Showing posts with label Penulisan kreatif. Show all posts
Showing posts with label Penulisan kreatif. Show all posts

Monday, July 30, 2012

Horor 2.0

Sendirian dalam rumah, seorang gadis membaca linimasa Twitternya. Twit otomatis dari Foursquare ada di sana, menyampaikan bahwa dia baru saja check-in "...with 1 other".



_______

Alih bahasa dari twit saya yang aslinya dalam bahasa Inggris di sini. (Iya, ada salah ketik satu: seharusnya "her", tapi tertulis "his".)

Friday, October 21, 2011

Komtung 101: Mengapa Bicara SARA?

T: "Kenapa stand-up comedian suka banget sih ngomong SARA (Suku, Agama, Ras, Adat)?"

J: Jawaban singkatnya: karena perlu.

Versi panjangnya, kita lihat kembali sejarah komedi atau lawak di Indonesia. Komedi di Indonesia ditekan oleh ancaman, "Jangan bicara SARA!" Tawa menjadi mekanisme kendali. Bagaimana bisa?

Coba aja lihat kondisi dulu (mungkin sekarang juga masih). Kalau ada pelawak melucu di depan pejabat, para bawahannya tidak berani ketawa sampai atasan mereka tertawa. Jadi tawa digunakan sebagai alat kendali: tertawalah hanya pada yang saya (sang atasan) izinkan.

Ini menjadi mekanisme kendali karena dengan begitu, yang ditertawakan adalah yang tidak memiliki kuasa. Atau dalam lingkup sosial, selalu pihak mayoritas menertawakan minoritas. Pihak minoritas bahkan tidak bisa bersuara walau merasakan ketidakadilan.

Dengan sendirinya, ini bisa jadi indikasi: apakah organisasi atau keluarga kita demokratis? Lihat saja dari saat pertunjukan komedi. Kalau semua tertawa lepas tanpa harus saling lirik, berarti demokratis. Kalau masih saling lirik, ada pengendalian pendapat secara internal.

Sebagai format, komedi tunggal (standup comedy) memanfaatkan kebebasan tawa ini. Esensi komedi tunggal adalah penjualan pendapat, via premis yang berbentuk setup. Dan menarik persetujuan penonton melalui punchline. Kalau penonton tertawa, mereka menerima pendapat sang komedian. Kalau tidak, gak akan tertawa. Sesederhana itu.

Lalu, apa hubungannya dengan SARA? Karena komedi tunggal juga berfungsi mengungkapkan kegelisahan seorang comic terhadap hal-hal yang ia hadapi sehari-hari. Memangnya kehidupan kita sehari-hari bisa lepas dari suku, agama, ras, atau adat? Tidak.

SARA adalah bagian keseharian kita yang juga bisa membuat gelisah. Dan kalau ini dipendam, malah berbahaya. Humor justru merupakan cara kita untuk menerima hal-hal yang meresahkan diri, dengan menertawakannya. Istilah yang digunakan Pandji adalah, "Berdamai dengan diri sendiri."

Dan format komedi tunggal terbuka bagi siapa saja. Kalau kita merupakan bagian dari pihak minoritas, justru dengan format komtunglah kita bisa menyuarakan apa saja keresahan kita. Ini yang dilakukan Ernest Prakasa dengan membawa etnis Cinanya sebagai materi. Atau saat kita ingin mempertanyakan suatu hal yang dipraktikkan oleh pihak yang berkuasa/mayoritas. Ini yang diusung Pandji dengan mempertanyakan ormas yang mengaku Islam tapi malah memburukkan nama Islam.

Dalam komedi tunggal, kedudukan (atau tepatnya keberdirian) seorang comic di atas panggung itu sama.

Jadi kenapa bicara SARA? Karena itu bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan jika menjadi salah satu sumber keresahan kita sebagai comic, perlu segera disalurkan dalam bentuk humor.


T: "Sejauh mana kita bisa menertawakan SARA?"

J: Tidak ada ukuran yang konstan di sini. Intinya kembali ke esensi komedi tunggal yang saya sebut di atas; kita menjual pendapat atau sikap kita terhadap sesuatu. Penonton yang konvensional tentunya akan lebih sensitif terhadap pembicaraan SARA dibandingkan yang lebih modern atau terbuka. Sikap kita akan lebih sulit diterima jika terlalu drastis di atas batas toleransi mereka.

Suatu materi komedi yang sama bisa menyinggung satu kelompok tapi disukai kelompok lain, walaupun materi tersebut menertawakan kedua-keduanya. Kalau ini yang terjadi, kendalanya mungkin bukan di materi, melainkan penonton. Namun kalau semua orang gak suka, bisa jadi kendalanya di materi.

Kuncinya bisa dari saran Chris Rock dalam acara Talking Funny-nya Ricky Gervais, "Bicaralah mengenai tindakan atau kelakuan mereka, bukan tentang identitas mereka."

UPDATE: Baca juga tulisan Pandji yang menjawab: Kenapa harus SARA?

Saturday, October 15, 2011

Komtung 101: Antara Lawak dan Stand-up Comedy

Sering muncul pertanyaan: "Mengapa membedakan lawak dengan stand-up comedy? Apa karena gengsi?"

Karena memang berbeda dari kedalaman makna. Komedi tunggal (padanan untuk stand-up comedy, atau disingkat komtung) merupakan sebuah format pertunjukan lawak yang memiliki sejumlah konvensi atau pakem tersendiri. Pertanyaan di atas sama dengan, "Kenapa membedakan fiksi dengan novel?"

Novel memang karya fiksi, tapi tidak semua karya fiksi itu novel. Komtung memang pertunjukan lawak. Tapi tidak semua pertunjukan lawak itu komtung. Di Indonesia, sebagai contoh, ada format lawak Mataraman (atau Dagelan Mataram) yang dipopulerkan almarhum Basiyo (meninggal tahun 1984).


Pertanyaan berikut: "Lantas kenapa pelaku komtung disebut comic? Nggak mau disebut pelawak?"

Sekali lagi: comic dan pelawak itu istilah dengan kedalaman makna berbeda. Yang pertama khusus, yang kedua umum. Analoginya seperti novelis dan penulis. Sah saja menyebut seorang novelis sebagai penulis. Namun, tidak semua penulis adalah novelis. Ada juga cerpenis, kolomnis, dan sebagainya.

Jadi silakan menyebut seorang comic sebagai pelawak. Tapi tidak semua pelawak adalah seorang comic. Di sisi lain, istilah lawak sendiri sudah mengalami penyempitan makna karena terlalu sering dikaitkan dengan format yang populer di Indonesia. Jadi, penggunaan istilah pelawak untuk mengacu seorang comic bisa jadi memberikan persepsi yang keliru. Bukannya tidak mau. Hanya berpotensi menyesatkan.


Pertanyaan terakhir: "Kalau begitu, sudah adakah istilah Indonesia untuk menyebut seorang comic atau stand-up comedian?"

Sayangnya, belum. Kalau ada usul, silakan. Salah satu alternatif adalah pengomtung. Tapi istilah itu banyak menerima penolakan, haha. Padahal salah satu syarat diterimanya sebuah istilah baru adalah penggunaannya secara meluas.

Sunday, March 06, 2011

Panduan Menikmati Buku Komedikus Erektus

Bambang Haryanto adalah pengamat dan praktisi komedi yang menulis berbagai hal tentang humor di blognya, Komedikus Erektus. Bukunya yang berisi esai humor ala Arwah Setiawan sudah terbit, dengan nama sama seperti blog humornya.

Saat diminta menuliskan Sekapur Sirih untuk naskah tersebut, saya membuatkannya dalam bentuk panduan, seperti di bawah ini.

______________________________________________


Langkah pertama: bayar dulu bukunya. Tertawa sambil baca DAN kabur dari kejaran petugas toko buku itu menyusahkan.

Langkah kedua: kalau sulit tertawa, ingatlah bahwa barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Minimal Anda bisa tertawa miris.

Kembali serius, sampul buku ini sebaiknya memuat Peringatan Pemerintah: tidak menggunakan efek suara tertawa berlebihan (“HUAHAHAHEHEHE WKWKWKWKW”) , pelesetan jorok, atau tanda baca berlebihan (!!!!!?????!!!????) yang sering diobral di buku humor lain.

Justru sebaliknya, humor di buku ini disampaikan dengan tata bahasa serius nan taat asas. Saking taatnya, saya curiga kata-kata dalam buku ini tidak langsung diketik, melainkan disuruh berbaris rapi dulu, sambil menaikkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Bambang Haryanto juga memadukan dua hal dalam bukunya: lelucon dan membahas lelucon. Ini perjudian yang berbahaya bagi penulis humor.

Mengapa? Bayangkan seorang koki menghidangkan ayam panggang di meja kita. Wanginya memancing air liur kita. Saat kita potong dan masukkan ke mulut, terasa dagingnya yang empuk dan gurih... Saat itulah koki tersebut mengeluarkan seekor ayam hidup lantas menjelaskan cara memasak makanan tersebut, mulai dari penyembelihan.

Kalau masih cuek makan dengan lahap, bisa jadi Anda memang bekerja di pejagalan. Atau kantor pajak.

Itulah bahaya menyajikan lelucon SEKALIGUS membahasnya dalam satu buku. Namun, memang harus ada yang melakukannya. Karena dari situlah kita belajar: mengapa suatu hal dianggap lucu? Mengapa kita tertawa? Mengapa Ayu Azhari bisa kalah dalam pemilihan Bupati Sukabumi?

Oke, mungkin yang terakhir sih nggak meskipun materi lelucon dalam buku ini tidak jauh dari sosial dan politik (termasuk pemerintah). Hal ini wajar saja. Kolomnis Will Rogers pernah berkata bahwa menulis humor sangatlah mudah karena pemerintah akan membantu dengan bertindak konyol. Dan kita tinggal mencatat.

Sebagai contoh, Anda mungkin ingat pada tahun 2007 ada perbedaan hasil survei tingkat kemiskinan Indonesia. Berdasarkan World Bank, 49% penduduk kita berada di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut BPS, hanya 16,5%. Walaupun ada perbedaan metoda dan tolok ukur, kok bedanya bisa mencolok sampai 32,5%?

Jangan-jangan pemerintah bingung sendiri karena form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)

a. Tidak.
b. Tidak sama sekali.
c. Sangat tidak sama sekali.
d. Miskin itu apa?
e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
f. Maaf, saya tidak bisa baca.
Kalau memang begitu, bisa kita maklumi. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"

"Lho, bisa saja diet," tentang penguji lain.

Contoh lain pada tahun yang sama: kota Indramayu (Jawa Barat) geger akibat ulah sepasang anak SMA yang membuat video porno. Walikota Indramayu begitu geram sampai mengeluarkan instruksi agar setiap siswi sekolah di kotanya harus melalui uji keperawanan.

Sudah hampir tiga tahun berlalu dan saya masih belum mengerti juga kemajuan pendidikan macam apa yang walikota tersebut ingin capai dengan menyusun daftar nama para perawan. Jangan-jangan tadinya mau ia jadikan soal ujian nasional: “Tandai nama-nama di bawah ini yang masih perawan. Jawaban bisa lebih dari satu. Berikan alasan.”

Inilah salah satu fungsi humor. Membuat hal-hal absurd di kehidupan jadi lebih mudah diterima... dengan menertawakannya. Seperti yang dilakukan Bambang Haryanto dalam buku ini. Belum tentu karena ingin menyampaikan kritik dalam bentuk yang menghibur. Atau karena ingin mengajak para pembaca untuk berpikir kritis. Bisa jadi, sebagaimana diakui banyak komedian atau penulis humor, karena inilah cara paling efektif agar tetap waras.

Kecuali kalau jawaban Anda pada soal di atas adalah (f): Maaf, saya tidak bisa membaca. Sudah terlambat.


Bandung, 6 April 2010

Sekapur Sirih untuk Why Did The Chicken Browse The Social Media?

Why Did The Chicken Browse The Social Media? adalah buku sekilas tentang media sosial yang diiringi strip komik khas ala Diki Andeas.

Berhubung ini buku yang sangat serius dan menjunjung tinggi jurnalisme, wajar saja jika kata pengantarnya ditulis oleh saya, seorang penulis humor. Berikut adalah tulisan saya yang saya sampaikan pada Diki, dan karena suatu alasan--kerasukan, sepertinya--ia memuatnya.

_________________________________

Peringatan pemerintah: buku Why Did The Chicken Browse The Social Media berisi banyak jargon berkaitan komputer dan internet plus istilah Inggris yang dicetak miring.

Hal yang Anda perlu lakukan saat tidak mengerti:

  1. Jangan panik!

  2. Baca dengan santai, seakan-akan Anda menikmatinya.
Benar: membuka halaman perlahan, sesekali tersenyum atau tertawa kecil

Salah: membuka halaman demi halaman, dengan kening berkerut dan mulut membuka.

Salah besar: tertawa berlebihan sambil berguling-guling, menunjuk, dan meneriakkan salah satu kalimat lucu di buku ini pada orang sekitar, “TAGITO ERGO SUM katanya! HAHAHAHAHAHA!—eh? Kok saya diborgol, Pak Polisi?”

Kembali serius, teknologi komputer dan internet bukan hanya maju pesat, melainkan juga membawa berbagai perubahan di tingkat sosial. Dan wajar saja kalau tidak semua orang memahaminya.

Arthur C. Clarke, seorang penulis berkebangsaan Inggris berkata, “Kalau sudah terlalu canggih, suatu teknologi tidak akan bisa dibedakan dengan sihir.” Dengan kata lain, bagi sebagian besar orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi, komputer dan internet tidak ada bedanya dengan klenik.

Tak perlu heran kalau orang yang bekerja di bidang ini sering dianggap seperti pawang hujan.

“Pak, komputer saya kok nggak mau nyala, ya?”

“Maaf, saya analis bisnis di Internet, Mbak. Bukan teknisi.”

“Oh, kalau gitu, bisa bantu kasih saran saya perlu beli komputer barunya seperti apa?”

Ini bukan sekadar masalah perbedaan kelas ekonomi. Perbedaan generasi pun berpengaruh. Jika kakek saya masih hidup, saya sendiri bakal kebingungan bagaimana menjelaskan komputer dan internet kepada Beliau.

Kakek: “Jadi ada semacam lapangan besar di angkasa yang bisa kita isi dengan teks, gambar, video dan macam-macam?”

Saya: “Euh, ya, kira-kira begitu.”

Kakek: “Dan kita bisa melihat isi lapangan ini dengan komputer?”

Saya: “Bisa ikutan ngisi juga.”

Kakek: “Asalkan dicolok pake kabel?”

Saya: “Euh, bahkan bisa nggak pake kabel. Dari ponsel aja bisa.”

Kakek: “Kamu nggak mabok, kan?”

Dan seperti saya sampaikan di atas, perubahan yang dipicu teknologi merambat sampai tingkat sosial. Sudah banyak kasus menunjukkan seseorang tersinggung karena teman bicaranya terus-menerus mengetikkan sesuatu di ponselnya selagi ngobrol. Padahal, bisa jadi sang teman bicara sedang memuji orang tersebut di Facebook, Twitter, Plurk, Koprol atau media sosial lainnya.

Satu contoh umum: ada empat orang yang berkenalan akrab melalui internet. Saat akhirnya bertemu di suatu cafe, keempatnya ngobrol sambil mengetik di ponsel mereka. Apa yang mereka ketikkan? Kabar bahwa mereka sedang saling bertemu.

Pembaca buku ini pun akan terbagi antara dua golongan besar: mereka yang, saat membaca cerita di atas berkomentar, “Hah, masa sih?”

Dan kedua, mereka yang berkomentar, “Hahaha, bener banget!”

Kalau Anda termasuk golongan yang pertama, sekali lagi: Jangan panik! Anggap saja klenik.


Bandung, 2 Maret 2010

Monday, July 06, 2009

Coraline: Novel Grafis yang Mengadaptasi Karya Neil Gaiman

Mengapa film horor Asia (Jepang, Thailand, bahkan Indonesia) sering menggambarkan hantu perempuan berambut panjang dengan gaun putih? Karena itu merupakan bagian dari stereotip kecantikan.

Dengan menggunakan stereotip kecantikan dalam pakem horor, penonton akan lebih terganggu. Kita jadi bingung saat batas antara menyenangkan dan menyeramkan terlanggar. Otak kita memaksa kita untuk menjauhkan diri dari apa pun yang kita lihat. Tapi setelah menghindar, kita malah merasa kehilangan; tertarik melihat lagi.

Itu juga sebabnya ketakutan-ketakutan masa kecil (atau besar) kita biasanya merupakan pelanggaran antara batas tersebut. Ketakutan masa kecil saya, misalnya, adalah menemukan Drakula boker di kamar mandi. Tidak terbang mengancam. Tidak lari mengejar. Tapi duduk santai sambil baca koran dan meminta saya menutup pintu.

Justru itu yang membuat saya ketakutan setengah mati. Karena batas antara kehidupan biasa dan tidak biasa menjadi kabur.


Kesederhanaan yang Merindingkan Bulu Kuduk

Coraline adalah karya seperti itu. Bukan karena memuat Drakula boker. Melainkan karena mengunyah batas antara menyenangkan dan menyeramkan, lantas meludahkannya sembarangan.

Tokoh utamanya adalah anak sebelas tahun, yang entah bagaimana, masih memiliki pikiran seterbuka bocah usia lima tahun.

Ya, bocah usia lima tahun--karena ia bisa menerima banyak keanehan tanpa panik. Sebagai contoh, saat ia menemukan sisi dunia lain di apartemennya, ia menemukan para "orangtua yang lain" yang mirip dengan orangtuanya. Bedanya, gigi ibunya tidak sepanjang itu. Jari dan kukunya tidak setajam itu... yang tentunya menyulitkan dalam melakukan beberapa hal tertentu.



Sori, bercanda. Itu nggak terjadi di novel grafisnya. Yang paling mencolok bagi Coraline: mata ibu yang ini terbuat dari kancing.

Kalau saya mendadak menemukan ibu yang lain seperti itu, bisa jadi saya pingsan berdiri. Sementara Coraline? Bukan hanya tenang. Ia ikut makan siang dengan mereka. Dan ia menikmatinya dengan lahap.

Ia bahkan tetap tenang saat disuruh bermain bersama barisan tikus bergigi tajam yang bisa bicara dan--dengan sangat horornya...



... menyanyikan lagu Kangen Band!

Maaf, saya nggak bisa menahan diri. Kembali serius, mereka menyanyikan lirik seperti, "Kami di sini sebelum engkau jatuh, dan kami akan di sini saat engkau bangun." Tidak ada lirik eksplisit yang mengancam akan membunuh atau mencincang kita. Justru karena itu, begitu mengganggu.


Harapan Neil Gaiman?

Anak sebelas tahun biasanya sudah terpolusi oleh dunia nyata. Atau lebih parah: oleh orangtua. Sehingga mereka tidak lagi berpikir kemungkinan. Hanya apa yang biasa. Semua yang tidak biasa tidak mungkin ada.

Mungkin Coraline merupakan harapan penulisnya sendiri, Neil Gaiman. Bahwa anak usia sebelas tahun sebaiknya tetap seperti itu: seorang perambah dan penjelajah. Tidak perlu harus punya cita-cita yang akan bagus kalau diceritakan di depan kelas. Tidak perlu sudah bisa hapal semua tabel perkalian hingga tiga digit. Dan tidak perlu bisa memberi kesimpulan yang penuh logika untuk bertindak. Sebagaimana jawaban Coraline saat dipertanyakan oleh sang Kucing mengapa ia berkeras mau menolong orangtuanya padahal ia takut: "Karena mereka orangtuaku."

Rambah. Jelajah. Tetaplah jadi anak-anak.


Penceritaan Visual yang Mengalir

Keuntungan sebuah novel grafis adalah visualisasi. Dan penggambaran Philip Craig Russell sangat mendukung nuansa ini. Paduan warna-warni cerah menemani perang antara cahaya dan ketiadaannya. Penggambaran dunia yang lain tanpa berlebihan; membuat seakan-akan wajar saja kalau anjing kelurahan sebelah bersayap dan suka nonton pertunjukan vaudeville. Coraline bukan kerja sama pertamanya dengan Gaiman, melainkan kelima. Ia sudah paham apa yang ingin disampaikan Neil. Bahkan begitu muncul ide adaptasi Coraline dalam bentuk novel grafis, Neil sendiri yang langsung meminta Russell untuk melakukannya.

Keakraban Neil Gaiman sendiri dengan format novel dan komik juga membantu kelancaran adaptasi ini. Gaya Narasi Neil memang visual, memudahkan kita untuk membayangkan. Ia paham bahwa kekuatan visualisasilah yang mampu membuat kita merinding tiada tara. Pertama-tama, Gaiman memunculkan citra kuat seorang ibu dalam benak kita; pelindung, penyayang, dan tegas. Lantas menghancurkannya dengan citra jari panjang berkuku tajam dan mata kancing; menunjukkan identitas aslinya...


...sebagai Mbah Surip.

Oke, serius, tadi itu bercanda terakhir. Sebagai makhluk yang justru kebalikannya dari seorang pelindung dan penyayang.


Kurangnya Ketelitian Penyunting

Yang saya sayangkan adalah kurangnya ketelitian penyunting. Dari sampul saja sudah terlihat bahwa penerjemah dan penyunting tidak sadar bahwa Harvey Award dan Eisner Award adalah dua penghargaan berbeda; bukan satu penghargaan dengan nama "Harvey and Eisner".

Itu mungkin tampak seperti hal yang remeh. Namun bagi saya fatal. Konteksnya jadi keliru. Hal seperti ini terjadi beberapa kali dalam Coraline versi Indonesia terbitan M&C ini. Kabar baiknya: pembaca seperti saya jumlahnya sama seperti pengemudi motor yang tidak menyelip-nyelip di antara kepadatan mobil. Suara kami tidak akan terdengar; kalah jauh dibandingkan mayoritas.


Pertanyaan Penting: Karya Ini Untuk Dibaca Siapa?

Neil Gaiman menulis novel aslinya untuk pembaca anak-anak. Dalam situsnya, Neil berkata bahwa ia membacakan Coraline untuk anaknya, Maddy, pada saat usianya enam tahun.

Ini bukan berarti Coraline hanya untuk anak-anak. Seperti yang dikatakan Agung dalam resensinya, "...para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis."

Pendapat ini diperkuat Holly, anak Neil Gaiman sendiri. Ia membaca Coraline saat berusia enam belas tahun. Khawatir, Neil berkata, "Semoga kamu nggak terlalu tua untuk [bacaan] itu." Holly menjawab, "Aku rasa tidak akan ada yang terlalu tua untuk membaca Coraline."

Bagi yang masih penasaran, situs HarperCollins menyediakan pratinjau empat puluh halaman awal Coraline (tentunya versi Inggris). Namun, kalau sudah terpikat tanpa itu, langsung saja cari versi Indonesianya di toko-toko buku. Dengan lima puluh lima ribu saja, Anda bisa punya alasan untuk mempererat hubungan kekeluargaan... dengan pergi pipis malam bareng-bareng.

Saturday, March 15, 2008

Kuis Singkat: Apakah Anda Seorang Penulis?

1. Apakah Anda bisa baca-tulis?
a. Ya.
b. Tidak, walaupun dengan mengaku begitu, berarti saya berbohong.


2. Apakah Anda senang menulis?
a. Ya.
b. Jawabannya bisa diucapkan aja, nggak? Saya males ngetik.


3. Apakah teks yang sesuai untuk gambar di bawah?


a. Where a writer's heart is
b. Lah, kan saya nggak bisa baca-tulis, gimana sih?


Kunci jawaban

  • Semua a: Ya.

  • Ada satu atau dua b: Mungkin.

  • Semua b: Kemungkinan besar penulis humor.


Lho? Gitu aja?

Memangnya apa lagi? Harus menerbitkan buku? Harus hapal Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Thursday, February 28, 2008

Ngobrol Soal Identitas Kepenulisan

(Dialog berikut saya kutip dari diskusi dalam milis Writer's Tavern, antara saya, Wicak, dan donna.)




Wicak:
Hmm... Isman, saya tertarik dengan urut-urutan itu. Mau nggak menjelaskan lebih lanjut soal 'identitas diri yang kuat' sebelum 'berkarya secara konsisten'. Apa yang dimaksud dengan identitas diri dan kapan seseorang tahu dia sudah memiliki identitas diri yang kuat?


donna:
Soal identitas diri, mungkin more or less begini ya. Seorang penulis itu idealnya punya idealisme atau setidaknya sesuatu yang ingin ia sampaikan via tulisannya. (setidaknya ini menurutku) Dia juga sebaiknya tahu, tujuannya menulis untuk apa, apa dia berencana mengembangkan kemampuan menulisnya atau tidak, apa dia hanya menjadikan menulis sebagai hobi atau memang berniat menulis pro, dll.


isman:

Kira-kira begitu. Dia tahu dan sadar bahwa dia menulis itu karena apa dan untuk apa. Jadi rutinitas berkaryanya konsisten dengan identitas ini. Kalau berkarya secara rutin tapi tidak ada identitas, jadinya sekadar hasil. Karena mau konsisten dengan apa?

Dan identitas ini tidak harus ideal. Saya kenal dengan seorang penulis yang terbuka menyatakan bahwa ia menulis untuk uang. Dan saya cukup menghormati dia karena ia konsisten dengan itu. Tidak mengumbar idealisme. Dan tetap rutin berkarya. Praktis saja. Toh banyak juga arsitek dan seniman yang berkarya untuk uang. Apa bedanya dengan penulis?

Nah, ia menyadari dan merangkul identitas kepenulisannya. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bisa jadi ketidakbahagiaan; karena ingin membuat karya yang laku, tapi takut dicap sekadar "mencari uang". Padahal persepsi orang lain itu kalah penting dibandingkan persepsi diri sendiri.


Wicak:
Apakah identitas diri yang kuat sama dengan seseorang telah mencapai tingkat selebritas tertentu atau kepakaran atau bagaimana?


isman:
Tingkat selebritas atau kepakaran itu lebih ke arah citra diri, Cak. Konteks "identitas"-nya bermain di ranah persepsi publik. Orang lain.

Sementara identitas yang kumaksud di sini berlaku dalam ranah persepsi diri. Kalau identitas diri secara umum mungkin bisa dicari dengan pertanyaan: "Untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?"

Sementara identitas kepenulisan bisa dijelajahi dengan pertanyaan: "Kenapa kita menulis?" Jawabannya, tentu saja, perlu lebih dalam dari sekadar "Suka aja." Satu pertanyaan itu akan menghasilkan cabang-cabang seperti:
  • Apakah pesan yang ingin kau sampaikan? Kalau tidak ada, kenapa? Kalau ya, apa dan kenapa?

  • Apa yang membuatmu tetap menulis? Apa yang bisa membuatmu berhenti menulis?

  • Apa yang kau anggap sebagai keberhasilan dalam menulis? Apa yang kau anggap sebagai kegagalan dalam menulis?

Dan masih banyak lagi. Kita memiliki identitas yang kuat saat bisa menjawab pertanyaan apa pun yang muncul berkaitan itu.

Dari deskripsi milis ini juga bisa dilihat: perbedaan penulis pribadi dan profesional dibedakan dari karakteristik identitas. Bukan dari kompetensi. Karakteristik penulis pribadi yang utama, ya hanya menulis untuk diri sendiri. Yang ekstrem, orang lain tidak boleh baca. Kalaupun ada yang baca, komentar apa pun tidak pengaruh baginya.

Penulis profesional menulis untuk orang lain. Karena itu, label "profesional"--selain dari bagian dari identitas--menjadi tuntutan. Kalau sekadar ingin membuat semau kita tanpa memedulikan pembaca, itu belum sepenuhnya profesional. Masih menuju, lah. Asalkan memang dalam proses belajar.

Kekaburan antara karakteristik identitas ini bisa menghasilkan konflik. Contoh yang jamak: Mau menulis untuk orang lain, tapi takut untuk mencoba. Atau menulis untuk pribadi, tapi memendam keinginan untuk diakui (atau dipuji) oleh orang lain.

Konflik ini bisa hilang dengan mengemban identitas yang jelas.


donna:
Seorang penulis yang menurutku identitas dirinya kuat, tahu di mana dia sebaiknya "bermain". Misalnya dia bagusnya nulis fantasy, tapi karena suka banget ama genre romance atau comedy maksain nulis, hasilnya belum tentu optimal.


isman:
Itu juga salah satu karakteristik identitas. Tapi jangan salah mengartikan identitas sebagai pembatasan. Bebas saja mengeksplorasi genre lain yang bukan kompetensi utama kita. Asalkan ingat kembali tuntutan "profesional". Kalau memang mau beralih genre, kita harus memastikan bahwa itu adalah karya yang dihasilkan dengan upaya terbaik kita--dengan memerhatikan pembaca.


donna:
Sebaiknya juga, dia tahu kelebihan dan kekurangannya apa, dan berusaha banget memoles kemampuannya terus-menerus supaya tidak stagnan.


isman:
Iya. Kalau sesuai identitasnya. Siapa tahu memang ia bahagia sebagai penulis yang stagnan. (Bisa saja terjadi. Walau belum pernah ketemu orangnya sih.)


Wicak:
Thanks atas pencerahannya.


isman:

Wehehe, semoga nggak malah jadi makin gelap. Ini cuman pendapat saya, lho. Bisa aja beda.

Intinya, aku rewel berkaitan identitas kepenulisan ini karena menyangkut kebahagiaan. Jujur saja, kehidupan seorang penulis akan sering sekali diancam ketidakbahagiaan. Yang utama adalah ancaman mental maupun sosial.

Tapi, asalkan identitas kepenulisan kita jelas dan kuat, kita akan bisa menghadapi ancaman apa pun (menyangkut kepenulisan, ya. Ditodong garong sih beda masalah.) Jangan salah, bahkan keberhasilan (contohnya kelarisan suatu buku) pun adalah suatu ancaman; apakah ia tetap bahagia jika buku berikutnya tidak laku? Apakah ia jadi tidak bahagia karena merasa "disetir" untuk menghasilkan karya yang memuaskan pembaca setianya? Pergelutan akan terus terjadi.

Bisa saja seorang penulis tidak sadar bahwa identitas kepenulisannya kuat. Yang ia tahu hanyalah: ia bahagia dengan menulis (baik saat melakukannya maupun tidak).

Itu sudah lebih dari cukup.

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa penulis yang baik adalah penulis yang tidak bahagia. Saya menentang pendapat itu. Bagaimana dengan teman-teman?

Penulis Sebagai Pemasar: Hati-hati

Akhir-akhir ini, sering bergaung pendapat bahwa penulis perlu jadi pemasar yang baik. Ini adalah anjuran yang baik. Sayangnya, kurang lengkap.

Ada urutan yang perlu para penulis ketahui sebelum mulai memasarkan karya (ataupun diri). Seorang penulis sebaiknya:

  1. Memiliki identitas diri yang kuat

  2. Berkarya secara konsisten

  3. Baru bisa memahami dan mempraktikkan pemasaran dengan baik

Kalau urutannya terbalik bisa kacau. Nomor tiga sebelum dua: tidak efektif karena karyanya terbatas. Jujur saja, saya adalah penulis buku tipe nomor tiga sebelum dua. Kini saja sudah banyak orang yang lupa bahwa pernah ada buku yang berjudul Bertanya atau Mati! Lebih banyak orang yang tahu bahwa itu adalah nama blog.

Tentu saja, karya di sini bermakna luas. Tulisan blog pun bisa disebut karya. Serupa dengan contoh di atas, percuma kita promosi blog ke mana-mana kalau tulisan kita saja munculnya hanya sebulan sekali. Sementara blog seperti blogombal justru tanpa promosi bisa dikenal luas. Karena tulisannya muncul secara rutin. Dan konsisten dengan gaya Paman Tyo yang khas.

Nomor tiga atau dua sebelum satu: celaka. Ini sempat saya sampaikan di satu forum lain: akan gawat saat seorang penulis mulai menerbitkan karya bukan karena ingin menyampaikan sesuatu, melainkan karena sekadar ingin menghasilkan sesuatu. Bisa jadi karyalah yang akan lebih berkuasa dibandingkan penulisnya.

Sudah dua kali saya menyinggung identitas diri dalam kepenulisan. Seperti apakah itu? Bagaimana kita mengetahui identitas kepenulisan kita? Itu akan saya bahas di tulisan berikut.

Wednesday, February 27, 2008

Menulis Adalah Kung Fu

Dalam serial komik Kenji karya Ryuchi Matsuda & Yoshihide Fujiwara (di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo), sang tokoh utama mempelajari kungfu Delapan Mata Angin. Namun, dalam perjuangannya dalam mendalami ilmu ini, ia mempelajari kungfu gaya lain, dari Tai Chi hingga Kungfu Enam Kehendak.

Saat mengetahui kelemahannya dalam tinju, misalnya, ia mengikuti sasana tinju dan mempelajari kungfu yang berfokus pada pukulan. Namun, ia tidaklah berganti aliran. Ia menggunakan pengetahuan dan teknik baru yang bisa menguatkan kungfu Delapan Mata Anginnya. Sementara yang tidak, ia sisihkan.

Hal ini serupa dengan menulis. Pada satu saat, seorang penulis akan mendapatkan "aliran" menulisnya yang akan ia dalami. Namun, dalam proses pembelajaran, kita perlu mencoba dan mempraktikkan "gaya-gaya" menulis lainnya untuk mendapatkan suatu pencerahan, menambal kekurangan yang kita miliki.

Pada akhirnya, suatu gaya khas penulis akan muncul dari pengalaman seseorang bereksperimen dan berpraktik.

Mari berlatih menulis ala kung fu!

a. Ingin mempelajari cara membuat judul yang menarik?
Bisa dengan berlatih menjadi copywriter atau caption-writer. Ambillah foto secara acak, lantas berikan teks singkat yang membuat situasi fotonya menjadi jelas. Atau beri balon dialog sehingga menjadi lucu. Ini latihan berpikir multisituasi. Satu foto bisa menjadi bermacam-macam konteks adegan dengan pemberian teks yang berbeda. Dengan begitu, kita dapat mempelajari pencarian berjuta jalan menuju terbentuknya satu kalimat.

b. Ingin membuat kalimat yang efektif?
Bisa dengan berlatih menulis flash fiction atau berlatih menjadi editor. Kuasai pola pikir memanfaatkan suatu batasan ketat menjadi keunggulan dalam bercerita. Dan jalani disiplin untuk menyisihkan kata-kata yang berlebihan.



Editor siap memotong kata (atau menyabet mereka yang masih menulis "disamping" atau "di denda")


c. Ingin membuat dialog yang efektif dan menarik?
Cobalah membuat atau mempelajari skrip komedi situasi. Carilah pencerahan menuju dialog yang dapat menuntun pembaca/pendengar menyelami karakter yang berbeda. Temukan juga cara untuk membuat dialog menjadi sesuatu yang menarik dan penting bagi cerita, bukan sekadar penambah jumlah halaman.

d. Apakah tulisan anda terlalu "telling"?
Cobalah menulis skenario film aksi atau membuat (skrip) komik. Pelajari kunci bercerita secara visual, sehingga dapat menangkap inti dari pakem "Show, don't tell".

e. Bagaimana melatih kedisiplinan menulis?
Cobalah membuat blog (boleh untuk pribadi saja, tidak disebar ke umum) yang di keterangannya ditegaskan: "…akan diisi setiap hari". Atau cobalah membuat skrip/storyboard komik strip harian. Biasakan diri agar dapat secara alamiah menemukan waktu menulis setiap hari.

Ini hanyalah sebagian contoh. Temukan cara-cara kita sendiri untuk menguatkan kemampuan diri.

Jangan percaya dubbing film kungfu lawas. "Your kung fu is verrrry good. Teach me Master!"
adalah pola pikir yang salah.

Inti kung fu adalah pengenalan diri. Dan batas diri. Kemudian melampauinya.

Tidak ada yang bisa mengajarkan itu.

Jalanilah sendiri. Sama seperti naik sepeda. Kalau belum pernah naik ke sadel dan mengayuh, berhentilah mencari tahu teknik. Coba terus. Kalau sudah bersepeda ke mana-mana, baru ngobrollah dengan pengendara sepeda lain.

Sebelum itu, diam. Dan berkeringatlah.


Mengapa ini penting?
Jika hanya berkutat pada tempurung kita, bukannya itu kontradiksi dengan istilah "penulisan kreatif"? Dengan mencoba berbagai hal baru, kita memperluas zona kenyamanan kita. Secara ajaib, dengan banyak mempelajari hal baru dengan sungguh-sungguh, keahlian dasar kita malah makin kuat, bukannya makin kabur.


Perkecualian
Jika Anda belum mengetahui tipe penulis seperti apakah Anda, atau apa tujuan Anda dalam menulis, lebih baik jangan dulu lakukan ini. Karena bisa jadi Anda malah terjebak sekadar melakukannya karena iseng. Alih-alih mendapatkan pembelajaran, nanti malah jadi bingung.

Wednesday, February 06, 2008

Kiat Produktif Menulis Humor

Berdasarkan pengalaman spesifik menulis tiga puluh sketsa komedi per dua hari (karena sisa hari lain digunakan untuk revisi, pertemuan, dan rehat), saya dan donna juga belajar sejumlah kiat menulis produktif. Dan kiat-kiat ini bisa diterapkan untuk penulisan kreatif mana pun yang berfokus pada menangkap ide.


  1. Komputer adalah musuh inspirasi

  2. Jalan-jalan, bawa notes dan alat tulis. Lalu, begitu ada ide yang mampir, langsung tulis. Jangan buang waktu sama sekali.


  3. Tunda menulis ide = penyesalan tak berujung

  4. Sudah lebih dari sepuluh ide yang hinggap dan hilang karena tidak sempat ditulis.

    Bawa catatan dan alat tulis ke mana-mana. Siapkan di sebelah tempat tidur. Sebelum tidur, saat baru bangun, dan saat sedang boker adalah waktu-waktu di mana ide justru senang mampir.


  5. Hindari menulis skrip sebelum memiliki minimal dua puluh ide.

  6. Karena begitu kita mulai menulis skrip, ide baru yang muncul tidak akan lebih banyak dari lima. Dan umumnya merupakan pengembangan dari ide yang ada.

    Pikiran kita itu seperti mesin. Bisa di-tune up untuk prioritas pada kecepatan/kekuatan atau efisiensi. Namun, tidak bisa untuk dua-duanya sekaligus. Kalau cepat, berarti boros. Kalau efisien, berarti mengorbankan kecepatan.

    Dalam menulis juga begitu. Untuk mencari ide, kita mengejar efisiensi. Sebanyak mungkin menjaring ide yang mampir. Hindari komputer. Karena komputer membawa gangguan (distraction), dan bisa menggoda kita untuk berpindah modus. (Ini sekaligus penjelasan tambahan untuk poin 1.)

    Saat menulis skrip, kita fokus pada kecepatan atau kekuatan. Mesin kita begitu sibuk untuk menulis, sehingga kita tidak efisien lagi menjaring ide. Bisa jadi saat menulis ide-ide itu mampir, namun kita terlalu sibuk untuk sadar. Kita hanya sadar saat ide yang mampir mirip dengan yang sedang kita tulis.

    Lebih parah lagi kalau kita sedang menulis, sekaligus browsing internet atau chatting. Lupakan menangkap ide.

    Mari jujur saja: ide itu selalu mampir. Tapi kalau pikiran kita terlalu sibuk, kita tidak bisa menyadari bahwa ada ide yang mampir. Boro-boro mau menjaringnya.

    Jadi: kumpulkan ide sebanyak-banyaknya. Hindari komputer. Dan baru mulai menulis skrip setelah terkumpul banyak ide.

    Karena kami mencari tiga puluh sketsa, biasanya aku baru mulai menulis skrip saat sudah terkumpul tiga puluh ide. Sebelum itu, aku tetap fokus ke menangkap ide. Setelah lewat tiga puluh, baru... mulai menulis. Ubah setting pikiran menjadi kecepatan/kekuatan.

Selamat menulis. Break a pen!


____________________

Lebih lanjut mengenai mengubah pola pikir penulisan: Enam Topi Berpikir untuk Penulisan Kreatif.

Berbagi Pengalaman Penulisan Skenario Humor

Bagi sebagian yang belum tahu, saya dan donna sempat terlibat dalam penulisan skenario "Sketsa", acara komedi terbaru di TransTV. Walau pada akhirnya kami mengundurkan diri karena perbedaan prinsip, dari kerja sama ini kami mendapatkan banyak pembelajaran dan pengalaman.

Salah satunya karena kami sempat--dalam waktu dua hari--mengerjakan seratus sketsa komedi. Dalam segi banyaknya halaman, ini ekuivalen dengan empat episode untuk slot waktu 60 menit (termasuk iklan).

Pelajaran pertama: jangan lakukan itu lagi. Kecuali kalau memang sudah terbiasa.

Sayangnya, kami belum. Kecepatan rata-rata kami adalah 30 sketsa per dua hari. Jadi, itu seperti sprint gila-gilaan pada lima kilometer pertama maraton. Sisa perjalanan berikutnya, kami terpaksa terengah-engah dulu di tepi jalan.

Pelajaran berikutnya: jadwalkan penulisan.

Ini tampak aneh, karena penulisan kreatif adalah sesuatu yang tampak berlawanan dengan jadwal. Namun, percayalah, penjadwalan ini penting karena pada akhirnya, kita harus menepati tenggat waktu yang rutin. Salah satu dari poin penjadwalan adalah kapan kita tidak boleh "menulis", dalam arti duduk di depan komputer dan menulis skenario (corat-coret di kertas sih boleh.)

Dan kapan saat kita "rehat", dalam arti tidak berusaha keras menangkap ide. Namun, menjalani hari dengan santai sambil berbekalkan kertas dan pensil/pena. Kalau memang ada ide mampir, ya tangkap saja. Tapi kita tidak berkeliaran sambil jelalatan dan membawa jaring.

Dan terakhir: bersenang-senanglah. Karena itulah inti penulisan humor yang efektif.

Tuesday, January 29, 2008

Begitu Menyenangkan, Namun Begitu Singkat

Begitulah gambaran kerja sama penulisan humor saya dan donna dengan TransTV. Bulan Desember 2007 lalu, saya dan donna mendapatkan kesempatan menulis skrip untuk acara komedi terbaru TransTV berjudul Sketsa.

Sketsa mengambil bentuk dan gaya humor seperti The Fast Show atau The Sketch Show; dengan latar yang realistis (bukan panggung) dan pengambilan kamera yang sederhana, tanpa efek khusus. Lelucon dalam tiap sketsa berdiri sendiri (one-shot). Dengan perkecualian sejumlah sketsa yang leluconnya saling menyambung (running gag).

Bagi saya dan donna, kesempatan ini sendiri sangat berharga. Karena seperti saya sampaikan dalam pemberitahuan di multiply, kami bisa menulis humor--sesuatu yang kami gemari--sekaligus bertindak nyata bagi industri TV Indonesia: menyajikan alternatif tontonan di luar sinetron yang meremehkan intelijensi penonton.

Kami pun mengalami kecocokan dengan tim kreatif TransTV sendiri. Sehingga akhirnya kami membentuk tim bernama Team ID (dibaca seperti "Idea" dengan pengucapan Inggris) untuk kerja sama penulisan skrip jangka panjang. Tim tersebut sudah beranggotakan empat orang, plus dua lagi yang masih dalam tahap inisiasi.

Sayangnya, kerja sama itu berakhir lebih cepat dari yang kami duga. Kami mengundurkan diri. Lho, kenapa?

Tanpa perlu menyebut nama, salah satu bos besar TransTV menginstruksikan agar produser Sketsa mengadaptasi Kelsey Grammar Presents: The Sketch Show. Pihak TransTV pun konon sedang memproses lisensi untuk adaptasi tersebut.

Lalu masalahnya apa? Terhitung hari ini, sketsa-sketsa adaptasi itu sudah selesai disyut.

Bagi banyak orang, hal ini bisa jadi tidak merupakan masalah. "Toh lisensinya sedang diurus, kan?" Namun, bagi kami berbeda. HaKI adalah hal yang penting. Dan langkah yang benar adalah beres mengurus lisensi dulu, baru mulai adaptasi. Kasus terburuk: bagaimana kalau ternyata tidak ada kesepakatan dalam mengurus lisensi tersebut, padahal sketsa "adaptasi"-nya sudah ditayangkan? Bukankah itu jadi plagiarisme?

Mungkin ada yang mau berkomentar, "Ya, gampang, Man. Tinggal jangan tayangkan saja sketsa adaptasinya sampai beres. Gitu aja kok repot?"

Gampang kalau memang semua kendali pada apa yang tayang dan apa yang tidak itu ada pada tangan saya atau donna, misalnya. Tentu saja kenyataannya tidak. Bahkan iklan acara Sketsa sendiri masih menayangkan potongan adegan tenis meja dan lomba renang dari episode pilot, yang seharusnya hanya untuk kebutuhan internal. Jadi bisa saja kru TransTV (sengaja ataupun tidak) memilah dan menayangkan sketsa adaptasi yang belum mendapatkan lisensi.

Di sisi lain, saya dan donna pribadi memegang prinsip yang sangat jelas: menulis dan mengembangkan acara baru berdasarkan acara lain itu oke. Karena kita tetap menulis materi baru. Justru itulah yang memajukan dunia komedi. Format sitkom, sebagai contoh, lahir karena tiap acara baru mengadaptasi konsep format tersebut. Hukum Tiga (Rule of Three) lahir karena pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun para penulis humor maupun komedian.

Sketsa komedi juga sama. Dari Monty Python's Flying Circus hingga Saturday Night Live, semua tidak muncul begitu saja. Melainkan karena membangun suatu acara baru berdasarkan pengalaman orang lain. Dan itu yang kami temukan di Sketsa, selama ini.

Namun, kalau diminta mengadaptasi tanpa lisensi resmi, kami menolak. Berhubung pihak TransTV tetap melakukan hal tersebut, bahkan lanjut sampai syuting, kami berniat mengundurkan diri baik sebagai pribadi maupun tim. Karena jika tidak, itu sama saja seperti melakukannya (accomplice).

Sekali lagi, ini adalah keputusan berdasarkan prinsip. Tiap orang bisa saja memiliki prinsip yang berbeda. Tidak ada yang mutlak benar maupun salah.

Terima kasih atas dukungan teman-teman sebelum ini. Dan terima kasih bagi teman-teman TransTV atas kesempatannya. Bagi kami, pengalaman ini tetap menyenangkan. Memang sayang hanya singkat. Namun mungkin memang itulah yang terbaik bagi kedua pihak.

___________________________

NB: Karya kami jadinya hanya muncul di beberapa episode pertama. Dan entah yang mana saja. Penulisan skenario di sini berbasiskan sketsa, alih-alih episode. Misalnya, dari 100 sketsa yang kami buat, bisa jadi 10 dimasukkan ke episode dua, 30 di episode tiga, dan seterusnya.

UPDATE: Sketsa sendiri mulai tayang di TransTV Jumat ini (1 Februari 2008), jam 19:30 WIB.

Sunday, November 18, 2007

Di Mana? Di Denda

Mengubah kebiasaan bertahun-tahun memang sulit. Dalam penyuntingan naskah, sebagian besar kesalahan penulisan yang saya temui berasal dari kebiasaan semenjak sekolah. Sebagai contoh adalah pembedaan "di-" sebagai awalan dan "di" sebagai kata depan.

Padahal aturannya sederhana.

  1. Sebagai awalan, penulisan "di" menyatu dengan kata kerja. Contoh: dikerjakan, ditulis, disayangi.

  2. Sebagai kata depan, penulisan "di" terpisah dengan keterangan tempat. Contoh: di sana, di rumah, di mana-mana.
Dengan kata lain: kalau terpisah, menunjukkan lokasi. Kalau tersambung, menunjukkan kata kerja pasif.

Sayangnya, kebiasaan lama memang sulit diubah. Perhatikan saja gerbang tol Padalarang menuju Bandung. Kedua contoh di atas malah terbalik.


Tiket harus "disini(kan)" untuk ditukar?

Berdasarkan papan ini: di gerbang exit Denda (di mana pun itu) tidak usah tukar tiket


Mengubah kebiasaan penulisan salah sama seperti mengubah kebiasaan buruk lain. Merokok, misalnya. Pertama-tama, munculkan dulu kesadaran bahwa ini salah. Kalau tidak, percuma saja. Kedua, memercayai manfaat atas kebiasaan yang benar. Kalau kita berprinsip, "Alah, nggak ngaruh lah. Orang lain juga ngerti (atau orang lain juga ngerokok--dalam kasus merokok)," dalam beberapa hari, gaya penulisan kita akan kembali ke yang salah.

Carilah manfaat bagi diri masing-masing. Dan ubahlah kebiasaan (penulisan) yang buruk.

____________________

NB: Banyak sekali kebiasaan buruk yang menyangkut penulisan tanda baca berkaitan dialog. Termasuk tanda seru dan tanya berlebihan.

Monday, November 12, 2007

Apa Pun...

Dari Iwok, saya mendapat kabar tentang kompetisi blogging Telkom. Namun, ada satu kalimat yang tampak aneh. Untuk memastikannya, saya mengunjungi blog Telkom.TV. Di situ, tercantum ketentuan kompetisi ini. Dan ternyata kalimat itu memang ada.


Tertulis: "Peserta boleh dari latar belakang suku, agama, usia, profesi, apa pun."


Perhatikan tanda koma setelah "profesi". Ini berarti peserta boleh dari latar belakang apa pun. Walaupun saya makhluk luar angkasa dari Planet Jupiter yang suka datang ke bumi untuk memangsa otak manusia[1], saya boleh ikutan kompetisi ini.

Lho? Tapi ternyata peserta harus "bermukim (memiliki KTP/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar) di daerah operasi Telkom Divisi Regional III: Pandeglang, Rangkasbitung, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Subang, Indramayu, Majelengka, Kuningan, atau Cirebon."

Oke. Jadi yang penting punya KTP di daerah situ. Mangsa otak atau nggak sih bebas. Kalau gitu, mari kita coba daftar... Lah! Ternyata ada batasan juga.


Tahun kelahiran paling rendah hanya 1980.


Sekarang saya mengerti kenapa pake koma. Karena maksud mereka bukan "dari latar belakang usia apa pun." Tapi "dari latar belakang usia, latar belakang agama,... latar belakang apa pun."

Ngomong ngomong, "Apa pun" boleh juga tuh jadi tagline Telkom yang baru. Berdasarkan teori komunikasi pemasaran, tagline sebaiknya menyiratkan jiwa perusahaan atau produk. "Committed 2 U" jelas bukan. Google saja dengan kata kunci "telkom committed 2 u". Hasilnya kira-kira seperti ini.

Apa pun akan lebih cocok.
Telkom--Apa pun!

Tagline ini dengan hebat akan mencakup semua lahan bisnis.
Kritikus: "Flexy combo ini bukannya cuman cari-cari celah buat masuk lahan wireless CDMA?"

Telkom: "Apa pun!"

Atau menjadi standar jawaban semua layanan pelanggan.
Pelanggan: "Halo, kok Speedy saya mati terus, ya?"

Telkom: "Apa pun!"

Termasuk dalam komunikasi kerja.
Pegawai: "Pak, untuk situs web, apa nggak sebaiknya kita menyewa copywriter profesional agar tulisannya minimal konsisten dan tidak memberi kesan yang buruk?

Atasan
: "Apa pun!"

______________________

[1]: Nggak pernah dengar tentang makhluk seperti ini? Santai saja. Dia nggak akan mampir di tempat yang intelejensinya rendah. Jadi kita aman. Gitu gitu, dia juga punya selera.

Friday, November 02, 2007

Slogan Gelagapan

Saya telat mengikuti berita. Dari blog Bizri, saya baru tahu, Agustus 2007 lalu, NASA sempat mengganti slogan mereka. Slogan yang baru adalah: “NASA explores for answers that power our future.”

Milyaran dolar untuk teknologi. Lima dolar untuk kampanye komunikasi pemasaran.

Wajar saja jika Loretta Hidalgo menantang para pembaca blog Wired: masa sih kita nggak bisa membuat slogan yang lebih bagus? Dalam artikel itu, kita bisa menyumbangkan ide atau menilai slogan yang ada (pilihanannya hanya dua: jempol ke atas atau ke bawah).

Ratusan orang menanggapi tantangan ini. Sebagian serius. Sebagian menumpang untuk mengkritik NASA. Sisanya ngasal. Dan justru dua terakhir yang menghibur.

Ada yang terkesan membela:

  • NASA: Because one does not simply walk into space.
  • NASA: Because the United Federation of Planets has to start *somewhere*
  • NASA: In 100 years, you'll wish you'd given us more funding.

Ada yang malah menertawakan:
  • Our space-toilet cost a million but crapping in it is priceless.
  • NASA: Because strapping men to tons of high explosive sends the right message.
  • NASA: Helping nerds have sex since 1958

Termasuk menertawakan hal lain:
  • NASA: Our Janitor Is Smarter Than The President
  • NASA: More leg room than any airline!
  • Because in space no one can hear Britney sing

Menertawakan diri:
  • NASA: Because Intelligent life is so hard to find these days.
  • The answer is up there in the galaxies. the question is where did I leave my beer?
  • NASA: Actually this *is* rocket science.
  • NASA: When I was your age, Pluto was a planet

Atau mengacu humor lain:
  • NASA: Tonight, We Dine, IN SPACE
  • NASA: Because millions of trekkies can't be wrong.
  • All your space are belong to U.S.
  • NASA: Billions Of Dollars Spent and Still No Death Star
  • NASA: Are we there yet?

Ada yang mau menambahkan? Atau lebih baik kita beralih pada slogan instansi pemerintah kita? Apalagi yang tidak sesuai kenyataan.

Tuesday, October 16, 2007

Poetry Slam!: Adu Berpuisi

Poetry slam atau adu puisi adalah sebutan untuk kompetisi pembacaan puisi. Siapa pun bebas mendaftar dan tampil di panggung untuk membacakan karya mereka. Penampilan tiap peserta kemudian akan dinilai. Umumnya peserta harus membaca karya sendiri. Namun ada juga yang tidak.

Adu puisi sangat populer di Amerika. Pertama kali dikenalkan oleh Marc Smith pada tahun 1984 di Chicago, kini bahkan ada kompetisi National Poetry Slam yang diikuti hingga 75 tim dan diselenggarakan berhari-hari. Populernya kontes berpuisi ini juga yang memicu kemunculan pementas syair (performance poet), para penyair yang memunculkan kekuatan kata melalui dengan mementaskannya. Termasuk di antaranya penyair hip-hop. Penyelenggaraan poetry slam sudah meluas hingga negara-negara Eropa. Di Asia-Pasifik, Singapura dan Australia termasuk yang sudah sering menyelenggarakan ajang serupa.

Di Indonesia, adu puisi masih jarang kita temui. Karena itu, "Better Read than Dead" Poetry Slam di Bebek Bengil adalah satu acara yang saya tunggu-tunggu.


Suasana Apresiatif
Hal Judge menjadi MC acara dan membawakannya sesantai DJ stasiun radio. Untuk mencairkan suasana penonton yang beragam (warga asing dan Indonesia), misalnya, ia menceritakan berbagai kecelakaan berbahasa yang ia catat selama di Indonesia. Sebagai contoh, di Ubud ia pernah disapa seorang warga lokal, "Hai, Haley. Mau ke mana?"

Berhubung Hal baru mempelajari idiom baru, ia lantas menggunakannya, "Makan angin." Sayang sekali, ia masih mengucapkannya dengan lidah bahasa ibunya, sehingga terdengar menjadi, "Makan anjin'."

Ia juga menyampaikan format dan aturan adu berpuisi malam itu:


  1. Puisi yang dibacakan harus karya sendiri

  2. Tim juri terdiri dari tiga orang yang ia tunjuk sebelumnya

  3. Tiga hal yang dinilai adalah: isi, penyampaian, dan penjalinan emosi dengan hadirin--yang akan dilihat dari riuhnya tepuk tangan.


Selagi menunggu peserta bertambah, ia mempersilakan dua orang penyair tamu untuk mulai.


Yang pertama adalah Miriam Barr dari Auckland. Seorang pementas syair berpengalaman, ia telah menjuarai berbagai ajang adu berpuisi, termasuk Poetry Idol. Pada penampilannya di Bebek Bengil, ia menunjukkan kekuatan visualnya dalam syair.


Berikutnya adalah Miles Merrill, yang disebut media massa sebagai "seorang pementas kata yang menakjubkan". Dan ia membuktikannya hanya dalam beberapa detik setelah memegang mikrofon. Melalui sketsa pembuka "I care for people", ia menunjukkan kisar dan bentuk vokal yang bervariasi. Plus humor yang menggelitik. Sebagai seorang kelahiran Chicago yang telah menjadi warga Australia semenjak sepuluh tahun lalu, ia mengajak hadirin menertawakan stereotipe dialek Australia yang sulit dimengerti.

Barulah kemudian ia masuk ke puisi sebenarnya. Ia membawakan dua karya. Salah satunya adalah puisi yang ia tulis ketika sedang berkemah di Australia. Angin topan meniup dan menggulingkan tenda, beserta dirinya yang masih di dalam. Miles mementaskan puisi tersebut seperti sebuah dongeng, menyeret hadirin ke dalam dunianya. Kadang ia menjadi angin. Menjadi tenda. Menjadi daun. Atau dirinya yang berteriak, "Stop pounding at my weak shelteeeeer!"

Tanpa sadar, kita menjadi telinga, hidung, dan mata Miles. Saat semuanya beralih sunyi. Dan ia menengadah, menyaksikan, "Half the sky is stars. Half the sky is stars."

Atap saung Bebek Bengil seperti mau roboh oleh tepukan tangan. Hal kemudian mengundang peserta pertama untuk maju. Dan inilah yang menakjubkan. Walaupun kesan penampilan Miles sangat dalam, ini tidak memengaruhi standar hadirin. Penonton tetap mengapresiasi dengan tulus pementasan tiap peserta.

Bahkan penampilan hancur seperti seorang peserta dari Rembang, yang mengaku bernama Gato Loco, tetap diberi applause. Seberapa hancur? Ia datang dengan menggunakan kacamuka hitam. Menyetel suara latar belakang ala militer. Merokok dengan sembarangan (karena sebenarnya dilarang). Lantas membaca puisi dengan gaya mabuk. Di tengah pembacaan, ia membuka kaos hingga memperlihatkan diri yang mengenakan kemben. Lantas setelah pentas berakhir, ia membagikan kertas berisi syair puisinya. Masih sambil merokok.


Bahkan Hagar Peeters yang tampil serampangan dengan gaya mabuk juga tetap diapresiasi. (Mungkin gaya mabuk sedang tren.)


Menikmati Beragam Suara
Yang menarik dalam sebuah slam adalah variasi "suara" para penyair. Ada yang membacakan puisi dalam nyanyian. Ada yang menampilkan emosi, cerita, atau karakter. Bisa berdasarkan pengalaman nyata maupun sama sekali rekaan.


Seorang peserta dari Malaysia yang membawakan puisi dengan nyanyian.


Abe Soares dari Timor Leste bahkan menggunakan gitar sebagai alat bantu.


Bisa tampil sendirian atau barengan. Debra Yatim, sebagai contoh membawakan puisi tentang Aceh yang dimuat dalam Asian Literary Review. Nelden dan Zulaika mendukung sebagai penyanyi latar. Saya dan Mas Wiratmadinata juga dimintai turut serta di sini sekadar untuk melafalkan dzikir.


Penilaian Tetap Tegas
Walaupun suasananya sangat apresiatif, ini tetaplah kompetisi. Sehingga juri tetap tegas. Kadek Krishna, sebagai jubir memberikan beberapa komentar tajam. Bukan hanya peserta, komentar ini juga menyangkut penyair tamu.

Penampilan Mas Wiratmadinata dan Angelo Suarez, misalnya. Keduanya memiliki kemiripan dalam pementasan pertama: sama-sama melibatkan penonton. Angelo mementaskan "puisi tererotik sedunia dalam satu menit" dengan cara meminta para hadirin menghitung dari satu hingga enam puluh keras-keras. Selama itu, ia berlarian sekeliling saung sambil terus-menerus berteriak, "This is an erotic poem for sixty seconds if I say so!"


Angelo berteriak, memekik, dan melengking di atas meja pada pembacaan puisi keduanya.


Sementara itu, Mas Wira membagi hadirin menjadi tiga bagian. Sisi kanannya diminta meneriakkan, "Ada anjing!" Sisi kirinya, "Ada serigala!" Sementara bagian tengah, "Dalam kepalaku!" Lantas ia memberi aba-aba bagian mana yang harus berteriak. Hingga makin lama makin cepat. Mas Wira sendiri ikut berteriak semakin keras, sehingga--hebatnya--mengalahkan suara hadirin. Rangkaian ini diakhiri dengan Mas Wira meneriakkan kalimat akhir, "Mencari kata-kata."

Walaupun sambutan untuk kedua penampilan ini luar biasa, Kadek Krishna berkomentar dengan nada bercanda, "Kalian semua sudah dimanipulasi. Sehingga standar kalian jadi rendah."

Ada peserta yang mengurungkan niat membaca puisi dan akhirnya malah bercerita pengalaman diri. Ada dua peserta yang membaca puisi dari SMS. Untuk kedua hal ini, jubir juri hanya menggeleng-geleng, "Not good."

Selanjutnya, juri pun mengumumkan para pemenangnya.


Daniella, pemenang pertama, yang membawakan puisi ala rap. Muncul menjelang akhir acara, sambutan penonton pada penampilannya bahkan mengalahkan riuh tepuk tangan untuk Miles.


Pemenang lainnya meliputi Kerry Pendergrast, penyanyi dan pementas teater yang sudah enam belas tahun tinggal di Bali, saat itu membawakan puisi berwawasan dalam dan humoris mengenai Ubud, Sekala-Niskala. Dan seorang peserta dari Jakarta yang melantunkan puisi dengan gaya vokal mirip Beyonce. Nilai kedua peserta ini seri, sehingga mereka harus mengulang kembali penampilan. Hasil akhir ditentukan dari tepuk tangan hadirin.

Dan acara ini pun berakhir. Ironisnya, Hal Judge, sang pengumpul insiden berbahasa, justru kecelakaan saat menutup acara. Ketika berterima kasih pada pihak restoran Bebek Bengil, ia mengucapkannya sebagai "Bebek Bangle". Setidaknya ia jadi punya bahan untuk adu puisi tahun depan.


Mempopulerkan Adu Puisi Di Indonesia
Berat rasanya meninggalkan acara tersebut. Suasana kreatif dan apresiatif di dalamnya begitu memabukkan. Hanya dengan menghadiri acara tersebut, saya jadi ingin menguntai kata dan mementaskan cerita. Padahal saya bukan penyair. Seperti yang saya tulis dalam prakata Bertanya atau Mati, usaha saya membuat puisi bisa membuat seekor tikus yang terjebak perangkap terdengar seperti Shakespeare.

Namun itulah intinya: acara ini membuat orang-orang jadi berani dan bersemangat untuk menulis maupun menikmati puisi. Dan ini jauh lebih penting daripada mendiskusikan teori-teori kesusasteraan.

Bayangkan acara-acara seperti ini marak dalam kegiatan sekolah seperti pensi, misalnya. Atau menjadi alternatif kegiatan di kampus, alih-alih pentas musik ingar-bingar yang selalu menyetel 40 lagu terpopuler saat itu.
Bayangkan puisi menjadi bagian dari kehidupan normal, sehingga seseorang dapat berkata kepada temannya, "Eh, pernah dengar puisi ini nggak?" Dan temannya benar-benar mendengarkan. Bukan malah menertawakan.

Mengapa tidak?

Sunday, September 30, 2007

Laporan UWRF: Berbincang dengan Kiran Desai

Setelah menghilang beberapa tahun, Kiran Desai muncul kembali dengan novel keduanya, Inheritance of Loss, yang langsung memenangkan Man Booker Prize. Kiran menjadi wanita termuda yang memenangkan salah satu penghargaan sastra yang paling bergengsi di dunia ini.

Setelah memperkenalkan Kiran, sang moderator, Nury Vitacchi langsung menodong, "Ayo mengaku saja, ibumu (Anita Desai) yang menulisnya, kan?"

Setelah tawanya mereda, Kiran menjelaskan bahwa ia pun baru menyadari setelah besar bahwa saat di New Delhi, ia tinggal di dekat dua penulis India legendaris. Salah satu di antara mereka bahkan merupakan teman masa kecil ibunya.

"Apakah itu yang mendorong kamu bercita-cita jadi penulis dari kecil?" tanya Nury.

"Tidak. Saya ingin jadi ilmuwan," jawab Kiran. Tapi kemudian ia menyadari bahwa bukan itu yang ia inginkan. Apalagi setelah mempelajari hal-hal seperti kanibalisme jangkrik, walaupun itu adalah salah satu hal yang akhirnya ia gunakan dalam novelnya. Ia mulai menulis setelah mengikuti sebuah lokakarya penulisan. Naskah pertamanya berjudul Twilight and the Office Manuals. Nury langsung berkomentar bahwa pemilihan judulnya sudah jauh lebih membaik sekarang.

Dalam Inheritance of Loss, ada deskripsi memikat mengenai sebuah rumah di tengah hutan. "Bagaimana cara kamu menulis adegan itu?" tanya Nury. "Apakah kamu harus pergi ke satu tempat khusus untuk menulisnya?"

Kiran menggeleng dan berkata bahwa dia menulis di mana saja. "Tapi tidak (termasuk) New York," tambahnya sambil tersenyum. Menurutnya memang ironis bahwa dia harus meninggalkan kota tempat tinggalnya demi menulis.

Nury menanyakan keadaan finansial Kiran. "Apakah kamu ada mata pencaharian lain (di luar menulis)?"

"Tidak," ujar Kiran. Sumber dananya hanya dari royalti novel pertamanya, Hullabaloo in the Guava Orchard, yang sempat memenangkan penghargaan sastra. Dan itu pun terbatas. Sehingga walaupun ia masih bisa makan, ia mengalami kesulitan untuk membayar berbagai tagihan. Kiran bergurau bahwa ia sampai sempat merenungkan nasihat (orang-orang tua India) untuk menikahi seorang pria pebisnis kaya. Namun, ia menyadari bahwa ia sudah melewatkan kesempatan itu pada usianya sekarang (36 tahun pada tanggal 3 September lalu).

"Apakah itu sebabnya kamu menghilang setelah novel pertamamu pada tahun 1998?" tanya Nury. Kiran baru muncul kembali pada tahun 2006 dengan novel keduanya ini.

Kiran mulai menjelaskan, bahwa pertama-tama, draf pertama naskahnya mencapai 1500 halaman. Pada akhirnya, ia berhasil menyunting naskah tersebut menjadi 500 halaman. Tapi bahkan setelah itu selesai, semua penerbit di Inggris menolak menerbitkannya. Semua editor yang ia temui takut menyentuh naskah tersebut. "Jadi siapa lagi yang bisa menyuntingnya?" ujar Kiran. Ia kemudian terpaksa mencari editor lepas. Bahkan editor itu pun menyuarakan pendapat serupa, "[Cerita] ini tidak akan laku." Seorang editor dari The New Yorker bahkan berkata, "Ini adalah buku terburuk yang pernah kubaca."

Setelah memenangkan penghargaan Man Booker Prize, Kiran sempat bertemu dengan editor itu lagi. Dan sang editor berkomentar bahwa, "yang sekarang jauh berbeda dari yang kubaca dulu."

"Sama sekali tidak," ujar Kiran kepada para hadirin. "Ini buku yang sama."

Ayah Kiran juga memberikan komentar, walau hanya menyangkut judul, "Kenapa judulnya begitu? Kenapa kamu tidak menamainya The Loss of Inheritance saja?" Di tengah tawa, Kiran menambahkan, "Dan ia mengira bahwa semua orang akan lebih mudah menangkap [judul itu]."

Kiran mengamati bahwa sebagian besar cerita fiksi sekarang terlihat begitu sempurna. Tertulis sempurna dan terbaca sempurna. Dia mencontohkan cerita-cerita di The New Yorker yang begitu sempurna sehingga "terasa seperti periklanan." Cerita-cerita tersebut bagaikan ditulis untuk orang-orang yang sempurna. "Padahal, kita sama sekali bukan."

Pada sesi tanya jawab, seseorang bertanya bagaimana Kiran menulis novelnya. Apakah ia membuat kerangka terlebih dahulu?

Kiran menggeleng, "Saya tidak memiliki disiplin sama sekali dalam menulis." Ia menjelaskan bahwa ia hanya menuliskan semuanya. Dan kemudian meng-"cut and paste" bagian-bagian hingga terasa benar. Ia menstrukturkan tulisannya berdasarkan emosi yang ingin ia curahkan.

"Apakah Anda menulis novel dengan mengira-ngira seperti apa emosi seseorang ketika membacanya?" tanya seorang lagi. "Tidak," jawab Kiran. "Saya tidak bisa mengukur apa yang akan seseorang rasakan saat membaca karya saya." Menurutnya, dua orang bisa saja mengalami perasaan yang berbeda ketika membaca novel yang sama.

Ketika ditanya apakah kesuksesan dramatis buku keduanya, setelah ditolak oleh begitu banyak penerbit, membuatnya menjadi lebih percaya diri dalam menulis, Kiran menjawab, "Penulisan [kreatif] timbul dari keraguan."

Kiran juga berkomentar bagaimana ia menikmati sambutan Indonesia yang jauh lebih ramah daripada negara-negara Eropa yang pernah ia kunjungi. Imigrasi di benua Eropa cenderung memandangnya dengan penuh curiga. Nury mengakhiri dengan cerita tentang seorang penulis India pernah dipersulit di bagian imigrasi sebuah negara Eropa.

Alasannya? Karena pihak imigrasi mengira penulis tersebut ingin menyelundup masuk untuk menjadi pencuci piring di restoran kari India.

Thursday, September 27, 2007

Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis

Saat makan malam bersama di Ary’s Warung, Miles Merrill, seorang penyair dan pementas puisi, berkata bahwa sumber inspirasinya adalah kehidupan. Itulah yang ia tulis. Karena itu, saat mengalami kebuntuan dalam menulis, ia akan keluar dan merangkul hidup, alih-alih mendekap di kamar.

Namun, jika kita mengalami kebuntuan karena kesulitan memilih kata, ia memberikan tip berikut, "Putarlah sebuah lagu tanpa lirik, dan tulislah apa saja yang muncul dalam benak kita."

Jangan takut menodai kertas dengan coretan atau kata-kata yang tak akan terpakai. Justru diksi yang memikat itu baru bisa muncul di antara untaian kata yang tampak tak menarik. Seperti mencari biji emas di antara pasir. Kalau kita tidak menyerok pasir itu, kita tidak akan menemukan emasnya.

Wiratmadinata, seorang penulis dan penyair berlatar belakang jurnalistik, menyampaikan hal serupa dengan cara lain, "Saya akan menulis dan terus menulis. Hingga akhirnya terbiasa. Pada saat itu, [saya] akan sampai pada titik di mana saya tidak bisa berpikir tanpa menulis."

Intinya, yang menciptakan kebuntuan itu adalah keengganan kita sendiri untuk menulis. Karena itu, jalan keluarnya adalah mendobraknya. Dengan menulis.

Wednesday, August 29, 2007

Buaya Merah Muda

Dalam game Persona 3, seorang pria pengidap kanker stadium akhir bertanya kepada kita, sebagai tokoh utama, "Apa pendapatmu tentang seekor buaya berwarna merah muda?"

Lantas kita perlu memilih salah satu jawaban:


  1. Keren!

  2. Nggak ada buaya berwarna merah muda.

  3. Aku nggak peduli.


Dalam dua detik pertama, jawaban apa yang otomatis Anda pilih? Simpan dulu dalam ingatan.

Lanjut pada cerita, sang pria kemudian menjelaskan, bahwa ia menganggap ide buaya merah muda itu menarik. Ia ingin menulis cerita dengan buaya tersebut sebagai tokoh utamanya. Akibat warna kulit yang mencolok, buaya tersebut tidak bisa berburu. Semua buruan langsung kabur saat ia mendekat. Kalangan buaya pun mengucilkannya. Warna kulit yang aneh membuat buaya lain merasa ngeri. Semua menjauh, takut tertular. Buaya ini pun kelaparan dan kesepian.

Ya, buaya ini adalah simbol diri sang pria yang mengalami hal serupa. Ide unik ini mampir dalam pola pikir seseorang yang menderita penyakit tak tersembuhkan. Tapi, bisa pula mampir dalam benak seseorang yang mencoba menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dengan kata lain, orang yang tidak hanya terpaku pada pola pikir sendiri.

Pilihan jawaban di atas mencerminkan kesiapan kita menerima hal-hal yang berbeda.
Apakah kita hanya tersita oleh apa yang kita lihat atau rasakan? Dapatkah kita menerima hal-hal tak lazim sebagai kemungkinan?

Menurut Anda, seseorang yang mudah menemukan dan menangkap ide akan memilih jawaban yang mana? Ingat-ingatlah itu.