#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...
Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.
Viva la Komtung!
Bertanya atau Mati! (BaM!) adalah buku humor yang mengajak Anda tertawa dan berpikir. Mari temukan kembali kesenangan dalam menertawakan atau mempertanyakan hal-hal yang cenderung kita anggap remeh dalam blog ini. Bagi yang berminat, saya (isman) juga akan berbagi pengalaman dalam penulisan kreatif.
Pada jam
12:26 AM
7
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Berbagi, dunia komedi
KompasTV, mulai bulan Juli ini mengadakan audisi untuk kompetisi Stand Up Comedy Indonesia. Acara ini kira-kira seperti versi lokal Last Comic Standing. Audisinya diadakan di sejumlah kota besar. Dan para kontestan yang lolos akan mulai berkompetisi di acara televisi nantinya.
Ernest Prakasa, salah seorang peserta audisi, dan sesama penggemar komedi tunggal (padanan Indonesia untuk stand up comedy), mengajak sejumlah orang untuk menjajal sesi open mic (panggung terbuka bebas untuk siapa pun yang ingin mengisi, biasanya untuk stand up comedy) di Comedy Cafe Kemang, Jakarta. Berawal dari ajakan ke sesama teman, berlanjut ke Twitter, dan kabarnya merambat kian tak terkendali.
Pada jam
12:55 PM
2
umpan balik
Kategori: Apresiasi, dunia komedi
Sudah beberapa minggu terakhir saya belum menulis parodi film versi lima menit baru. Alasannya: minim film bioskop baru akibat masalah pajak importir.
Karena itu, begitu muncul berbagai brand yang menawarkan kuis dan semacamnya untuk nonton film bareng di luar negeri, saya termasuk yang paling bersemangat. Salah satu yang saya ikuti adalah simPATI, dengan program simpatiZone Friday Movie Mania, nobar Transformers: Dark of The Moon di Hong Kong.
Singkat cerita (karena prosesnya panjang, meliputi berbagai bujuk rayu oleh mitra hidup saya, Primadonna Angela), saya termasuk yang diajak ke Hong Kong (dan langsung kalang kabut ngepak barang dalam semalam karena besoknya berangkat).
Seharusnya ada peringatan bagi wisatawan: "Siap-siap bergadang." Karena ada saja bagian Hong Kong yang tetap aktif walaupun sudah dini hari. Saya akan bahas dalam beberapa tulisan ke depan. Tapi untuk saat ini (karena saya baru kembali di Indonesia): tiduuur.
Pada jam
11:32 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Bambang Haryanto adalah pengamat dan praktisi komedi yang menulis berbagai hal tentang humor di blognya, Komedikus Erektus. Bukunya yang berisi esai humor ala Arwah Setiawan sudah terbit, dengan nama sama seperti blog humornya.
Saat diminta menuliskan Sekapur Sirih untuk naskah tersebut, saya membuatkannya dalam bentuk panduan, seperti di bawah ini.
______________________________________________
Langkah pertama: bayar dulu bukunya. Tertawa sambil baca DAN kabur dari kejaran petugas toko buku itu menyusahkan.
Langkah kedua: kalau sulit tertawa, ingatlah bahwa barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Minimal Anda bisa tertawa miris.
Kembali serius, sampul buku ini sebaiknya memuat Peringatan Pemerintah: tidak menggunakan efek suara tertawa berlebihan (“HUAHAHAHEHEHE WKWKWKWKW”) , pelesetan jorok, atau tanda baca berlebihan (!!!!!?????!!!????) yang sering diobral di buku humor lain.
Justru sebaliknya, humor di buku ini disampaikan dengan tata bahasa serius nan taat asas. Saking taatnya, saya curiga kata-kata dalam buku ini tidak langsung diketik, melainkan disuruh berbaris rapi dulu, sambil menaikkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Bambang Haryanto juga memadukan dua hal dalam bukunya: lelucon dan membahas lelucon. Ini perjudian yang berbahaya bagi penulis humor.
Mengapa? Bayangkan seorang koki menghidangkan ayam panggang di meja kita. Wanginya memancing air liur kita. Saat kita potong dan masukkan ke mulut, terasa dagingnya yang empuk dan gurih... Saat itulah koki tersebut mengeluarkan seekor ayam hidup lantas menjelaskan cara memasak makanan tersebut, mulai dari penyembelihan.
Kalau masih cuek makan dengan lahap, bisa jadi Anda memang bekerja di pejagalan. Atau kantor pajak.
Itulah bahaya menyajikan lelucon SEKALIGUS membahasnya dalam satu buku. Namun, memang harus ada yang melakukannya. Karena dari situlah kita belajar: mengapa suatu hal dianggap lucu? Mengapa kita tertawa? Mengapa Ayu Azhari bisa kalah dalam pemilihan Bupati Sukabumi?
Oke, mungkin yang terakhir sih nggak meskipun materi lelucon dalam buku ini tidak jauh dari sosial dan politik (termasuk pemerintah). Hal ini wajar saja. Kolomnis Will Rogers pernah berkata bahwa menulis humor sangatlah mudah karena pemerintah akan membantu dengan bertindak konyol. Dan kita tinggal mencatat.
Sebagai contoh, Anda mungkin ingat pada tahun 2007 ada perbedaan hasil survei tingkat kemiskinan Indonesia. Berdasarkan World Bank, 49% penduduk kita berada di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut BPS, hanya 16,5%. Walaupun ada perbedaan metoda dan tolok ukur, kok bedanya bisa mencolok sampai 32,5%?
Jangan-jangan pemerintah bingung sendiri karena form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)Kalau memang begitu, bisa kita maklumi. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"
a. Tidak.
b. Tidak sama sekali.
c. Sangat tidak sama sekali.
d. Miskin itu apa?
e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
f. Maaf, saya tidak bisa baca.
Pada jam
5:50 PM
6
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Penulisan kreatif
Why Did The Chicken Browse The Social Media? adalah buku sekilas tentang media sosial yang diiringi strip komik khas ala Diki Andeas.
Berhubung ini buku yang sangat serius dan menjunjung tinggi jurnalisme, wajar saja jika kata pengantarnya ditulis oleh saya, seorang penulis humor. Berikut adalah tulisan saya yang saya sampaikan pada Diki, dan karena suatu alasan--kerasukan, sepertinya--ia memuatnya.
_________________________________
Peringatan pemerintah: buku Why Did The Chicken Browse The Social Media berisi banyak jargon berkaitan komputer dan internet plus istilah Inggris yang dicetak miring.
Hal yang Anda perlu lakukan saat tidak mengerti:
Benar: membuka halaman perlahan, sesekali tersenyum atau tertawa kecil
Salah: membuka halaman demi halaman, dengan kening berkerut dan mulut membuka.
Salah besar: tertawa berlebihan sambil berguling-guling, menunjuk, dan meneriakkan salah satu kalimat lucu di buku ini pada orang sekitar, “TAGITO ERGO SUM katanya! HAHAHAHAHAHA!—eh? Kok saya diborgol, Pak Polisi?”
Kakek: “Jadi ada semacam lapangan besar di angkasa yang bisa kita isi dengan teks, gambar, video dan macam-macam?”
Saya: “Euh, ya, kira-kira begitu.”
Kakek: “Dan kita bisa melihat isi lapangan ini dengan komputer?”
Saya: “Bisa ikutan ngisi juga.”
Kakek: “Asalkan dicolok pake kabel?”
Saya: “Euh, bahkan bisa nggak pake kabel. Dari ponsel aja bisa.”
Kakek: “Kamu nggak mabok, kan?”
Pada jam
5:31 PM
1 umpan balik
Kategori: Apresiasi, Penulisan kreatif
Mengapa film horor Asia (Jepang, Thailand, bahkan Indonesia) sering menggambarkan hantu perempuan berambut panjang dengan gaun putih? Karena itu merupakan bagian dari stereotip kecantikan.
Dengan menggunakan stereotip kecantikan dalam pakem horor, penonton akan lebih terganggu. Kita jadi bingung saat batas antara menyenangkan dan menyeramkan terlanggar. Otak kita memaksa kita untuk menjauhkan diri dari apa pun yang kita lihat. Tapi setelah menghindar, kita malah merasa kehilangan; tertarik melihat lagi.
Itu juga sebabnya ketakutan-ketakutan masa kecil (atau besar) kita biasanya merupakan pelanggaran antara batas tersebut. Ketakutan masa kecil saya, misalnya, adalah menemukan Drakula boker di kamar mandi. Tidak terbang mengancam. Tidak lari mengejar. Tapi duduk santai sambil baca koran dan meminta saya menutup pintu.
Justru itu yang membuat saya ketakutan setengah mati. Karena batas antara kehidupan biasa dan tidak biasa menjadi kabur.
Kesederhanaan yang Merindingkan Bulu Kuduk
Coraline adalah karya seperti itu. Bukan karena memuat Drakula boker. Melainkan karena mengunyah batas antara menyenangkan dan menyeramkan, lantas meludahkannya sembarangan.
Tokoh utamanya adalah anak sebelas tahun, yang entah bagaimana, masih memiliki pikiran seterbuka bocah usia lima tahun.
Ya, bocah usia lima tahun--karena ia bisa menerima banyak keanehan tanpa panik. Sebagai contoh, saat ia menemukan sisi dunia lain di apartemennya, ia menemukan para "orangtua yang lain" yang mirip dengan orangtuanya. Bedanya, gigi ibunya tidak sepanjang itu. Jari dan kukunya tidak setajam itu... yang tentunya menyulitkan dalam melakukan beberapa hal tertentu. 
Sori, bercanda. Itu nggak terjadi di novel grafisnya. Yang paling mencolok bagi Coraline: mata ibu yang ini terbuat dari kancing.
Kalau saya mendadak menemukan ibu yang lain seperti itu, bisa jadi saya pingsan berdiri. Sementara Coraline? Bukan hanya tenang. Ia ikut makan siang dengan mereka. Dan ia menikmatinya dengan lahap.
Ia bahkan tetap tenang saat disuruh bermain bersama barisan tikus bergigi tajam yang bisa bicara dan--dengan sangat horornya... 
... menyanyikan lagu Kangen Band!
Maaf, saya nggak bisa menahan diri. Kembali serius, mereka menyanyikan lirik seperti, "Kami di sini sebelum engkau jatuh, dan kami akan di sini saat engkau bangun." Tidak ada lirik eksplisit yang mengancam akan membunuh atau mencincang kita. Justru karena itu, begitu mengganggu.
Harapan Neil Gaiman?
Anak sebelas tahun biasanya sudah terpolusi oleh dunia nyata. Atau lebih parah: oleh orangtua. Sehingga mereka tidak lagi berpikir kemungkinan. Hanya apa yang biasa. Semua yang tidak biasa tidak mungkin ada.
Mungkin Coraline merupakan harapan penulisnya sendiri, Neil Gaiman. Bahwa anak usia sebelas tahun sebaiknya tetap seperti itu: seorang perambah dan penjelajah. Tidak perlu harus punya cita-cita yang akan bagus kalau diceritakan di depan kelas. Tidak perlu sudah bisa hapal semua tabel perkalian hingga tiga digit. Dan tidak perlu bisa memberi kesimpulan yang penuh logika untuk bertindak. Sebagaimana jawaban Coraline saat dipertanyakan oleh sang Kucing mengapa ia berkeras mau menolong orangtuanya padahal ia takut: "Karena mereka orangtuaku."
Rambah. Jelajah. Tetaplah jadi anak-anak.
Penceritaan Visual yang Mengalir
Keuntungan sebuah novel grafis adalah visualisasi. Dan penggambaran Philip Craig Russell sangat mendukung nuansa ini. Paduan warna-warni cerah menemani perang antara cahaya dan ketiadaannya. Penggambaran dunia yang lain tanpa berlebihan; membuat seakan-akan wajar saja kalau anjing kelurahan sebelah bersayap dan suka nonton pertunjukan vaudeville. Coraline bukan kerja sama pertamanya dengan Gaiman, melainkan kelima. Ia sudah paham apa yang ingin disampaikan Neil. Bahkan begitu muncul ide adaptasi Coraline dalam bentuk novel grafis, Neil sendiri yang langsung meminta Russell untuk melakukannya.
Keakraban Neil Gaiman sendiri dengan format novel dan komik juga membantu kelancaran adaptasi ini. Gaya Narasi Neil memang visual, memudahkan kita untuk membayangkan. Ia paham bahwa kekuatan visualisasilah yang mampu membuat kita merinding tiada tara. Pertama-tama, Gaiman memunculkan citra kuat seorang ibu dalam benak kita; pelindung, penyayang, dan tegas. Lantas menghancurkannya dengan citra jari panjang berkuku tajam dan mata kancing; menunjukkan identitas aslinya...
...sebagai Mbah Surip.
Oke, serius, tadi itu bercanda terakhir. Sebagai makhluk yang justru kebalikannya dari seorang pelindung dan penyayang.
Kurangnya Ketelitian Penyunting
Yang saya sayangkan adalah kurangnya ketelitian penyunting. Dari sampul saja sudah terlihat bahwa penerjemah dan penyunting tidak sadar bahwa Harvey Award dan Eisner Award adalah dua penghargaan berbeda; bukan satu penghargaan dengan nama "Harvey and Eisner".
Itu mungkin tampak seperti hal yang remeh. Namun bagi saya fatal. Konteksnya jadi keliru. Hal seperti ini terjadi beberapa kali dalam Coraline versi Indonesia terbitan M&C ini. Kabar baiknya: pembaca seperti saya jumlahnya sama seperti pengemudi motor yang tidak menyelip-nyelip di antara kepadatan mobil. Suara kami tidak akan terdengar; kalah jauh dibandingkan mayoritas.
Pertanyaan Penting: Karya Ini Untuk Dibaca Siapa?
Neil Gaiman menulis novel aslinya untuk pembaca anak-anak. Dalam situsnya, Neil berkata bahwa ia membacakan Coraline untuk anaknya, Maddy, pada saat usianya enam tahun.
Ini bukan berarti Coraline hanya untuk anak-anak. Seperti yang dikatakan Agung dalam resensinya, "...para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis."
Pendapat ini diperkuat Holly, anak Neil Gaiman sendiri. Ia membaca Coraline saat berusia enam belas tahun. Khawatir, Neil berkata, "Semoga kamu nggak terlalu tua untuk [bacaan] itu." Holly menjawab, "Aku rasa tidak akan ada yang terlalu tua untuk membaca Coraline."
Bagi yang masih penasaran, situs HarperCollins menyediakan pratinjau empat puluh halaman awal Coraline (tentunya versi Inggris). Namun, kalau sudah terpikat tanpa itu, langsung saja cari versi Indonesianya di toko-toko buku. Dengan lima puluh lima ribu saja, Anda bisa punya alasan untuk mempererat hubungan kekeluargaan... dengan pergi pipis malam bareng-bareng.
Pada jam
6:00 PM
25
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Penulisan kreatif
Buku Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda! Perlu ditekankan: "Seru". Pake "e". Kalau judulnya Parodi Film Saru sih, minggu ini masuk toko buku, minggu depannya jadi korban pembakaran oleh massa.
Terima kasih juga pada para pemesan seratus buku pertama! Bagi yang belum melengkapi informasi alamat kirim, segera kontak writerstavern AT gmail DOT com. Bagi yang sudah menerima bukunya, silakan pajang bukti foto penerimaan buku dengan sehat wal afiat, gemah ripah loh jinawi, di blog atau aplikasi jejaring sosial (seperti Facebook) Anda. Berikut contoh dari Deddy Setyawan. 

"Panas, ya? Paling enak ngadem nih di ruangan AC sambil baca buku Isman yang terbaru: Parodi Film Seru."
"Pak, ada jus mangga?"Catatan: cara ini juga efektif digunakan jika Anda sudah enak-enak duduk di restoran baru, membuka menu, dan hampir mati duduk saat melihat harganya.
"Ada," angguk Pelayan.
Anda tersenyum. "Kalau buku terbarunya Isman yang berjudul Parodi Film Seru?"
"Nggak," geleng Pelayan.
"Peh! Rumah makan macam apa ini?" Banting menu, lantas ngeloyor keluar.
"Selamat siang," sapa Petugas. "Anda tadi lewat dengan kecepatan 100 km/jam di jalan dalam kota. Mau ke mana, ya?"
Tinggal jawab dengan sigap, "Saya mau beli buku terbaru Isman."
"Oh! Yang Parodi Film Seru itu?"
"Betul, Pak."
"Apa perlu saya kawal?"
Pada jam
8:28 PM
5
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Pengumuman
Buku-buku bisnis sering menganjurkan agar berhati-hati dalam memilih teman bisnis. Mereka yang senantiasa selalu berkeluh kesah dalam bisnis akan menjerat kita. Apalagi kalau kita sampai berteman dengan apa yang disebut Agung sebagai Dementor.
Dalam penulisan kreatif, hal serupa berlaku. Teman-teman Anda mayoritas orang yang selalu mengeluh? ("Aku buntu nih", "Yah, writer's block. Mau gimana lagi?", "Kok nggak beres-beres, ya?") Jangan heran jika mendadak Anda juga sering terhambat dalam berkarya. Solusinya mudah. Cobalah lebih sering berinteraksi dengan teman-teman Anda yang produktif.
Saya sendiri beruntung karena mengenal banyak orang yang semangat serta produktivitasnya menularkan inspirasi.
Kekuatan Niat
Mitra hidup saya, Primadonna Angela, menerbitkan tiba belas novel dan satu nonfiksi dalam waktu tiga tahun. Berarti rata-rata tiga-empat buku per tahun. Padahal dia ibu dari dua anak (satu masih menyusui) yang juga mengerjakan penerjemahan buku, copywriting, penyuntingan, serta menjalankan bisnis online di Rumah Pernik.
Banyak orang yang mengerutkan kening setiap kali Donna berkata dalam talkshow, bahwa resep produktivitas dirinya hanya satu: niat. "Hanya itu?" Mereka yang bertanya seperti itu belum mengetahui seperti apa kekuatan niat Donna.
Menjelang melahirkan anak kedua, Donna masih mengejar tenggat pekerjaan copywriting untuk sebuah agensi periklanan. Tenggat waktu seminggu lagi. Saat hampir selesai, tahu-tahunya sudah harus ke rumah sakit. Karena proses melahirkannya normal, hari ketiga sudah pulang. Lantas hari keempat menyelesaikan sisa tulisan dan mengirimkan hasilnya. Mitra kerja di agensi tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa Donna sudah melahirkan. Baru tahu saat revisi copywriting dah diterima, dan Donna memberi tahu via SMS. Saat ditanya kenapa baru ngasih tahu belakangan, dia menjawab sederhana saja, "Supaya nggak jadi alasan telat."
Kreativitas Tanpa Batas
Wajah Richoz paling bersinar setiap kali diajak bicara konsep kreatif. Konsep permainan tipografi dalam Parodi Film Seru pun berawal dari diskusi dengan Richoz. Ide-idenya mendebarkan jantung, dan bukan karena sering mengajak makanan berkolesterol tinggi.
Serial Suparman & iBab, sebagai contoh, lebih dari sekadar strip komik biasa karena membuat para pembacanya merasa terlibat. Ada cameo yang secara "kebetulan dan tanpa sengaja" mirip dengan sejumlah pembaca. Ada lomba pembuatan header situs yang mengutamakan keinginan berkontribusi dan bukan kemampuan Sotosop. Ada pula rekayasa ulang situasi yang ditulis dalam blog-blog orang. Bahkan ada perang antartokoh komik dengan blog komik tetangga.
Saat bertemu dalam Pesta Blogger Perjuangan pun Richoz mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengalahkan Coki si Pelukis Cepat (komik yang dulu dimuat dalam Majalah Hai). 

Pada jam
2:15 AM
6
umpan balik
Pernah dengar istilah Jendela Johari? Ini adalah sebuah model sederhana untuk memetakan kepribadian kita. Anggaplah ada empat jendela, seperti di bawah ini.
Pada jam
2:13 PM
5
umpan balik
Terima kasih atas apresiasi teman dan rekan semua dalam satu setengah bulan terakhir. Karena saya yakin berkat dukungan kalian semua jugalah saya jadi menerima tiga kabar baik terakhir:
Pada jam
1:38 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi, Pengumuman
Beberapa hari terakhir ini, saya terlempar ke masa sepuluh tahun lalu. Saat saya lebih sering mencorat-coret buku sketsa, ketimbang menulis algoritma program. Salah satu mimpi saya saat itu adalah memiliki model rangka untuk menggambar. Seiring waktu, keinginan itu terlupakan.
Tidak sangka, akhirnya mimpi itu terjadi sepuluh tahun kemudian. Dan rasanya masih sama seperti dulu. Mungkin seperti pensiunan pemain liga basket Amerika yang kembali bermain bersama. Atau personil grup musik rock lawas yang mengadakan tur reuni.
Tangan tak terlatih selama bertahun-tahun yang tiba-tiba bergerak sendiri. Perasaan merinding yang merambati tulang belakang saat bayangan dalam benak saya mewujud di kertas kosong. Keterhubungan antara saya dan objek gambar yang melempar diri dalam jagad kosong. Peluh yang mengalir, seakan menantang udara dingin.
Berkat model rangka ini, saya kini bisa menggambarkan pose orang-orang yang khidmat dan sendu. Pose yang menunjukkan kesopanan dan hakiki manusia. Pose seperti ini.


Pada jam
12:43 PM
7
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Ciptakan penghargaan berantai seperti di kiri ini. Lantas tambahkan aturan untuk menyebarkan ke sejumlah orang (dalam kasus ini, lima). Otomatis, nama kita sebagai pembuat akan ikut-ikut di setiap rantai.
Syaratnya, kita perlu membuat penghargaan yang bisa membuat senang penerima. Karena kalau kita membuat penghargaan bernama Cinta Isman Award, misalnya, jelas di rantai pertama saja sudah mandek. Desain spanduk/banner yang kita ciptakan pun sebaiknya sederhana, menarik, dan tidak menonjolkan pribadi pembuatnya. Desain Schmooze Award di atas buatan Mike, sebagai contoh, terlihat elegans. Sementara yang di bawah ini lebih terlihat dagelan.
Pada jam
11:44 AM
3
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Judul: IPDN Undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani
Penulis: Inu Kencana Syafiie
Penerbit: Progressio (Bandung)
Dimensi: 13,5 x 20,5 cm
Halaman: 282 + xxiv
Sebagai pedoman utama, buku Indonesia apa pun setelah tahun 2003 yang mendompleng istilah "Undercover" pasti kualitasnya buruk. Apalagi ini penggunaan istilah yang keliru. "Undercover" menyiratkan makna bahwa penulis buku ini, Inu Kencana Syafie, menyamar sebagai bagian dari IPDN (dulu STPDN) untuk mengungkap rahasia-rahasia di baliknya. Padahal penulis memang bagian dari institusi yang ia ungkap dan lawan kebobrokannya.
Buku ini sebenarnya autobiografi, yang tadinya mau diubah oleh penerbit karena takut dipertanyakan masyarakat (Pengantar Penerbit, hal. vii). Namun akhirnya dipertahankan karena kualitas tulisan yang bagus. Menurut saya itu pilihan yang bagus. Tapi bukan berarti penerbit jadi melalaikan kerja samanya dengan penulis untuk menghasilkan karya yang berkualitas.
Karena itulah yang saya lihat. Selain dari judul yang kacangan, suntingannya pun asal. Salah ketik masih bertebaran di mana-mana. Narasi panjang ambigu tidak dipotong dan dijadikan jelas. Kisah-kisah tidak disusun agar menyampaikan inti yang saling mendukung. Sporadis dan asal. Ini menunjukkan bahwa penyunting tidak teliti. Atau terlalu terburu-buru mengejar tenggat penerbitan.
Komposisi autobiografi ini pun tidak seimbang. Dari Pengantar Penerbit dan Prakata, saya menyimpulkan bahwa dua misi utama buku ini adalah:
Pada jam
5:12 PM
2
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Tulisan lengkapnya di sini. Agar jelas, yang dimaksud Dende dengan "novel" dalam konteks ini adalah "karya fiksi". Karena Jangan Berkedip! sebenarnya bukan novel, melainkan antologi cerita sangat pendek. Sebagian kutipannya:
...67 flash fiction dari Isman dan Donna secara bergantian membawa saya pada paradigma menulis yang baru. Bahwa sebenarnya ada cerita, kisah, hal-hal yang bisa diceritakan secara singkat, dengan hanya 1-600 kata per cerita [Yeap, satu kata…]. Kebanyakan dari flash fiction ini memiliki twist ending. Hal inilah yang membuat suatu flash fiction meskipun singkat, tapi membekas.
Bahkan contoh cerita twist bahkan bisa Anda temukan pada covernya [yang sayangnya berilustrasi seperti cover novel-novel teenlit]. Pada cover depan terdapat gambar seorang wanita muda yang membawa handphone dan tas tangan ingin menyebrang jalan, ditarik tangannya dari belakang secara kasar oleh pemuda dengan penampilan berantakan. Perampokan? Tunggu sampai Anda membuka kuping (flap) sampul depan dan melihat gambarnya secara utuh. Kejadian sebenarnya yang terjadi adalah... Baca sendiri...
Pada jam
7:55 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
PILIHAN MINGGU INI
Untuk penggemar fiksi, buku ini menarik. Jangan Berkedip/Primadonna Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman/Gramedia 2006, diklaim penulisnya sebagai flash fiction alias kumpulan cerita sangat pendek. Cerita bisa kurang dari 100 kata, misalnya Sang Pengantin yang hanya terdiri dari 11 baris, total 57 kata. Cukup unik.
Topik cerita dalam buku ini sangat keseharian dan jujur. Seperti cerita Sha yang ingin bunuh diri dan meminta saran Herman, temannya. Dialognya sarkastik, tapi lucu, misalnya, "...Gua mau bunuh diri, bisa bawain insektisida atau apa pun. Arsenik berlebihan, nggak?"
"Oke, gua beliin semprotan nyamuk..."
Ada 65 judul cerita yang bisa Anda nikmati.
(Femina hal. 11, no. 28/XXXIV, 13-19 Juli 2006)
Pada jam
11:52 AM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Oleh Iwok Abqari
Istilah Flash Fiction buat sebagian besar orang mungkin masih suatu hal yang sangat baru dan belum terasa umum, seperti halnya saya yang baru mengenal adanya genre seperti ini. Tapi ternyata, membaca cerita Flash Fiction atau cerita sangat pendek ini mempunyai kenikmatan dan keunikan sendiri.
Semua terasa begitu cepat, dan selalu diakhiri dengan ending yang mengejutkan dan sangat di luar dugaan. Nikmat, karena hanya butuh hitungan menit (dan bahkan detik) untuk menyelesaikan dan mengetahui akhir sebuah cerita!
Seperti halnya yang tercantum di back-cover buku ini, dunia mengenal Flash Fiction dengan berbagai nama. Di Prancis, karya seperti ini disebut nouvelle. Di China, ada yang menyebutnya cerita kantong, cerita mini, cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok. Semua istilah itu karena cerita jenis ini sangat-sangat pendek, dan terdiri dari beberapa puluh kata, atau paling banter 1500 kata saja. Bandingkan dengan sebuah cerpen biasa yang umumnya mempunyai kumpulan kata yang jauh lebih banyak dari itu. Judul ‘Jangan Berkedip!’ terasa pas sekali dengan keseluruhan isi buku ini. Secara hiperbola bisa dikatakan bahwa setiap cerita dalam buku ini bisa selesai dalam satu kedipan mata! Begitu mengedip, kita sudah ada di cerita selanjutnya.
Mungkin ada yang berpikir, apanya sih yang menarik dari sebuah cerita yang super pendek? Bayangkan, sebuah cerita ada yang ditulis dan selesai dalam puluhan kata saja! Dan ada yang hanya berisi SATU KATA saja! Mungkin yang belum mengenal dan membaca Flasfic (Flash Fiction) akan beranggapan begitu. Tapi ternyata, justru saking pendeknya itu, si penulis dituntut mengolah katanya dengan baik sehingga setiap ceritanya berakhir seru! Pembaca seolah diajak bermain tebak-tebakan: “Hayo, cerita ini akhirnya gimana?”
Duet pasangan Isman dan Donna bergantian memberi kejutan, dan masing-masing hadir dengan ciri dan khas gaya bahasa dan penulisannya. Kekompakan keduanya tidak berarti saling menghilangkan ciri khas gaya penulisan masing-masing. Asyik juga sambil membaca, sambil menebak-nebak: “Cerita ini Isman apa Donna ya yang nulis?” Jawaban ada di akhir masing-masing cerita plus jumlah kata yang digunakan. Kala dibaca dengan teliti, di pertengahan buku, gaya penulisan dua penulis ini mulai terlihat jelas dan sudah bisa tertebak dengan mudah siapa penulis cerita yang baru saja selesai dibaca.
Membaca Jangan Berkedip! seolah sedang menikmati makan malam dalam keadaan perut kosong dengan sajian menu yang sangat bervariasi. Dalam setiap suapannya terasa nikmat yang berbeda-beda. Puluhan cerita di buku ini memiliki tema yang--tentu saja--berbeda satu sama lain, tetapi sama-sama memiliki daya tarik tersendiri.
Yang tidak terbiasa dengan membaca sebuah novel yang sangat panjang, buku ini mungkin cocok. Masing-masing cerita lepas dan berdiri sendiri. Satu-dua cerita mungkin bisa mengisi waktu anda dalam sebuah antrean loket suatu alat transportasi, di ruang tunggu dokter, atau bahkan untuk menemani sebatang rokok anda di sebuah smoking area sebelum kembali ke rutinitas kerja.
KETERANGAN BUKU
Judul: Jangan Berkedip!
Pengarang: Isman H Suryaman & Primadona
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200 hlm
(Dimuat di Rubrik Senggang, Harian Batam Pos halaman 35, Minggu 2 Juli 2006.)
Pada jam
3:28 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
...adalah serotonin bagi otak. Memicu dan memacu. Menggelitik dan menepuk bahu. Karena itu, saya dan Donna berterima kasih atas segala apresiasi yang kami terima.
Yogyaku, 21 Juni 2006
Chere PAM dan IHS,
Special! Memang itulah kata terbaik yang saya ungkapkan untuk PAM n IHS. Flashfic - Jangan Berkedip!, sangat menarik dan memang belum banyak penulis yang berjalan di jalur seperti anda sekarang ini. Ceritanya ringan dan banyak berikan surprise di akhir cerita.
Mengapa saya beli buku anda? karena ketika saya beli KOMPAS Senin dan mata saya tertuju pada iklan kecil, milik GPU, Jangan Berkedip! Tertarik ...saya cari ke toko buku Toga Mas di Yogya dan saya membacanya dalam waktu semalam. Pagi ini saya tulis email ini untuk anda, PAM n IHS. Teruslah berkarya n wish u luck.
Congratulations! Best Innovation.
Salam kenal,
Vernadine
Pada jam
12:21 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Jangan Berkedip!: Kumpulan Cerita Sangat Pendek yang Mengejutkan
Primadona Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman
GPU, April 2006
200 Hal.
Buku ini bisa dibilang unik. Pertama, merupakan hasil karya kolaborasi antara pasangan suami-istri, Primadona Angela Mertoyono (Love at First Fall, Belanglicious, Quarter Life Fear) & Isman Hidayat Suryaman (Bertanya atau Mati!). Kedua, cerita-cerita di buku ini, bukan hanya sekedar cerita pendek, tapi cerita yang SANGAT pendek. Maksudnya, seperti yang ditulis di cover belakang buku ini, Flash Fiction adalah cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok.
Berbagai cerita pendek menarik dimuat dalam buku ini, dalam beragam jumlah kata, bahkan ada yang hanya berisi satu kata saja! Dan yang uniknya lagi, saking pendeknya, saat pembaca menerka-nerka ending dari cerita ini, tau-tau, lho.. koq udah selesai? Dan terkadang ending cerita sama sekali tak terduga, mengejutkan.
Duo suami-istri ini menghasilkan cerita pendek dengan gaya yang berbeda. Kalau Donna, cenderung romantis tapi juga lucu, sedangkan Isman lebih banyak humornya. Gak hanya cerita yang mengundang senyum, cerita yang sedih juga ada, yang cenderung ‘psikopat’ juga ada.
Buat yang ingin nulis tapi gak bisa mengkhayal panjang-panjang, kenapa gak coba nulis Flash Fiction? Ternyata menulis sebuah cerita, gak perlu berpanjang-panjang. Kreativitas dan ide bisa ‘dipadatkan’ dalam sebuah cerita pendek yang ringan.
-ferina-
(Dikutip dari milis Resensi Buku)
Pada jam
1:22 PM
0
umpan balik
Kategori: Apresiasi
Oleh: Shrie
Apa sih itu cerita Flash fiction? Flash fiction adalah cerita super pendek yang di ramu sedemikian rupa sehingga pembaca tidak perlu berlama-lama membaca kalau ingin mengetahui ending ceritanya. Flash fiction, di kenal dengan berbagai nama. Kalau di Prancis cerita ini di sebut dengan “Nouvelle”. Di China di sebut cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok, Kalau saya pribadi lebih enak menyebut cerita jenis ini dengan sebutan “Quicky” singkat, padat namun berkesan.
Bagi anda yang tidak punya banyak waktu buat berlama – lama membaca novel yang tebalnya hingga 500 halaman, sangat cocok membaca buku sejenis ini. Di buku “Jangan Berkedip” ini penulis mengangkat cerita yang sangat dekat dengan kejadian kita sehari-hari, atau mungkin memang ini kumpulan kisah nyata sang penulis ya? entahlah.
Saya benar-benar di buat tidak berkedip oleh buku ini, bayangkan saya hanya perlu waku approx’1 jam untuk menyelesaikan semua cerita pendek di buku ini, dan ini adalah rekor baru buat saya. Sekali lagi buku ini cocok untuk orang yang tidak punya banyak waktu untuk membaca, cocok buat anda yang sedang naik bus, kendaraan saat macet, kereta, nunggu pacar, Jam makan siang, nunggu di antrian dlsb nya.
Pada jam
12:27 PM
1 umpan balik
Kategori: Apresiasi

Pilihan 1:
Pakai Feedburner