memberikan persepsi yang keliru. Bukannya tidak mau. Hanya berpotensi menyesatkan.
Pertanyaan terakhir: "Kalau begitu, sudah adakah istilah Indonesia untuk menyebut seorang comic atau stand-up comedian?"
Sayangnya, belum. Kalau ada usul, silakan. Salah satu alternatif adalah pengomtung. Tapi istilah itu banyak menerima penolakan, haha. Padahal salah satu syarat diterimanya sebuah istilah baru adalah penggunaannya secara meluas.
Pada jam
10:41 AM
2
umpan balik
Kategori: Berbagi, dunia komedi, Penulisan kreatif
Setahun lalu, siapa sangka bahwa acara komedi tunggal (stand up comedy) akan membuat cafe dengan kapasitas 150 dibanjiri lebih dari 250-an orang?
Pada jam
3:55 PM
4
umpan balik
Kategori: Berbagi, dunia komedi
KompasTV, mulai bulan Juli ini mengadakan audisi untuk kompetisi Stand Up Comedy Indonesia. Acara ini kira-kira seperti versi lokal Last Comic Standing. Audisinya diadakan di sejumlah kota besar. Dan para kontestan yang lolos akan mulai berkompetisi di acara televisi nantinya.
Ernest Prakasa, salah seorang peserta audisi, dan sesama penggemar komedi tunggal (padanan Indonesia untuk stand up comedy), mengajak sejumlah orang untuk menjajal sesi open mic (panggung terbuka bebas untuk siapa pun yang ingin mengisi, biasanya untuk stand up comedy) di Comedy Cafe Kemang, Jakarta. Berawal dari ajakan ke sesama teman, berlanjut ke Twitter, dan kabarnya merambat kian tak terkendali.
Pada jam
12:55 PM
2
umpan balik
Kategori: Apresiasi, dunia komedi
Status Terakhir:
Sudah lengkap 100 pemesan pertama! Tinggal 9lagi.
Belum dapat? Tenang saja: Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko buku, baik daring (online) maupun luring (offline).
Kalau menginginkan yang bertanda tangan, masih bisa kok pesan ke saya. Kirim saja email pemesanan ke writerstavern AT gmail DOT com.
Mohon pengertiannya: Anda akan mendapatkan harga sesuai toko: Rp30.000, karena sudah tidak termasuk 100 pemesanan pertama.
Bonus pin pun hanya akan diberikan kalau masih tersedia. Sekarang sisa sekitar 20-an, karena sejumlah pemesan pertama tersebut memilih aksesoris dari Rumah Pernik.
Karena kini, ditambah sebelas parodi film baru, jadilah buku humor saya yang teranyar, Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil. "Buku ini mengajak elo menertawakan film dengan cara yang belum pernah elo alami sebelumnya."
SELENE
(MEMBACA PANDUAN) “Teteskan darah secukupnya. Biarkan mengembang selama lima menit”.
SHANAZ
Barang yang perlu gue bawa... celana pendek. Celana pendek. Dan... hmm, oke, celana pendek. Beres.
"Salah satu parodi paling bebas dan lucu yang pernah saya baca. Dan isman selalu menemukan angle paling unik untuk menemukan dari mana senyum berasal... Atau memang otaknya selalu jahil."
"Gak pernah kebayang film favorit Resident Evil bisa begitu ancurnya di buku ini. Lucu dan nyambung banget. Tapi risikonya, kita gak akan pernah bisa lagi nonton film-film yang sudah ada di buku ini secara serius."
Pada jam
7:45 AM
15
umpan balik
Kategori: dunia komedi, Pengumuman
Begitulah gambaran kerja sama penulisan humor saya dan donna dengan TransTV. Bulan Desember 2007 lalu, saya dan donna mendapatkan kesempatan menulis skrip untuk acara komedi terbaru TransTV berjudul Sketsa.
Sketsa mengambil bentuk dan gaya humor seperti The Fast Show atau The Sketch Show; dengan latar yang realistis (bukan panggung) dan pengambilan kamera yang sederhana, tanpa efek khusus. Lelucon dalam tiap sketsa berdiri sendiri (one-shot). Dengan perkecualian sejumlah sketsa yang leluconnya saling menyambung (running gag).
Bagi saya dan donna, kesempatan ini sendiri sangat berharga. Karena seperti saya sampaikan dalam pemberitahuan di multiply, kami bisa menulis humor--sesuatu yang kami gemari--sekaligus bertindak nyata bagi industri TV Indonesia: menyajikan alternatif tontonan di luar sinetron yang meremehkan intelijensi penonton.
Kami pun mengalami kecocokan dengan tim kreatif TransTV sendiri. Sehingga akhirnya kami membentuk tim bernama Team ID (dibaca seperti "Idea" dengan pengucapan Inggris) untuk kerja sama penulisan skrip jangka panjang. Tim tersebut sudah beranggotakan empat orang, plus dua lagi yang masih dalam tahap inisiasi.
Sayangnya, kerja sama itu berakhir lebih cepat dari yang kami duga. Kami mengundurkan diri. Lho, kenapa?
Tanpa perlu menyebut nama, salah satu bos besar TransTV menginstruksikan agar produser Sketsa mengadaptasi Kelsey Grammar Presents: The Sketch Show. Pihak TransTV pun konon sedang memproses lisensi untuk adaptasi tersebut.
Lalu masalahnya apa? Terhitung hari ini, sketsa-sketsa adaptasi itu sudah selesai disyut.
Bagi banyak orang, hal ini bisa jadi tidak merupakan masalah. "Toh lisensinya sedang diurus, kan?" Namun, bagi kami berbeda. HaKI adalah hal yang penting. Dan langkah yang benar adalah beres mengurus lisensi dulu, baru mulai adaptasi. Kasus terburuk: bagaimana kalau ternyata tidak ada kesepakatan dalam mengurus lisensi tersebut, padahal sketsa "adaptasi"-nya sudah ditayangkan? Bukankah itu jadi plagiarisme?
Mungkin ada yang mau berkomentar, "Ya, gampang, Man. Tinggal jangan tayangkan saja sketsa adaptasinya sampai beres. Gitu aja kok repot?"
Gampang kalau memang semua kendali pada apa yang tayang dan apa yang tidak itu ada pada tangan saya atau donna, misalnya. Tentu saja kenyataannya tidak. Bahkan iklan acara Sketsa sendiri masih menayangkan potongan adegan tenis meja dan lomba renang dari episode pilot, yang seharusnya hanya untuk kebutuhan internal. Jadi bisa saja kru TransTV (sengaja ataupun tidak) memilah dan menayangkan sketsa adaptasi yang belum mendapatkan lisensi.
Di sisi lain, saya dan donna pribadi memegang prinsip yang sangat jelas: menulis dan mengembangkan acara baru berdasarkan acara lain itu oke. Karena kita tetap menulis materi baru. Justru itulah yang memajukan dunia komedi. Format sitkom, sebagai contoh, lahir karena tiap acara baru mengadaptasi konsep format tersebut. Hukum Tiga (Rule of Three) lahir karena pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun para penulis humor maupun komedian.
Sketsa komedi juga sama. Dari Monty Python's Flying Circus hingga Saturday Night Live, semua tidak muncul begitu saja. Melainkan karena membangun suatu acara baru berdasarkan pengalaman orang lain. Dan itu yang kami temukan di Sketsa, selama ini.
Namun, kalau diminta mengadaptasi tanpa lisensi resmi, kami menolak. Berhubung pihak TransTV tetap melakukan hal tersebut, bahkan lanjut sampai syuting, kami berniat mengundurkan diri baik sebagai pribadi maupun tim. Karena jika tidak, itu sama saja seperti melakukannya (accomplice).
Sekali lagi, ini adalah keputusan berdasarkan prinsip. Tiap orang bisa saja memiliki prinsip yang berbeda. Tidak ada yang mutlak benar maupun salah.
Terima kasih atas dukungan teman-teman sebelum ini. Dan terima kasih bagi teman-teman TransTV atas kesempatannya. Bagi kami, pengalaman ini tetap menyenangkan. Memang sayang hanya singkat. Namun mungkin memang itulah yang terbaik bagi kedua pihak.
___________________________
NB: Karya kami jadinya hanya muncul di beberapa episode pertama. Dan entah yang mana saja. Penulisan skenario di sini berbasiskan sketsa, alih-alih episode. Misalnya, dari 100 sketsa yang kami buat, bisa jadi 10 dimasukkan ke episode dua, 30 di episode tiga, dan seterusnya.
UPDATE: Sketsa sendiri mulai tayang di TransTV Jumat ini (1 Februari 2008), jam 19:30 WIB.
Pada jam
3:56 PM
11
umpan balik
Kategori: dunia komedi, Pengumuman, Penulisan kreatif
Bulan lalu sebuah majalah mewawancarai saya via telepon berkaitan penulisan humor. Ada sejumlah pertanyaan yang menggelitik pikiran saya selama beberapa hari setelah itu. Dan saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan sama sekali belum lengkap. Dan bisa jadi pewawawancara malah salah tangkap.
Terlepas dari tulisan hasil wawancaranya seperti apa, saya jadi ingin menulis ulang beberapa pertanyaan dan jawabannya.
Tanya (T): Seperti apakah humor yang bagus menurut Anda?
Jawab (J): Humor yang jujur. Karena biasanya humor seperti ini membuat kita tertawa lantas berpikir. Penulis William Davis pernah berkata, "Jenis humor yang saya sukai adalah yang membuat saya tertawa selama lima detik, lantas berpikir selama sepuluh menit."
T: Kalau humor yang buruk?
J: Kebalikannya: membuat kita malas tertawa, apalagi berpikir.
T: Apa pendapat Anda tentang buku humor di Indonesia?
J: Sebagai sebuah kategori di dunia buku Indonesia, "humor" masih terjebak stereotipe sebagai kumpulan lelucon pendek ala "Mati Ketawa Cara..." Padahal kalau dibandingkan dengan kategori internasional, bentuknya macam-macam. Buku humor nonfiksi bisa berupa kumpulan esai, seperti karya P.J. O'Rourke, Dennis Miller, atau Roy Blount Jr. Bisa kisah pengalaman/wawasan diri seperti karya Bill Cosby, Steve Martin, Tim Allen, Paul Reiser, maupun Ray Romano.
Atau bahkan bentuk-bentuk lainnya. Dave Barry, misalnya, menerbitkan The Book of Bad Songs, yang isinya secara hiperbolis membahas lagu-lagu terburuk, berdasarkan masukan dari para pembaca kolomnya. Dengan menertawakan lagu-lagu yang ia bahas, kita tanpa sadar menangkap kritik terhadap lirik yang ditulis asal-asalan. Douglas Adams menggagas The Meaning of Liff, yang merupakan ide brilian untuk memperkaya perbendaharaan kata Inggris dengan menambahkan sejumlah definisi untuk nama-nama daerah. Dua contohnya adalah:
ARDSCALPSIE (n.)
Excuse made by rural Welsh hairdresser for completely massacring your hair.
WIGAN (n.)
If, when talking to someone you know has only one leg, you're trying to treat then perfectly casually and normally, but find to your horror that your conversion is liberally studded with references to (a) Long John Silver, (b) Hopalong Cassidy, (c) The Hockey Cokey, (d) 'putting your foot in it', (e) 'the last leg of the UEFA competition', you are said to have committed a wigan. The word is derived from the fact that sub-editors at ITN used to manage to mention the name of either the town Wigan, or Lord Wigg, in every fourth script that Reginald Bosanquet was given to read.
CONGRATULATION, n.
The civility of envy.
CONSULT, v.i.
To seek another's disapproval of a course already decided on.
Pada jam
12:59 AM
0
umpan balik
Kategori: dunia komedi
Bambang Haryanto dari Komedikus Erektus menggelitik saya, "Apakah blog Anda sudah khusus membahas dunia komedi?"
Betul juga. Mengaku-aku penulis humor, tapi kok hampir nggak pernah membahas dunia komedi? Padahal materi penulisan humor saja sudah banyak yang berbeda dengan penulisan kreatif. Seperti semut bukanlah hanya serangga. Padahal itu baru menyentuh teknik.
Karena itu, saya memperkenalkan tag baru: Dunia Komedi. Kalau selama ini saya menulis tentang komedi/humor dunia, kini saya membahas juga yang dunia komedi/humor; bidang yang diarungi orang-orang yang berusaha keras membuat orang tertawa, atau tewas dalam usaha mereka.
Dan saya tidak bercanda.
Seperti ditulis Melvin Helitzer dalam Comedy Writing Secrets, pada sebagian besar situasi, membuat orang tertawa adalah kompetisi. Dengan menertawakan lelucon seseorang, kita mengakui keunggulan orang tersebut dalam membuat kita tergelak.
Perkecualiannya adalah pada apa yang disebut Stevie Ray, sebagai "tawa superioritas". Di sini berlaku kebalikannya, kita tertawa karena merasa lebih unggul daripada orang yang kita tertawakan. Seseorang menabrak pintu kaca, dan kita tertawa. Seorang heckler dibalas Chris Rock hingga gelagapan, kita tertawa. Lebih ekstrem lagi, raja-raja di Eropa Abad Pertengahan dulu menyuruh para jester untuk membuat mereka tertawa. Kalau gagal, dirajam. Kadang, saat seorang jester dirajam, ada raja yang tertawa. Berarti sang jester berhasil. Sayangnya, ia sudah tidak bisa merayakannya. Tawa sang raja ini termasuk tawa superioritas.
Karena posisinya yang di ambang tiang gantungan, jester bahkan sering ditunjuk sebagai pembawa berita buruk. Pada masa peperangan, saya bisa membayangkan seorang jester beringsut-ingsut menghadap rajanya, "Tahukah Baginda, mengapa musuh kita begitu pengecut?"
"Mengapa?" geram sang raja.
"Karena merekalah yang lebih dahulu bergerak meninggalkan tenda mereka," ujar sang jester. "Baru setelah itu, tentara kita yang gagah berani meninggalkan benteng terdepan kita."
Dunia komedi bukanlah semesta cerah-ceria. Sama saja seperti dunia penulisan bukanlah alam glamor seperti yang diduga banyak orang. Kita akan mengintip ranah penuh keputusasaan, tangis darah, penolakan, dan penyangkalan. Intinya, sama saja dengan dunia nyata. Bedanya hanya satu: para komedian menerima semua ini dengan menertawakannya.
Dan mengajak semua orang untuk melakukan hal yang sama.
Pada jam
12:38 PM
0
umpan balik
Kategori: dunia komedi

Pilihan 1:
Pakai Feedburner