Showing posts with label pesta blogger. Show all posts
Showing posts with label pesta blogger. Show all posts

Sunday, October 31, 2010

Pesta Blogger 2010: Memilah Sampah

Berdasarkan tulisan ini, pada Pesta Blogger 2010 banyak peserta yang bingung untuk memilah sampah kering atau basah, daur-ulang atau umum. Sebenarnya tidak terlalu rumit asalkan mau membaca atau bertanya.

Instruksi pemilahan sampah di Pesta Blogger 2010. Harusnya ditambahkan juga: Jangan Panik!

Cara pemilahan sampah yang keliru. Bagian tubuh Anda bukanlah plastik (kecuali Anda adalah Cher) dan tidak bisa didaur ulang.

Pemilahan sampah yang lebih tepat.

Tuesday, December 02, 2008

Panduan Menikmati Pesta Blogger

Hah? Menikmati saja perlu panduan? Nggak salah tuh?

Sama sekali nggak. Pesta Blogger sudah lewat sepuluh hari. Ingar-bingarnya sudah meredup. Efeknya sudah mereda. Walaupun memabukkan, hangover pasti berakhir juga. Pasti ada saja di antara kita yang berpikir, "Tahu gitu, gua bakalan [isi sesuatu yang luput Anda lakukan--foto di antara Maylaffayza dan Nila Tanzil, misalnya]."

Nah, agar tahun depan tidak terjadi kesalahan yang serupa, mari sama-sama menyusun panduan menikmati Pesta Blogger.


  1. Jadi peserta saja

  2. Pada Pesta Blogger 2008, saya hanya jadi mitra kerja panitia. Itu saja keringatan melulu.

    Pertama, saya perlu membawa dua puluh kaos, lima belas tas kain sebagai goodie bag, sepuluh jaket, dua puluh tiga tali ponsel, seratus cutting sticker, dan delapan flash disk.

    Barang-barang ini menuh-menuhin satu tas yang bahkan bisa memuat mitra hidup saya, Donna (plus anak saya Chika sebagai bonus). Semuanya harus saya dan Donna bawa ke Jakarta naik-turun CitiTrans dan TransJakarta (terutama tangga haltenya yang tidak ramah terhadap para penggiring tas). Akhirnya, kami pisahkan isi tas ini ke dalam tiga tas yang lebih kecil. Tetap saja banjir keringat.

    Itu baru mitra kerja panitia. Jangan lupa: panitianya sendiri harus menyiapkan goodie bag untuk lebih dari 1.000 peserta.

    Saat acara berlangsung pun kesibukan juga tetap ada. Sebagai contoh, kami mencari narasumber untuk breakout session saja mesti menyisiri lantai 3 BPPT seperti anjing pelacak narkoba yang mendadak pilek. Sementara panitia harus mengurusi kebutuhan semua acara sekaligus. Dalam kondisi kurang tidur.

    Jadi peserta saja, lah. Serius.


  3. Jangan kurang tidur hanya karena mikirin dress code

  4. Hanya pakai kaos dan sandal? Silakan. Jaket biru dengan topeng paruh penguin? Kenapa nggak?


  5. Kalau memang mau bertemu seseorang, hubungi sebelum Hari-H

  6. Salah satu jenis komentar yang sering bermunculan di blog pasca-Pesta Blogger adalah: "Yah, kemaren kok nggak ketemu?"

    Ada lebih dari seribu orang berkumpul di satu lantai. Kalau nggak punya telepati, ya jangan berharap ketemu. Lebih baik hubungi orang bersangkutan via japri sebelumnya. Bertukar nomor ponsel. Kalau susah ketemu, tinggal telepon.


  7. Pastikan ada teman/kenalan di Pesta Blogger

  8. Mengikuti Pesta Blogger untuk yang pertama kali? Belum pernah aktif di komunitas blogger mana pun? Jangan datang sendirian. Akan sangat tidak menyenangkan memasuki suatu ruangan yang penuh dengan orang tapi malah merasa kesepian. Pesta Blogger baru benar-benar terasa sebagai pesta saat kita bertemu banyak kenalan. Lama maupun baru. Berbaur.


    Percayalah: tidak semua wajah di foto akan Anda ingat namanya

    Karena itu, panduan berikut sangat penting.


  9. Bawa kamera digital!

  10. Jangan menyesal belakangan seperti blogger dengan inisial Y.A.H.Y.A. K.U.R.N.I.A.W.A.N, yang tidak mau disebut namanya. Kembali serius, kita akan kesulitan mengingat begitu banyak nama baru. Akan lebih mudah mengambil foto dulu, ingat-ingat kemudian.


    "Pelajaran Hari ini: Teknik Fotografi Ekstrem oleh Eko dan Valen."



  11. Siapkan kartu nama superbanyak

  12. Terlalu banyak orang yang harus diajak ngobrol, terlalu singkat waktu yang tersedia. Dalam kondisi seperti ini, kartu nama penting supaya pertemuan singkat tetap meninggalkan jejak. Minimal, Anda memberikan dia cara untuk kontak pascaacara ke blog Anda.


  13. Cetak dan bawa jadwal acara

  14. Selama dua tahun Pesta Blogger, selalu ada orang-orang yang berkeliling dengan wajah kebingungan. Apalagi menjelang breakout session. Prioritaskan dari awal breakout session yang Anda minati. Cari tahu ruangannya di mana saja. Dengan begitu, jika ingin pindah di tengah-tengah sesi, Anda tidak perlu membuang waktu untuk mencari-cari lagi.


  15. Bikin tradisi Anda sendiri!

  16. Sebagai contoh, saya membuat tradisi pose natural di depan papan foto Pesta Blogger.

    Pose natural pada Pesta Blogger 2007.


    Pada Pesta Blogger 2008, jauh lebih natural.



  17. Yang terpenting: perluas semangat pesta!

  18. Kalau belum puas, lanjutkan dengan berkumpul di luar acara. Nikmati hari itu!


    Pesta Blogger Perjuangan Tukang Lenong

Sunday, November 23, 2008

Masih Sekadar Pesta: Tak Apa-apa

Pesta Blogger 2008 berhasil dalam satu hal: tetap menjadi sekadar pesta. Dan itu bagus.

Mengapa? Karena pertama: jujur. Acara ini tidak harus memberat-beratkan diri dengan berbagai misi, muatan moral, dan hal lainnya. Tidak perlu.

Lah, Man, kan temanya aja Blogging for Society? Bukannya tendensius tuh? Nggak ada misi apaan?

Memang tergantung penafsiran Anda. Kalau Anda orang idealis ngotot, Anda bisa saja mendefinisikan bahwa apa pun yang menggunakan istilah "untuk masyarakat" harus sesuatu bombastis yang mengubah kondisi masyarakat secara besar-besaran menjadi lebih baik. Silakan. Pesan saya: mohon Anda konsisten juga dalam melaksanakannya.

Saya sih praktis. Meluaskan kesadaran untuk nge-blog saja sudah merupakan roda kecil penggerak manfaat untuk masyarakat. Orang-orang yang tadinya merasa menulis merupakan hal yang menakutkan, jadi mau menulis. Mereka yang tadinya menyimpan berbagai hal berguna tapi hanya tersimpan untuk diri: kini bisa berbagi. Mereka yang tadinya merasa tak bisa bersuara, jadi bisa menyampaikan pendapat. Dan sebaliknya: kita juga bisa memverifikasi suatu isu atau opini melalui komunitas blog yang kita percayai.

Yang terpenting: acara satu hari tidak akan bisa melakukan perubahan besar. (Kecuali merupakan kulminasi dari rangkaian kegiatan.) Yang jauh lebih berpengaruh adalah kiprah sehari-hari para komunitas blogging. Dan kita sendiri, sebagai blogger.

Jadi, biarkan Pesta Blogger tetap menjadi pesta. Perhelatan akbar berbagai komunitas blogging se-Indonesia. Wadah kopi darat dan bersenang-senang. Ajang para tokoh dunia nyata menyadari bahwa ketenaran dan kepakaran di dunia maya bisa jauh lebih berpengaruh. Tempat tumpang tindihnya promosi dan ingar-bingar yang mirip pasar malam.

Pesta saja bisa menunjukkan pada dunia: bahwa komunitas blogging Indonesia itu nyata. Dan jumlah tidak bisa berbohong.

Biarkan suara negatif melanda. Biarkan sejumlah pihak berusaha mempolitisir (keberhasilan) acara ini menjadi agenda-agenda mereka. Yang penting: tetap berpesta. Tetap sejati.

Karena kita, para blogger, memiliki kebebasan untuk itu. Yang tidak setuju pun memiliki kebebasan untuk tidak hadir. Atau membuat acara lain.

Namun, itu pendapat saya. Bisa saja berbeda. Suarakanlah pendapat Anda mengenai Pesta Blogger 2008 kemarin. Di blog Anda masing-masing.



Kalau perlu, berteriaklah! Asalkan jangan lupa: buat orang lain berminat (atau bersyukur telah) mendengarkan.

_______________

Cerita lain seputar Pesta Blogger bisa dilihat di situs resminya.

Tuesday, October 30, 2007

Pembalap F1, Toilet, dan Kaleng Coca-Cola

X-Trans. Itu adalah perhentian pertama saya dan Yudi pada hari Sabtu, 27 Oktober 2007, jam enam pagi, sebelum menuju Pesta Blogger 2007. Kami memutuskan naik shuttle service karena jika kami mengemudi mobil sendiri, kemungkinan besar kami akan datang terlambat satu jam... di Ciamis. Bukan salah Yudi, tentunya. Sebagai navigator, dia cukup tahu jalur mana yang harus diambil. Walau kadang-kadang terlambat.

"Itu harusnya belok kiri, Man," tunjuk Yudi ke belakang.

"Terima kasih banyak, Yud," jawab saya. "Lain kali, tolong setengah menit lebih cepat, ya?"

Namun, seperti yang saya bilang, itu bukan salah dia. Kalaupun tepat waktu, saya yakin tidak akan beres juga. Karena saya sering kesulitan menentukan mana kanan dan kiri. Konon ini salah satu kutukan orang Sunda. Entah juga. Tapi yang jelas, saat saya kuliah, pernah kami berangkat dalam mobil seorang teman bernama Dindin. Navigatornya adalah Wiro. Dindin orang Sunda asli. Sementara Wiro sudah cukup lama di Bandung sampai tidak bisa dibedakan lagi aslinya apa.

Kami sedang mencari jalan Badak Singa. Pada satu perempatan, Wiro memberi isyarat, "Di sini belok kiri, Din."

Dindin pun belok ke kanan. Dan benar saja, di situ terpampang, "Jalan Badak Singa".

Saya tidak yakin Yudi dan saya punya hubungan batin sekuat itu. Jadi kami memutuskan menggunakan jasa X-Trans saja.

Mengapa X-Trans? Jelas bukan karena kenyamanan. Kursi mobil Preggio mereka sudah dirancang ulang oleh makhluk luar angkasa, yang sepertinya memiliki tinggi badan satu meter, berat tiga puluh kilogram, dan leher sepanjang setengah meter. Saya curiga lama-lama X-Trans akan bekerja sama dengan panti pijat.

Tidak. Kami memilihnya karena titik keberangkatannya dekat (di Cihampelas). Dan tujuannya juga dekat Grand Indonesia (di Blora).

Acara Pesta Blogger sendiri direncanakan akan mulai jam setengah sebelas. Dengan berangkat jam enam pagi, kami berharap tiba pukul setengah sepuluh. Cukuplah untuk santai terlebih dahulu.

Ternyata kami salah. Mobil mencapai ruas jalan Thamrin pada jam 7:37. Satu setengah jam! Jangan-jangan menyupir shuttle service ini hanya pekerjaan sampingan. Bisa jadi sang supir sebenarnya pembalap F1.

Akhirnya, saya dan Yudi memecahkan dua rekor pribadi sekaligus hari itu. Perjalanan tercepat, Bandung-Blora (140-an kilometer): 1,5 jam. Dan perjalanan terlambat, Blora-Grand Indonesia (1 kilometer): 1,2 jam. Kami pun tiba di Grand Indonesia sekitar jam 10 kurang dua puluh menit.

Dengan lega, kami langsung menuju tujuan kami: toilet. Yang ternyata tak bisa dibuka. "Toiletnya baru buka jam sepuluh, Mas," ujar seorang petugas kebersihan.

"Jadi, Mas sebelum ini buang air di mana?" tanya saya.

Dia hanya tersenyum, sambil menunduk ke arah ember berisi air yang ia pakai untuk mengepel.

Oke, lebih baik jangan tanya. Ya sudah, saya dan Yudi pun memutuskan naik ke tingkat delapan, dengan menaiki lift--yang tidak bisa dibuka juga.

Seorang petugas kebersihan berkata, "Liftnya--"

"Baru buka jam sepuluh?" potong saya.

Alisnya mengangkat, "Lho, kok tahu?"

"Mas juga..." saya melirik ke arah embernya.

Dia hanya tersenyum.

Kami pun naik escalator. Sambil menghindari bagian lantai yang basah. Akhirnya, kami sampai ke lokasi. Dan bertemu Ira Lathief yang dengan tenang berkata, "Iya, tadi aku naik lift."

"Lho, tadi belum jalan."

"Udah kok."

Saya hanya berpandangan sebal dengan Yudi. Untunglah toilet di Blitz Megaplex sudah buka, sehingga kami tidak perlu menghadap ke meja pendaftaran sambil menari-nari di tempat. Dan kami pun jadinya sempat berfoto-foto selagi sepi.



Pos Kota: Frustrasi tidak menemukan toilet, seorang blogger melompat dari tingkat 8 Grand Indonesia, dan menabrak papan dalam Blitz Megaplex. (Foto:Yudi)


Teringat bahwa tempat mungkin terbatas, kami pun mendaftar.

"Sudah ada entry code?" tanya panitia pendaftaran.

"Sudah," angguk saya dan Yudi, bersiap-siap mengetikkan kode tersebut... namun, kok nggak ada komputer, ya?

Lantas sang panitia hanya membuka lembaran kertas, "Namanya siapa?" Ia mencari-cari. "Isman?" Masih mencari-cari, "Oh, ini." Ia lantas menggarisnya dengan stabillo. "Oke, sudah terdaftar."

"Itu saja?" tanya saya takjub. "Nggak harus memasukkan kode seperti yang ditulis di email?"

"Nggak," gelengnya.

Masih takjub, kami bertemu Enda yang langsung tersenyum. "Oh, yang di email? Itu hanya gertakan," candanya.

Tahu begitu, sebenarnya siapa pun bisa masuk. Tinggal mengaku ada entry code. Lantas saat ditanya, "Namanya siapa?" jawablah dengan bergumam, "vldfdlldfbbbldf".

"Siapa?" tanya sang panitia sambil menelusuri daftar.

"Nah, itu dia," tunjuk Anda ke satu nama yang belum digaris.

"Sang panitia mungkin akan menatap curiga, "Vina?"

Dan jika Anda seorang laki-laki, di sinilah kemampuan Anda diuji. Tetaplah tenang. "Ada masalah? Enda juga laki, kan?"

"Ya," ujar sang panitia, "tapi blog Enda tidak bernama 'rahasiawanita.blogspot.com'."

Oke, mungkin ini bukan cara yang bagus juga. Terutama jika kita tipe yang bermaksud berkenalan dengan para blogger maupun komunitas lain. Saya sendiri memang datang ke acara ini dengan tujuan itu. Saking seringnya ngobrol dan salaman, saya malah tidak sempat banyak memfoto. Padahal sudah berat-berat bawa kamera. Bahkan foto bareng Bang Wimar saja sebenarnya diambilkan oleh Rizka.


Wimar: "Apakah semua penulis humor seceria kamu?"
Isman: "Hanya jika mereka harus berfoto saat menduduki kaleng Coca Cola." (Foto: Rizka)



Saya senang menghadiri acara tersebut. Banyak bertemu orang-orang yang tadinya hanya saya bayangkan melalui ceritanya. Dan bisa jadi untung juga bagi mereka, karena bayangan saya ternyata selalu lebih cacat dari aslinya. Setelah bertemu, ternyata kelakuannya normal-normal saja. Jangan-jangan malah saya yang dianggap lebih cacat aslinya daripada bayangannya. Padahal jelas-jelas tidak; pendiam, tenang, dan serius.

Saking seriusnya, saat kamera menyorot saya dan menampilkan citra di layar lebar bioskop, saya dengan serius menanggapinya... dengan memainkan sandiwara tangan. Judulnya, "Seekor Anjing yang Tidak Bisa Nge-Blog Karena Tidak Bisa Mengetik".

(Catatan pribadi: acara tahun depan bawa boneka tangan.)

Saya sempat bertemu seorang teman yang mewakili blog-nya karena mendapatkan nominasi. Namun, ada satu hal: seharusnya ketiga kontributor blog itu anonim. "Lah, kalau muncul di sini, mau anonim gimana, dong?"

Dia hanya tertawa. "Ya mau gimana, ya, Man?"

Ironisnya, blog dia dan teman-temannya pun menang. Jadi entah masih anonim atau tidak. Selamat ya, F--euh, TemankuYangEntahMasihAnonimAtauTidak!

Tentang apa yang terjadi di acara sih sudah banyak yang meliput. Jadi saya tidak perlu membahasnya. Cukup cari saja tulisan dengan tag pb2007. Bejibun.

Selamat untuk para panitia penyelenggara! Untuk sebagian wakil pemerintah yang menunjukkan bahwa kita masih memiliki sesuatu yang bisa kita banggakan--dan tidak bisa dihakpatenkan negara lain. Dan untuk para blogger yang menunjukkan bahwa satu tetes air mungkin kecil, namun bersama kita bisa jadi air minum botolan yang dijual lebih mahal daripada BB--bukan, maksud saya, menjadi kekuatan yang bukan hanya sekadar menggagas ide, melainkan juga bertindak nyata.

Ajuan tindakan nyata pertama: dobrak pintu toilet!