Friday, May 05, 2006

Pojok Penerbitan, Topik Minggu Ini: Pendekatan untuk Penilikan Naskah

Berhubung sejumlah pertanyaan sama kerap bermunculan berkaitan penerbitan, saya mendirikan pojok ini agar dapat memberikan gambaran akan jawabannya. Jangan sekadar terima begitu saja, karena penerbitan karya adalah suatu pengalaman yang bisa berbeda-beda bagi setiap orang.

Tanya (T): Aku pernah ngirim naskah ke [nama penerbit], tapi belum ada konfirmasi juga. Saya baru telepon lagi namun disuruh menunggu. Memang berapa lama prosesnya,ya? Apa sampe empat bulanan?

Jawab (J): Rata-rata, penilikan naskah itu memang tiga bulanan. Tergantung dari kesigapan tim redaksi dan jumlah naskah yang masuk, waktu penilikan ini bisa lebih singkat (ada yang hanya dua minggu) atau memanjang (ada yang sampai lima bulan baru konfirmasi).

Kuncinya di sini: proaktif. Saya selalu menekankan pada para penulis yang ingin mulai menerbitkan buku, agar saat menyampaikan naskah itu berkenalan dulu dengan salah satu editor dari redaksi bersangkutan. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan kontak yang jelas (ada nama jelas dan wajah yang kita ingat, bukan sekadar nama generik seperti Editor Fiksi).

Dengan begitu, kamu bisa selanjutnya menghubungi orang tersebut untuk mengonfirmasi status naskah setelah, sebagai contoh saja, dua minggu.


T: Aku sering menanyakan tapi selalu diminta menunggu. Bagaimana nih?

J: Setiap kali menanyakan status konfirmasi, jangan sekadar mencari jawaban "Sudah" atau "Belum" saja. Lebih penting adalah mengetahui prosesnya. Jika dikatakan belum selesai, tanyakan saja dengan sopan, perkembangannya sampai mana. Dan kalau boleh tahu, prosedur penilikannya seperti apa, agar kamu memiliki gambaran sudah sejauh mana prosesnya.

Penerbit yang kredibel akan memberitahu secara jujur dan tidak akan mencari-cari alasan.

Contoh jawaban kredibel:

  1. "Oh, proses penilikan naskah di sini perlu disetujui minimal dua editor dulu. Sejauh ini baru satu editor yang menilai ada potensi. Jadi, kalaupun ada kesepakatan, mungkin perlu revisi besar-besaran. Gimana?"

  2. "Maaf, banyak naskah yang ngantre nih. Dalam dua minggu terakhir ada sekitar 200-an yang masuk. Jadi naskah Mas belum sempet kami baca."

Contoh yang meragukan:
  1. "Ya, sama lah kayak penerbit-penerbit lain. Masa gitu aja nggak tahu?"

  2. "Naskah kamu lagi dibicarain, kok. Tunggu, lah. Sekitar dua minggu lagi pasti ada kepastian." (Catatan: kalau dua minggu lagi ngomongnya masih sama, akan semakin meragukan)

Contoh yang sangat meragukan:
  1. "Bentar. (terdengar suara teriakan di latar belakang) Wooooi! Ada yang tahu kabar naskah [nama kamu] nggak? Hah? Lu pake buat ke belakang!?"

T: Tapi tiga bulan itu kelamaan. Boleh nggak, aku kirim naskahku ke beberapa penerbit sekaligus. Kan menghemat waktu, tuh?

J: Saya sarankan tidak. Karena mengirimkan naskah yang sama ke beberapa penerbit sekaligus itu tidak etis. Bagaimana jika satu penerbit menghubungi kamu karena tertarik, tapi jawaban kamu adalah, "Wah, maaf, saya sudah menerima tawaran dari penerbit lain." Berarti editor/redaksi penerbit yang menghubungi kamu itu sudah membuang-buang waktunya untuk menilik naskah kamu. Ini pun tidak adil bagi para penulis lain yang naskahnya diantrekan setelah kamu.

Lebih baik, tentukan beberapa penerbit yang kira-kira sesuai dengan tujuan/idealisme kamu. Terus urutkan prioritasnya. Kirimkan naskah dan konfirmasikan status penilikannya secara rutin. Tariklah naskah kamu jika merasa tidak ada perkembangan pasti menuju suatu kerja sama. Dan tawarkan ke penerbit berikutnya.

Akan lebih baik lagi jika di antara menunggu konfirmasi itu, kamu sudah mulai menulis draf untuk buku berikutnya.


T: Kalau saya punya lebih dari satu naskah, gimana? Apa lebih baik ditawarkan ke penerbit sama sekaligus?

J: Kalau Anda sudah pernah bekerja sama dengan penerbit itu dan merasa cocok, silakan. Namun, jika belum, lebih baik tidak. Karena nama kamu belum dikenal di penerbit tersebut, kemungkinan naskah kamu akan tetap diantrekan. Sehingga waktu penantiannya bisa lama. Belum nanti bisa bingung untuk menanyakan status masing-masing naskah.

"Naskah yang mana?" tanya sang editor.

"Yang settingnya kerajaan, tentang cinta bertepuk sebelah tangan antara pangeran dan kodok."

"Yang kodoknya ternyata laki-laki, ya?"

"Bukan, yang kodoknya lebih suka sama angsa."

"Saya jadi pusing, nih dengernya."

"Bukan, dialog itu sih di naskah satu lagi, yang tentang kuda sama putri."

"Nggak, saya benar-benar pusing nih."

"Nah, betul. Yang ada dialog itu. Yang--lho. Halo? Halo?"

Saran saya: tawarkan saja masing-masing naskah ke penerbit berbeda.

Wednesday, May 03, 2006

Review JB! oleh Ferina Permatasari

Jangan Berkedip!: Kumpulan Cerita Sangat Pendek yang Mengejutkan

Primadona Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman

GPU, April 2006

200 Hal.

Buku ini bisa dibilang unik. Pertama, merupakan hasil karya kolaborasi antara pasangan suami-istri, Primadona Angela Mertoyono (Love at First Fall, Belanglicious, Quarter Life Fear) & Isman Hidayat Suryaman (Bertanya atau Mati!). Kedua, cerita-cerita di buku ini, bukan hanya sekedar cerita pendek, tapi cerita yang SANGAT pendek. Maksudnya, seperti yang ditulis di cover belakang buku ini, Flash Fiction adalah cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok.

Berbagai cerita pendek menarik dimuat dalam buku ini, dalam beragam jumlah kata, bahkan ada yang hanya berisi satu kata saja! Dan yang uniknya lagi, saking pendeknya, saat pembaca menerka-nerka ending dari cerita ini, tau-tau, lho.. koq udah selesai? Dan terkadang ending cerita sama sekali tak terduga, mengejutkan.

Duo suami-istri ini menghasilkan cerita pendek dengan gaya yang berbeda. Kalau Donna, cenderung romantis tapi juga lucu, sedangkan Isman lebih banyak humornya. Gak hanya cerita yang mengundang senyum, cerita yang sedih juga ada, yang cenderung ‘psikopat’ juga ada.

Buat yang ingin nulis tapi gak bisa mengkhayal panjang-panjang, kenapa gak coba nulis Flash Fiction? Ternyata menulis sebuah cerita, gak perlu berpanjang-panjang. Kreativitas dan ide bisa ‘dipadatkan’ dalam sebuah cerita pendek yang ringan.

-ferina-

(Dikutip dari milis Resensi Buku)

Review "Jangan Berkedip!"

Oleh: Shrie

Apa sih itu cerita Flash fiction? Flash fiction adalah cerita super pendek yang di ramu sedemikian rupa sehingga pembaca tidak perlu berlama-lama membaca kalau ingin mengetahui ending ceritanya. Flash fiction, di kenal dengan berbagai nama. Kalau di Prancis cerita ini di sebut dengan “Nouvelle”. Di China di sebut cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok, Kalau saya pribadi lebih enak menyebut cerita jenis ini dengan sebutan “Quicky” singkat, padat namun berkesan.

Bagi anda yang tidak punya banyak waktu buat berlama – lama membaca novel yang tebalnya hingga 500 halaman, sangat cocok membaca buku sejenis ini. Di buku “Jangan Berkedip” ini penulis mengangkat cerita yang sangat dekat dengan kejadian kita sehari-hari, atau mungkin memang ini kumpulan kisah nyata sang penulis ya? entahlah.

Saya benar-benar di buat tidak berkedip oleh buku ini, bayangkan saya hanya perlu waku approx’1 jam untuk menyelesaikan semua cerita pendek di buku ini, dan ini adalah rekor baru buat saya. Sekali lagi buku ini cocok untuk orang yang tidak punya banyak waktu untuk membaca, cocok buat anda yang sedang naik bus, kendaraan saat macet, kereta, nunggu pacar, Jam makan siang, nunggu di antrian dlsb nya.

Thursday, April 20, 2006

Ungkapkan Ceritamu!

Tertarik menulis Flash Fiction? Ingin menjajal kemampuan kamu dalam gaya menulis yang satu ini? Simak Jangan Berkedip! karya Primadonna Angela dan Isman H. Suryaman, lalu tulislah sebuah flashfic berdasarkan salah satu prompt di bawah ini:

  1. Apakah kamu percaya akan adanya cinta pada pandangan pertama? (Jawaban Isman misalnya, dapat ditemukan dalam cerita berjudul "Pada Pandangan Pertama".)

  2. Ceritakanlah suatu hal kecil yang berdampak besar pada kehidupan seseorang. (Dalam hal apa? Bagaimana? Sebagai contoh, hal kecil ini disampaikan Donna dalam "Namaku Monique Chayenne Deborah".)
Kirimkan dua kopi cerita terbaikmu, tercetak dalam kertas A4, font ukuran 12 spasi ganda, jumlah kata maksimal 1500, sebelum tanggal 30 Juli 2006 (cap pos) ke:
Redaksi Fiksi GPU
Gedung Gramedia Lt. 3
Jalan Palmerah Barat 33-37
Jakarta 10270
Jangan lupa sertakan data dirimu, lengkap dengan alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Gunting dan sertakan juga kupon yang terdapat dalam Jangan Berkedip! Kamu boleh mengirimkan sebanyak-banyaknya cerita, namun satu kupon hanya berlaku untuk satu cerita.

Donna & Isman akan memilih 15 cerita terbaik yang akan mendapatkan paket buku menarik dari Gramedia Pustaka Utama. Pengumuman akan dimuat di situs Gramedia dan Harian Kompas. Jangan khawatir terlewatkan beritanya, karena peserta yang ceritanya terpilih akan kami hubungi melalui pos atau e-mail (jika ada).

Ayo, unjukkan flashfic-mu dan bikin pembacanya tidak berkedip!

UPDATE!
------

Bagi penulis yang ingin mengirimkan lebih dari satu flashfic, silakan fotokopi kuponnya. Syaratnya hanya satu: karya pertama yang dikirimkan harus menggunakan kupon asli. Sisanya boleh fotokopi. Ketentuan ini berlaku bagi satu penulis yang sama.

Tuesday, April 11, 2006

Terbit April 2006 Ini!



Ini adalah kumpulan flash fiction saya dan mitra hidup saya, Primadonna Angela.

Atas terbitnya kumpulan karya yang merentang waktu hingga lima tahun ini, saya ingin berterima kasih kepada komunitas Writer's Tavern yang telah memberikan saya kebersamaan dan inspirasi.

Dikutip dari sampul belakang:

Flash fiction? Dunia mengenalnya dengan berbagai nama. Di Prancis, karya seperti ini disebut nouvelle. Di China, ada yang menyebutnya cerita semenit atau cerita-sepanjang-rokok. Dalam "Jangan Berkedip!", pasangan penulis Donna dan Isman mengeksplorasi kekuatan yang tersembunyi dalam keringkasan bentuk penceritaan ini.

Jangan berkedip, saat menyimak beragam kisah dari yang sepanjang seribuan kata hingga yang sependek satu kata.


"Tulisan pendek, penuh kejutan, dan tajam...
...Tulisan-cerita ini baik untuk kalangan muda yang sibuk dan sedikit waktu."
--Indra Abidin, CEO PT Fortune Indonesia, Tbk.

"Kalo disimpulkan dengan satu kata: great!"
--Djoko Rianto, GM Marketing Wijaya Karya (WiKa)