Showing posts with label Apresiasi. Show all posts
Showing posts with label Apresiasi. Show all posts

Friday, July 13, 2012

#1thStandUpIndo: Dalam Satu Tahun...

Dalam satu tahun, yang tadinya "Gak bisa!" bisa jadi "Oh, bukannya itu biasa?" 

Lihatlah para komika (stand-up comedian) sekarang. Kalau sebelum tanggal 13 Juli 2011 mereka ditanya, "Bisa gak, bikin pertunjukan stand-up comedy berbayar di Indonesia, semuanya diisi stand-up comedian Indonesia, dan dihadiri lebih dari 200 orang?"

Saya yakin semua bakal menjawab, "Gak bisa!"

Pada tanggal 24 Agustus 2011, @StandUpIndo mengadakan acara stand-up comedy berbayar pertama.  Bahkan saat itu, Raditya Dika masih mempertanyakan, apakah kita tidak bergerak terlalu cepat? Dia masih ragu ada yang mau bayar untuk menonton stand-up comedy

Tapi sekarang lihat saja, komunitas komedi tunggal di berbagai pelosok Indonesia mengadakan Stand-up Nite. Hampir semua berbayar. Rata-rata penontonnya ratusan. Rekor penonton Stand-up Nite berbayar terbanyak di Jakarta adalah 890 penonton. Di Bandung mencapai 730 orang. Di Pekanbaru bahkan melebihi 1.000!


Dalam satu tahun, hidup bisa berubah drastis. 

Sebelum 13 Juli 2011, kalau ada yang mengaku mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjalani profesi sebagai stand-up comedian, mayoritas pasti mempertanyakan kelogisan pilihan karier ini. Namun, itulah yang direncanakan (lantas dilakukan) Ernest Prakasa

Sekarang, tidak ada yang berani menertawakan pilihan hidupnya.

Saya juga kini telah mengundurkan diri dari manajemen kantor saya sebelumnya, dan fokus pada bidang komedi dan penulisan. Bertemu dan berinteraksi dengan begitu banyak rekan maupun sahabat di komunitas yang berbagi kesenangan maupun mimpi. Ini bukanlah kehidupan yang saya rencanakan sebelum 13 Juli 2011. Tapi ini adalah pilihan yang saya jalani dengan bahagia.


Dalam satu tahun, impian bisa terwujud... dan terwujud kembali 

Sebagian besar praktisi komedi tunggal adalah orang-orang yang memiliki mimpi bahwa suatu saat stand-up comedy akan tumbuh kuat di Indonesia. Perbedaannya adalah: ada yang mewujudkan mimpi itu. Dan ada yang menontonnya terjadi. 

Tidak masalah kita menjadi apa. Asalkan itu memang pilihan. Karena terwujudnya mimpi bukanlah suatu akhir. Selalu ada kelanjutan. Baik memelihara mimpi menjadi sesuatu yang membumi. Atau mengembangkannya lebih tinggi. 

Saya dan rekan-rekan di @StandUpIndo sendiri entah sudah berapa kali terkejut dengan terwujudnya berbagai impian dalam bentuk nyata: acara stand-up berbayar, gig rutin bagi para komika, acara TV khusus stand-up comedy, stand-up special, munculnya komika sebagai host acara bergengsi, komika sebagai bintang film, hingga tur antarkota. 

Daftar ini akan terus berlanjut. Kalau Anda praktisi juga, semoga mimpi Anda pun [akan] masuk di dalamnya. 


Kalau Anda mitra maupun penonton, terima kasih atas dukungannya selama ini! Pertumbuhan ini nyata karena wujud dukungan dan apresiasi Anda pun nyata.


Viva la Komtung!

Sunday, July 17, 2011

#StandUpNite: Mengobarkan Kepercayaan Saya Terhadap Komedi Indonesia

KompasTV, mulai bulan Juli ini mengadakan audisi untuk kompetisi Stand Up Comedy Indonesia. Acara ini kira-kira seperti versi lokal Last Comic Standing. Audisinya diadakan di sejumlah kota besar. Dan para kontestan yang lolos akan mulai berkompetisi di acara televisi nantinya.

Ernest Prakasa, salah seorang peserta audisi, dan sesama penggemar komedi tunggal (padanan Indonesia untuk stand up comedy), mengajak sejumlah orang untuk menjajal sesi open mic (panggung terbuka bebas untuk siapa pun yang ingin mengisi, biasanya untuk stand up comedy) di Comedy Cafe Kemang, Jakarta. Berawal dari ajakan ke sesama teman, berlanjut ke Twitter, dan kabarnya merambat kian tak terkendali.


Akhirnya ada 8 orang yang sepakat ikutan mengisi open mic pada hari Rabu, 13 Juli 2011, mulai jam 8 malam. Diurutkan berdasarkan tampil: Ernest Prakasa, Arief Budiman, Intan Anggita Pratiwie, Asep Suaji, Ryan Adriandhy, Isman H. Suryaman, Pandji Pragiwaksono, dan Raditya Dika.

Tempat Comedy Cafe yang hanya dirancang untuk sekitar 30-an orang pun jadi penuh sesak karena sekitar 60-an orang memadati lokasi. Banyak penonton yang hanya menengok dari luar ruang. Dan itu pun mungkin lebih dari 30 orang tidak jadi masuk karena melihat tempat penuh.

Senang sekali melihat animo terhadap komedi tunggal di Indonesia ternyata sangat tinggi. Karena selama ini terlihat hanya sebagai ceruk yang terlalu kecil. Mungkin selama ini baik para penggemar maupun pelakunya tersebar di mana-mana dan belum bersilang jalan. Media sosial seperti Twitterlah yang ternyata mampu mempertemukan keduanya.

Komedi tunggal, seperti kata Pandji dalam sesinya, "Bisa merupakan media kritik yang baik." Seperti dicontohkan oleh Ernest dalam materinya yang mengkritik sinetron, "Cobain deh bertingkah laku kayak pemain sinetron sehari. Capek, kan?" Atau Raditya Dika yang mengkritik sinetron laga Indosiar, "Ngapain dia naik elang ke pasar? Emangnya di pinggir gak ada ojek? Emangnya di pasar ada 'Tempat Parkir Elang'?"

Iwel, seorang pionir komedi tunggal di Indonesia yang ikut naik ke panggung terakhir, juga menyampaikan, "Kalau lawak Indonesia selama ini menertawakan kebodohan pelakunya, stand up comedy justru menertawakan kecerdasan pelakunya."

Walaupun komedi tunggal juga menertawakan diri, tetap saja dengan cara yang cerdas. Asep Suaji mencontohkan ini ketika dia menceritakan saat dia berpacaran dengan seorang akuntan, "Dia panggil gue Aset!"

Acara berakhir dengan semangat dan harapan tinggi yang kembali berkobar. Semoga api ini terus merambat dan menjalar, hingga saat komedi tunggal menjadi bagian penting dari dunia komedi Indonesia.

Rekaman penampilan kedelapan orang tersebut bisa dilihat di: www.youtube.com/standupcomedyindo

Catatan: Selain kedelapan nama di atas, masih muncul juga Jati (yang juga ikut audisi) dan Iwel. Sayang sekali, batere kamera perekam Ernest sudah habis sehingga penampilan keduanya gagal diabadikan.




UPDATE:
  • Rekaman penampilan saya dibagi dua. Sila klik saja: Bagian pertama. Dan bagian kedua.

  • Akan ada #StandUpNite di Bandung! Tunggu kabarnya, ya! Dan bagi yang tertarik untuk ikutan tampil, kontak saja ke Twitter @standUpIndo, cc ke @ismanhs

  • Komunitas Komedian Tunggal Jogja juga akan segera mengadakan #standUpNite, pada Rabu, 20 Juli 2011. Di Toko Buku Togamas Gejayan, Jogjakarta. Mulai jam 20.30 waktu setempat. Untuk informasi lebih lanjut, kontak Imot di akun Twitter @oomimot.

Sunday, July 10, 2011

Bisa Nonton Transformers 3? Dari Hong Kong!

Sudah beberapa minggu terakhir saya belum menulis parodi film versi lima menit baru. Alasannya: minim film bioskop baru akibat masalah pajak importir.

Karena itu, begitu muncul berbagai brand yang menawarkan kuis dan semacamnya untuk nonton film bareng di luar negeri, saya termasuk yang paling bersemangat. Salah satu yang saya ikuti adalah simPATI, dengan program simpatiZone Friday Movie Mania, nobar Transformers: Dark of The Moon di Hong Kong.

Singkat cerita (karena prosesnya panjang, meliputi berbagai bujuk rayu oleh mitra hidup saya, Primadonna Angela), saya termasuk yang diajak ke Hong Kong (dan langsung kalang kabut ngepak barang dalam semalam karena besoknya berangkat).



Seharusnya ada peringatan bagi wisatawan: "Siap-siap bergadang." Karena ada saja bagian Hong Kong yang tetap aktif walaupun sudah dini hari. Saya akan bahas dalam beberapa tulisan ke depan. Tapi untuk saat ini (karena saya baru kembali di Indonesia): tiduuur.

Sunday, March 06, 2011

Panduan Menikmati Buku Komedikus Erektus

Bambang Haryanto adalah pengamat dan praktisi komedi yang menulis berbagai hal tentang humor di blognya, Komedikus Erektus. Bukunya yang berisi esai humor ala Arwah Setiawan sudah terbit, dengan nama sama seperti blog humornya.

Saat diminta menuliskan Sekapur Sirih untuk naskah tersebut, saya membuatkannya dalam bentuk panduan, seperti di bawah ini.

______________________________________________


Langkah pertama: bayar dulu bukunya. Tertawa sambil baca DAN kabur dari kejaran petugas toko buku itu menyusahkan.

Langkah kedua: kalau sulit tertawa, ingatlah bahwa barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Minimal Anda bisa tertawa miris.

Kembali serius, sampul buku ini sebaiknya memuat Peringatan Pemerintah: tidak menggunakan efek suara tertawa berlebihan (“HUAHAHAHEHEHE WKWKWKWKW”) , pelesetan jorok, atau tanda baca berlebihan (!!!!!?????!!!????) yang sering diobral di buku humor lain.

Justru sebaliknya, humor di buku ini disampaikan dengan tata bahasa serius nan taat asas. Saking taatnya, saya curiga kata-kata dalam buku ini tidak langsung diketik, melainkan disuruh berbaris rapi dulu, sambil menaikkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bambang Haryanto juga memadukan dua hal dalam bukunya: lelucon dan membahas lelucon. Ini perjudian yang berbahaya bagi penulis humor.

Mengapa? Bayangkan seorang koki menghidangkan ayam panggang di meja kita. Wanginya memancing air liur kita. Saat kita potong dan masukkan ke mulut, terasa dagingnya yang empuk dan gurih... Saat itulah koki tersebut mengeluarkan seekor ayam hidup lantas menjelaskan cara memasak makanan tersebut, mulai dari penyembelihan.

Kalau masih cuek makan dengan lahap, bisa jadi Anda memang bekerja di pejagalan. Atau kantor pajak.

Itulah bahaya menyajikan lelucon SEKALIGUS membahasnya dalam satu buku. Namun, memang harus ada yang melakukannya. Karena dari situlah kita belajar: mengapa suatu hal dianggap lucu? Mengapa kita tertawa? Mengapa Ayu Azhari bisa kalah dalam pemilihan Bupati Sukabumi?

Oke, mungkin yang terakhir sih nggak meskipun materi lelucon dalam buku ini tidak jauh dari sosial dan politik (termasuk pemerintah). Hal ini wajar saja. Kolomnis Will Rogers pernah berkata bahwa menulis humor sangatlah mudah karena pemerintah akan membantu dengan bertindak konyol. Dan kita tinggal mencatat.

Sebagai contoh, Anda mungkin ingat pada tahun 2007 ada perbedaan hasil survei tingkat kemiskinan Indonesia. Berdasarkan World Bank, 49% penduduk kita berada di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut BPS, hanya 16,5%. Walaupun ada perbedaan metoda dan tolok ukur, kok bedanya bisa mencolok sampai 32,5%?

Jangan-jangan pemerintah bingung sendiri karena form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)

a. Tidak.
b. Tidak sama sekali.
c. Sangat tidak sama sekali.
d. Miskin itu apa?
e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
f. Maaf, saya tidak bisa baca.
Kalau memang begitu, bisa kita maklumi. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"

"Lho, bisa saja diet," tentang penguji lain.

Contoh lain pada tahun yang sama: kota Indramayu (Jawa Barat) geger akibat ulah sepasang anak SMA yang membuat video porno. Walikota Indramayu begitu geram sampai mengeluarkan instruksi agar setiap siswi sekolah di kotanya harus melalui uji keperawanan.

Sudah hampir tiga tahun berlalu dan saya masih belum mengerti juga kemajuan pendidikan macam apa yang walikota tersebut ingin capai dengan menyusun daftar nama para perawan. Jangan-jangan tadinya mau ia jadikan soal ujian nasional: “Tandai nama-nama di bawah ini yang masih perawan. Jawaban bisa lebih dari satu. Berikan alasan.”

Inilah salah satu fungsi humor. Membuat hal-hal absurd di kehidupan jadi lebih mudah diterima... dengan menertawakannya. Seperti yang dilakukan Bambang Haryanto dalam buku ini. Belum tentu karena ingin menyampaikan kritik dalam bentuk yang menghibur. Atau karena ingin mengajak para pembaca untuk berpikir kritis. Bisa jadi, sebagaimana diakui banyak komedian atau penulis humor, karena inilah cara paling efektif agar tetap waras.

Kecuali kalau jawaban Anda pada soal di atas adalah (f): Maaf, saya tidak bisa membaca. Sudah terlambat.


Bandung, 6 April 2010

Sekapur Sirih untuk Why Did The Chicken Browse The Social Media?

Why Did The Chicken Browse The Social Media? adalah buku sekilas tentang media sosial yang diiringi strip komik khas ala Diki Andeas.

Berhubung ini buku yang sangat serius dan menjunjung tinggi jurnalisme, wajar saja jika kata pengantarnya ditulis oleh saya, seorang penulis humor. Berikut adalah tulisan saya yang saya sampaikan pada Diki, dan karena suatu alasan--kerasukan, sepertinya--ia memuatnya.

_________________________________

Peringatan pemerintah: buku Why Did The Chicken Browse The Social Media berisi banyak jargon berkaitan komputer dan internet plus istilah Inggris yang dicetak miring.

Hal yang Anda perlu lakukan saat tidak mengerti:

  1. Jangan panik!

  2. Baca dengan santai, seakan-akan Anda menikmatinya.
Benar: membuka halaman perlahan, sesekali tersenyum atau tertawa kecil

Salah: membuka halaman demi halaman, dengan kening berkerut dan mulut membuka.

Salah besar: tertawa berlebihan sambil berguling-guling, menunjuk, dan meneriakkan salah satu kalimat lucu di buku ini pada orang sekitar, “TAGITO ERGO SUM katanya! HAHAHAHAHAHA!—eh? Kok saya diborgol, Pak Polisi?”

Kembali serius, teknologi komputer dan internet bukan hanya maju pesat, melainkan juga membawa berbagai perubahan di tingkat sosial. Dan wajar saja kalau tidak semua orang memahaminya.

Arthur C. Clarke, seorang penulis berkebangsaan Inggris berkata, “Kalau sudah terlalu canggih, suatu teknologi tidak akan bisa dibedakan dengan sihir.” Dengan kata lain, bagi sebagian besar orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, komputer dan internet tidak ada bedanya dengan klenik.

Tak perlu heran kalau orang yang bekerja di bidang ini sering dianggap seperti pawang hujan.

“Pak, komputer saya kok nggak mau nyala, ya?”

“Maaf, saya analis bisnis di Internet, Mbak. Bukan teknisi.”

“Oh, kalau gitu, bisa bantu kasih saran saya perlu beli komputer barunya seperti apa?”

Ini bukan sekadar masalah perbedaan kelas ekonomi. Perbedaan generasi pun berpengaruh. Jika kakek saya masih hidup, saya sendiri bakal kebingungan bagaimana menjelaskan komputer dan internet kepada Beliau.

Kakek: “Jadi ada semacam lapangan besar di angkasa yang bisa kita isi dengan teks, gambar, video dan macam-macam?”

Saya: “Euh, ya, kira-kira begitu.”

Kakek: “Dan kita bisa melihat isi lapangan ini dengan komputer?”

Saya: “Bisa ikutan ngisi juga.”

Kakek: “Asalkan dicolok pake kabel?”

Saya: “Euh, bahkan bisa nggak pake kabel. Dari ponsel aja bisa.”

Kakek: “Kamu nggak mabok, kan?”

Dan seperti saya sampaikan di atas, perubahan yang dipicu teknologi merambat sampai tingkat sosial. Sudah banyak kasus menunjukkan seseorang tersinggung karena teman bicaranya terus-menerus mengetikkan sesuatu di ponselnya selagi ngobrol. Padahal, bisa jadi sang teman bicara sedang memuji orang tersebut di Facebook, Twitter, Plurk, Koprol atau media sosial lainnya.

Satu contoh umum: ada empat orang yang berkenalan akrab melalui internet. Saat akhirnya bertemu di suatu cafe, keempatnya ngobrol sambil mengetik di ponsel mereka. Apa yang mereka ketikkan? Kabar bahwa mereka sedang saling bertemu.

Pembaca buku ini pun akan terbagi antara dua golongan besar: mereka yang, saat membaca cerita di atas berkomentar, “Hah, masa sih?”

Dan kedua, mereka yang berkomentar, “Hahaha, bener banget!”

Kalau Anda termasuk golongan yang pertama, sekali lagi: Jangan panik! Anggap saja klenik.


Bandung, 2 Maret 2010

Monday, July 06, 2009

Coraline: Novel Grafis yang Mengadaptasi Karya Neil Gaiman

Mengapa film horor Asia (Jepang, Thailand, bahkan Indonesia) sering menggambarkan hantu perempuan berambut panjang dengan gaun putih? Karena itu merupakan bagian dari stereotip kecantikan.

Dengan menggunakan stereotip kecantikan dalam pakem horor, penonton akan lebih terganggu. Kita jadi bingung saat batas antara menyenangkan dan menyeramkan terlanggar. Otak kita memaksa kita untuk menjauhkan diri dari apa pun yang kita lihat. Tapi setelah menghindar, kita malah merasa kehilangan; tertarik melihat lagi.

Itu juga sebabnya ketakutan-ketakutan masa kecil (atau besar) kita biasanya merupakan pelanggaran antara batas tersebut. Ketakutan masa kecil saya, misalnya, adalah menemukan Drakula boker di kamar mandi. Tidak terbang mengancam. Tidak lari mengejar. Tapi duduk santai sambil baca koran dan meminta saya menutup pintu.

Justru itu yang membuat saya ketakutan setengah mati. Karena batas antara kehidupan biasa dan tidak biasa menjadi kabur.


Kesederhanaan yang Merindingkan Bulu Kuduk

Coraline adalah karya seperti itu. Bukan karena memuat Drakula boker. Melainkan karena mengunyah batas antara menyenangkan dan menyeramkan, lantas meludahkannya sembarangan.

Tokoh utamanya adalah anak sebelas tahun, yang entah bagaimana, masih memiliki pikiran seterbuka bocah usia lima tahun.

Ya, bocah usia lima tahun--karena ia bisa menerima banyak keanehan tanpa panik. Sebagai contoh, saat ia menemukan sisi dunia lain di apartemennya, ia menemukan para "orangtua yang lain" yang mirip dengan orangtuanya. Bedanya, gigi ibunya tidak sepanjang itu. Jari dan kukunya tidak setajam itu... yang tentunya menyulitkan dalam melakukan beberapa hal tertentu.



Sori, bercanda. Itu nggak terjadi di novel grafisnya. Yang paling mencolok bagi Coraline: mata ibu yang ini terbuat dari kancing.

Kalau saya mendadak menemukan ibu yang lain seperti itu, bisa jadi saya pingsan berdiri. Sementara Coraline? Bukan hanya tenang. Ia ikut makan siang dengan mereka. Dan ia menikmatinya dengan lahap.

Ia bahkan tetap tenang saat disuruh bermain bersama barisan tikus bergigi tajam yang bisa bicara dan--dengan sangat horornya...



... menyanyikan lagu Kangen Band!

Maaf, saya nggak bisa menahan diri. Kembali serius, mereka menyanyikan lirik seperti, "Kami di sini sebelum engkau jatuh, dan kami akan di sini saat engkau bangun." Tidak ada lirik eksplisit yang mengancam akan membunuh atau mencincang kita. Justru karena itu, begitu mengganggu.


Harapan Neil Gaiman?

Anak sebelas tahun biasanya sudah terpolusi oleh dunia nyata. Atau lebih parah: oleh orangtua. Sehingga mereka tidak lagi berpikir kemungkinan. Hanya apa yang biasa. Semua yang tidak biasa tidak mungkin ada.

Mungkin Coraline merupakan harapan penulisnya sendiri, Neil Gaiman. Bahwa anak usia sebelas tahun sebaiknya tetap seperti itu: seorang perambah dan penjelajah. Tidak perlu harus punya cita-cita yang akan bagus kalau diceritakan di depan kelas. Tidak perlu sudah bisa hapal semua tabel perkalian hingga tiga digit. Dan tidak perlu bisa memberi kesimpulan yang penuh logika untuk bertindak. Sebagaimana jawaban Coraline saat dipertanyakan oleh sang Kucing mengapa ia berkeras mau menolong orangtuanya padahal ia takut: "Karena mereka orangtuaku."

Rambah. Jelajah. Tetaplah jadi anak-anak.


Penceritaan Visual yang Mengalir

Keuntungan sebuah novel grafis adalah visualisasi. Dan penggambaran Philip Craig Russell sangat mendukung nuansa ini. Paduan warna-warni cerah menemani perang antara cahaya dan ketiadaannya. Penggambaran dunia yang lain tanpa berlebihan; membuat seakan-akan wajar saja kalau anjing kelurahan sebelah bersayap dan suka nonton pertunjukan vaudeville. Coraline bukan kerja sama pertamanya dengan Gaiman, melainkan kelima. Ia sudah paham apa yang ingin disampaikan Neil. Bahkan begitu muncul ide adaptasi Coraline dalam bentuk novel grafis, Neil sendiri yang langsung meminta Russell untuk melakukannya.

Keakraban Neil Gaiman sendiri dengan format novel dan komik juga membantu kelancaran adaptasi ini. Gaya Narasi Neil memang visual, memudahkan kita untuk membayangkan. Ia paham bahwa kekuatan visualisasilah yang mampu membuat kita merinding tiada tara. Pertama-tama, Gaiman memunculkan citra kuat seorang ibu dalam benak kita; pelindung, penyayang, dan tegas. Lantas menghancurkannya dengan citra jari panjang berkuku tajam dan mata kancing; menunjukkan identitas aslinya...


...sebagai Mbah Surip.

Oke, serius, tadi itu bercanda terakhir. Sebagai makhluk yang justru kebalikannya dari seorang pelindung dan penyayang.


Kurangnya Ketelitian Penyunting

Yang saya sayangkan adalah kurangnya ketelitian penyunting. Dari sampul saja sudah terlihat bahwa penerjemah dan penyunting tidak sadar bahwa Harvey Award dan Eisner Award adalah dua penghargaan berbeda; bukan satu penghargaan dengan nama "Harvey and Eisner".

Itu mungkin tampak seperti hal yang remeh. Namun bagi saya fatal. Konteksnya jadi keliru. Hal seperti ini terjadi beberapa kali dalam Coraline versi Indonesia terbitan M&C ini. Kabar baiknya: pembaca seperti saya jumlahnya sama seperti pengemudi motor yang tidak menyelip-nyelip di antara kepadatan mobil. Suara kami tidak akan terdengar; kalah jauh dibandingkan mayoritas.


Pertanyaan Penting: Karya Ini Untuk Dibaca Siapa?

Neil Gaiman menulis novel aslinya untuk pembaca anak-anak. Dalam situsnya, Neil berkata bahwa ia membacakan Coraline untuk anaknya, Maddy, pada saat usianya enam tahun.

Ini bukan berarti Coraline hanya untuk anak-anak. Seperti yang dikatakan Agung dalam resensinya, "...para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis."

Pendapat ini diperkuat Holly, anak Neil Gaiman sendiri. Ia membaca Coraline saat berusia enam belas tahun. Khawatir, Neil berkata, "Semoga kamu nggak terlalu tua untuk [bacaan] itu." Holly menjawab, "Aku rasa tidak akan ada yang terlalu tua untuk membaca Coraline."

Bagi yang masih penasaran, situs HarperCollins menyediakan pratinjau empat puluh halaman awal Coraline (tentunya versi Inggris). Namun, kalau sudah terpikat tanpa itu, langsung saja cari versi Indonesianya di toko-toko buku. Dengan lima puluh lima ribu saja, Anda bisa punya alasan untuk mempererat hubungan kekeluargaan... dengan pergi pipis malam bareng-bareng.

Monday, December 15, 2008

Menyebar Kabar Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil

Buku Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda! Perlu ditekankan: "Seru". Pake "e". Kalau judulnya Parodi Film Saru sih, minggu ini masuk toko buku, minggu depannya jadi korban pembakaran oleh massa.

Terima kasih juga pada para pemesan seratus buku pertama! Bagi yang belum melengkapi informasi alamat kirim, segera kontak writerstavern AT gmail DOT com. Bagi yang sudah menerima bukunya, silakan pajang bukti foto penerimaan buku dengan sehat wal afiat, gemah ripah loh jinawi, di blog atau aplikasi jejaring sosial (seperti Facebook) Anda. Berikut contoh dari Deddy Setyawan.


Demi kemaslahatan bersama, pose ini tidak perlu ditiru.


Sekaligus, saya kembali mohon dukungan Anda semua. Belajar dari pengalaman menerbitkan Bertanya atau Mati! (BaM), kabar tentang buku tersebut kurang tersebar. Alhasil, banyak yang terlambat tahu keberadaannya. Akibat terlambat tahu, orang-orang pun telat mencarinya. Karena di minggu-minggu awal jarang dicari, buku itu pun sering ditaruh toko buku secara sembarangan.

Kejadian nyata: buku BaM yang jelas-jelas ditulisi "Humor" di kaver belakang, sempat ditaruh di rak Psikologi Populer. Itu masih mending. Sempat juga ditaruh di Sastra. Terus di Politik (tepat di sebelah buku Geliat Irak Pasca Saddam).

Yang paling pol: buku ini sempat ditaruh di rak Agama. Tahu gitu, saya sekalian saja bikinkan posternya, seperti ini.



Karena itu juga, saya lebih proaktif menyebar-nyebarkan kabar Parodi Film Seru dibandingkan sebelumnya. Saya juga minta tolong untuk menyebarkan kabarnya pada orang lain. Nggak usah promosi, kabarnya saja. Agar kalau nanti mampir ke toko buku, calon pembaca sudah ingat apa yang mereka cari. Lantas biarkan pembaca yang menilai sendiri.

Contoh menyelipkan kabar Parodi Film Seru dalam pembicaraan sehari-hari secara alamiah:
  1. Selagi nunggu angkot/bus di halte, ke sesama penunggu:
    "Panas, ya? Paling enak ngadem nih di ruangan AC sambil baca buku Isman yang terbaru: Parodi Film Seru."

  2. Di rumah makan, kepada pelayan:
    "Pak, ada jus mangga?"

    "Ada," angguk Pelayan.

    Anda tersenyum. "Kalau buku terbarunya Isman yang berjudul Parodi Film Seru?"

    "Nggak," geleng Pelayan.

    "Peh! Rumah makan macam apa ini?" Banting menu, lantas ngeloyor keluar.
    Catatan: cara ini juga efektif digunakan jika Anda sudah enak-enak duduk di restoran baru, membuka menu, dan hampir mati duduk saat melihat harganya.


  3. Kala ditilang petugas Polisi:
    "Selamat siang," sapa Petugas. "Anda tadi lewat dengan kecepatan 100 km/jam di jalan dalam kota. Mau ke mana, ya?"

    Tinggal jawab dengan sigap, "Saya mau beli buku terbaru Isman."

    "Oh! Yang Parodi Film Seru itu?"

    "Betul, Pak."

    "Apa perlu saya kawal?"


Sebelumnya, terima kasih atas dukungan rekan dan kawan semua! Jangan lupa menyertakan trackback pada halaman ini, agar bisa saya sertakan dalam daftar Kabar Mengenai Parodi Film Seru berikut.




Kabar Mengenai Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil

  1. Iklan Parodi Film Seru di YouTube: Aksi, Drama, Suspens!--semuanya tidak ada dalam iklan ini

  2. Resensi Agung "Mbot" Nugroho: "...kalo buku ini memplesetkan cerita film, gimana dengan film yang belum ditonton? Ternyata nggak masalah tuh. Malah dari 15 film yang ditampilkan di buku ini, gue baru nonton 4. Malah ada 1 cerita yang bikin gue penasaran ingin nonton filmnya..."

  3. Detail Parodi Film Seru di Gramedia.com

  4. Ayo tambahkan resensi Parodi Film Seru di Goodreads!

  5. Bukan selayaknya review yang baik dan benar oleh Ibu Ranger

  6. Primbon film versi dodol oleh Sigit Mbonk

  7. Saran dari Lina: siap-siap spray untuk gigi.

  8. Resensi Leila: "Kekurangannya barangkali: kurang banyak! Moga ada seri berikutnya, mencakup Twilight barangkali?"

  9. Komentar Mengki.



Penampakan Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil


Apakah Parodi Film Seru kembali mengulangi tragedi BaM dengan nampang di rak yang salah? Ayo berbagi di sini!
  1. Agung melaporkan dari TKP: Parodi Film Seru ditaruh di rak ketrampilan. (Ide poster baru: "Wahai umat-umat yang trampil, belilah buku-buku yang salah nyempil.")

  2. Lina melaporkan dari Gramedia Pangkalpinang: Parodi Film Seru ditaruh di habitat sesungguhnya: rak Buku Laris. Akhirnya, masa depan toko buku terlihat cerah, hehe.




Mendapatkan Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil


Parodi Film Seru
bisa Anda beli di:
  1. KutuKutuBuku.com: diskon 15%

  2. BukuKita.com: diskon 15%

  3. IniBuku.com: diskon 15%

  4. BukuDiskon.com: diskon 20%

  5. Direct Marketing Gramedia: kontak gpudm AT gramedia DOT com: diskon tergantung jumlah pembelian

  6. Penulisnya langsung (isman, kalau-kalau ada yang lupa)

Friday, December 12, 2008

Buatlah Lingkaran Kreatifmu

Buku-buku bisnis sering menganjurkan agar berhati-hati dalam memilih teman bisnis. Mereka yang senantiasa selalu berkeluh kesah dalam bisnis akan menjerat kita. Apalagi kalau kita sampai berteman dengan apa yang disebut Agung sebagai Dementor.

Dalam penulisan kreatif, hal serupa berlaku. Teman-teman Anda mayoritas orang yang selalu mengeluh? ("Aku buntu nih", "Yah, writer's block. Mau gimana lagi?", "Kok nggak beres-beres, ya?") Jangan heran jika mendadak Anda juga sering terhambat dalam berkarya. Solusinya mudah. Cobalah lebih sering berinteraksi dengan teman-teman Anda yang produktif.

Saya sendiri beruntung karena mengenal banyak orang yang semangat serta produktivitasnya menularkan inspirasi.

Kekuatan Niat
Mitra hidup saya, Primadonna Angela, menerbitkan tiba belas novel dan satu nonfiksi dalam waktu tiga tahun. Berarti rata-rata tiga-empat buku per tahun. Padahal dia ibu dari dua anak (satu masih menyusui) yang juga mengerjakan penerjemahan buku, copywriting, penyuntingan, serta menjalankan bisnis online di Rumah Pernik.

Banyak orang yang mengerutkan kening setiap kali Donna berkata dalam talkshow, bahwa resep produktivitas dirinya hanya satu: niat. "Hanya itu?" Mereka yang bertanya seperti itu belum mengetahui seperti apa kekuatan niat Donna.

Menjelang melahirkan anak kedua, Donna masih mengejar tenggat pekerjaan copywriting untuk sebuah agensi periklanan. Tenggat waktu seminggu lagi. Saat hampir selesai, tahu-tahunya sudah harus ke rumah sakit. Karena proses melahirkannya normal, hari ketiga sudah pulang. Lantas hari keempat menyelesaikan sisa tulisan dan mengirimkan hasilnya. Mitra kerja di agensi tersebut sama sekali tidak menyadari bahwa Donna sudah melahirkan. Baru tahu saat revisi copywriting dah diterima, dan Donna memberi tahu via SMS. Saat ditanya kenapa baru ngasih tahu belakangan, dia menjawab sederhana saja, "Supaya nggak jadi alasan telat."


Kreativitas Tanpa Batas
Wajah Richoz paling bersinar setiap kali diajak bicara konsep kreatif. Konsep permainan tipografi dalam Parodi Film Seru pun berawal dari diskusi dengan Richoz. Ide-idenya mendebarkan jantung, dan bukan karena sering mengajak makanan berkolesterol tinggi.

Serial Suparman & iBab, sebagai contoh, lebih dari sekadar strip komik biasa karena membuat para pembacanya merasa terlibat. Ada cameo yang secara "kebetulan dan tanpa sengaja" mirip dengan sejumlah pembaca. Ada lomba pembuatan header situs yang mengutamakan keinginan berkontribusi dan bukan kemampuan Sotosop. Ada pula rekayasa ulang situasi yang ditulis dalam blog-blog orang. Bahkan ada perang antartokoh komik dengan blog komik tetangga.

Saat bertemu dalam Pesta Blogger Perjuangan pun Richoz mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengalahkan Coki si Pelukis Cepat (komik yang dulu dimuat dalam Majalah Hai).


Sketsa yang digambar justru saat kedua objeknya lagi melata ke mana-mana.[1]



Antusiasme yang Meledak-ledak
Agung Nugroho, alias Mbot, memiliki rumus sederhana bagi penulis, "Bikin tulisan itu kalau nggak yang bermanfaat, ya bikinlah yang lucu." Sulit untuk bicara dengan Agung tanpa ikutan merasa bersemangat.

Apalagi karena ia memiliki satu kemampuan penting sebagai penulis humor: mengubah situasi menyebalkan menjadi cerita yang lucu. Dalam bukunya, Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran, ia bercerita mengenai tes psikologi zaman perang dunia yang masih digunakan untuk menguji calon personil baru. Lebih gawat lagi, tes tersebut digunakan untuk menguji Mbot sendiri, seorang psikolog yang bahkan sudah hapal kunci jawabannya. Alih-alih merasa tersinggung dan marah-marah, ia mengubah situasi tersebut menjadi kenangan yang lucu.

Masih ingat tes psikologi yang minta kita gambar rumah? Sempat tergoda nggak untuk bikin rumah bentuk aneh-aneh? Nah, Mbot sih bertindak lebih jauh lagi. Dia gambarin rumahnya sedang diserang naga.


Poster ilustrasi eksklusif dari Mbot.[2]



Yang Penting Berkarya
Pernah baca Komik Karpet Biru (KoKaBi)? Saya merasa cocok dengan sejumlah personil KoKaBi karena prinsip mereka selaras: "Nggak usah ngeributin gaya visual, yang penting ngomik!"

Kemarin saya baru dapat sejumlah edisi lama KoKaBi dari Bapak Ranger dan Ibu Ranger. Itu saja sudah cukup membuat saya bersemangat untuk ngomik lagi. Atau minimal corat-coret di kertas nemenin Aza.

KoKaBi sendiri berencana akan menerbitkan edisi ke-12-nya awal tahun depan. Dan sebagai edisi spesial, akan diisi oleh banyak kontributor seperti Dyotami, Tita, hingga Hikmat Darmawan.


Pasti ada orang-orang seperti ini di lingkungan sosial Anda. Kalau merasa buntu, lebih sering lah berinteraksi dengan mereka. Buatlah lingkaran pergaulan sosial yang mendukung untuk berkarya!

___________________________

[1]: Ini adalah gambar yang dipaksa masuk dalam tulisan sekadar untuk nyombong: Anda nggak punya, kan? Haha!

[2]: Idem. Nggak punya kan? Haha!

Tuesday, May 13, 2008

Mengenal Blog Kita dengan Jendela Johari

Pernah dengar istilah Jendela Johari? Ini adalah sebuah model sederhana untuk memetakan kepribadian kita. Anggaplah ada empat jendela, seperti di bawah ini.

Jendela Johari

Dari model tersebut, kita bisa mengenal dan membandingkan persepsi kita dan orang lain mengenai diri kita. Caranya mudah. Buatlah sekumpulan daftar sifat dan pilihlah yang kita pikir mewakili diri kita. Lantas minta teman atau kenalan kita untuk memilihkan sifat-sifat yang menurut mereka mewakili kita.

Bandingkanlah. Hasilnya bisa mengejutkan kita, terutama di Jendela II dan III.

Lantas renungkan: apa yang menyebabkan perbedaan persepsi tersebut?

Istilah Johari sendiri muncul dari kombinasi nama penciptanya, Joseph Luft dan Harrington Ingham. Walaupun diciptakan pada tahun 1950-an, model ini cukup bisa menjadi alat efektif untuk mengenal diri lebih jauh.

Bukan itu saja, model ini pun bisa menjadi alat pengukur citra sederhana bagi figur publik atau bahkan merek iklan.

Nah, bagaimana kalau kita menggunakannya untuk blog kita? Apa sih tujuan kita menulis blog? Menurut kita, tulisan-tulisan blog kita menyiratkan citra apa? Cerdas? Lucu? Dangkal?

Pertanyaan terpenting: apakah para pembaca menangkap kesan yang sama?

Cobalah gunakan dua alat bantu buatan Kevan ini:

  1. Membandingkan karakteristik positif

  2. Membandingkan karakteristik negatif

Dan bagi para pengunjung blog Bertanya atau Mati, tolong isikan Jendela Johari untuk blog ini, ya?

  1. Karakteristik positif blog Bertanya atau Mati!

  2. Karakteristik negatif blog Bertanya atau Mati!

______________________

Terima kasih untuk Eko.

Tuesday, October 16, 2007

Terima Kasih: Author of the Week

Terima kasih atas apresiasi teman dan rekan semua dalam satu setengah bulan terakhir. Karena saya yakin berkat dukungan kalian semua jugalah saya jadi menerima tiga kabar baik terakhir:


  1. Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint masuk daftar Bestseller di BukaBuku.com

  2. Profil saya menjadi Author of the Week di Gramedia.com

  3. (Tampaknya definisi "Week" bagi mereka adalah "berminggu-minggu". Kalaupun iya, saya jelas tidak akan mengeluh.)

  4. Satu karya flash fiction saya berjudul "Do not disturb: Suicide in progress" juga masuk dalam The Asia Literary Review jilid 5, edisi musim gugur 2007.

  5. Bagi yang belum tahu flash fiction atau fiksi kilat itu apa, bentuk penceritaan ini juga dikenal sebagai cerpen pendek atau cermin (cerita mini). Lebih singkat daripada cerita pendek, sehingga dalam dasawarsa terakhir populer sebagai karya online--di mana orang memiliki ambang kenyamanan membaca yang lebih kecil dibandingkan buku fisik. Namun, kekuatan fiksi kilat sendiri dalam mengejutkan pembaca atau menampilkan bayangan visual menjadikan bentuk ini populer juga di dunia nyata. Terutama bagi para pembaca yang sibuk (selagi bertapa di kamar kecil, bisa menghabiskan hingga sepuluh cerita). Atau bagi penulis yang memiliki banyak gagasan untuk diwujudkan.

    Versi Indonesia "Do not disturb: Suicide in progress" sendiri dimuat dalam antologi Jangan Berkedip, yang ditulis saya bersama mitra hidup saya, Primadonna Angela.

Sekalian dalam masa pasca Lebaran, saya mengucapkan terima kasih lahir dan batin! Mari terus berkarya dalam bidang yang kita tekuni. Dan berikhtiar dalam apa yang kita bisa lakukan.

Tuesday, September 11, 2007

Mimpi Sepuluh Tahun

Beberapa hari terakhir ini, saya terlempar ke masa sepuluh tahun lalu. Saat saya lebih sering mencorat-coret buku sketsa, ketimbang menulis algoritma program. Salah satu mimpi saya saat itu adalah memiliki model rangka untuk menggambar. Seiring waktu, keinginan itu terlupakan.

Tidak sangka, akhirnya mimpi itu terjadi sepuluh tahun kemudian. Dan rasanya masih sama seperti dulu. Mungkin seperti pensiunan pemain liga basket Amerika yang kembali bermain bersama. Atau personil grup musik rock lawas yang mengadakan tur reuni.

Tangan tak terlatih selama bertahun-tahun yang tiba-tiba bergerak sendiri. Perasaan merinding yang merambati tulang belakang saat bayangan dalam benak saya mewujud di kertas kosong. Keterhubungan antara saya dan objek gambar yang melempar diri dalam jagad kosong. Peluh yang mengalir, seakan menantang udara dingin.

Berkat model rangka ini, saya kini bisa menggambarkan pose orang-orang yang khidmat dan sendu. Pose yang menunjukkan kesopanan dan hakiki manusia. Pose seperti ini.


Pria sigap penolong wanita terjerembab



Wanita yang saking terharunya, berniat menendang si pria


Pria: "Kalau kau bersihkan belekku, aku akan bersihkan, euh..."


_______________

Terima kasih, Ndi.

Wednesday, August 08, 2007

Metode Menjadi Populer di Blogosphere #7

Ciptakan penghargaan berantai seperti di kiri ini. Lantas tambahkan aturan untuk menyebarkan ke sejumlah orang (dalam kasus ini, lima). Otomatis, nama kita sebagai pembuat akan ikut-ikut di setiap rantai.

Syaratnya, kita perlu membuat penghargaan yang bisa membuat senang penerima. Karena kalau kita membuat penghargaan bernama Cinta Isman Award, misalnya, jelas di rantai pertama saja sudah mandek. Desain spanduk/banner yang kita ciptakan pun sebaiknya sederhana, menarik, dan tidak menonjolkan pribadi pembuatnya. Desain Schmooze Award di atas buatan Mike, sebagai contoh, terlihat elegans. Sementara yang di bawah ini lebih terlihat dagelan.


Contoh penghargaan yang akan langsung hilang dari peredaran (demi keselamatan umat manusia).


Tapi itu kalau kita mau bersikap sinis. Di sisi lain, sebenarnya kita bisa menanggapi penghargaan seperti ini dengan lebih positif. Anggap saja seperti menyambut hari istimewa, seperti ulang tahun, Valentine, atau Tahun Baru. Kita bisa mengeluh karena semakin tua. Bisa juga menciptakan teori konspirasi bahwa hari-hari ini sebenarnya merupakan propaganda yang diciptakan oleh industri mainan dan kartu ucapan. Atau kita bisa memanfaatkannya untuk kontemplasi, menikmati saat-saat bersama maupun menyampaikan rasa sayang pada orang-orang yang kita kasihi.

Saya memilih yang kedua. Saya ingin menggunakan lemparan penghargaan dari mitra hidup saya ini untuk menyampaikan apresiasi terhadap sejumlah blogger. Dan menurut saya tidak penting bahwa para blogger tersebut tahu mengenai apresiasi ini. Atau apakah mereka akan menyebarkan penghargaan ini atau tidak. Yang penting saya bisa menyampaikan apa yang ingin saya utarakan: rasa sayang.[1]

1) Agung, adalah blogger yang saya sukai karena kemampuannya membahas hal-hal remeh sehari-hari menjadi sesuatu yang menarik. Keaktifannya dalam berkomunitas juga membuat banyak orang menjadi anggota setia rumah mayanya. Bahkan saat Agung tidak bisa online, orang-orang ini terus membuat rumahnya terasa hidup. Markas besarnya jadi seperti rumah sekre RT yang dimiliki bersama para warga.

2) Haris, adalah blogger yang kepribadiannya (minimal secara online) menarik saya. Sehingga kalau ada tulisan terbaru, saya langsung berkunjung. Entah mengapa, walau desain blog-nya kini mencrang, saya tetap merasa teduh kala bertamu. Bahkan melihat fotonya saja (walaupun posenya mengkhawatirkan) di komentar blog orang lain bisa memberikan efek serupa. Mungkin keteduhan ini pula yang menarik orang-orang berkunjung ke rumahnya. Lantas memesan meja. Nggak pake lama. Haris MEMANG!

3) Wikan, adalah blogger yang penuh perhatian. Dalam dunia blog yang penuh dengan orang yang berkomentar sekadar untuk setor muka (atau balas budi), ia termasuk orang yang tulus. Walau kadang-kadang komentarnya telat untuk nyambung dengan tulisan saya, saya bisa merasakan perhatiannya. Dan saya rasa perhatian tulus inilah yang membuat ia pun mendapatkan limpahan serupa dari orang lain.

4) Mbak Poppy, mungkin lebih terlihat mencrang di milis-milis yang ia ikuti, ketimbang di multiply-nya. Karena ia lebih aktif di situ, menggalang dan menggerakkan orang-orang yang memiliki kesamaan minat. Namun, kedahsyatan komunitas IndoHarryPotter dan Eorlingas (maaf kalau salah tulis nama) merupakan bukti kemampuannya yang tinggi berdasarkan schmooze-o-meter.

5) Om Budiman, memiliki daya pikat tersendiri karena tulisan beliau bisa menyentuh hati dengan berbagai cara. Kadang secara halus. Kadang secara paksa. Memancing tawa, maupun lara. Banyak orang bertandang ke padepokan Om Bud, sekadar mendengar cerita sambil minum teh (gula harap bawa sendiri).


Sebenarnya, bukan hanya lima blogger ini yang ingin saya apresiasi. Namun, semakin banyak kita menghargai orang dalam satu kesempatan, semakin kecillah justru nilai penghargaan itu. Jadinya terkesan syarat. Semua harus muat. Saya akan simpan sisa penghargaan saya dalam hati, hingga muncul lain kali. (Tentunya award lain akan bermunculan.)

____________________

[1]: Saya percaya menyampaikan rasa sayang itu seperti pipis. Jangan ditahan-tahan, nanti membatu.

Friday, April 27, 2007

IPDN Undercover: Sekacang Judulnya?

Judul: IPDN Undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani
Penulis: Inu Kencana Syafiie
Penerbit: Progressio (Bandung)
Dimensi: 13,5 x 20,5 cm
Halaman: 282 + xxiv

Sebagai pedoman utama, buku Indonesia apa pun setelah tahun 2003 yang mendompleng istilah "Undercover" pasti kualitasnya buruk. Apalagi ini penggunaan istilah yang keliru. "Undercover" menyiratkan makna bahwa penulis buku ini, Inu Kencana Syafie, menyamar sebagai bagian dari IPDN (dulu STPDN) untuk mengungkap rahasia-rahasia di baliknya. Padahal penulis memang bagian dari institusi yang ia ungkap dan lawan kebobrokannya.

Buku ini sebenarnya autobiografi, yang tadinya mau diubah oleh penerbit karena takut dipertanyakan masyarakat (Pengantar Penerbit, hal. vii). Namun akhirnya dipertahankan karena kualitas tulisan yang bagus. Menurut saya itu pilihan yang bagus. Tapi bukan berarti penerbit jadi melalaikan kerja samanya dengan penulis untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Karena itulah yang saya lihat. Selain dari judul yang kacangan, suntingannya pun asal. Salah ketik masih bertebaran di mana-mana. Narasi panjang ambigu tidak dipotong dan dijadikan jelas. Kisah-kisah tidak disusun agar menyampaikan inti yang saling mendukung. Sporadis dan asal. Ini menunjukkan bahwa penyunting tidak teliti. Atau terlalu terburu-buru mengejar tenggat penerbitan.

Komposisi autobiografi ini pun tidak seimbang. Dari Pengantar Penerbit dan Prakata, saya menyimpulkan bahwa dua misi utama buku ini adalah:


  1. Menunjukkan filosofi hidup penulis sehingga pembaca memahami motivasi penulis mengungkap kebobrokan IPDN.

  2. Menjadi kesaksian kasus-kasus IPDN yang akan terus ada walaupun media dan para tokoh politik tidak lagi tertarik.

Dua ratus empat halaman adalah kisah kehidupan penulis. Sementara kasusnya sendiri hanya tujuh puluh halaman. Perbandingannya hampir 3:1, sehingga terlihat misi yang diemban hanyalah yang pertama. Banyak bagian yang sama sekali tidak perlu dan tidak relevan dengan misi kedua. Dengan begini, judul makin keliru. Lebih baik memang berfokus ke--menggunakan kalimat penerbit sendiri--"kisah membentang yang menggambarkan transformasi seorang anak kampung di Sumatera Barat menjadi seorang pendobrak yang mencatatkan diri di bagian sejarah".

Orang yang membaca buku ini dengan berharap mendapatkan kesaksian mendetail tentang IPDN akan kecewa. Memang ada kronologis yang lebih lengkap. Termasuk pengungkapan fakta dan kesimpulan penting seperti:
  • Kematian anak didik IPDN hanyalah sempalan dari kondisi di lapangan. Yang lebih mengerikan adalah kejahatan membudaya para pengasuh dan komisi disiplin yang menjadikan kasus anak didik sebagai ladang uang.

  • Film adegan pemukulan yang sering ditayangkan di TV-TV swasta sudah mengalami rekayasa citra. Dalam rekaman sebenarnya, setelah adegan itu para "aktor" sama-sama tertawa sambil minum dan makan roti. Karena adegan ini sendiri direkam untuk "gagah-gagahan", agar kelak mereka bisa ngomong ke para junior, "Kami aja sanggup, kenapa kamu nggak?" Namun, adegan tertawa tersebut dihapus. Lalu adegan pemukulan diberi musik latar yang seram. Jadilah tayangan yang membuat orang-orang berang.

    Intinya, pemukulan memang ada. Dan sebagian besar memang mengerikan. Tetap saja, yang ditayangkan TV adalah manipulasi.

Poin-poin tersebut jadi kabur karena tertelan oleh lautan kisah tentang penulis. Kasus Cliff Muntu yang berdasarkan Pengantar Penerbit ditambahkan untuk melengkapi buku pun tidak terlihat. Kronologis masih berhenti pada tahun 2005. Penuturan kasus per kasus pun begitu.

Buku ini menjadi autobiografi yang salah kemas. Seharusnya justru dimulai dengan bagian paling akhir, yang menceritakan saat penulis diundang oleh pemilik Joger, Joseph Theodorus Wulianadi. Joseph mengajak para stafnya merenungkan kenapa mereka semua mengundang Pak Inu ke Bali, padahal banyak yang lebih terkenal.

Seseorang meneriakkan jawabannya, karena Pak Inu berani seorang diri membongkar skandal STPDN.

Joseph mengiyakan dan mengajak, "Sekarang, kita dengarkan ceramahnya. Mengapa keberanian itu muncul?"

Inilah inti buku itu. Mengapa keberanian itu muncul. Sama sekali meleset dari judul dan kemasan buku. Jangan baca karena tertarik kisah IPDN, bacalah kalau tertarik kisah seorang pemberani bernama Inu Kencana Syafiie.

Sunday, April 15, 2007

Resensi Jangan Berkedip Oleh Dende

Tulisan lengkapnya di sini. Agar jelas, yang dimaksud Dende dengan "novel" dalam konteks ini adalah "karya fiksi". Karena Jangan Berkedip! sebenarnya bukan novel, melainkan antologi cerita sangat pendek. Sebagian kutipannya:

...67 flash fiction dari Isman dan Donna secara bergantian membawa saya pada paradigma menulis yang baru. Bahwa sebenarnya ada cerita, kisah, hal-hal yang bisa diceritakan secara singkat, dengan hanya 1-600 kata per cerita [Yeap, satu kata…]. Kebanyakan dari flash fiction ini memiliki twist ending. Hal inilah yang membuat suatu flash fiction meskipun singkat, tapi membekas.

Bahkan contoh cerita twist bahkan bisa Anda temukan pada covernya [yang sayangnya berilustrasi seperti cover novel-novel teenlit]. Pada cover depan terdapat gambar seorang wanita muda yang membawa handphone dan tas tangan ingin menyebrang jalan, ditarik tangannya dari belakang secara kasar oleh pemuda dengan penampilan berantakan. Perampokan? Tunggu sampai Anda membuka kuping (flap) sampul depan dan melihat gambarnya secara utuh. Kejadian sebenarnya yang terjadi adalah... Baca sendiri...

Monday, July 24, 2006

Jangan Berkedip! di Femina

PILIHAN MINGGU INI

Untuk penggemar fiksi, buku ini menarik. Jangan Berkedip/Primadonna Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman/Gramedia 2006, diklaim penulisnya sebagai flash fiction alias kumpulan cerita sangat pendek. Cerita bisa kurang dari 100 kata, misalnya Sang Pengantin yang hanya terdiri dari 11 baris, total 57 kata. Cukup unik.

Topik cerita dalam buku ini sangat keseharian dan jujur. Seperti cerita Sha yang ingin bunuh diri dan meminta saran Herman, temannya. Dialognya sarkastik, tapi lucu, misalnya, "...Gua mau bunuh diri, bisa bawain insektisida atau apa pun. Arsenik berlebihan, nggak?"

"Oke, gua beliin semprotan nyamuk..."

Ada 65 judul cerita yang bisa Anda nikmati.

(Femina hal. 11, no. 28/XXXIV, 13-19 Juli 2006)

Monday, July 03, 2006

Ending Mengejutkan

Oleh Iwok Abqari

Istilah Flash Fiction buat sebagian besar orang mungkin masih suatu hal yang sangat baru dan belum terasa umum, seperti halnya saya yang baru mengenal adanya genre seperti ini. Tapi ternyata, membaca cerita Flash Fiction atau cerita sangat pendek ini mempunyai kenikmatan dan keunikan sendiri.

Semua terasa begitu cepat, dan selalu diakhiri dengan ending yang mengejutkan dan sangat di luar dugaan. Nikmat, karena hanya butuh hitungan menit (dan bahkan detik) untuk menyelesaikan dan mengetahui akhir sebuah cerita!

Seperti halnya yang tercantum di back-cover buku ini, dunia mengenal Flash Fiction dengan berbagai nama. Di Prancis, karya seperti ini disebut nouvelle. Di China, ada yang menyebutnya cerita kantong, cerita mini, cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok. Semua istilah itu karena cerita jenis ini sangat-sangat pendek, dan terdiri dari beberapa puluh kata, atau paling banter 1500 kata saja. Bandingkan dengan sebuah cerpen biasa yang umumnya mempunyai kumpulan kata yang jauh lebih banyak dari itu. Judul ‘Jangan Berkedip!’ terasa pas sekali dengan keseluruhan isi buku ini. Secara hiperbola bisa dikatakan bahwa setiap cerita dalam buku ini bisa selesai dalam satu kedipan mata! Begitu mengedip, kita sudah ada di cerita selanjutnya.

Mungkin ada yang berpikir, apanya sih yang menarik dari sebuah cerita yang super pendek? Bayangkan, sebuah cerita ada yang ditulis dan selesai dalam puluhan kata saja! Dan ada yang hanya berisi SATU KATA saja! Mungkin yang belum mengenal dan membaca Flasfic (Flash Fiction) akan beranggapan begitu. Tapi ternyata, justru saking pendeknya itu, si penulis dituntut mengolah katanya dengan baik sehingga setiap ceritanya berakhir seru! Pembaca seolah diajak bermain tebak-tebakan: “Hayo, cerita ini akhirnya gimana?”

Duet pasangan Isman dan Donna bergantian memberi kejutan, dan masing-masing hadir dengan ciri dan khas gaya bahasa dan penulisannya. Kekompakan keduanya tidak berarti saling menghilangkan ciri khas gaya penulisan masing-masing. Asyik juga sambil membaca, sambil menebak-nebak: “Cerita ini Isman apa Donna ya yang nulis?” Jawaban ada di akhir masing-masing cerita plus jumlah kata yang digunakan. Kala dibaca dengan teliti, di pertengahan buku, gaya penulisan dua penulis ini mulai terlihat jelas dan sudah bisa tertebak dengan mudah siapa penulis cerita yang baru saja selesai dibaca.

Membaca Jangan Berkedip! seolah sedang menikmati makan malam dalam keadaan perut kosong dengan sajian menu yang sangat bervariasi. Dalam setiap suapannya terasa nikmat yang berbeda-beda. Puluhan cerita di buku ini memiliki tema yang--tentu saja--berbeda satu sama lain, tetapi sama-sama memiliki daya tarik tersendiri.

Yang tidak terbiasa dengan membaca sebuah novel yang sangat panjang, buku ini mungkin cocok. Masing-masing cerita lepas dan berdiri sendiri. Satu-dua cerita mungkin bisa mengisi waktu anda dalam sebuah antrean loket suatu alat transportasi, di ruang tunggu dokter, atau bahkan untuk menemani sebatang rokok anda di sebuah smoking area sebelum kembali ke rutinitas kerja.


KETERANGAN BUKU
Judul: Jangan Berkedip!
Pengarang: Isman H Suryaman & Primadona
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 200 hlm


(Dimuat di Rubrik Senggang, Harian Batam Pos halaman 35, Minggu 2 Juli 2006.)

Tuesday, June 27, 2006

Apresiasi Bagi Penulis...

...adalah serotonin bagi otak. Memicu dan memacu. Menggelitik dan menepuk bahu. Karena itu, saya dan Donna berterima kasih atas segala apresiasi yang kami terima.

Yogyaku, 21 Juni 2006

Chere PAM dan IHS,

Special! Memang itulah kata terbaik yang saya ungkapkan untuk PAM n IHS. Flashfic - Jangan Berkedip!, sangat menarik dan memang belum banyak penulis yang berjalan di jalur seperti anda sekarang ini. Ceritanya ringan dan banyak berikan surprise di akhir cerita.

Mengapa saya beli buku anda? karena ketika saya beli KOMPAS Senin dan mata saya tertuju pada iklan kecil, milik GPU, Jangan Berkedip! Tertarik ...saya cari ke toko buku Toga Mas di Yogya dan saya membacanya dalam waktu semalam. Pagi ini saya tulis email ini untuk anda, PAM n IHS. Teruslah berkarya n wish u luck.

Congratulations! Best Innovation.


Salam kenal,

Vernadine

Wednesday, May 03, 2006

Review JB! oleh Ferina Permatasari

Jangan Berkedip!: Kumpulan Cerita Sangat Pendek yang Mengejutkan

Primadona Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman

GPU, April 2006

200 Hal.

Buku ini bisa dibilang unik. Pertama, merupakan hasil karya kolaborasi antara pasangan suami-istri, Primadona Angela Mertoyono (Love at First Fall, Belanglicious, Quarter Life Fear) & Isman Hidayat Suryaman (Bertanya atau Mati!). Kedua, cerita-cerita di buku ini, bukan hanya sekedar cerita pendek, tapi cerita yang SANGAT pendek. Maksudnya, seperti yang ditulis di cover belakang buku ini, Flash Fiction adalah cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok.

Berbagai cerita pendek menarik dimuat dalam buku ini, dalam beragam jumlah kata, bahkan ada yang hanya berisi satu kata saja! Dan yang uniknya lagi, saking pendeknya, saat pembaca menerka-nerka ending dari cerita ini, tau-tau, lho.. koq udah selesai? Dan terkadang ending cerita sama sekali tak terduga, mengejutkan.

Duo suami-istri ini menghasilkan cerita pendek dengan gaya yang berbeda. Kalau Donna, cenderung romantis tapi juga lucu, sedangkan Isman lebih banyak humornya. Gak hanya cerita yang mengundang senyum, cerita yang sedih juga ada, yang cenderung ‘psikopat’ juga ada.

Buat yang ingin nulis tapi gak bisa mengkhayal panjang-panjang, kenapa gak coba nulis Flash Fiction? Ternyata menulis sebuah cerita, gak perlu berpanjang-panjang. Kreativitas dan ide bisa ‘dipadatkan’ dalam sebuah cerita pendek yang ringan.

-ferina-

(Dikutip dari milis Resensi Buku)

Review "Jangan Berkedip!"

Oleh: Shrie

Apa sih itu cerita Flash fiction? Flash fiction adalah cerita super pendek yang di ramu sedemikian rupa sehingga pembaca tidak perlu berlama-lama membaca kalau ingin mengetahui ending ceritanya. Flash fiction, di kenal dengan berbagai nama. Kalau di Prancis cerita ini di sebut dengan “Nouvelle”. Di China di sebut cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok, Kalau saya pribadi lebih enak menyebut cerita jenis ini dengan sebutan “Quicky” singkat, padat namun berkesan.

Bagi anda yang tidak punya banyak waktu buat berlama – lama membaca novel yang tebalnya hingga 500 halaman, sangat cocok membaca buku sejenis ini. Di buku “Jangan Berkedip” ini penulis mengangkat cerita yang sangat dekat dengan kejadian kita sehari-hari, atau mungkin memang ini kumpulan kisah nyata sang penulis ya? entahlah.

Saya benar-benar di buat tidak berkedip oleh buku ini, bayangkan saya hanya perlu waku approx’1 jam untuk menyelesaikan semua cerita pendek di buku ini, dan ini adalah rekor baru buat saya. Sekali lagi buku ini cocok untuk orang yang tidak punya banyak waktu untuk membaca, cocok buat anda yang sedang naik bus, kendaraan saat macet, kereta, nunggu pacar, Jam makan siang, nunggu di antrian dlsb nya.

Friday, February 24, 2006