Tuesday, October 16, 2007

Terima Kasih: Author of the Week

Terima kasih atas apresiasi teman dan rekan semua dalam satu setengah bulan terakhir. Karena saya yakin berkat dukungan kalian semua jugalah saya jadi menerima tiga kabar baik terakhir:


  1. Tujuh Dosa Besar (Penggunaan) PowerPoint masuk daftar Bestseller di BukaBuku.com

  2. Profil saya menjadi Author of the Week di Gramedia.com

  3. (Tampaknya definisi "Week" bagi mereka adalah "berminggu-minggu". Kalaupun iya, saya jelas tidak akan mengeluh.)

  4. Satu karya flash fiction saya berjudul "Do not disturb: Suicide in progress" juga masuk dalam The Asia Literary Review jilid 5, edisi musim gugur 2007.

  5. Bagi yang belum tahu flash fiction atau fiksi kilat itu apa, bentuk penceritaan ini juga dikenal sebagai cerpen pendek atau cermin (cerita mini). Lebih singkat daripada cerita pendek, sehingga dalam dasawarsa terakhir populer sebagai karya online--di mana orang memiliki ambang kenyamanan membaca yang lebih kecil dibandingkan buku fisik. Namun, kekuatan fiksi kilat sendiri dalam mengejutkan pembaca atau menampilkan bayangan visual menjadikan bentuk ini populer juga di dunia nyata. Terutama bagi para pembaca yang sibuk (selagi bertapa di kamar kecil, bisa menghabiskan hingga sepuluh cerita). Atau bagi penulis yang memiliki banyak gagasan untuk diwujudkan.

    Versi Indonesia "Do not disturb: Suicide in progress" sendiri dimuat dalam antologi Jangan Berkedip, yang ditulis saya bersama mitra hidup saya, Primadonna Angela.

Sekalian dalam masa pasca Lebaran, saya mengucapkan terima kasih lahir dan batin! Mari terus berkarya dalam bidang yang kita tekuni. Dan berikhtiar dalam apa yang kita bisa lakukan.

Friday, October 05, 2007

JL CPT BU UTK FSTVL?

Berkat Harper's Bazaar yang menulis Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2006 sebagai "satu dari enam festival sastra internasional terbaik", festival tahun ini berhasil menarik banyak sekali sponsor. Kalau sponsornya lebih banyak lagi, bisa jadi ketika panitia selesai mengucapkan terima kasih kepada para sponsor di acara pembukaan festival, acaranya sudah keburu selesai.

Namun, setelah berbincang-bincang dengan sejumlah relawan, saya mendapat kabar bahwa Festival Director, Janet De Neefe masih tetap menanggung kerugian. Karena fasilitas untuk para peserta semakin meningkat tiap tahun: transportasi, penginapan, hingga penyediaan sejumlah acara dan makanan/minuman gratis. Dan hal ini sudah menjadi rahasia umum di antara sebagian peserta.

Karena itu, kami tidak tahan untuk menahan geli setiap kali lewat di pertendaan sebelah Left Bank, melihat dua pengumuman yang bersanding secara kebetulan.



Yang kurang tinggal tulisan "JL CPT BU, UTK FESTIVAL"

Thursday, October 04, 2007

Ujicoba Aplikasi Dengan Naga dan Bola

Di kantor saya, pengujian aplikasi adalah masa yang menyenangkan.

Ada satu dalil dalam pengujian perangkat lunak: kejutkanlah para pemrogram! Ini juga sebabnya mengapa pemrogram sebaiknya tidak menguji aplikasinya sendiri. Karena tanpa sadar ia akan menguji sebatas hal yang ia ketahui. Padahal setelah pemasangan di lokasi, para pengguna akan mengoperasikan aplikasi tersebut semau mereka.

Dengan kata lain, pengujian juga perlu mencoba hal-hal yang tidak diperkirakan oleh para pemrogram. Dan itu adalah spesialisasi penguji seperti saya.

Sebagai contoh, sore ini kami menguji coba aplikasi konferensi multimedia. Dua penguji duduk di depan komputer yang memasang webcam, dan saling membacakan kalimat dari sebuah dokumen teknis. Pembacaan ini sudah cukup jelas. Walau kadang putus. Sayangnya, metode ini tidak mewakili kebutuhan calon pengguna: berkomunikasi dua arah, bukan hanya mendengar. Lebih parah lagi, metode ini membosankan.

Jadi, saat saya ikut menguji, pertama saya mengarang cerita. Apakah cerita ini bisa diterima dengan utuh? Dan untuk memastikan penguji di sisi lain memerhatikan, cerita ini saya sadur dari gaya Harlequin, "Ia melempar Joyce ke ranjang. Tubuh ringkih wanita tersebut terpental dan berguling di atas kasur. Jeritannya malah mengundang senyum..."

Lantas tiba-tiba berganti cerita. "...kemudian ia menendang bola jauh ke sayap depan, yang langsung mengoper pada Ramli. Digocek saaaajaaaa beknyaaa, dan kini ia berhadapan! Satu lawan satu! Dengan penjaga gawang! Apakah akan goooooOOOOOOOOOLLLL!!? Oh, sayang sekali, ternyata itu kiper sendiri..."

Kalau perubahan nuansa ini bisa ditangkap, berarti komunikasi verbal dengan perubahan intonasi sudah bisa sampai. Sehabis itu mulailah berbagai eksperimen. Ilmiah semua, tentunya.



Misalnya, pengujian berbicara dengan boneka tangan (peraga: JF).


Kalau sisi seberang bisa mengerti, aplikasi ini sudah bisa berguna minimal untuk percakapan.

Berikutnya, ujian yang lebih ilmiah dan menantang, seperti bola berubah warna! (efek suara Doraemon.)


Dari warna asal yang dominan merah muda.


Kita lempar...


...dan tangkap!


Berubah menjadi dominan biru muda.


Kalau perubahan yang halus ini berhasil dilihat dengan baik oleh penguji di sisi lain, aplikasi sudah--dalam bahasa teknisnya--jagoan neon!

Intinya, pengembangan aplikasi adalah aktivitas yang sangat teknis. Karena itu, manfaatkanlah pengujian sebagai kegiatan yang nonteknis dan menyenangkan. Walau tentu saja ada batasnya. Sebagai contoh, saya ingin menguji aplikasi ini dengan menyanyi. Namun, ada alasan kenapa orang-orang Jepang menciptakan karaoke: karena tidak ada hukum yang bisa melarang sejumlah orang bernyanyi--walaupun itu membahayakan kesehatan mental orang-orang di sekitarnya.

Sayangnya, di kantor saya, ada juga pendapat bahwa tidak ada hukum yang melarang orang-orang untuk merajam penyanyi lupa diri. (Dan bola berubah bentuk itu ternyata cukup menyakitkan kalau kena kepala.)

Tuesday, October 02, 2007

Prinsip Mengepak Barang Nomor Satu (bagi Pria Beristri)

Jangan menentang saran istri Anda.

Walaupun tidak setuju, jangan--dan saya ulangi--JANGAN sekali-kali menentangnya. Iyakan saja. Karena kita sendiri yang akan kena batunya.

Terakhir kali ke Bali, saya dibekali jel untuk memijat kaki yang pegal. Satu tube besar. Dan saya sama sekali tidak pernah memakainya. Saat itu hanya jalan kaki sedikit. Dan sama sekali tidak ada bahaya pegal. Karena itu, waktu mengemas keperluan untuk ke Ubud, saya menolak membawanya lagi. "Sudah, lah. Enggak akan kepake, kok. Yakin!"

Ternyata, saya harus beberapa kali berjalan ke tempat yang menurut warga setempat "dekat". Padahal sebenarnya rute biathlon. Belum termasuk kala saya tersesat dalam mencari penginapan. Dan seakan-akan itu belum cukup, saya juga meremehkan jarak bersepeda.

Ya, akhirnya saya menyewa sepeda. Lantas, mencobanya sekali untuk pergi ke restoran Bebek Bengil dari penginapan (sekitar satu kilometer menanjak dan menurun). Enteng.

Keesokan paginya, saya mengendarai sepeda itu untuk menghadiri konferensi di Indus. Berdasarkan gambar peta di buku panduan, jaraknya kira-kira sama. Ternyata, peta itu digambar oleh keturunan dari orang yang bilang pada Christopher Columbus bahwa India itu "dekat" dengan Eropa.

Waktu jalan menurun sih saya senang-senang saja. Tiba-tiba mulai menanjak. Dan saat kaki sudah mulai kesemutan, ujung jalan bahkan belum terlihat. Saya masih bertahan berkat mengingat kata-kata seorang teman, "Jangan khawatir, radius jalan-jalan di sekitar Ubud sih nggak nyampe tiga kilometer kok." Tiba-tiba di tengah tanjakan saya melihat papan lalu lintas bertuliskan: Ubud coret.

Saya langsung turun, ambil napas, dan menenteng sepeda sepanjang sisa jalan. Begitu sampai di Indus, kemeja saya basah kuyup oleh keringat. Saya terpaksa mengaso dulu di Media Room. Mbak Tina, ketua pelaksana harian, langsung menertawai saya dan meminjamkan kipas angin listrik. Ini sebenarnya masih tidak apa-apa, sampai saya ingat, bahwa saya harus mengendarai sepeda itu kembali ke penginapan.

Jelas, kaki saya pegal-pegal saat kembali ke penginapan. Dan tidak ada jel kaki.

Jadi, walaupun istri Anda menyarankan untuk membawa gajah sekali pun, menurut sajalah. Kalau Anda menolak atau bahkan menertawakan ide itu, bersiap-siap untuk menelan tawa sendiri. Jangan-jangan lokasi Anda mendadak diserbu macan. Dan saat orang-orang di sekitar Anda berseru panik, "Aaah! Coba ada gajah! Kita akan selamat!" jangan menelepon istri Anda untuk minta tolong.

Dia akan bilang, "Oh, nggak bawa gajah, ya? Kok bisa? Istri kamu nggak ngingetin?"

Melihat Karena Percaya

Gambar penari di sebelah ini menyebar luas di Internet dengan subjek: Apakah Anda dominan otak kiri atau kanan?

Gambar seutuhnya sendiri dapat dilihat di sini. (Silakan klik untuk melihat animasinya. Dan terima kasih kepada Santa untuk menyediakan tempat.) Konon, jika kita melihat penarinya berputar searah jarum jam, berarti otak kiri kita yang dominan. Dan sebaliknya, otak kanan yang dominan jika berputar berlawanan jarum jam.

Apa benar begitu?

Sepertinya tidak. Menurut rekan kerja saya, Wahyudi Pratama, seorang desainer grafis berpengalaman, gambar ini hanya menggunakan trik untuk menipu mata kita. Animasi gif ini sebenarnya terdiri dari dua bagian, bagian dengan sang penari mengangkat kaki kiri. Dan bagian yang mengangkat kaki kanan. Dengan kata lain, ini sebenarnya gambar yang dibalikkan dengan efek cermin (mirror). Lantas dianimasikan dengan gaya pendulum. Sehingga terasa seakan-akan berputar penuh.

Ini kuncinya: saat otak kita sudah memutuskan bahwa sang penari berputar berlawanan arah jarum jam seterusnya kita akan melihatnya begitu. Sebaliknya juga berlaku. Ini bukanlah masalah bagian otak yang dominan. Ini lebih ke arah ilusi mata.

Bagaimana cara melihat putaran sebaliknya? Cobalah lihat ke atas layar komputer. Tapi pertahankan gambar tetap terlihat di ujung bawah mata kita. Lantas, paksa otak kita untuk melihat agar gambar tersebut berputar ke arah sebaliknya. Saat berhasil, pelan-pelan turunkan pandangan kita hingga menatap langsung ke gambar. Begitu saja.

Jelas, ini bukan berarti bahwa dominasi otak kita berubah hanya dengan mengangkat pandangan. Ini hanya menunjukkan bahwa ilusi ini bisa kita lawan dengan trik penangkalnya.

Satu kunci lagi: jika kita menyangkal bahwa animasi ini bisa kita lihat berputar ke dua arah berbeda, kita tidak akan bisa melihatnya. Dalam kasus ini, kita tidak percaya dengan melihat. Seeing is not believing. Justru malah kita melihat karena percaya. Believing is seeing.

Dalam perbedaan pendapat, sering kali inilah yang terjadi. Kita dari awal sudah menyangkal kata-kata orang lain. Karena itu, kita otomatis menolak untuk mendengarkan. Kita tidak akan melihat bahwa ada sudut pandang lain.

Padahal, kita bisa melihat gambaran secara utuh saat kita mengerti minimal kedua sisi yang bertolak belakang. Seperti pada contoh penari ini. Kita bisa tahu ini adalah ilusi mata, hanya setelah kita bisa menerima persepsi bahwa putarannya bisa searah jarum jam, atau berlawanan arah. Tergantung cara kita memandang.

Saat ada pendapat yang sama sekali bertentangan dengan kita, cobalah telusuri dahulu. Jangan serta-merta menolaknya. Jangan-jangan ada gambaran utuh yang kita lewatkan, hanya karena kita menolak untuk melihatnya.