Friday, August 31, 2007

Potret Kehidupan Berbahasa Kita

TV menayangkan potongan wawancara seorang wakil partai, "Karena daripada yang mana, kita tetap warga daripada Indonesia yang..."

Teman di sebelah saya tertawa.

"Kenapa kau menganggapnya lucu?" tanya saya.

Ia mendengus dan berkata, "Secara itu penggunaan bahasa Indonesia yang keliru, gitu lho."

KSK #13: Derita Mainan 2



Sila klik gambar di atas untuk melihatnya dalam ukuran yang lebih besar.

Komik strik keluarga sebelumnya: Derita Mainan 1

Thursday, August 30, 2007

Sudah Terbit: Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint

"...menggunakan PowerPoint itu seperti menaruh AK-47 yang terkokang di atas meja: kita bisa melakukan hal-hal yang sangat buruk dengan [benda] ini."
--Peter Norvig, Direktur Riset Google

Ruang rapat yang gelap. Slide yang penuh sesak oleh bullet point. Huruf-huruf yang terlalu kecil. Atau terlalu gelap. Dengan latar belakang yang terlalu ramai. Teks dan gambar yang berputar-putar. Musik yang mengganggu. Atau bahkan mencuci otak. Presentasi sering kali menjadi peperangan antara penyaji yang tidak kompeten melawan hadirin yang ingin kabur. Korban yang gugur dalam peperangan ini akan bergabung dengan para penyaji untuk melakukan kesalahan yang sama. Dengan kata lain, semakin lama kita berdiam diri terhadap berbagai presentasi yang membosankan, para pelakunya akan semakin bertambah.


Cukup sudah! Manfaatkanlah panduan dan tips dalam Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint (7DB PPT) melawan balik! Selain itu, buku ini juga berguna bagi mereka yang belum sadar untuk bahwa presentasi yang mereka sajikan justru menyulitkan orang lain untuk mengerti. Atau bagi para pembicara yang ingin mengetahui lebih dalam tentang penyusunan materi presentasi yang efektif.

"...mulai dari bagaimana menghilangkan boredom alias kebosanan, mengukur waktu yang tepat sehingga presentasi bisa berjalan dengan efisien tanpa membuang-buang waktu, penguasaan 'panggung', sampai dengan menyajikan presentasi yang membangkitkan rasa ingin tahu audiens... Tidak salah lagi, buku ini adalah satu-satunya yang akan menemani saya ketika mengalami kebuntuan dalam merancang dan merangkai presentasi PowerPoint."
--Jennie S. Bev, pembicara dan entrepreneur

7DB PPT bukanlah sekadar buku how-to. Ia mengajak pembacanya untuk membuka pikiran dan melihat kembali bagaimana orang-orang sering menyalahgunakan PowerPoint dalam praktik presentasi. Pengguna PowerPoint, Impress, Keynote, maupun software penyaji presentasi lainnya akan dapat menggunakan panduan praktis serta menghibur dalam buku ini untuk menyusun serta menyajikan presentasi secara kuat dan efektif.

"Buku ini bukan hanya tentang PowerPoint tapi lebih ke cara presentasi yang efektif dan menarik. Jika Anda seorang pembicara, dosen, manager, calon pembicara, calon dosen, maupun calon manager, buku ini sangat layak Anda baca."
--Samuel Prakoso, mantan pelaku 7 dosa besar


Dapatkan segera di toko-toko buku kesayangan Anda.


Detail Buku
__________________

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Perwajahan Muka: Sofnir Ali
Perwajahan Isi: Ryan
Ukuran: 15 x 23 cm
Halaman: 127
Harga: Rp30.000

Hati-hati: Menyabotase Presentasi Sendiri

Saya baru mengikuti seminar Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Bandung yang membahas situs portal bisnis untuk perdagangan dan investasi. Presentasinya bisa saya simpulkan dalam dua kata: sakit kepala.

Pembicara seminar ini adalah dua orang berkewarganegaraan Jerman. Pembicara pertama mengaku sebagai pakar situs web dan yang kedua adalah wakil dari Kadin Hanover. Keduanya sukses menyabotase presentasi mereka sendiri.

Mari mulai dari penataan ruang yang mengundang bencana. Para pembicara duduk di panggung tengah, terhalangi meja. Lantas ada dua layar sorot. Satu di pojok kiri (dari arah hadirin) dan satu lagi di pojok kanan ruangan. Hebatnya, kedua layar ini menampilkan dua hal berbeda. Layar kanan menampilkan slide PowerPoint. Layar kiri menunjukkan situs web portal bisnis Jerman.

Pembicara pertama membaca slide, dan kami menoleh ke kanan. Pembicara ganti menunjuk tampilan situs, dan kami menoleh ke kiri. Kembali lagi ke slide. Ke situs. Begitu terus. Kalau saya ingin menolehkan kepala ke kiri dan kanan secepat ini, saya mendingan ikut aerobik.

Ingat kembali bahwa pembicara berdiri di balik meja. Di atas panggung. Ini juga memberi jarak dengan hadirin. Lantas dikombinasikan dengan slide yang berisi jejeran bullet point, hasilnya cukup ampuh: hadirin kehilangan minat. Awalnya, hadirin mulai malas menoleh. Lantas sebagian mulai sibuk sendiri atau mengobrol. Saya sendiri setengah mati menahan diri untuk tidak melantunkan reff satu lagu Project Pop, "Leng geleng geleng geleng geleng..." Beberapa orang ada yang pamit ke belakang. Tapi tidak kembali-kembali. Bisa jadi diculik oleh Gerakan Pembebas Korban PowerPoint Nasional.

Dalam buku Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint, saya menuliskan bahayanya dosa besar keempat: menyulitkan pembacaan. Sewaktu-waktu, presentasi kita bisa tersabotase. Hadirin mengalami kesulitan menangkap apa yang ingin kita sampaikan. Ketika ini terus-menerus terjadi, mereka pun akan memutuskan untuk tidak lagi peduli.

Dan jangan salah: yang menyabotase presentasi kita, biasanya adalah kita sendiri.

Peristiwa di atas bisa dihindarkan dengan cara mudah: proaktif. Para pembicara dapat datang lebih awal dan ikut menata ruangan bersama panitia. Khusus untuk kasus ini, kita perlu memastikan bahwa tatapan hadirin dapat berpindah antara fokus perhatian dengan nyaman, tanpa menggerakkan kepala secara berlebih. Dan pilihan fokus perhatian ini sebaiknya hanya dua: diri kita dan layar. Kalaupun menggunakan dua layar, sebaiknya isinya sama. Layar kedua ini berfungsi sebagai alternatif bagi hadirin yang terlalu jauh dari layar pertama.

Dan yang tak kalah penting: singkirkan jauh-jauh semua penghalang antara kita dan hadirin.

Saat Brian Conley (pendiri aliveinbaghdad.org) diminta berbicara di depan podium, ia berbisik kepada temannya, "Kira-kira mereka bakal marah nggak kalau aku menendang podium itu hingga terguling?"

Berlindung di balik meja atau podium mungkin terasa lebih nyaman. Namun cobalah pikir lagi, apakah pernah ada pembicara yang berkata, "Wah, sambutannya meriah sekali! Untunglah aku membawa meja ini dari rumah." Tidak. Karena sebaliknyalah yang terjadi. Hadirin lebih menyambut para pembicara yang berani menampilkan diri secara utuh. Karena itu, hilangkan semua yang menghambat kita untuk menjalin kontak emosi dengan hadirin.

Sang pembicara pertama ini pun akhirnya sadar. Ia memutuskan untuk melangkah turun dari panggung, dan berdiri di dekat salah satu layar. Kini, kami dapat menatap kedua fokus perhatian dengan nyaman. Sang pembicara pun mulai berinteraksi, berbicara langsung dengan hadirin. Sesekali menanya bisnis apa yang digeluti seorang peserta. Atau apa yang mereka minati. Ia tidak lagi sekadar membaca slide.

Berkat itu, presentasi kembali hidup. Walau untuk sementara. Karena muncullah giliran pembicara berikut. Dan layar menayangkan slide baru yang berisi... lebih banyak lagi bullet point.

Saya langsung mencatat dalam hati, agar pulangnya nanti beli obat pusing.

KSK #12: Derita Mainan



Jika ingin lebih jelas membaca, silakan klik gambar di atas.

Komik strip keluarga sebelumnya: Burungku Sayang, Burungku Malang.

Wednesday, August 29, 2007

Buaya Merah Muda

Dalam game Persona 3, seorang pria pengidap kanker stadium akhir bertanya kepada kita, sebagai tokoh utama, "Apa pendapatmu tentang seekor buaya berwarna merah muda?"

Lantas kita perlu memilih salah satu jawaban:


  1. Keren!

  2. Nggak ada buaya berwarna merah muda.

  3. Aku nggak peduli.


Dalam dua detik pertama, jawaban apa yang otomatis Anda pilih? Simpan dulu dalam ingatan.

Lanjut pada cerita, sang pria kemudian menjelaskan, bahwa ia menganggap ide buaya merah muda itu menarik. Ia ingin menulis cerita dengan buaya tersebut sebagai tokoh utamanya. Akibat warna kulit yang mencolok, buaya tersebut tidak bisa berburu. Semua buruan langsung kabur saat ia mendekat. Kalangan buaya pun mengucilkannya. Warna kulit yang aneh membuat buaya lain merasa ngeri. Semua menjauh, takut tertular. Buaya ini pun kelaparan dan kesepian.

Ya, buaya ini adalah simbol diri sang pria yang mengalami hal serupa. Ide unik ini mampir dalam pola pikir seseorang yang menderita penyakit tak tersembuhkan. Tapi, bisa pula mampir dalam benak seseorang yang mencoba menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dengan kata lain, orang yang tidak hanya terpaku pada pola pikir sendiri.

Pilihan jawaban di atas mencerminkan kesiapan kita menerima hal-hal yang berbeda.
Apakah kita hanya tersita oleh apa yang kita lihat atau rasakan? Dapatkah kita menerima hal-hal tak lazim sebagai kemungkinan?

Menurut Anda, seseorang yang mudah menemukan dan menangkap ide akan memilih jawaban yang mana? Ingat-ingatlah itu.

KSK #11: Burungku Sayang, Burungku Malang

(Judul yang bisa saja muncul di bioskop Indonesia, melihat tren judul perfilman Indonesia sekarang.)



Klik gambar di atas untuk melihat versi yang berukuran lebih besar.

Komik strip sebelumnya: Wawancara Superhero 2.

Tuesday, August 28, 2007

KSK #10: Wawancara Superhero 2


Klik gambar di atas untuk melihatnya dalam ukuran yang lebih besar.

Komik strip keluarga sebelumnya: Wawancara Superhero 1.

Monday, August 27, 2007

Jalur Ide Bebas Hambatan

Ada satu lagi hambatan kita untuk segera menangkap dan menuliskan ide. Yakni kebingungan: bagaimana kita memulai? Orang yang kebingungan di sini biasanya mengeluhkan bahwa mereka sudah mencari-cari, tapi terus-menerus hanya menemukan bangkai.

Orang-orang ini biasanya berusaha memecahkan masalah mereka dengan duduk di depan meja dan memeras otak habis-habisan. Melanjutkan analogi saya tentang ide seperti kunang-kunang, tindakan ini seperti mengurung diri di tengah lingkaran api, lantas mempertanyakan kenapa kunang-kunang tidak ada yang datang. Kalaupun ada kunang-kunang yang menerobos dengan semangat banzai, mereka tidak akan dapat melihatnya. Terlalu terang.

Padamkanlah api di sekeliling kita. Atau keluar saja dari lingkaran itu.

Kembali pada penulisan, ini berarti gantilah cara yang menggorok inspirasi sendiri itu. Cobalah kembalikan rasa senang kita akan menulis. Atau berehat saja. Keluar dari ruangan. Cari aktivitas lain di luar menulis. Atau geluti kegiatan menulis bersama teman. Saat kita rileks, tiba-tiba saja kita menyadari banyak ide berseliweran di sekitar kita. Sebenarnya dari tadi mereka ada. Hanya kita yang berubah. Sekarang kita bisa menemukan mereka.

Salah dua hal yang menggorok inspirasi sendiri adalah rutinitas dan pola yang mengalami kejenuhan. Dami Sidharta menuliskan saran Erik Vervroegen, Executive Creative Director TBWA Paris, agar kita tidak terjebak dengan satu gaya penulisan saja.


...jangan terjebak dengan satu gaya beriklan. Biasanya seseorang akan punya gaya favoritnya sendiri, entah itu humor, mendayu-dayu, dll. Biasain untuk mencari dan nyoba gaya yang laen. Demo ad, beautiful ad, highjack ad, in front/behind ad, literal, guerilla, riddles, before/after, visual puns, bermain dengan media, copy heavy, big production, "UFO" ad, print ad filmed, comedy, beautiful story, parody, konseptual, dan masih banyak lagi gaya yang bisa kita coba. Jadi bukan cuma print ad visual puns tanpa copy dengan logo kecil di pojok kanan aja yang bisa disebut iklan.

Memang dia berbicara dalam konteks iklan. Namun, saran ini berlaku untuk penulisan kreatif secara umum.

Tanyakan pada diri sendiri:

  1. Apakah kita terlalu suka pada satu bentuk penceritaan tertentu?
    Apakah kita terus menulis cerpen tanpa pernah mencoba, misalnya, cerber, novela, flash-fiction, memoar, dll?

  2. Apakah kita tidak pernah mencoba menulis karya dengan gaya berbeda?
    Humor, kontemplatif, aliran-kesadaran, horor, thriller, romansa, di-luar-dunia-ini, atau cari sendiri gaya yang berbeda. Humor saja memiliki banyak gaya: satir, humor pengamatan, humor kelam, parodi, pengejekan-diri, atau humor dalam karung (gaya bebas tanpa pola--sehingga kejutan bisa muncul di mana-mana. Salah satu contoh penulis Indonesia yang fasih dalam gaya ini adalah Raditya Dika).

  3. Apakah kita selalu menulis untuk tipe pembaca yang sama?
    Anak-anak, praremaja, remaja, pemuda (young adults), dewasa. Lebih drastis lagi, cobalah menulis untuk kucing Anda. Kira-kira seperti apa bentuknya?

  4. Kalau Anda selama ini menulis prosa, pernahkah menulis puisi? Lirik musik? Haiku? Skrip? Sebaliknya juga berlaku.

  5. Kalau selama ini kita hanya berkutat dengan teks, pernahkah kita mencoba menggabungkannya dengan elemen visual? Pernahkan mencoba membuat caption (teks di bawah foto/gambar)? Copy iklan? Komik? Rangkaian slide presentasi? Suka menonton film asing? Cobalah bikin subtitel sendiri yang membuat ceritanya jadi jauh berbeda. Ubahlah One Litre of Tears jadi film horor, misalnya.


Temukanlah kebiasaan diri kita yang telah menjadi pola. Atau lebih gawat lagi: rutinitas. Dobraklah rutinitas itu. Kembalikan tiap sesi penulisan menjadi jalur ide yang bebas hambatan.

KSK #9: Wawancara Superhero 1



Akhirnya terpaksa mengubah foto juga pake MS Paint. (Moto aplikasi: "Making your work feel like a real Paint!")

Komik strip keluarga sebelumnya: Daur Ulang.

Sunday, August 26, 2007

KSK #8: Daur Ulang

Tribut untuk Bill Watterson.



Perlu lebih jelas baca teksnya? Klik saja gambar di atas untuk melihat komik berukuran lebih besar.

Komik strip keluarga sebelumnya: Memang Aneh.

Saturday, August 25, 2007

KSK #7: Memang Aneh



Perlu lebih jelas baca teksnya? Klik saja gambar di atas untuk melihat komik berukuran lebih besar.

Komik strip keluarga sebelumnya: Permainan Anak-anak.

Friday, August 24, 2007

KSK #6: Permainan Anak-anak

Bintang tamu: Ikel.



Kurang jelas bacanya? Silakan klik saja komik di atas untuk membacanya dalam ukuran lebih besar.

Komik strip sebelumnya: Things That Make You Go Ugh!

Thursday, August 23, 2007

Menangkap dan Menggunakan Ide

Satu pertanyaan yang paling sering muncul di korespondensi maupun lokakarya penulisan adalah: bagaimana memunculkan ide? Jawabannya sederhana: kita tidak memunculkan ide. Kita sekadar menangkapnya.

Ide bukanlah sesuatu yang bisa kita munculkan seperti rasa sakit, misalnya. Benturkan kepala ke tembok, sakit pasti muncul (kecuali keburu pingsan). Tapi ide tidak otomatis muncul hanya karena kita melakukan sesuatu.

Bayangkanlah ide seperti kunang-kunang. Kita tidak bisa memunculkan kunang-kunang. Namun, saat ketemu, kita bisa menangkapnya. Menemukan dan menangkap kunang-kunang sangatlah menyenangkan. Lantas kita simpan dalam jaring atau botol kaca. Sepanjang malam pun bisa kita nikmati terus kecantikan serangga ini. Sayangnya, di keesokan hari, kunang-kunang ini akan mati.

Kita tidak bisa memaksa memunculkan ide dengan mengerutkan kening di depan komputer. Justru sebaliknya, ide sering kali bermunculan saat kita sedang melakukan hal lain. Dalam hal ini, ide serupa dengan kunang-kunang. Hanya dua perbedaannya. Pertama, gagasan akan selalu ada di mana-mana, tidak terancam punah akibat dampak lingkungan.

Ada di mana-mana.


Menemukan kunang-kunang maupun gagasan sangatlah menyenangkan. Semakin banyak, semakin asyik. Pernah jalan-jalan di malam hari dan dikeliling kunang-kunang? Punggung kita akan berdesir. Kaki terasa ringan. Dan kita jadi terpacu untuk menari atau berlari-lari. Saat aliran ide menyerbu kita juga perasaannya seperti itu. Tangan terasa lincah menari-nari menulis. Setiap kata yang kita tuangkan seakan menambah api di hati.

Dan keesokan harinya, ide itu akan mati. Tinggal bangkai-bangkainya yang sama sekali tidak menimbulkan selera berkarya. Karena itu, penting untuk menangkap dan menuliskan ide saat itu juga. Sehingga begitu ide itu mati, kita memiliki catatan yang akan mengingatkan kita pada ide tersebut.

Bawalah catatan dan alat tulis ke mana-mana. Jangan mengandalkan komputer, kecuali dalam bentuk yang dapat kita kantungi dan keluarkan kapan pun (termasuk dalam kamar mandi).

Satu cara yang masih saya gunakan adalah kartu ide. Potong-potonglah kertas HVS kosong seukuran kartu nama. Lantas masukkan kira-kira dua puluh kartu dalam dompet. Keluarkan saat kita menemukan ide, dan catatlah. Lantas masukkan kembali ke dalam dompet. Satu kartu hanya memuat satu ide. Dan berilah kata kunci di atas kartu. Misalnya, "Tokoh", "Konsep Buku", atau "Pencerahan Mendadak yang Muncul Saat Buang Air". Di rumah, kelompokkan kartu-kartu ide tersebut sesuai abjad. Bisa menggunakan boks kartu nama. Atau tempelkan saja satu per satu ke dalam buku kosong.

Dengan begitu, kita bisa mencari ide yang sesuai kebutuhan. Saat butuh karakter tambahan, carilah di bagian "T" untuk "Tokoh" dan gunakan yang sesuai. Saat butuh ide untuk iklan, cari di bagian "I". Butuh ide untuk blog, kembangkanlah dari bagian "Pencerahan". Dan seterusnya.

Gunakanlah konsep pengkatalogan ide sendiri. Kombinasikan dengan peta-pikiran, jika perlu. Karena inilah perbedaan kedua: semakin sering kita menangkap gagasan, mereka akan semakin sering muncul.

Biasakanlah menangkap ide sesegera dan sesering mungkin. Niscaya kita tidak akan kekeringan gagasan. Atau terbelenggu mitos Writer's Block.

KSK #5: Things That Make You Go Ugh!


Kurang jelas bacanya? Silakan klik saja komik di atas untuk membacanya dalam ukuran lebih besar.

Komik strip sebelumnya: Apa Sih yang Nggak Buat Orangtua?

Tuesday, August 21, 2007

Monday, August 20, 2007

Wednesday, August 15, 2007

Seni Tanya Jawab: Ubah Pola Pikir

Dalam final Imagine Cup 2007, tim Thailand menunjukkan cara yang unik dalam sesi tanya jawab. Setelah juri melemparkan pertanyaan, sang juru bicara akan mengulang pertanyaan tersebut. "Benarkah ini yang ditanyakan?" tanyanya kemudian.

Setelah juri mengiyakan, ia memberi isyarat kepada timnya. Dan apakah yang mereka lakukan?

Mereka berdiskusi internal dulu. Ya, di tengah sorotan ratusan hadirin, mereka membuat lingkaran tertutup dan mengobrol, seperti yang dilakukan Kwik, Kwek, dan Kwak (keponakan Donal Bebek) saat menyusun strategi. Seisi ruangan sampai riuh oleh tawa karena kelakuan tim Thailand ini.

Namun mereka sendiri tidak terpengaruh. Setelah mencapai keputusan, lingkaran itu pun bubar. Lantas sang juru bicara akan menyampaikan jawaban mereka dengan tegas. Cara ini terus mereka lakukan untuk menjawab setiap pertanyaan. Dan jawaban mereka selalu memuaskan, diiringi sikap yang percaya diri.

Cara ini mungkin selintas tampak konyol. Dan jelas tidak akan berlaku pada setiap kesempatan presentasi. Namun sebenarnya, mereka telah menunjukkan kepiawaian dalam seni tanya jawab. Ini terlihat dari beberapa tindakan:


    a) Mengulangi pertanyaan
    Tindakan sederhana ini memiliki banyak manfaat. Pertama, memastikan kita tidak salah tangkap. Kemampuan berbahasa Inggris tim Thailand tidaklah bagus. Namun, ini tidak membuat mereka malu atau gugup. Mereka malah meminta izin untuk melakukan diskusi lingkaran ini agar tidak salah tangkap. Bagi mereka, yang penting bisa menangkap pertanyaan dengan benar. Dan memberikan jawaban yang sesuai, tidak memutar-mutar.

    Kedua, membuat penanya merasa didengar. Ketiga, memastikan bahwa hadirin yang lain juga mendengarkan. Keempat, memberikan kita kesempatan untuk berpikir. Dan kelima, kita bisa membingkai ulang pertanyaan jika diperlukan.


    b) Membingkai ulang pertanyaan
    Fungsi membingkai ulang pertanyaan adalah mengubah arah (dan pola pikir) sesi tanya jawab. Umumnya, orang menganggap sesi tanya jawab sebagai ajang serang dan tangkis. Penanya menyerang, dan penjawab menangkis.

    Padahal ini adalah pola pikir yang salah.


    Kalau berpikir seperti itu, kita terdorong untuk mencari jawaban yang terdengar bagus. Bahasa ilmiahnya: ngeles. Padahal yang dibutuhkan adalah jawaban yang membantu hadirin untuk mengerti. Inti presentasi adalah penyampaian ide. Hadirin datang untuk memahami ide tersebut. Pembicara pun ingin hadirin mengerti. Berarti: pembicara dan hadirin memiliki tujuan yang sama.

    "Are we there yet?"


    Karena itu, pola pikir serang-tangkis keliru. Hadirin bukanlah musuh. Melainkan rekan perjalanan dengan tujuan yang sama. Tugas pembicara adalah menjelaskan ke mana arah presentasi ini dan sudah sejauh mana kita melangkah.

    Jika ada pertanyaan yang terkesan menyerang, bingkailah ulang menjadi konteks pola pikir bekerja sama. Apa manfaat dari pertanyaan itu. Lantas berikanlah jawaban yang mencerahkan.


    c) Menyampaikannya dengan tegas
    Jangan takut salah. Kalaupun fakta yang kita ungkapkan ternyata salah bukankah itu baik, karena sekarang jadi benar? Kalaupun pendapat kita ternyata berbeda dengan orang lain, bukankah itu wajar? Hingga lingkup tertentu, pendapat kita bahkan bisa berubah setelah saling berbagi dengan hadirin.

Ubahlah pola pikir kita tentang hadirin. Otomatis, kita akan menangkap esensi sesi tanya-jawab: membantu orang lain agar lebih memahami maksud kita.

Tuesday, August 14, 2007

Asal Mula Buku Tujuh Dosa Besar PowerPoint

Saya berhutang budi kepada seorang konsultan Teknologi Informasi (TI) dari Singapura yang namanya tidak akan saya sebut di sini (terutama karena saya sendiri tidak tahu namanya). Pada satu pagi hari yang cerah, ia mempresentasikan produk perusahaannya di hadapan sejumlah klien prospektif (di luar saya, yang hadir sekadar untuk menghabiskan snack).

Dalam ruangan yang terang benderang itu, ia menyorotkan materi PowerPoint-nya, yang tertulis dalam huruf berwarna putih di atas latar belakang hitam. Saat kami semua memicingkan mata, ia mengira kami begitu bersemangat dalam menyimak. Padahal, kami semua sedang berharap memiliki penglihatan super.

Dalam bahasa Inggris yang patah-patah, ia menjelaskan berbagai fitur produknya dengan semangat tinggi. Saking bersemangatnya, ia mengumbar banyak jargon dan singkatan, seperti XVMN.25, DHG, AB-Awareness.[1] Kemudian, di tengah-tengah presentasi, ia berkata, "Dan ini adalah contoh pengalaman perusahaan kami." Ia mengklik mouse-nya, dan di bagian atas layar muncullah judul yang masih dapat kami baca dengan jelas, "Fort Polio."

Lima belas menit setelah itu, saya berkeputusan untuk membuat buku mengenai kesalahpenggunaan PowerPoint. Awalnya saya masih belum yakin. Apakah yang saya tulis ini berlaku universal? Atau hanya bagi segelintir orang? Jadi saya coba masukkan bahan tersebut dalam berbagai sesi presentasi. Tulisan ini lantas menjadi bagian khusus dalam lokakarya Teknik Presentasi saya, dengan judul, "Tujuh Dosa Besar PowerPoint".

Selama tiga tahun lebih, tulisan ini terus semakin matang berkat berbagai masukan dan praktik. Hingga akhirnya Gramedia Pustaka Utama sepakat untuk bekerja sama menerbitkannya. Naskahnya sendiri sudah naik cetak tanggal 7 Agustus lalu. Dan kira-kira butuh waktu tiga atau empat minggu hingga selesai dan didistribusikan ke toko-toko buku.

Sampul Depan Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint
Sampul depan buku


Yang penting untuk kita sadari, pembicara tersebut bukanlah contoh khusus. Sebagian besar presentasi yang saya hadiri, baik berlatar belakang akademis, pemasaran, teknologi, penyuluhan, bahkan pelatihan, melakukan berbagai kesalahan yang sama. Presentasi yang seharusnya menjadi forum pertukaran ide akhirnya malah menjadi medan perang, antara penyaji yang tidak kompeten melawan hadirin yang ingin kabur.

Dalam bidang apa pun, kemungkinan besar Anda telah mengalami (atau menderita) hal yang sama. Semoga buku ini bisa bermanfaat. Minimal untuk melawan balik tradisi penyalahgunaan. Karena presentasi tidak harus membosankan. Apa pun software alat bantu presentasi yang kita gunakan (PowerPoint, Impress, Keynote, Flash, dll), sampaikanlah pesan kita dengan menarik.

__________________

[1]: Ini hanya contoh istilah asal yang saya karang sendiri. Tapi dari sudut pandang orang yang tidak mengerti dan tidak mendapatkan penjelasan, ya sama saja.

Korean 2007 Imagine Cup: Lessons Learnt

Dan pemenang tahun ini adalah... wakil dari Thailand. Lifebook, program mereka, menawarkan pengalaman baru dalam membaca buku elektronik. Berdasarkan cerita mentor tim Aksara, Riza Satria Perdana, Lifebook akan melafalkan teks elektronis, dengan intonasi yang baik (untuk keperluan demo, mereka menggunakan buku Harry Potter). Lantas gambar yang mewakili kata-kata tertentu akan bermunculan. Misalnya, gambar Harry Potter, Voldemort, Dumbledore, dll.

Sebagai wakil Indonesia di kategori Software Design, Tim Aksara belum berhasil menang, namun mereka mendapatkan beberapa pembelajaran penting.


  1. Jika ingin menang, mulailah dari sekarang
    Ternyata tiga bulan persiapan tidaklah cukup. Demo software para wakil negara lain tampak jauh lebih matang. Tim Aksara fokus pada fungsi-fungsi utama dan menyampaikan fungsi sekunder sebagai kemungkinan pengembangan. Regu lain mengembangkan semuanya hingga sudah tampak sebagai produk lengkap. Hal ini hanya bisa tercapai jika tim mulai merancang produk begitu kompetisi selesai dan panitia mengumumkan tema tahun depan.

  2. Fokus!
    Sejumlah mahasiswa Indonesia ingin mengikuti lebih dari satu kategori. Ini adalah pola pikir yang meremehkan kompetisi internasional. Fokuslah ke satu kategori. Curahkan segala kemampuan dan konsentrasi untuk memenangkan satu kategori tersebut.

  3. Pendekatan emosional sama pentingnya dengan keunggulan produk
    Walaupun Tim Aksara gagal mencapai final, salah satu juri sangat terkesan oleh presentasi dan produk mereka. Juri tersebut sampai mengunjungi stan Tim Aksara berkali-kali dan terus-menerus menyemangati agar mereka terus berkecimpung di bidang ini.

  4. Percaya diri dan sampaikanlah pendapat secara meyakinkan
    Salah satu poin kelemahan yang diakui Tim Aksara adalah sesi tanya jawab yang kurang meyakinkan. Walaupun mereka bisa menjawab setiap pertanyaan, namun cara mereka berkomunikasi kurang meyakinkan dan tampak ragu-ragu sendiri.


Apapun hasilnya, Tim Aksara telah berjuang sekuat tenaga mereka. Dan itu patut dihargai. Semoga ini hanya langkah awal mereka menuju kesuksesan melalui jalur lain. Terus berkarya!

Monday, August 13, 2007

Mari Membandung Sampai Toli-Toli!

Terinspirasi The Meaning of Liff-nya Douglas Adams, yang saya contohkan dalam wawancara imajiner tentang tulisan humor, saya bersama Alex, seorang teman penggagas, iseng-iseng menerapkan metode serupa untuk nama-nama daerah di Indonesia. Berikut adalah sebagian di antaranya.


APALAPSILI, kb.
Teman atau rekan sejawat yang selalu bengong saat semua orang lain menertawakan sebuah lelucon dan kemudian berkata, "Apa sih?" Atau ketawa saat yang lain sudah berhenti.

Beware! Slow children!
Rambu: Awas, apalapsili! Anak-anak di sini lamban.


BANDUNG, ks.
Keengganan untuk berpikir sendiri dan lebih cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Contoh: "Dia sih bandung. Waktu temannya buka distro, dia juga buka. Ada yang buka cafe, dia ubah distronya jadi fashion cafe."

kk.
Mengikuti apa yang pernah dilakukan orang lain karena malas berpikir, dengan dalih bahwa ini bukan ikut-ikutan, melainkan terinspirasi.

Contoh: "Lex, kita membandung The Meaning of Liff-nya Douglas Adams, yuk?"


CIBAL, kb.
Kondisi kala kita menunjukkan KTP atau SIM kepada petugas pemeriksa, dan ditolak berhubung foto yang tertempel sudah sangat berbeda dengan penampilan kita sekarang.


CIPAYUNG, kk.
Melindungi tubuh dari siraman hujan deras dengan cara menutupi kepala menggunakan benda yang sama sekali tidak membantu; buku saku, telapak tangan, atau bahkan penggaris.


GARUT, kk.
Aksi menggaruk bagian pribadi dengan mengkamuflasekan gerakan, seperti memasukkan tangan ke dalam saku celana. Atau pura-pura batuk dengan sebelah tangan menutup mulut, dan sebelah lagi menggaruk lubang hidung.


GROBOGAN, kb.
Sendawa dalam volume dan durasi yang cukup untuk membuat semua orang dalam radius sepuluh meter untuk membelalak atau berlindung.
Contoh: "Itu suara bom atau grobogan?" atau "Saking seringnya bersendawa, ia kini memiliki nama panggilan Josh Grobogan."

kk.
1. Melafalkan abjad dengan bersendawa.
2. Memadukan suara sendawa bersama-sama, berirama.
Contoh: mereka menggrobogankan lagu Kris Dayanti.


Rambu: Hati-hati, grobogan!


JAKARTA, ks.
Serba salah. Mirip dengan peribahasa kuno "Seperti makan buah simalakama" tapi pilihannya bisa lebih dari dua.

Contoh: "Fashion cafe-ku jadi jakarta, euy. Mau diterusin rugi terus. Mau diubah nggak ada modal lagi. Mau dijual juga nggak ada yang mau."


KOKAP, kb.
Seorang ayah atau ibu yang telah berubah jenis kelaminnya. Istilah yang perlu diciptakan akibat menjadi elemen yang sering muncul dalam cerita-cerita Indonesia pasca tahun 2000.


KRAKATAU, kb.
Gejolak dalam perut yang timbul akibat memakan terlalu banyak sambal atau bumbu kacang pada saat-saat penting, seperti kencan pertama atau bersalaman dengan kepala negara.


LAMBALEDA, kb.
Gerakan yang dilakukan seseorang saat mengira dirinya akan tampak begitu seksi hingga diliriki lawan jenis. Padahal yang melirik sebenarnya setengah mati menahan diri untuk tidak membuang muka (atau mengakak). Contoh gerakan meliputi senyum sebelah sambil mengedipkan mata. Atau memilin-milin kumis (terutama jika pelakunya perempuan).


PADALARANG, ks.
Situasi di mana semua orang tahu aturannya, saling melarang orang lain untuk melanggarnya, namun terus melakukan sebaliknya.

Contoh: Menyalip mobil dari kiri atau mempergunakan bahu jalan di tol merupakan padalarang di Indonesia.


PURWAKARTA, ks.
Perasaan gatal yang menyerang bagian-bagian paling pribadi seseorang saat kita berada di tempat umum yang dipenuhi orang, sehingga tidak memungkinkan untuk segera digaruk. Mayoritas pria mengatasi hal ini dengan menggarut. (Lihat: Garut)


TOBADAK, kb.
Seseorang yang mengaku kapok melakukan suatu (atau beberapa) hal yang menjerumuskan dia dalam kondisi sulit, namun tiga hari kemudian melakukannya lagi.


TOLI-TOLI, ks.
Kondisi saat intelijensi seseorang menurun drastis karena terlalu banyak melakukan hal yang tidak menantang sel-sel otak pada waktu lama, seperti mengemudi di jalan tol Cikampek, atau jalan protokol Jakarta pada jam makan siang. Pada kondisi ekstrem, kondisi ini memengaruhi bagian tubuh untuk hanya bisa bereaksi dengan fungsi minimal. Misalnya, tangan untuk menekan klakson, dan mulut untuk memaki. (Dalam kondisi superekstrem, kedua aktivitas ini bisa terbalik--tangan berisyarat memaki, mulut menekan klakson.)


_____________________

Legenda

kb.: kata benda
kk.: kata kerja
ks.: kata sifat

Kedua foto di atas digunakan sesuai izin penggunaan umum yang dipasang pemilik di stock.xchng

Wawancara Imajiner Tentang Humor Tulisan

Bulan lalu sebuah majalah mewawancarai saya via telepon berkaitan penulisan humor. Ada sejumlah pertanyaan yang menggelitik pikiran saya selama beberapa hari setelah itu. Dan saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan sama sekali belum lengkap. Dan bisa jadi pewawawancara malah salah tangkap.

Terlepas dari tulisan hasil wawancaranya seperti apa, saya jadi ingin menulis ulang beberapa pertanyaan dan jawabannya.


Tanya (T): Seperti apakah humor yang bagus menurut Anda?
Jawab (J): Humor yang jujur. Karena biasanya humor seperti ini membuat kita tertawa lantas berpikir. Penulis William Davis pernah berkata, "Jenis humor yang saya sukai adalah yang membuat saya tertawa selama lima detik, lantas berpikir selama sepuluh menit."


T: Kalau humor yang buruk?
J: Kebalikannya: membuat kita malas tertawa, apalagi berpikir.


T: Apa pendapat Anda tentang buku humor di Indonesia?
J: Sebagai sebuah kategori di dunia buku Indonesia, "humor" masih terjebak stereotipe sebagai kumpulan lelucon pendek ala "Mati Ketawa Cara..." Padahal kalau dibandingkan dengan kategori internasional, bentuknya macam-macam. Buku humor nonfiksi bisa berupa kumpulan esai, seperti karya P.J. O'Rourke, Dennis Miller, atau Roy Blount Jr. Bisa kisah pengalaman/wawasan diri seperti karya Bill Cosby, Steve Martin, Tim Allen, Paul Reiser, maupun Ray Romano.

Atau bahkan bentuk-bentuk lainnya. Dave Barry, misalnya, menerbitkan The Book of Bad Songs, yang isinya secara hiperbolis membahas lagu-lagu terburuk, berdasarkan masukan dari para pembaca kolomnya. Dengan menertawakan lagu-lagu yang ia bahas, kita tanpa sadar menangkap kritik terhadap lirik yang ditulis asal-asalan. Douglas Adams menggagas The Meaning of Liff, yang merupakan ide brilian untuk memperkaya perbendaharaan kata Inggris dengan menambahkan sejumlah definisi untuk nama-nama daerah. Dua contohnya adalah:


ARDSCALPSIE (n.)
Excuse made by rural Welsh hairdresser for completely massacring your hair.

WIGAN (n.)
If, when talking to someone you know has only one leg, you're trying to treat then perfectly casually and normally, but find to your horror that your conversion is liberally studded with references to (a) Long John Silver, (b) Hopalong Cassidy, (c) The Hockey Cokey, (d) 'putting your foot in it', (e) 'the last leg of the UEFA competition', you are said to have committed a wigan. The word is derived from the fact that sub-editors at ITN used to manage to mention the name of either the town Wigan, or Lord Wigg, in every fourth script that Reginald Bosanquet was given to read.



Gagasan Adams sendiri mungkin merupakan pengembangan dari ide The Devil's Dictionary-nya Ambrose Bierce, yang mendefinisikan ulang istilah kamus secara sarkastis.

CONGRATULATION, n.
The civility of envy.

CONSULT, v.i.
To seek another's disapproval of a course already decided on.


Pernah dengar istilah Darwin Awards? Ini adalah penghargaan yang secara sarkas dianugerahkan untuk orang-orang yang berhasil membuktikan teori Darwin, dengan gagal dalam seleksi alam. Umumnya mereka tewas atau luka parah karena tindakan bodoh seperti pria yang menggunakan penghisap debu untuk masturbasi.[1] Kumpulan cerita mengenai orang-orang ini bahkan sudah sampai beberapa seri dan laris manis.


T: Kita bisa lanjut ke pertanyaan berikut?
J: Tidak. Saya masih belum selesai. Sekarang mari kita lihat fiksi. Kita bisa melihat kungkungan stereotipe ini dari anggapan mayoritas pembaca bahwa buku humor harus yang "kocak".[2] Padahal karya satir seperti Gulliver's Travels-nya Jonathan Swift juga termasuk humor.

Dalam fiksi, humor sebenarnya merupakan elemen cerita. Karena itu, karya humor fiksi biasanya tidak dikategorikan ke dalam "humor". Melainkan masuk dalam sebuah subkategori di bawah fiksi.

Salah satu subkategori fiksi yang lucu adalah "novel populer". Novelis Irwin Shaw pernah berkomentar, "Saya mengernyit setiap kali para kritik berkata bahwa saya ahli [dalam menulis] novel populer. Novel yang tidak populer itu [seperti] apa?"

Kalaupun ada label dalam dunia buku yang memasukkan nama humor atau komedi, biasanya lebih ke arah fungsi pemasaran.


T: Sekarang gimana? Sudah?
J: Belum. Masih ada lagi.

Kumpulan strip komik kita, yang masih termasuk humor, juga menderita stereotipe serupa. Mayoritas adalah kartun satu atau beberapa panel yang tidak memuat dialog. Hanya mengandalkan kelucuan adegan slapstick. Komikus/kartunis yang menggunakan dialog dan situasi humor seperti Dwi Koendoro masih jarang. Dan saya belum melihat ada yang bisa seperti Scott Adams, membuat seri Dilbert yang menjadi ikon budaya (atau kebodohan) korporat (hingga menulis buku Dilbert's Principle atau Dilbert's Future). Atau seperti Bill Watterson, yang begitu piawai mengilustrasikan pola pikir seorang anak dalam seri Calvin and Hobbes, hingga tanpa sadar kita ikut mempertanyakan kehidupan.


T: Tolong beritahu saya kalau Anda sudah selesai. Saya tidur dulu.
J: Sudah kok.


T: Bener, nih?
J: Iya.


T: Yakin nggak mau nambahin lagi? Tentang hal yang perlu diperhatikan dalam menulis humor, misalnya?
J: Oh, benar juga. Oke, mau mulai dari mana?


T: Dari bagaimana seharusnya saya tutup mulut saja.
J: Ada dua hal yang perlu kita sadari sebelum menulis buku humor. Pertama, humor itu serius. Kedua, humor penulisan berbeda dengan humor pementasan.

Saya melihat banyak penulis yang melupakan hal pertama karena menganggap remeh penulisan humor. Dalam salah satu ajang permainan kepenulisan bertema humor, tiga dari sepuluh penulis berkomentar, "Ternyata menulis yang lucu-lucu susah, ya?"

Sebelum menulis humor, kita perlu menguasai dasar-dasar penulisan terlebih dahulu. Karena humor akan sulit keluar kalau berkomunikasi dalam bahasa tulisan saja belum fasih. Salah koma saja bisa berakibat fatal bagi eksekusi humor tulisan.

Hal kedua saya lihat dari sejumlah pelawak/komedian yang menulis buku. Ada yang sekadar menyusun kumpulan lelucon dan mengubah nama tokohnya menjadi nama mereka, seperti Edwin dan Jody. Ada yang sekadar memindahkan humor pementasan jadi humor tulisan, seperti Kelik Pelipur Lara.

Padahal humor tulisan adalah makhluk yang berbeda sama sekali. Dua jenis humor yang bisa berlaku baik dalam bentuk tulisan maupun pementasan adalah lelucon pendek dan humor pengamatan. Itu pun masih perlu diubah sesuai keperluan, seperti yang dilakukan Jerry Seinfeld dalam Seinlanguage atau Chris Rock dalam Rock This!


T: Bisakah Anda ngomong, "Ya, itu saja"?
J: Hmm? Ya, itu saja. Untuk a--


T: Terima kasih! (Klik.)
J: Halo? Halo?


_________________________________

[1]: Hanya pria yang akan mengernyit saat membaca kalimat ini.

[2]: Umumnya dalam arti mendorong pembacanya untuk mengeluarkan tertawa di atas 80 desibel, atau cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya bereaksi dalam dua cara. Pertama, bertanya, "Apa sih yang lucu?" Atau kedua, menyumpal mulut si pembaca dengan tisu.

Wednesday, August 08, 2007

Metode Menjadi Populer di Blogosphere #7

Ciptakan penghargaan berantai seperti di kiri ini. Lantas tambahkan aturan untuk menyebarkan ke sejumlah orang (dalam kasus ini, lima). Otomatis, nama kita sebagai pembuat akan ikut-ikut di setiap rantai.

Syaratnya, kita perlu membuat penghargaan yang bisa membuat senang penerima. Karena kalau kita membuat penghargaan bernama Cinta Isman Award, misalnya, jelas di rantai pertama saja sudah mandek. Desain spanduk/banner yang kita ciptakan pun sebaiknya sederhana, menarik, dan tidak menonjolkan pribadi pembuatnya. Desain Schmooze Award di atas buatan Mike, sebagai contoh, terlihat elegans. Sementara yang di bawah ini lebih terlihat dagelan.


Contoh penghargaan yang akan langsung hilang dari peredaran (demi keselamatan umat manusia).


Tapi itu kalau kita mau bersikap sinis. Di sisi lain, sebenarnya kita bisa menanggapi penghargaan seperti ini dengan lebih positif. Anggap saja seperti menyambut hari istimewa, seperti ulang tahun, Valentine, atau Tahun Baru. Kita bisa mengeluh karena semakin tua. Bisa juga menciptakan teori konspirasi bahwa hari-hari ini sebenarnya merupakan propaganda yang diciptakan oleh industri mainan dan kartu ucapan. Atau kita bisa memanfaatkannya untuk kontemplasi, menikmati saat-saat bersama maupun menyampaikan rasa sayang pada orang-orang yang kita kasihi.

Saya memilih yang kedua. Saya ingin menggunakan lemparan penghargaan dari mitra hidup saya ini untuk menyampaikan apresiasi terhadap sejumlah blogger. Dan menurut saya tidak penting bahwa para blogger tersebut tahu mengenai apresiasi ini. Atau apakah mereka akan menyebarkan penghargaan ini atau tidak. Yang penting saya bisa menyampaikan apa yang ingin saya utarakan: rasa sayang.[1]

1) Agung, adalah blogger yang saya sukai karena kemampuannya membahas hal-hal remeh sehari-hari menjadi sesuatu yang menarik. Keaktifannya dalam berkomunitas juga membuat banyak orang menjadi anggota setia rumah mayanya. Bahkan saat Agung tidak bisa online, orang-orang ini terus membuat rumahnya terasa hidup. Markas besarnya jadi seperti rumah sekre RT yang dimiliki bersama para warga.

2) Haris, adalah blogger yang kepribadiannya (minimal secara online) menarik saya. Sehingga kalau ada tulisan terbaru, saya langsung berkunjung. Entah mengapa, walau desain blog-nya kini mencrang, saya tetap merasa teduh kala bertamu. Bahkan melihat fotonya saja (walaupun posenya mengkhawatirkan) di komentar blog orang lain bisa memberikan efek serupa. Mungkin keteduhan ini pula yang menarik orang-orang berkunjung ke rumahnya. Lantas memesan meja. Nggak pake lama. Haris MEMANG!

3) Wikan, adalah blogger yang penuh perhatian. Dalam dunia blog yang penuh dengan orang yang berkomentar sekadar untuk setor muka (atau balas budi), ia termasuk orang yang tulus. Walau kadang-kadang komentarnya telat untuk nyambung dengan tulisan saya, saya bisa merasakan perhatiannya. Dan saya rasa perhatian tulus inilah yang membuat ia pun mendapatkan limpahan serupa dari orang lain.

4) Mbak Poppy, mungkin lebih terlihat mencrang di milis-milis yang ia ikuti, ketimbang di multiply-nya. Karena ia lebih aktif di situ, menggalang dan menggerakkan orang-orang yang memiliki kesamaan minat. Namun, kedahsyatan komunitas IndoHarryPotter dan Eorlingas (maaf kalau salah tulis nama) merupakan bukti kemampuannya yang tinggi berdasarkan schmooze-o-meter.

5) Om Budiman, memiliki daya pikat tersendiri karena tulisan beliau bisa menyentuh hati dengan berbagai cara. Kadang secara halus. Kadang secara paksa. Memancing tawa, maupun lara. Banyak orang bertandang ke padepokan Om Bud, sekadar mendengar cerita sambil minum teh (gula harap bawa sendiri).


Sebenarnya, bukan hanya lima blogger ini yang ingin saya apresiasi. Namun, semakin banyak kita menghargai orang dalam satu kesempatan, semakin kecillah justru nilai penghargaan itu. Jadinya terkesan syarat. Semua harus muat. Saya akan simpan sisa penghargaan saya dalam hati, hingga muncul lain kali. (Tentunya award lain akan bermunculan.)

____________________

[1]: Saya percaya menyampaikan rasa sayang itu seperti pipis. Jangan ditahan-tahan, nanti membatu.

Bersenang-senang dengan Grafik

Dalam berpresentasi, saya sempat menganggap grafik seperti Uzi: efektif dalam menyampaikan pesan. Namun, kesalahan sedikit saja bisa membuat banjir darah. Untunglah, tahun lalu saya terdampar di blog Jessica Hagy. Semenjak itu, saya memandang grafik dengan perspektif berbeda. Grafik menjadi sahabat baru dalam menyampaikan pesan apa pun. Kadang sama sekali tidak ada hubungannya dengan angka.

Pada pelatihan menulis untuk bagian humas suatu departemen pemerintah, saya memulai dengan menayangkan beberapa contoh tulisan mereka yang mengangkat retorika dan janji menteri. Lantas saya melanjutkan ke slide berikut.



Setelah tawa mereda, saya baru kembali mengingatkan mereka akan hal yang sebenarnya mereka sudah tahu: fungsi humas juga termasuk mengetahui citra organisasi di masyarakat. Akan ada jarak antara citra yang ada dengan yang diinginkan. Tantangannya adalah memperkecil jarak tersebut. Selanjutnya mereka pun bisa menyimpulkan sendiri bahwa menulis janji dan retorika justru malah memperlebar jarak tersebut.

Dalam sesi berpikir kreatif, saya menggunakan grafik untuk mengajak hadirin beranalogi. Satu contohnya adalah berikut.


Tanpa grafik, saya bisa menggunakan contoh di atas dalam bentuk tebak-tebak, "Apa persamaan antara syukuran pernikahan dan kampanye partai? Dalam keduanya ada pengucapan janji, ada makan gratis, dan sama-sama bikin macet."

Tapi dengan grafik, saya bisa menyampaikannya dengan lebih mengena. Karena pada dasarnya grafik adalah alat bantu visual untuk menyampaikan pesan. Tidak harus mewakili angka atau statistik yang rumit. Saya saja yang sempat melupakan itu. Dan ironisnya, saya kembali sadar saat melihat blog Jessica yang justru menggunakan grafik untuk bahan tertawaan (dan renungan).

Jika Anda juga termasuk orang-orang yang memusuhi grafik karena terlalu sering di(salah)gunakan dalam presentasi, cobalah kunjungi blog Jessica Hagy. Semoga itu kembali mengakrabkan Anda dengan alat bantu ini.

Saturday, August 04, 2007

Berteman dengan Rasa Takut

Saya mendapatkan forwarded mail yang berjudul, "Modus Penipuan Baru". Judul ini bermunculan dengan rutin. Sebulan minimal satu. Kasusnya saja yang berbeda. Tingkat kebenarannya sih entah.

Yang terakhir ini menarik karena korban konon awalnya bersikap sinis. "...kalau memang benar hadiah mobilnya buat saya, kirim aja Pak mobilnya ke sini!" ujarnya via telepon. Namun, sikapnya berubah saat para penipu benar-benar membawa mobilnya ke rumah sang korban.

Berikut kutipan mailnya:


Masih dengan perasaan yang ragu, sekaligus surprised, maka dipersilakanlah tiga orang yang mengantarkan mobil tersebut masuk ke dalam rumah. Dengan menunjukkan seberkas dokumen, yang konon berupa Surat Jalan, dokumen Pajak, dokumen Asuransi, dan dokumen-dokumen yang lain maka diyakinkanlah bahwa ia memang berhak atas mobil yang dibawanya tersebut. Sayangnya, belum sempat ia memeriksa dokumen-dokumen tersebut, beberapa orang yang mengaku dari Pajak, Asuransi, dan juga Notaris bergantian menghubungi via telepon dan mengucapkan selamat atas hadiah yang didapat.

--dipotong---

Setelah lebih kurang 2 jam berada di rumah itu, maka tiga orang pengantar hadiah mobil pamit untuk menuju ke 'pemenang kedua' sambil lalu mereka pun mengajak untuk sekalian bertemu notaris sambil mengendarai 'Grand Prize' yang baru dimenangkannya. Dengan sangat meyakinkan sang pemenang dipersilakan untuk mengendarai mobil yang memang sudah diidamkannya selama ini.

Sebelum berangkat si pengantar hadiah menanyakan apakah uang sudah dipersiapkan. Sempat muncul keraguan, namun rasa gembira mengalahkan keraguan yang sempat muncul, hingga dibawalah olehnya uang tunai sejumlah 10 juta rupiah. Di tengah perjalanan, si pengantar kembali menanyakan, apakah perlu mampir ke ATM. Namun dijawab bahwa saldo di tabungan sudah tinggal sedikit. Maka perjalananpun dilanjutkan, dan melalui jalan bebas hambatan (tol).

Beberapa saat di jalan tol, si pengantar dengan sopan meminta agar kemudi diambil alih oleh temannya. Dengan beralasan bahwa kendaraan belum diserahterimakan, sehingga bisa merepotkan jika terjadi kecelakaan, maka beralihlah kemudi ke orang lain dan ia pun berpindah duduk di samping pak sopir. Di saat sedang menikmati kenyamanan kendaraan baru tersebut, tiba-tiba dari belakang sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya dengan lap atau sapu tangan yang beraroma sangat tajam, hingga ia pun tak sadarkan diri......


Mail ini di-forward seseorang yang mengawali dengan tulisan, "Kalau kita yang mengalami kisah dibawah ini mungkin kita juga tertipu."

Bisa saja. Karena, berdasarkan cerita di atas, sang korban pun awalnya sinis. Ia tentunya pernah mendengar kasus-kasus penipuan seperti ini. Tapi akhirnya tertipu juga.

Terlepas dari benar atau tidaknya kasus di atas, ada dua hal yang bisa kita pelajari darinya:
a) Modus penipuan sebenarnya memiliki pola: mengawali dengan membuat lengah dan lantas memanfaatkan itu untuk serangan (tiba-tiba).

Dalam penipuan, biasanya pelaku membuat lengah dengan menunjukkan kredibilitas (rapport). Di kasus yang ini, pelaku mengambil risiko dan usaha yang lebih besar dengan membawa mobil. Namun, sebenarnya itu termasuk usaha penjalinan kredibilitas yang, sayangnya, palsu.


b) Kelengahan umumnya terjadi saat kita merasa aman pada situasi yang salah.

Bulan lalu, tetangga saya kecurian. Ia baru mengambil uang (tampaknya berjumlah sangat besar) dari bank dan langsung pulang. Begitu ia sampai ke rumah, ia turun dari mobil, dan membuka pagar.

Pada saat itulah, sebuah motor berpenumpang dua orang mendekat. Seorang di antaranya dengan sigap mengambil tas berisi uang sebelum motor kembali melesat pergi. Sang tetangga hanya bisa mengejar sambil menjerit-jerit histeris, sebelum akhirnya pingsan. Selama ini saya kira histeris hingga pingsan hanya mitos yang dibesar-besarkan sinetron. Namun ternyata memang terjadi.

Walau bentuknya pencurian, bukan penipuan, kasus ini mirip dengan cerita atas: para pelakunya sadar bahwa orang pada umumnya merasa aman saat di (sekitar) rumah mereka. Mereka memanfaatkan kecenderungan ini untuk mencari celah.


Dalam "The Gift of Fear", Gavin deBecker menulis bahwa poin (b) sering terjadi karena kita tidak mau merasa takut. Lihat saja lingkungan kita: orang yang tampak penakut sering diolok-olok. Di sisi lain, media malah mempromosikan rasa takut melalui tayangan horor, kekerasan, dll. Rasa takut jadinya kita salahartikan sebagai perasaan negatif atau sekadar sensasi hiburan. Kita lantas terdorong untuk senantiasa mencari rasa aman. Salah satunya adalah dengan mengurung diri di rumah. Bentuk yang lebih abstrak adalah terus mengikat diri pada pekerjaan yang kita benci (demi rasa aman dari gaji rutin).

Padahal anggapan itu salah. Menurut deBecker, rasa takut adalah sinyal alami manusia untuk memperingatkan akan bahaya. Dan yang paling penting: rasa takut adalah alarm saat kita lengah di situasi yang salah.

Di New York, tulisnya, seorang mahasiswa masuk ke sebuah toko kelontong (convenient store, semacam Circle-K). Ketika ia membuka pintu, tiba-tiba ia ditusuk oleh rasa takut. Tanpa ia sadari, ia langsung berbalik dan meninggalkan toko tersebut.

Baru besoknya, ketika lewat di situ lagi, ia melihat bahwa tempat tersebut sudah jadi TKP. Ternyata kemarin, pada saat ia hendak masuk, terjadi perampokan. Seorang polisi yang kemudian masuk pun tewas ditembak oleh sang perampok.

Ketika ditanyai oleh polisi, ia mengaku tidak tahu kenapa ia merasa takut. Tapi setelah ditanyai oleh tim deBecker, ia mengulang-ulang suatu informasi tanpa sadar: bahwa dia melihat sebuah sedan terparkir di dekat toko. Dan saat ia melihat spionnya, ia bertatapan dengan mata sang supir. Setelah dikonfirmasikan oleh tim deBecker, ia baru mengaku bahwa hal itu memang mengherankannya. Seakan-akan sang supir bersiap-siap kabur dengan menunggu seorang temannya di dalam.

Dan memang informasi kecil itulah yang memicu alarm bawah sadarnya: rasa takut. Sebenarnya otak menyimpan segala informasi yang kita lihat, dengar, dan rasa. Namun, hanya sebagian kecil yang kita proses secara sadar. Rasa takut adalah mekanisme alamiah manusia untuk mengingatkan, bahwa bisa jadi kita melewatkan sesuatu. Dan itu bisa berakibat fatal.

Kalau kita tidak memusuhi rasa takut, kita akan dapat memanfaatkannya untuk keselamatan diri kita. Ambillah contoh tetangga saya. Tentunya, selama perjalanan, ia diikuti oleh motor tersebut. Ketika ia mengemudi, kemungkinannya besar ia beberapa kali melihat motor yang sama berada di belakangnya (melalui spion). Mungkin rasa takut sudah merambatinya saat perjalanan. Namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. Dan langsung lega saat melihat rumah.

Lalu contoh cerita Innova: rasa aman membuat korban lupa, bahwa tiga orang tersebut adalah orang asing. Memasukkan diri dalam suatu ruang sempit (mobil) bersama orang asing dengan membawa uang sepuluh juta biasanya akan memicu alarm rasa takut seseorang. Dan bukan cuma itu. Ada sejumlah tanda mencurigakan lain seperti:

  • Telepon dari orang Pajak, Asuransi, dan Notaris yang terlalu tepat waktu

  • Menanyakan "Apa perlu mampir ke ATM?" padahal sudah jelas dari awal
    cuma ada Rp10 juta.

  • Setelah jauh, baru meminta yang nyetir temannya. Tidak dari awal.


Semua itu adalah poin-poin yang pada keadaan normal bisa membuat sirine dalam diri menggaung-gaung. Apalagi yang terakhir. Namun, bisa jadi kita--dalam situasi serupa--mengabaikannya karena sudah memutuskan untuk percaya.


Intinya:

  1. Bukan berarti kita harus curiga ke semua orang. Cukup jangan lengah. Apalagi kalau sebenarnya tidak ada alasan kuat untuk merasa aman. Biasakanlah untuk mengonfirmasikan sesuatu langsung kepada sumber aslinya. Kalau memang seseorang mengaku dari Wings, misalnya, cobalah telepon ke customer service Wings--menggunakan ponsel kalau bisa. Jangan puas hanya sekadar melihat kartu nama orangnya.

  2. Ingat: "Check and recheck" bukan sekadar nama acara infotainment

  3. Dan jelas, intinya bukanlah untuk selalu merasa takut. Justru biasa saja. Namun, kala rasa takut mulai merambati tengkuk kita, cobalah untuk cari tahu apa yang mau dikatakan oleh alarm tubuh kita ini. Jangan langsung abaikan.

Peter and the Starcatchers

Saya akui, saya mencari-cari buku ini dari tahun lalu hanya karena satu hal: salah satu pengarangnya adalah Dave Barry, penulis humor favorit saya.

Namun saat mendapatkan buku itu, alasan saya bertambah. Saya ingin mengetahui karya seperti apa jadinya jika seorang penulis humor berkolaborasi dengan penulis misteri (Ridley Pearson).

Membaca buku ini bagi saya mungkin seperti berlibur ke Pangandaran. Tidak jarang saya mengernyit melihat hal-hal yang bisa merusak pengalaman saya. Namun, berhubung saya mengkukuhkan diri untuk bersenang-senang, saya pun berjuang untuk mengabaikan semua yang mengganggu. Saya fokus ke hal-hal yang menghibur saja. Alhasil, begitu berakhir, saya pun pulang dengan perasaan puas.

Sebenarnya tentang apa buku ini?

Ini adalah prekuel novel Peter Pan and Wendy (oleh J.M. Barrie) versi mereka. Ide ini muncul saat Dave mendongeng kepada anaknya. Lantas sang anak bertanya, "Kenapa Peter bisa tinggal di Neverland?" Sebagai penulis humor, tentu saja dia berpengalaman dalam mengarang cerita di tempat. Namun, saat ia dengan asal menjelaskan dari mana Peter dan kenapa ia bisa terbang, ia tiba-tiba tertegun melihat ekspresi anaknya. Itu adalah ekspresi anak yang tercengang. Tak sabar menunggu lanjutannya. (Atau ingin ke toilet.)

Apa pun itu, ia akhirnya menceritakan idenya bersama Ridley Pearson, dan mereka pun memutuskan untuk menyusun bukunya. Cara mereka berkolaborasi pun cukup sederhana: masing-masing melempar satu bab, lewat email. Hasilnya, ada satu bab yang begitu panjang. Dan ada yang hanya beberapa halaman.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Walaupun bagi saya, yang lebih menarik adalah gagasannya. Membuat prekuel dari sebuah kisah legendaris. Ini adalah ide yang muncul hanya pada orang-orang yang mau bertanya. Kenapa begini? Kenapa begitu?

Ironisnya, yang memunculkan ide itu adalah seorang anak.

Buku ini mengingatkan saya untuk kembali mempertanyakan berbagai hal. Terutama sebagai penulis. Jika kita begitu mudah untuk terbuai atau terkagumkan oleh karya-karya penulis lain. Bisa jadi, kita merasa bahwa semua hal sudah ditulis orang lain. Semua ide sudah diwujudkan. Tiada hal baru lagi di bawah sinar mentari. Apa lagi yang bisa kita tulis?

Itu adalah contoh pertanyaan yang salah. Jika kita mulai terjebak dalam situasi seperti itu, cobalah kembali jadi anak kecil. Apresiasilah karya. Atau malah peristiwa di sekitar kita. Lantas tanyakanlah.


"Wah, ceritanya asyik! Terus, kenapa tokoh utamanya bisa begitu? Eh, gimana kalau begini? Atau sekalian aja begitu?"

Atau

"Haha, kejadian tadi lucu juga. Gimana kalau ternyata yang datang buaya?"

Bisa jadi, itulah yang akan membuat kita jadi kembali bersemangat meneruskan karya kita. Atau memompa ide segar ke dalam benak kita yang mengempis.

Selamat bertanya dan menulis!

______________________

Friday, August 03, 2007

[Presentasi]: Tag Baru Lagi? (Feat: Tim Aksara)

Perkenalkan, satu tag lagi yang akan bertambah dalam blog ini: "presentasi". Seperti biasa, selanjutnya tag tersebut hanya akan muncul sebagai kategori (di blogspot disebut label, di multiply disebut tag).

Dalam kategori ini, saya akan menulis macam-macam menyangkut presentasi; praktik, penyusunan materi, kabar-kabar aneh, bahkan ngalor ngidul. Jadi kalau tag-nya adalah "presentasi, ngalor-ngidul", berarti rada serius. Seperti seriusnya hakim garis bulutangkis yang kepergok sedang ngecengin penonton.

Mari kembali ke pembicaraan yang lebih serius. Tim Aksara adalah empat anak muda dari Bandung yang akan mewakili Indonesia di kompetisi Microsoft Imagine Cup Korea 2007. Kompetisi internasional yang disponsori Microsoft ini bertujuan mencari software buatan kalangan akademik yang berprospek bisnis dan berdampak besar pada masyarakat. (Plus menggunakan teknologi Microsoft, tentunya.)

Kebetulan, dua anggota Tim Aksara, Octa dan Budi adalah teman kerja (dan futsal), sehingga saya sempat diajak berdiskusi mengenai presentasi mereka. Software yang mereka usung bernama ABC, merupakan alat bantu pembelajaran baca-tulis.

Octa menyampaikan satu hal yang mengganggu mereka. Terakhir kali mereka menggelar presentasi di hadapan para mahasiswa ITB untuk meminta masukan. Sejumlah keluhan muncul, bahwa presentasi mereka sulit dimengerti. Padahal seluruh hadirin berlatar belakang teknik. Kenapa bisa begitu? Dan ini gawat, mengingat sebagian juri nanti berlatar belakang bisnis. Dan tentunya mereka ingin penyajian yang sederhana dan mudah dipahami.

Setelah Octa dan Budi menunjukkan presentasi yang mereka susun, baru saya paham kenapa. Elemen-elemen presentasi mereka sudah bagus dan mendetail. Informasi disusun secara menarik. Mereka bahkan tidak menggunakan slideware. Mereka menayangkan grafik dan teks dalam bentuk Flash. Diselingi video dan demo program. Dengan kata lain, semua ini sudah tampak profesional.

Lantas kenapa orang tidak mengerti? Bukannya ini jauh lebih bagus daripada slide yang sekadar berisi bullet?

Alasan pertama: informasi yang mereka sampaikan saling bertabrakan.

Anggaplah satu tampilan adalah satu pesan. Saat menampilkan persentase populasi buta huruf di seluruh dunia, misalnya, apa yang ingin mereka sampaikan? Ternyata pesan bahwa buta aksara bukanlah sekadar masalah dunia ketiga, melainkan juga masalah negara maju. Sayangnya, yang muncul di layar adalah persentase. Jelas persentase negara maju terlihat kecil.

Saya menyarankan agar mengganti persentase dengan jumlah. Dan mencari data yang lebih menohok. Literacy Volunteers of America divisi Washington, sebagai contoh, menulis bahwa masih ada 40 juta orang dewasa yang belum fasih membaca (functional illiterate). Walau tidak buta aksara total, mereka masih kesulitan membaca berbagai teks berkaitan pekerjaan. Bahkan ada yang lulusan setingkat SMP dan tidak bisa membaca ijazah mereka. Jumlah ini lebih mencengangkan daripada persentase buta aksara total yang di bawah 5%.

Grafik merupakan salah satu kunci masalah dalam presentasi. Sering kali saya melihat seseorang menampilkan slide berisi grafik yang tidak jelas tentang apa. Baru paham setelah ia menjelaskan. Lebih parah lagi, penjelasan sejumlah pembicara malah berbeda dengan yang grafik yang ia tunjukkan. Grafik seperti ini sudah gagal memenuhi tugasnya. Kalau grafik ini adalah artileri, ia baru saja meledakkan gudang mesiu benteng sendiri.

Munculkanlah grafik sehingga orang langsung mengerti maknanya. Dan pilihlah bentuk yang sesuai. Jika ingin menunjukkan persentase, misalnya, gunakanlah bentuk kue. Gunakan batang jika ingin membandingkan jumlah. Jika terbalik malah membingungkan.

Bagaimana dengan video? Satu video mungkin memiliki beberapa situasi atau adegan. Namun, inti pesannya tetap satu. Terlalu banyak, dan hadirin pun bingung. Jika ada lebih dari satu inti pesan dalam video, potong-potonglah. Sampaikan terpisah. Pastikan bahwa hadirin memahami pesan pertama, sebelum bergerak ke pesan selanjutnya.

Alasan kedua: urutan informasi yang salah.

Bayangkanlah kita bertemu seorang teman lama.

"Saya baik-baik saja," sapanya. Saat kita melongo, dia melanjutkan, "Tapi sekarang sudah sembuh, kok."

"Euh, apa kabar?" tanya kita ragu-ragu.

"Minggu lalu saya sempat gejala DB," jawabnya. "Halo, apa kabar?"

Oh, baru kita ngeh. Dia baik-baik saja. Minggu lalu sempat kena gejala demam berdarah, tapi sekarang sudah sembuh.[1] Ini masih bisa kita mengerti karena dialognya sederhana. Sementara dalam presentasi, berbagai urutan informasi yang terbalik akan membuat hadirin kehilangan arah.

Sebagian besar masalah Tim Aksara pun dapat mereka atasi dengan sekadar mengubah urutan presentasi. Atau malah menghilangkan bagian presentasi. Satu klip animasi 3D cantik, misalnya, mereka buang karena terlalu panjang. Video menyentuh yang tadinya mereka taruh di urutan kedua jadinya mereka pasang di awal. Dengan begitu, video ini berhasil menarik perhatian hadirin dalam sepuluh detik pertama. Musik latar belakang yang sendu serta narasi yang kuat menyeret hadirin ke suasana hati yang pas.

Video berakhir dengan kutipan Kathleen Blanco yang menyimpulkan inti pesan, "Think about it: Every educated person is not rich, but almost every education person has a way out of poverty."

Dari sini, mereka bisa melanjutkan ke informasi literasi di Indonesia dan bagaimana ABC menjadi solusi yang lebih baik. Seterusnya pun lancar.

Presentasi pada dasarnya adalah seni merangkai pesan yang sinergis dan konsisten. Jika presentasi kita membingungkan orang, cobalah pisah masing-masing pesan dan jabarkan. Siapa tahu pesan kita tabrakan atau salah urutan.

Tim Aksara sendiri akan bersaing menuju posisi puncak dengan 55 tim negara lain mulai Senin ini (6 Agustus 2007). Sukses dan selamat berjuang bagi Tim Aksara!

___________________

[1]: Walaupun--seperti komentar Agung--masih perlu berkonsultasi ke psikolog.