Showing posts with label dunia komedi. Show all posts
Showing posts with label dunia komedi. Show all posts

Friday, July 13, 2012

#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...

Dalam satu tahun, yang tadinya "Gak bisa!" bisa jadi "Oh, bukannya itu biasa?" 

Lihatlah para komika (stand-up comedian) sekarang. Kalau sebelum tanggal 13 Juli 2011 mereka ditanya, "Bisa gak, bikin pertunjukan stand-up comedy berbayar di Indonesia, semuanya diisi stand-up comedian Indonesia, dan dihadiri lebih dari 200 orang?"

Saya yakin semua bakal menjawab, "Gak bisa!"

Pada tanggal 24 Agustus 2011, @StandUpIndo mengadakan acara stand-up comedy berbayar pertama.  Bahkan saat itu, Raditya Dika masih mempertanyakan, apakah kita tidak bergerak terlalu cepat? Dia masih ragu ada yang mau bayar untuk menonton stand-up comedy. 

Tapi sekarang lihat saja, komunitas komedi tunggal di berbagai pelosok Indonesia mengadakan Stand-up Nite. Hampir semua berbayar. Rata-rata penontonnya ratusan. Rekor penonton Stand-up Nite berbayar terbanyak di Jakarta adalah 890 penonton. Di Bandung mencapai 730 orang. Di Pekanbaru bahkan melebihi 1.000!


Dalam satu tahun, hidup bisa berubah drastis. 

Sebelum 13 Juli 2011, kalau ada yang mengaku mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjalani profesi sebagai stand-up comedian, mayoritas pasti mempertanyakan kelogisan pilihan karier ini. Namun, itulah yang direncanakan (lantas dilakukan) Ernest Prakasa. 

Sekarang, tidak ada yang berani menertawakan pilihan hidupnya.

Saya juga kini telah mengundurkan diri dari manajemen kantor saya sebelumnya, dan fokus pada bidang komedi dan penulisan. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak rekan maupun sahabat di komunitas yang berbagi kesenangan maupun mimpi. Ini bukanlah kehidupan yang saya rencanakan sebelum 13 Juli 2011. Tapi ini adalah pilihan yang saya jalani dengan bahagia.


Dalam satu tahun, impian bisa terwujud... dan terwujud kembali 

Sebagian besar praktisi komedi tunggal adalah orang-orang yang memiliki mimpi bahwa suatu saat stand-up comedy akan tumbuh kuat di Indonesia. Perbedaannya adalah: ada yang mewujudkan mimpi itu. Dan ada yang menontonnya terjadi. 

Tidak masalah kita menjadi apa. Asalkan itu memang pilihan. Karena terwujudnya mimpi bukanlah suatu akhir. Selalu ada kelanjutan. Baik memelihara mimpi menjadi sesuatu yang membumi. Atau mengembangkannya lebih tinggi. 

Saya dan rekan-rekan di @StandUpIndo sendiri entah sudah berapa kali terkejut dengan terwujudnya berbagai impian dalam bentuk nyata: acara stand-up berbayar, gig rutin bagi para komika, acara TV khusus stand-up comedy, stand-up special, munculnya komika sebagai host acara bergengsi, komika sebagai bintang film, hingga tur antarkota. 

Daftar ini akan terus berlanjut. Kalau Anda praktisi juga, semoga mimpi Anda pun [akan] masuk di dalamnya. 


Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.


Viva la Komtung!

Saturday, February 11, 2012

Terbiasa Melamar Pekerjaan Sepertinya

Komunitas stand-up comedy Bandung (@standUpIndo_BDG) mengadakan open mike (panggung terbuka untuk para comic yang mau mencoba tampil) seminggu sekali, tiap hari Minggu jam 18.30 di Bober Cafe, Jalan Riau 123.


Dalam salah satu sesi, seorang guru bahasa Inggris menjajal panggung. Namun, sebelum selesai, ia tampak kehilangan kata dan turun sebelum waktunya.

Di sesi open mike berikutnya, ia muncul kembali dan tiba-tiba memberikan secarik kertas pada host saat itu, Dani Wardhana.

Tercetak pada kertas itu, "Maaf, saya turun karena gugup saat tampil terakhir. Mohon saya diberikan kesempatan sekali lagi." Resmi dengan nama dan tanda tangan. Padahal dalam open mike, siapa pun boleh mencoba lagi. Tanpa perlu penjelasan. Asalkan masih ada slot kosong.

Dani spontan bercanda, "Maaf, Pak. Ini kertasnya perlu ditandatangani Pak RT dulu. Lalu distempel oleh Kelurahan."

Saturday, October 15, 2011

Komtung 101: Antara Lawak dan Stand-up Comedy

Sering muncul pertanyaan: "Mengapa membedakan lawak dengan stand-up comedy? Apa karena gengsi?"

Karena memang berbeda dari kedalaman makna. Komedi tunggal (padanan untuk stand-up comedy, atau disingkat komtung) merupakan sebuah format pertunjukan lawak yang memiliki sejumlah konvensi atau pakem tersendiri. Pertanyaan di atas sama dengan, "Kenapa membedakan fiksi dengan novel?"

Novel memang karya fiksi, tapi tidak semua karya fiksi itu novel. Komtung memang pertunjukan lawak. Tapi tidak semua pertunjukan lawak itu komtung. Di Indonesia, sebagai contoh, ada format lawak Mataraman (atau Dagelan Mataram) yang dipopulerkan almarhum Basiyo (meninggal tahun 1984).


Pertanyaan berikut: "Lantas kenapa pelaku komtung disebut comic? Nggak mau disebut pelawak?"

Sekali lagi: comic dan pelawak itu istilah dengan kedalaman makna berbeda. Yang pertama khusus, yang kedua umum. Analoginya seperti novelis dan penulis. Sah saja menyebut seorang novelis sebagai penulis. Namun, tidak semua penulis adalah novelis. Ada juga cerpenis, kolomnis, dan sebagainya.

Jadi silakan menyebut seorang comic sebagai pelawak. Tapi tidak semua pelawak adalah seorang comic. Di sisi lain, istilah lawak sendiri sudah mengalami penyempitan makna karena terlalu sering dikaitkan dengan format yang populer di Indonesia. Jadi, penggunaan istilah pelawak untuk mengacu seorang comic bisa jadi memberikan persepsi yang keliru. Bukannya tidak mau. Hanya berpotensi menyesatkan.


Pertanyaan terakhir: "Kalau begitu, sudah adakah istilah Indonesia untuk menyebut seorang comic atau stand-up comedian?"

Sayangnya, belum. Kalau ada usul, silakan. Salah satu alternatif adalah pengomtung. Tapi istilah itu banyak menerima penolakan, haha. Padahal salah satu syarat diterimanya sebuah istilah baru adalah penggunaannya secara meluas.

Friday, August 12, 2011

#StandUpNite Bandung: Lautan Tawa

Setahun lalu, siapa sangka bahwa acara komedi tunggal (stand up comedy) akan membuat cafe dengan kapasitas 150 dibanjiri lebih dari 250-an orang?


Lebih parah daripada angkot: "Neng, geser Neng! Tujuh-lima! Tujuh-lima!"


@StandUpIndo, sekumpulan orang-orang yang berusaha menggerakkan komedi tunggal agar bisa jadi salah satu bagian utama dari industri hiburan Indonesia, kembali mengadakan acara #StandUpNite. Kali kedua ini di Bandung, tanggal 7 Agustus 2011, jam 8 malam. Bober Cafe menjadi tuan rumah acara.

Sampai jam 7 malam, keramaian cafe masih biasa saja. Masih ada satu atau dua meja yang kosong. Tapi 30 menit kemudian, barisan orang sudah berjejer dari pintu masuk sampai panggung, sehingga lewat pun sulit. Pihak manajemen Bober terpaksa menutup pintu masuk karena tidak mungkin lagi menampung penonton.

Manajemen Bober sendiri sudah memasang layar dan speaker di dua sisi luar cafe agar penonton yang tidak kebagian masuk pun dapat menikmati lawakan para komedian. Sayangnya, kedua layar tidak tersambung. Kemudian masih tersambung ke TV. Jadi audionya komedi tunggal, visualnya pertandingan sepak bola. Plus cafe sebelah ada live music. Terciptalah hiburan yang cocok bagi penonton yang menderita ADD (Attention Deficit Disorder).

Sementara itu, dalam cafe sudah seperti dunia sendiri. Saya sebagai MC memulai acara tepat pada jam 20.00. Dan langsung membuka dengan, "Kita beruntung sekali karena bisa hadir di sini sebagai saksi dua peristiwa bersejarah. Pertama, malam ini adalah acara stand up comedy PERTAMA DI BANDUNG!"

Sambutan penonton langsung menggila.

"Kedua," lanjut saya. "Ini adalah acara pertama yang TEPAT WAKTU DI BANDUNG!"

Keriuhan para penonton Bandung membuktikan kesebalan mereka pada acara yang ngaret. Justru karena itu acara #StandUpNite2 ini sangat menjaga ketepatan waktu. Ada 9 komedian yang akan tampil. Masing-masing mendapat giliran 10 menit, dengan penjagaan waktu yang ketat. Kecuali komedian terakhir, sebagai giliran pamungkas.

Para komedian yang tampil adalah:


Ki-ka (urutan): Reggy Hasibuan (8), Asep Suaji (3), Acho Muhadkly (5), Dwika Putra (6), Raditya Dika (9), Ferdi Riva (7), Mo Sidik (1), Isman H. Suryaman (MC), Jonathan End (4), Tomy Malewa (2)


Mo Sidik, salah satu dari 13 finalis Stand Up Comedy Indonesia KompasTV, langsung hampir merobohkan gedung cafe dengan tawa penonton. Saksikan sendiri video penampilannya.

Alur tawa berlanjut dari komedian ke komedian. Masing-masing membawa materi yang bervariasi, erat dengan latar belakang diri. Seperti Dwika Putra, yang membawa sedikit unsur pendidikan. Acho yang berbicara tentang jomblo dan galau. Jonathan (Joni) yang berbicara tentang bahayanya menyeberang jalan Ganesha. Atau Ferdi Riva yang mengisahkan pengalaman sebagai dokter spesialis mata.

Acara diakhiri oleh Raditya Dika, yang berbicara mengenai anehnya kaum wanita. "Kalau cewek udah ngajak debat, satu-satunya cara ngadepinnya adalah dengan pura-pura mati."

Lautan tawa pun berakhir pada jam 22.03. Namun pesan utama malam itu tetap menyala sampai sekarang: ini baru awal dari berkobarnya komedi tunggal di Indonesia. Mari sama-sama sebarkan!




________________________

Photo credits:

- Foto ke-1 dan ke-3: Desiyanti Wibrata

- Foto ke-2: Primadonna Angela

Sunday, July 17, 2011

#StandUpNite: Mengobarkan Kepercayaan Saya Terhadap Komedi Indonesia

KompasTV, mulai bulan Juli ini mengadakan audisi untuk kompetisi Stand Up Comedy Indonesia. Acara ini kira-kira seperti versi lokal Last Comic Standing. Audisinya diadakan di sejumlah kota besar. Dan para kontestan yang lolos akan mulai berkompetisi di acara televisi nantinya.

Ernest Prakasa, salah seorang peserta audisi, dan sesama penggemar komedi tunggal (padanan Indonesia untuk stand up comedy), mengajak sejumlah orang untuk menjajal sesi open mic (panggung terbuka bebas untuk siapa pun yang ingin mengisi, biasanya untuk stand up comedy) di Comedy Cafe Kemang, Jakarta. Berawal dari ajakan ke sesama teman, berlanjut ke Twitter, dan kabarnya merambat kian tak terkendali.


Akhirnya ada 8 orang yang sepakat ikutan mengisi open mic pada hari Rabu, 13 Juli 2011, mulai jam 8 malam. Diurutkan berdasarkan tampil: Ernest Prakasa, Arief Budiman, Intan Anggita Pratiwie, Asep Suaji, Ryan Adriandhy, Isman H. Suryaman, Pandji Pragiwaksono, dan Raditya Dika.

Tempat Comedy Cafe yang hanya dirancang untuk sekitar 30-an orang pun jadi penuh sesak karena sekitar 60-an orang memadati lokasi. Banyak penonton yang hanya menengok dari luar ruang. Dan itu pun mungkin lebih dari 30 orang tidak jadi masuk karena melihat tempat penuh.

Senang sekali melihat animo terhadap komedi tunggal di Indonesia ternyata sangat tinggi. Karena selama ini terlihat hanya sebagai ceruk yang terlalu kecil. Mungkin selama ini baik para penggemar maupun pelakunya tersebar di mana-mana dan belum bersilang jalan. Media sosial seperti Twitterlah yang ternyata mampu mempertemukan keduanya.

Komedi tunggal, seperti kata Pandji dalam sesinya, "Bisa merupakan media kritik yang baik." Seperti dicontohkan oleh Ernest dalam materinya yang mengkritik sinetron, "Cobain deh bertingkah laku kayak pemain sinetron sehari. Capek, kan?" Atau Raditya Dika yang mengkritik sinetron laga Indosiar, "Ngapain dia naik elang ke pasar? Emangnya di pinggir gak ada ojek? Emangnya di pasar ada 'Tempat Parkir Elang'?"

Iwel, seorang pionir komedi tunggal di Indonesia yang ikut naik ke panggung terakhir, juga menyampaikan, "Kalau lawak Indonesia selama ini menertawakan kebodohan pelakunya, stand up comedy justru menertawakan kecerdasan pelakunya."

Walaupun komedi tunggal juga menertawakan diri, tetap saja dengan cara yang cerdas. Asep Suaji mencontohkan ini ketika dia menceritakan saat dia berpacaran dengan seorang akuntan, "Dia panggil gue Aset!"

Acara berakhir dengan semangat dan harapan tinggi yang kembali berkobar. Semoga api ini terus merambat dan menjalar, hingga saat komedi tunggal menjadi bagian penting dari dunia komedi Indonesia.

Rekaman penampilan kedelapan orang tersebut bisa dilihat di: www.youtube.com/standupcomedyindo

Catatan: Selain kedelapan nama di atas, masih muncul juga Jati (yang juga ikut audisi) dan Iwel. Sayang sekali, batere kamera perekam Ernest sudah habis sehingga penampilan keduanya gagal diabadikan.




UPDATE:
  • Rekaman penampilan saya dibagi dua. Sila klik saja: Bagian pertama. Dan bagian kedua.

  • Akan ada #StandUpNite di Bandung! Tunggu kabarnya, ya! Dan bagi yang tertarik untuk ikutan tampil, kontak saja ke Twitter @standUpIndo, cc ke @ismanhs

  • Komunitas Komedian Tunggal Jogja juga akan segera mengadakan #standUpNite, pada Rabu, 20 Juli 2011. Di Toko Buku Togamas Gejayan, Jogjakarta. Mulai jam 20.30 waktu setempat. Untuk informasi lebih lanjut, kontak Imot di akun Twitter @oomimot.

Wednesday, December 03, 2008

Preorder Buku Humor Terbaru Isman H. Suryaman: Parodi Film Seru

Status Terakhir:

Sudah lengkap 100 pemesan pertama! Tinggal 9lagi.

Belum dapat? Tenang saja: Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko buku, baik daring (online) maupun luring (offline).

Kalau menginginkan yang bertanda tangan, masih bisa kok pesan ke saya. Kirim saja email pemesanan ke writerstavern AT gmail DOT com.

Mohon pengertiannya: Anda akan mendapatkan harga sesuai toko: Rp30.000, karena sudah tidak termasuk 100 pemesanan pertama.

Bonus pin pun hanya akan diberikan kalau masih tersedia. Sekarang sisa sekitar 20-an, karena sejumlah pemesan pertama tersebut memilih aksesoris dari Rumah Pernik.




Masih ingat seri Movies in Five Minutes di blog The Fool Has Landed? Empat parodi film di blog itu telah menghilang semenjak beberapa bulan terakhir. Diculik tanpa uang tebusan.

Karena kini, ditambah sebelas parodi film baru, jadilah buku humor saya yang teranyar, Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil.

Seratus pemesan pertama akan mendapatkan buku dengan stiker autographed copy (tentunya ditandatangani dong, agar stikernya senantiasa jujur, baik hati, dan suka membantu menemani nenek menonton film horor). Bonus: pin eksklusif atau aksesoris Rumah Pernik. Silakan pilih.

Khusus bagi kawan-kawan yang sudah preorder sebelum pengumuman ini, dua-duanya dapat. Tidak harus memilih. Terima kasih atas dukungan kalian!

Harga buku: Rp30.000 Rp27.000 untuk 100 pemesan pertama.

Mau pesan? Langsung saja kirim email ke writerstavern AT gmail DOT com.



"Buku ini mengajak elo menertawakan film de­ngan cara yang belum pernah elo alami se­belum­nya."
–-Agung Nugroho, penulis Ocehan Si Mbot



Parodi Film Seru menghadirkan 15 Skenario Gokil yang bakal bikin harimu ce­rah. Dari kesulitan Selene membangkitkan tetua vampir dalam film Underworld...

SELENE
(MEMBACA PANDUAN) “Teteskan darah secukupnya. Biarkan mengembang se­la­ma lima menit”.


...hingga kebingungan Shanaz mengemas barang untuk mendaki Gunung Merapi dalam Mengejar Mas Mas.

SHANAZ
Barang yang perlu gue bawa... celana pendek. Celana pendek. Dan... hmm, oke, celana pendek. Beres.

Dari genre horor (Resident Evil), aksi (Transformers), hingga megalomania (Rocky Balboa dan Rantai Bumi).



"Salah satu parodi paling bebas dan lucu yang pernah saya baca. Dan isman selalu menemukan angle paling unik untuk menemukan dari mana senyum berasal... Atau memang otaknya selalu jahil."
--Wahyu HS, penulis skenario Para Pencari Tuhan

"Gak pernah kebayang film favorit Resident Evil bisa begitu ancur­nya di buku ini. Lucu dan nyambung banget. Tapi ri­sikonya, kita gak akan pernah bisa lagi nonton film-film yang sudah ada di bu­ku ini secara serius."
-–David Poernomo, sutradara dan produser film




Tunggu apa lagi? Pesan sekarang juga!

Kirim email ke writerstavern AT gmail DOT com. Tawaran ini hanya berlaku untuk 100 pemesan pertama. (Mendadak merasa seperti iklan TV.)

Tuesday, January 29, 2008

Begitu Menyenangkan, Namun Begitu Singkat

Begitulah gambaran kerja sama penulisan humor saya dan donna dengan TransTV. Bulan Desember 2007 lalu, saya dan donna mendapatkan kesempatan menulis skrip untuk acara komedi terbaru TransTV berjudul Sketsa.

Sketsa mengambil bentuk dan gaya humor seperti The Fast Show atau The Sketch Show; dengan latar yang realistis (bukan panggung) dan pengambilan kamera yang sederhana, tanpa efek khusus. Lelucon dalam tiap sketsa berdiri sendiri (one-shot). Dengan perkecualian sejumlah sketsa yang leluconnya saling menyambung (running gag).

Bagi saya dan donna, kesempatan ini sendiri sangat berharga. Karena seperti saya sampaikan dalam pemberitahuan di multiply, kami bisa menulis humor--sesuatu yang kami gemari--sekaligus bertindak nyata bagi industri TV Indonesia: menyajikan alternatif tontonan di luar sinetron yang meremehkan intelijensi penonton.

Kami pun mengalami kecocokan dengan tim kreatif TransTV sendiri. Sehingga akhirnya kami membentuk tim bernama Team ID (dibaca seperti "Idea" dengan pengucapan Inggris) untuk kerja sama penulisan skrip jangka panjang. Tim tersebut sudah beranggotakan empat orang, plus dua lagi yang masih dalam tahap inisiasi.

Sayangnya, kerja sama itu berakhir lebih cepat dari yang kami duga. Kami mengundurkan diri. Lho, kenapa?

Tanpa perlu menyebut nama, salah satu bos besar TransTV menginstruksikan agar produser Sketsa mengadaptasi Kelsey Grammar Presents: The Sketch Show. Pihak TransTV pun konon sedang memproses lisensi untuk adaptasi tersebut.

Lalu masalahnya apa? Terhitung hari ini, sketsa-sketsa adaptasi itu sudah selesai disyut.

Bagi banyak orang, hal ini bisa jadi tidak merupakan masalah. "Toh lisensinya sedang diurus, kan?" Namun, bagi kami berbeda. HaKI adalah hal yang penting. Dan langkah yang benar adalah beres mengurus lisensi dulu, baru mulai adaptasi. Kasus terburuk: bagaimana kalau ternyata tidak ada kesepakatan dalam mengurus lisensi tersebut, padahal sketsa "adaptasi"-nya sudah ditayangkan? Bukankah itu jadi plagiarisme?

Mungkin ada yang mau berkomentar, "Ya, gampang, Man. Tinggal jangan tayangkan saja sketsa adaptasinya sampai beres. Gitu aja kok repot?"

Gampang kalau memang semua kendali pada apa yang tayang dan apa yang tidak itu ada pada tangan saya atau donna, misalnya. Tentu saja kenyataannya tidak. Bahkan iklan acara Sketsa sendiri masih menayangkan potongan adegan tenis meja dan lomba renang dari episode pilot, yang seharusnya hanya untuk kebutuhan internal. Jadi bisa saja kru TransTV (sengaja ataupun tidak) memilah dan menayangkan sketsa adaptasi yang belum mendapatkan lisensi.

Di sisi lain, saya dan donna pribadi memegang prinsip yang sangat jelas: menulis dan mengembangkan acara baru berdasarkan acara lain itu oke. Karena kita tetap menulis materi baru. Justru itulah yang memajukan dunia komedi. Format sitkom, sebagai contoh, lahir karena tiap acara baru mengadaptasi konsep format tersebut. Hukum Tiga (Rule of Three) lahir karena pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun para penulis humor maupun komedian.

Sketsa komedi juga sama. Dari Monty Python's Flying Circus hingga Saturday Night Live, semua tidak muncul begitu saja. Melainkan karena membangun suatu acara baru berdasarkan pengalaman orang lain. Dan itu yang kami temukan di Sketsa, selama ini.

Namun, kalau diminta mengadaptasi tanpa lisensi resmi, kami menolak. Berhubung pihak TransTV tetap melakukan hal tersebut, bahkan lanjut sampai syuting, kami berniat mengundurkan diri baik sebagai pribadi maupun tim. Karena jika tidak, itu sama saja seperti melakukannya (accomplice).

Sekali lagi, ini adalah keputusan berdasarkan prinsip. Tiap orang bisa saja memiliki prinsip yang berbeda. Tidak ada yang mutlak benar maupun salah.

Terima kasih atas dukungan teman-teman sebelum ini. Dan terima kasih bagi teman-teman TransTV atas kesempatannya. Bagi kami, pengalaman ini tetap menyenangkan. Memang sayang hanya singkat. Namun mungkin memang itulah yang terbaik bagi kedua pihak.

___________________________

NB: Karya kami jadinya hanya muncul di beberapa episode pertama. Dan entah yang mana saja. Penulisan skenario di sini berbasiskan sketsa, alih-alih episode. Misalnya, dari 100 sketsa yang kami buat, bisa jadi 10 dimasukkan ke episode dua, 30 di episode tiga, dan seterusnya.

UPDATE: Sketsa sendiri mulai tayang di TransTV Jumat ini (1 Februari 2008), jam 19:30 WIB.

Monday, August 13, 2007

Wawancara Imajiner Tentang Humor Tulisan

Bulan lalu sebuah majalah mewawancarai saya via telepon berkaitan penulisan humor. Ada sejumlah pertanyaan yang menggelitik pikiran saya selama beberapa hari setelah itu. Dan saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan sama sekali belum lengkap. Dan bisa jadi pewawawancara malah salah tangkap.

Terlepas dari tulisan hasil wawancaranya seperti apa, saya jadi ingin menulis ulang beberapa pertanyaan dan jawabannya.


Tanya (T): Seperti apakah humor yang bagus menurut Anda?
Jawab (J): Humor yang jujur. Karena biasanya humor seperti ini membuat kita tertawa lantas berpikir. Penulis William Davis pernah berkata, "Jenis humor yang saya sukai adalah yang membuat saya tertawa selama lima detik, lantas berpikir selama sepuluh menit."


T: Kalau humor yang buruk?
J: Kebalikannya: membuat kita malas tertawa, apalagi berpikir.


T: Apa pendapat Anda tentang buku humor di Indonesia?
J: Sebagai sebuah kategori di dunia buku Indonesia, "humor" masih terjebak stereotipe sebagai kumpulan lelucon pendek ala "Mati Ketawa Cara..." Padahal kalau dibandingkan dengan kategori internasional, bentuknya macam-macam. Buku humor nonfiksi bisa berupa kumpulan esai, seperti karya P.J. O'Rourke, Dennis Miller, atau Roy Blount Jr. Bisa kisah pengalaman/wawasan diri seperti karya Bill Cosby, Steve Martin, Tim Allen, Paul Reiser, maupun Ray Romano.

Atau bahkan bentuk-bentuk lainnya. Dave Barry, misalnya, menerbitkan The Book of Bad Songs, yang isinya secara hiperbolis membahas lagu-lagu terburuk, berdasarkan masukan dari para pembaca kolomnya. Dengan menertawakan lagu-lagu yang ia bahas, kita tanpa sadar menangkap kritik terhadap lirik yang ditulis asal-asalan. Douglas Adams menggagas The Meaning of Liff, yang merupakan ide brilian untuk memperkaya perbendaharaan kata Inggris dengan menambahkan sejumlah definisi untuk nama-nama daerah. Dua contohnya adalah:


ARDSCALPSIE (n.)
Excuse made by rural Welsh hairdresser for completely massacring your hair.

WIGAN (n.)
If, when talking to someone you know has only one leg, you're trying to treat then perfectly casually and normally, but find to your horror that your conversion is liberally studded with references to (a) Long John Silver, (b) Hopalong Cassidy, (c) The Hockey Cokey, (d) 'putting your foot in it', (e) 'the last leg of the UEFA competition', you are said to have committed a wigan. The word is derived from the fact that sub-editors at ITN used to manage to mention the name of either the town Wigan, or Lord Wigg, in every fourth script that Reginald Bosanquet was given to read.



Gagasan Adams sendiri mungkin merupakan pengembangan dari ide The Devil's Dictionary-nya Ambrose Bierce, yang mendefinisikan ulang istilah kamus secara sarkastis.

CONGRATULATION, n.
The civility of envy.

CONSULT, v.i.
To seek another's disapproval of a course already decided on.


Pernah dengar istilah Darwin Awards? Ini adalah penghargaan yang secara sarkas dianugerahkan untuk orang-orang yang berhasil membuktikan teori Darwin, dengan gagal dalam seleksi alam. Umumnya mereka tewas atau luka parah karena tindakan bodoh seperti pria yang menggunakan penghisap debu untuk masturbasi.[1] Kumpulan cerita mengenai orang-orang ini bahkan sudah sampai beberapa seri dan laris manis.


T: Kita bisa lanjut ke pertanyaan berikut?
J: Tidak. Saya masih belum selesai. Sekarang mari kita lihat fiksi. Kita bisa melihat kungkungan stereotipe ini dari anggapan mayoritas pembaca bahwa buku humor harus yang "kocak".[2] Padahal karya satir seperti Gulliver's Travels-nya Jonathan Swift juga termasuk humor.

Dalam fiksi, humor sebenarnya merupakan elemen cerita. Karena itu, karya humor fiksi biasanya tidak dikategorikan ke dalam "humor". Melainkan masuk dalam sebuah subkategori di bawah fiksi.

Salah satu subkategori fiksi yang lucu adalah "novel populer". Novelis Irwin Shaw pernah berkomentar, "Saya mengernyit setiap kali para kritik berkata bahwa saya ahli [dalam menulis] novel populer. Novel yang tidak populer itu [seperti] apa?"

Kalaupun ada label dalam dunia buku yang memasukkan nama humor atau komedi, biasanya lebih ke arah fungsi pemasaran.


T: Sekarang gimana? Sudah?
J: Belum. Masih ada lagi.

Kumpulan strip komik kita, yang masih termasuk humor, juga menderita stereotipe serupa. Mayoritas adalah kartun satu atau beberapa panel yang tidak memuat dialog. Hanya mengandalkan kelucuan adegan slapstick. Komikus/kartunis yang menggunakan dialog dan situasi humor seperti Dwi Koendoro masih jarang. Dan saya belum melihat ada yang bisa seperti Scott Adams, membuat seri Dilbert yang menjadi ikon budaya (atau kebodohan) korporat (hingga menulis buku Dilbert's Principle atau Dilbert's Future). Atau seperti Bill Watterson, yang begitu piawai mengilustrasikan pola pikir seorang anak dalam seri Calvin and Hobbes, hingga tanpa sadar kita ikut mempertanyakan kehidupan.


T: Tolong beritahu saya kalau Anda sudah selesai. Saya tidur dulu.
J: Sudah kok.


T: Bener, nih?
J: Iya.


T: Yakin nggak mau nambahin lagi? Tentang hal yang perlu diperhatikan dalam menulis humor, misalnya?
J: Oh, benar juga. Oke, mau mulai dari mana?


T: Dari bagaimana seharusnya saya tutup mulut saja.
J: Ada dua hal yang perlu kita sadari sebelum menulis buku humor. Pertama, humor itu serius. Kedua, humor penulisan berbeda dengan humor pementasan.

Saya melihat banyak penulis yang melupakan hal pertama karena menganggap remeh penulisan humor. Dalam salah satu ajang permainan kepenulisan bertema humor, tiga dari sepuluh penulis berkomentar, "Ternyata menulis yang lucu-lucu susah, ya?"

Sebelum menulis humor, kita perlu menguasai dasar-dasar penulisan terlebih dahulu. Karena humor akan sulit keluar kalau berkomunikasi dalam bahasa tulisan saja belum fasih. Salah koma saja bisa berakibat fatal bagi eksekusi humor tulisan.

Hal kedua saya lihat dari sejumlah pelawak/komedian yang menulis buku. Ada yang sekadar menyusun kumpulan lelucon dan mengubah nama tokohnya menjadi nama mereka, seperti Edwin dan Jody. Ada yang sekadar memindahkan humor pementasan jadi humor tulisan, seperti Kelik Pelipur Lara.

Padahal humor tulisan adalah makhluk yang berbeda sama sekali. Dua jenis humor yang bisa berlaku baik dalam bentuk tulisan maupun pementasan adalah lelucon pendek dan humor pengamatan. Itu pun masih perlu diubah sesuai keperluan, seperti yang dilakukan Jerry Seinfeld dalam Seinlanguage atau Chris Rock dalam Rock This!


T: Bisakah Anda ngomong, "Ya, itu saja"?
J: Hmm? Ya, itu saja. Untuk a--


T: Terima kasih! (Klik.)
J: Halo? Halo?


_________________________________

[1]: Hanya pria yang akan mengernyit saat membaca kalimat ini.

[2]: Umumnya dalam arti mendorong pembacanya untuk mengeluarkan tertawa di atas 80 desibel, atau cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya bereaksi dalam dua cara. Pertama, bertanya, "Apa sih yang lucu?" Atau kedua, menyumpal mulut si pembaca dengan tisu.

Friday, July 20, 2007

Menulis [Dunia Komedi]

Bambang Haryanto dari Komedikus Erektus menggelitik saya, "Apakah blog Anda sudah khusus membahas dunia komedi?"

Betul juga. Mengaku-aku penulis humor, tapi kok hampir nggak pernah membahas dunia komedi? Padahal materi penulisan humor saja sudah banyak yang berbeda dengan penulisan kreatif. Seperti semut bukanlah hanya serangga. Padahal itu baru menyentuh teknik.  

Karena itu, saya memperkenalkan tag baru: Dunia Komedi. Kalau selama ini saya menulis tentang komedi/humor dunia, kini saya membahas juga yang dunia komedi/humor; bidang yang diarungi orang-orang yang berusaha keras membuat orang tertawa, atau tewas dalam usaha mereka.

Dan saya tidak bercanda. 

Seperti ditulis Melvin Helitzer dalam Comedy Writing Secrets, pada sebagian besar situasi, membuat orang tertawa adalah kompetisi. Dengan menertawakan lelucon seseorang, kita mengakui keunggulan orang tersebut dalam membuat kita tergelak.

Perkecualiannya adalah pada apa yang disebut Stevie Ray, sebagai "tawa superioritas". Di sini berlaku kebalikannya, kita tertawa karena merasa lebih unggul daripada orang yang kita tertawakan. Seseorang menabrak pintu kaca, dan kita tertawa. Seorang heckler dibalas Chris Rock hingga gelagapan, kita tertawa. Lebih ekstrem lagi, raja-raja di Eropa Abad Pertengahan dulu menyuruh para jester untuk membuat mereka tertawa. Kalau gagal, dirajam. Kadang, saat seorang jester dirajam, ada raja yang tertawa. Berarti sang jester berhasil. Sayangnya, ia sudah tidak bisa merayakannya. Tawa sang raja ini termasuk tawa superioritas.

Karena posisinya yang di ambang tiang gantungan, jester bahkan sering ditunjuk sebagai pembawa berita buruk. Pada masa peperangan, saya bisa membayangkan seorang jester beringsut-ingsut menghadap rajanya, "Tahukah Baginda, mengapa musuh kita begitu pengecut?"

"Mengapa?" geram sang raja.

"Karena merekalah yang lebih dahulu bergerak meninggalkan tenda mereka," ujar sang jester. "Baru setelah itu, tentara kita yang gagah berani meninggalkan benteng terdepan kita."

Dunia komedi bukanlah semesta cerah-ceria. Sama saja seperti dunia penulisan bukanlah alam glamor seperti yang diduga banyak orang. Kita akan mengintip ranah penuh keputusasaan, tangis darah, penolakan, dan penyangkalan. Intinya, sama saja dengan dunia nyata. Bedanya hanya satu: para komedian menerima semua ini dengan menertawakannya.

Dan mengajak semua orang untuk melakukan hal yang sama.