Monday, March 19, 2007

Lima Pertanda Dokter Gigi Anda Bermasalah

Berdasarkan pengalaman yang saya tulis dalam buku Bertanya atau Mati (BaM!), berikut adalah lima ucapan (dan gerak-gerik) dokter gigi yang perlu kita awasi.

5) "Sepertinya gusi kiri Anda sariawan. Saya tambal deh, geraham Anda."

4) "Kabar buruknya, Mas," ujar sang dokter sambil tersenyum simpatik. "Gigi bungsu Anda harus dicabut dan saya kehabisan obat bius."

3) "Tapi kabar baiknya," tambah dia sambil mengangkat jari telunjuk. "Saya baru minggu lalu belajar hipnosis."

2) Ia menyedotkan suatu cairan ke dalam suntikan, lalu mengerutkan kening. "Suster," ia menunjukkan botol yang tadi disedot kepada asistennya. "Ini gambar tengkorak atau bukan sih?"

1) Jarinya menunjuk-nunjuk beberapa peralatan. "Cap cip cup, kembang kuncup. Ah, bor."

Misteri Gedung Kantor Baru #1

Gedung baru kantor kami menggunakan toilet uniseks. Seperti pada Ally McBeal, tapi lebih kecil (hanya memiliki tiga bilik) dan para pengunjungnya tidak terlihat seperti orang-orang anoreksik.

Toilet uniseks ini juga terletak dekat dengan wireless access point. Sehingga sambungan internet dalam toilet cukup bagus. Bisa jadi nanti kami harus menyiapkan papan baru untuk digantung di depan bilik yang sedang dipakai, "Uploading in process... please wait."

Dan toilet uniseks ini memiliki satu misteri.

Di bilik paling kiri, tepat di sebelah toiletnya[1], tertempel sebuah prakarya berbentuk gajah (atau ayam yang baru disiksa) bertuliskan sebuah nama: Adel. Ini memang peninggalan taman kanak-kanak yang menempati gedung ini sebelumnya. Karena beberapa hal yang menarik kami biarkan apa adanya.

Namun, kami tak habis pikir, kira-kira apa yang melatarbelakangi ini, ya?

Apakah:
a) Tiap murid diwajibkan menempelkan catatan pribadi berapa kali ia ke WC?

Mungkin taman kanak-kanak itu memiliki aturan: setiap memecahkan rekor berapa kali masuk ke toilet dalam sehari, tempelkanlah gambar binatang yang ukurannya mewakili jumlah.

Misalnya:
Cacing --> 5 kali.
Ular --> 10 kali
Gajah --> Ke dokter, yuk?

Dengan begini, tugas guru jadi lebih mudah untuk memantau kesehatan pencernaan anak-anak.

Atau

b) "Adel" adalah nama anak pindahan baru yang nasibnya kurang beruntung.

"Selamat bergabung, Adel," sambut sang guru berbarengan seisi kelas. "Mulai sekarang, kita satu keluarga. Sayangnya, kursi dalam kelas sudah terisi semua." Sang guru tersenyum, "Tapi jangan khawatir. Kami sudah menyiapkan satu kursi spesial bagi kamu. Bahkan ada nama kamu khusus tertempel di temboknya."

Apa pun jawabannya, ini adalah misteri gedung kantor baru kami yang pertama.[2]

______________

[1]: Tahukah Anda bahwa salah satu definisi "toilet" oleh kamus Microsoft Encarta adalah "ruangan dengan toilet"? Ini tampak sama seperti mendefinisikan "kamar" sebagai "ruangan dengan kamar". Namun, keanehan ini sebenarnya terjadi karena istilah "toilet" mengacu kepada dua hal: benda yang menjadi sasaran buang air kita, dan ruangan itu sendiri yang kita gunakan untuk menyatu dengan alam. (Sementara kalau bisa memilih, alam sendiri akan menolak.)

[2]: Lantas bagaimana kalau tiba-tiba nanti di tembok bilik toilet paling kanan tertempel gambar beruang (atau monyet yang baru disiksa) bertuliskan "Isman"? Apakah ini merupakan suatu pertanda? (Pertanda bahwa saya harus menyiapkan kartu nama baru dengan jabatan, "Penghuni Toilet Profesional"?)

Berkantor di "Pantai" yang Tinggal Angan-angan

Bulan Maret ini, perusahaan saya pindah kantor. Kini kami menempati gedung bekas taman kanak-kanak.

Saat menemukan lokasi ini, hampir semuanya bersemangat. Karena bersih, luas, dan halaman dalamnya memiliki area lebar yang dipenuhi pasir pantai. Lengkap dengan serodotan. Dua kata pertama yang muncul di benak kami kala foto-foto gedung ini disebar adalah: "Voli pantai!"

Seisi ruangan saya juga langsung membayangkan skenario pulang kantor; kami muncul sambil bersendal jepit, bercelana hawaii, dan berkacamata hitam. Orangtua, teman kos, atau pasangan kami akan mengangkat alis, "Tadi di kantor ngapain aja?"

"Akses internet sambil serodotan," ujar kami sambil mengacungkan jempol.

Saya bahkan sempat mengusulkan agar kami membuat kartu nama dengan jabatan khusus, misalnya, "Pemrogram Sambil Meluncur Profesional".

Hanya ada satu orang yang kurang bersemangat. Dan setelah ditanyai mengapa, ternyata karena ia tahu satu hal: serodotannya bakal dijual oleh pemilik gedung. "Bagaimana dengan pasirnya?" tanya kami panik.

"Dijual juga," ujarnya lirih.

Bayangan petualangan pantai kami ternyata hanya berusia pendek.

Tuesday, March 13, 2007

Pojok Penulisan Kreatif: Membuat Cerita Lebih Berbobot

Tanya:
Bagaimana cara membuat cerita kita jadi lebih berbobot?

Jawab:
Mungkin akan terdengar membosankan, tapi jawabannya adalah: menguatkan dasar-dasar penulisan kreatif.

a) Penggunaan tanda baca dan diksi
Menguasai tanda baca bukan sekadar tahu di mana menaruh titik, koma, tanda kutip dan kawan-kawan. Melainkan juga paham fungsinya. Misalnya, koma memberikan jeda. Sementara titik menyuruh kita berhenti dan menyatukan makna kalimat yang kita baca.

Pengolahan diksi juga bukan sekadar menggunakan kata-kata yang terasa indah. Atau pengulang-ulangan. Namun juga bagaimana menyampaikan cerita agar terasa mengalir. Dan terbayang jelas di benak.

Jangan sembarangan memanjangkan kalimat dengan merantai-rantai koma. Atau lupa diri membumbui kalimat dengan kata-kata indah. Karena bisa membuat pembaca kehabisan napas.

Napas? Ya, ada yang namanya napas membaca.


b) Menyamakan napas membaca (bermain pewaktuan)
Dalam menari berpasangan, kita akan diajarkan untuk menyamakan napas dengan pasangan kita. Menulis juga sama dengan berdansa. Kita perlu menyamakan napas dengan pembaca. Kalau kita terus-menerus membawa pembaca dengan alur cepat, mereka bisa ketinggalan langkah.

Cobalah ingat saat kita asyik membaca cerita. Cerita serasa berputar di benak kita. Menari. Ketika kita harus membalik halaman untuk membaca sekali lagi, keasikan itu terganggu. Tarian di benak kita berhenti. Terpaksa mulai lagi dari berpegangan tangan dan melangkah.

Dan itu meliputi juga dua bagian berikut;

c) Menguntai paragraf
d) Menyajikan alur cerita

e) Penokohan dan interaksi antartokoh
Inilah faktor utama pengait emosi pembaca. Plot kita bisa sederhana saja: cinta antara dua orang manusia. Tapi dengan tokoh yang kuat, pembaca bisa tetap memiliki keterkaitan emosi yang hebat.

Apa hubungannya lima poin di atas dengan cerita yang lebih berbobot? Memangnya, apakah definisi berbobot bagi kamu?

1) Apakah menulis cerita yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya?

2) Apakah menulis plot yang begitu kompleks agar pembaca bingung dalam memahaminya?

3) Atau apakah menulis suatu cerita yang berisikan suara khas kita, penulisnya? Sehingga karya ini menjadi otentik?

Bagi saya, cerita berbobot itu adalah yang ketiga. Cerita jenis pertama sudah tidak ada lagi di dunia. Dan jenis kedua pasti berhasil dalam tujuannya: membuat bingung.

Tapi ini sekadar pendapat saya. Bisa saja salah.

Saturday, March 10, 2007

Saat Syok Anafilaktik, Jangan Baca Ini

Ketika menunggui Donna dalam kamar bersalin, saya iseng-iseng memerhatikan sekeliling. Salah satu yang menarik adalah poster berikut ini.


"Waduh," pikir saya. Apa pun syok anafilaktik itu, saya langsung berharap Donna tidak kena (baru belakangan saya tahu bahwa itu reaksi alergi tingkat terparah). Karena saya enggan membayangkan saat Donna sedang melahirkan, salah satu perawat tiba-tiba berteriak, "Syok afilaktik!"

Dan semua perawat langsung merubung poster ini. "Oke, sekarang dia sedang di tahap ini," tunjuk seorang perawat.

"Bukannya yang ini?" tunjuk perawat lain.

"Sebentar," tahan seorang lagi. "Tadi dia bilang afilaktik. Ini kan anafilaktik."

Yang lain mengangkat bahu, "Maksud dia emang anafilaktik."

"Tapi beda dong artinya," ujar si pemrotes ngotot. "Kalau salah kan gawat."

"Mbak," potong saya, "kalau istilah medis untuk suami panik melihat istri kejang-kejang dan mulai melempar-lempar pisau ada nggak?"

"Nggak ada sih," jawab mereka serempak. "Kenapa emang?"

"Karena kalau kalian tidak berhenti bertengkar dan segera mengobati istri saya, saya akan menjadi kasus pertama!" seru saya.

Tulisan di bagian bawah poster ini juga tidak membuat kecemasan saya hilang.


Poin pertama berbunyi, "Sebaiknya tidak menyuntik tanpa indikasi/alasan yang jelas." Setuju. Dan yang terakhir, "Berdo'a sebelum bertindak." Amin (asalkan bukan ayat kursi atau yang lebih panjang lagi).

Seharusnya mereka menambahkan satu bagian khusus: "Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan Kepada (Keluarga) Pasien".

  • "Ngomong-ngomong, Anda ikut asuransi, kan?"
  • "Eum, bisa tolong bacakan? Mata saya sedikit bermasalah."
  • Apalagi kalau ditambah dengan
  • "Bacanya yang keras dikit, Pak. Pendengaran saya juga sudah kurang."